Kamis, 30 Desember 2010

MALAM TAHUN BARU 2011


NGUMBAR NAFSU :

Malam hari...
Menjelang Tahun Baru 2011...
Suasana di desa Karang Tumaretis Pukul 20.00 WIB...

Kabeh menungso podho semburat...
Sliwar-sliwer...
Ngalor... ngidul...
Ngetan... ngulon...
Bleyer-bleyeran...

Kabeh papan podho rame isi uwong ...
Kabeh panggonan podho kebak menungso...
Pringas-pringis... nguyu cekakak'an ...
Pecical-pecicil... ngolek kesenangan ...
Tolah-toleh... akeh sing ditoleh...

Bolak-balik ndelok jam tangan...
Riwa-riwi golek hiburan...
Uyel-uyelan...
Dhusel-dhuselan...
Dhesek-dhesek'an...

Sing penting isok hepi bengi iki...
Sing penting isok bebas... bas bengi iku...
Sing penting isok jingkrak-jingkak bengi iki...
Sing penting isok keluyuran iki engkok...
Sing penting isok melok sorak bengi iku...

Gak perduli arek enom lan tuwek...
Gak perduli arek cilik lan gedhe...
Gak perduli arek lanang lan wadhon...
Gak perduli isik bujang lan uwis anak-anak...
Gak perduli awak loro... lan sehat...

pokok'e isok melok melek bengi...
Pokok'e isok ngak sampek keri ...
Pokok'e isok ngawe sensasi...
Pokok'e isok nyumet amunisi... (mercon)
Pokok'e isok mbakar sesaji...

Gawe nyambut malam tahun baru...
Gawe nyakseni malam tahun dua ribu sebelas...
Gawe njelang pergantian tahun...
Gawe ngucapno Selamat Tinggal Tahun Lawas...
Gawe ngucapno Selamat Datang Tahun Anyar...

Akeh sing podho nggowo terompet...
Akeh sing podho nggowo mercon...
Akeh sing podho nggowo gendhak'ane...
Akeh sing podho nggowo botol minuman'ne..
Akeh sing podho nggowo anak-bojo sak mertuwo'e...

Pokok'e.... akeh....
Ora isok tak gambar'no maneh...
Situasi bengi iki engkok...
Sing penthing... ayok konco kabeh...
Ojok sampek lali...
Karo Tobat lan Syukure yooooo .....!!!

Minggu, 26 Desember 2010

SUN GO KHONG OPO SUN GO KONG ...??


LEGENDARIS :

Sak iki ayo konco podho maos cerita'ne Anoman'ne bongso Cino. Nopo sami = podho karo ceritane kethek sakti sing wonten = onok menyang dunia pewayangan kuwi. Bilih mbok menawi wonten kemiripan lelakon utawi cerito ? Opo bener kethek (munyuk) kuwi iku dadi cikal-bakal'le mbah'e menungso koyok teorine Charles Darwin ? Kok sak'ben legenda kok mesti onok kethek = munyuk sing di-dadek'no maskot...

Menjawab pertanyaan satu teman di sini, saya akan berusaha menyajikan informasi dari sudut budaya sastra. Bila ada teman yang dapat menambah dari aspek agama atau kepercayaan dipersilahkan sekali. Mohon koreksinya bila ada yang salah pada rangkuman saya di bawah.

Sun Go Kong adalah salah satu tokoh utama dalam salah satu novel klasik Tiongkok “Shi You Ji” “Perjalanan ke Barat” karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang kemudian populer selama berabad2 lamanya baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Dalam novelnya itu, Wu terlihat lebih menekankan tokoh Sun Go Kong daripada tokoh sejarah asli Pendeta Xuan Zang (Tang San-zhang/Tong Sam-Cong) dapat dilihat dari penokohan Pendeta Tong sebagai seorang yang baik hati namun lemah. Padahal dalam sejarahnya, Pendeta Tong mengadakan ekspedisi sendirian yang dapat membuktikan ketegarannya. Walaupun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang teman bernama Shih Pan Tuo, namun ia kemudian melarikan diri ketika mereka menemui kesulitan.

Kesulitan yang dimaksud adalah perampokan oleh bandit2 di tengah jalan. Saya di suatu kesempatan menyimak tayangan tentang Pendeta Tong di channel Discovery. Oleh Discovery, Pendeta Tong difilmkan sedang dikejar2 oleh para bandit berparas Turkistan (Asia Tengah) sebelum akhirnya sampai ke India dalam satu penggal cerita.

Riwayat Sun Go Kong secara sekilas adalah tinggi badan 1.33 meter, pada umur 320 tahun ia menuju Gunung Hua Guo, menjadi dewa dengan gelar “Qi Tian Da Sheng” pada umur 357 tahun. 180 tahun kemudian, karena suka membangkang, ia dihukum ditimpa di bawah Gunung Wu Sing selama 500 tahun. Setelah itu, ia berguru kepada Pendeta Tong dan menjalankan perintah untuk mengawal Pendeta Tong mengambil kitab suci ke India. Ia dikisahkan adalah perwujudan dari sebuah kera batu.

Dalam perkembangannya, karena Sun Go Kong terkenal akan kesaktiannya, muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul “Gu Yue Du Jing“, ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha.

Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.

Akhirnya giliran saya mengemukakan pendapat pribadi. Menurut saya, walaupun Ramayana adalah cerita lebih awal daripada Shi You Ji, namun mengatakan Sun Go Kong adalah sama dengan Hanoman adalah suatu pendapat yang tidak seluruhnya benar. Kepopuleran Ramayana yang merupakan legenda agama Hindu di Tiongkok juga tidak terbukti karena agama Hindu tidak pernah menyebar ke Tiongkok seperti halnya di Indonesia.

Sun Go Kong juga bukan ciptaan dari Wu sebenarnya, karena di masa sebelumnya, Dinasti Song Selatan, telah ada dikisahkan Sun Go Kong dalam buku “Da Tang San Zang Qu Jing Shi Hua“. Bila tetap harus mengatakan Sun adalah Hanoman, maka darimana pula munculnya tokoh Zhu Ba Jie (Ti Pat Khai)? Wu adalah seorang sastrawan dan seorang sastrawan selalu berkarya berdasarkan ilham yang muncul waktu itu.

Akhirnya, terserah kepada pribadi masing2 untuk lebih condong ke pendapat mana karena itu merupakan kemerdekaan masing2 individu.

CERITA SELENGKAPNYA :

Sun Go Kong (Hanzi tradisional: 孫悟空; bahasa Tionghoa: 孙悟空; Pinyin: Sūn Wùkōng; Wade-Giles: Sun Wu-k'ung) adalah tokoh utama dalam novel Perjalanan ke Barat. Dalam novel ini, ia menemani pendeta Tong dalam perjalanannya. Sun Go Kong dalam bahasa Vietnam adalah Ton Ngo Khong, dalam bahasa Jepang adalah Son Gokū, dan dalam bahasa Thai adalah Sun Ngokong.

Sun Go Kong amat gagah , senang sekali mengangkat tongkat sakti Ruyi Jingu Bang yang beratnya 13,500 kati (8,100 kg). Sun Go Kong ialah seorang pejuang mahir yang mampu melawan panglima-panglima hebat di kayangan. Dia juga menghafal berbagai mantra untuk menghembuskan angin, membelah air, menyulap lingkaran lindungan dari ancaman setan.

Kelahiran dan kehidupan awal

Dilahirkan di Huāguǒ-shān (Cina: 花果山; Gunung Bunga-bunga dan Buah-buahan) daripada seketul batu mitos yang terbentuk oleh daya asal kecamukan, Wukong menyertai sekaum monyet dan kemudian dihormati kerana menemui Shuǐlián-dòng (Cina: 水帘洞; Gua Tabir Air) di belakang sebuah air terjun raksasa. Monyet-monyet yang lain menganugerahinya sebagai raja, dengan Wukong menggelar diri sebagai Měi Hóuwáng (Raja Monyet Kacak).

Menyedari bahawa dia masih akan mengalami kematian, walaupun kuasanya ke atas monyet-monyet yang lain, dia berazam untuk mencapai keabadian. Wukong berkelana dengan rakit ke tanah-tanah yang beradab lalu menemui dan menjadi pengikut Bodhi, salah satu bapa Buddhisme/Taoisme. Menerusi penjelajahannya, Wukong juga memperoleh pertuturan dan tingkah laku manusia.

Pada mula-mulanya, Bodhi enggan menerima Wukong sebagai pengikut kerana Wukong bukannya manusia. Bagaimanapun, kegigihan dan ketabahan Wukong kemudian menyebabknya tertarik kepada monyet itu. Adalah daripada Bodhi bahawa Wukong menerima nama rasminya, Sun Wukong ("Sun" membayangkan keasalan monyet, dan "Wukong" membawa pengertian sedar akan kekosongan). Tidak lama kemudian, minat dan kecerdasan Wukong menjadikannya salah satu pengikut kesayangan Bodhi. Justera, Bodhi membimbing dan melatihnya sebilangan perbuatan sakti dan Wukong memperoleh kuasa penganjakan bentuk yang dikenali sebagai "72 perubahan". Kemahiran itu yang dikatakan lebih serba boleh dan lebih sukar membenarkan pemiliknya bertukar kepada setiap bentuk kewujudan yang mungkin, termasuk manusia dan barang. Wukong juga belajar perjalanan awan, termasuk teknik Jīndǒuyún (balik kuang awan) yang dapat mencapai 108,000 li (54,000 km) menerusi satu balik kuang. Tambahan lagi, dia juga berupaya mengubah setiap 84,000 bulunya menjadi barang dan makhluk, malahan mengklonkan diri sendiri. Wukong kemudian berasa terlalu angkuh kerana keupayaannya dan mula bercakap berdegar-degar kepada para pengikut yang lain. Ini mengakibatkan Bodhi tidak gembira serta pengusirannya dari kuil Bodhi. Sebelum mereka berpisah, Bodhi mengarahkan Wukong supaya berjanji tidak akan memberitahu sesiapa pun tentang bagaimana dia mendapatkan kuasa tersebut.

Di Huāguǒ-shān, Wukong memantapkan kedudukannya sebagai salah satu syaitan yang paling berkuasa dan terpengaruh di dunia. Untuk mencari senjata yang sesuai, dia menjelajah ke lautan dan memperoleh tongkat Ruyi Jingu Bang. Tongkat itu berupaya mengubah saiz dan mendarabkan diri, serta boleh berlawan mengikut kehendak hati pemilik. Ia pada asalnya digunakan oleh Dà-Yǔ untuk mengukur kedalaman lautan dan kemudian menjadi "Tiang yang Menenangkan Lautan" serta harta karun Ao Guang, "Raja Naga Laut Timur". Beratnya tongkat itu 13,500 kati (8.1 tan). Apabila Wukong mendekatinya, tiang itu mula bersinar demi menandakan bahawa ia telah menjumpai pemiliknya yang benar. Sifat tongkat itu membolehkan Wukong menggunakannya sebagai senjata serta menyimpannya di dalam telinga sebagai jarum jahit. Ini menakutkan makhluk sakti laut serta mengakibatkan huru-hara di laut kerana tiada sebarang lain yang dapat mengawal pasang surut lautan. Selain daripada merampas tongkat sakti itu, Wukong juga menewaskan naga-naga empat laut dalam pertempuran dan memaksa mereka memberikannya baju zirah (鎖子黃金甲), topi berbulu burung phoenix (鳳翅紫金冠 Fèngchìzǐjinguān), serta but yang membolehkan perjalanan di atas awan (藕絲步雲履 Ǒusībùyúnlǚ). Wukong kemudian mengingkari percubaan Neraka untuk mengambil nyawanya. Untuk mengelakkan penjelmaan semula seperti semua makhluk yang lain, dia menghapuskan namanya bersama-sama nama semua monyet yang dikenalinya daripada "Buku Hidup dan Mati". Raja-raja Naga dan Raja-raja Neraka kemudian memutuskan untuk mengadukannya kepada Maharaja Jed di Syurga.

Hura-hara di Alam Syurga

Mengharap-harapkan bahawa suatu kenaikan pangkat dalam kalangan dewa dapat menjadikan Wukong lebih mudah dikawal, Maharaja Jed menyambut Wukong ke Syurga. Wukong mempercayai bahawa dia akan dikurniai sebagai salah satu dewa tetapi malangnya, dia hanya dijadikan ketua kandang kuda syurga untuk menjaga kuda. Apabila Wukong mendapat tahu tentang hal itu, dia memberontak dan mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung, Sama Pangkat dengan Syurga" dan bersekutu dengan sesetengah syaitan yang paling berkuasa di dunia. Percubaan awal Syurga untuk menguasai Raja Monyet tidak berjaya. Lantaran itu, para dewa terpaksa mengakui gelaran Wukong tersebut serta mencuba menawarkannya kedudukan "Pelindung Taman Syurga". Apabila Wukong mendapati bahawa dia tidak dijemput untuk menyertai sebuah jamuan diraja, walaupun semua dewa dan dewi dijemput, kemarahannya menjadi keingkaran terbuka. Selepas mencuri "pic keabadian" Xi Wangmu, pil lanjut usia Lao Tzu, serta wain diraja Maharaja Jed, Wukong melarikan diri kembali ke kerajaannya untuk menyediakan pemberontakan.

Wukong kemudian menewaskan Tentera Syurga yang terdiri daripada 100,000 pahlawan samawi dan membuktikan diri sebagai setanding dengan Erlang Shen, jeneral Syurga yang terunggul. Bagaimanapun, dia kemudian ditangkap atas pemuafakatan kuasa Taoisme dan Buddhisme, serta usaha sesetengah dewa. Selepas beberapa percubaan yang gagal untuk menjalankan hukuman mati ke atasnya, Wukong dikurung di dalam sebuah kawah bagua Lao Tzu untuk disuling menjadi eliksir oleh api samadhi yang paling panas. Bagaimanapun, kawah itu meletup selepas 49 hari dan Wukong melompat ke luar, kini lebih kuat daripada dahulu. Wukong kini berupaya mengecam kejahatan dalam sebarang bentuk menerusi huǒyǎn-jīnjīng (火眼金睛) (secara harafiah, "renungan keemasan mata bernyala-nyala"), satu keadaan mata yang juga mengikabatkan kepekaannya kepada asap.

Dengan semua pilihan dicuba dan gagal, Maharaja Jed serta pihak berkuasa Syurga merayu kepada Buddha yang tinggal di kuilnya di Barat. Buddha bertaruh dengan Wukong bahawa dia (Wukong) tidak dapat melarikan diri daripada tapak tangannya. Wukong yang berupaya mencapai 108,000 li dengan satu lompatan, dengan angkuhnya bersetuju lalu melompat dengan sedaya upayanya. Apabila dia mendarat, dia tidak dapat melihat apa-apa pun kecuali lima batang tiang. Justera itu, Wukong meneka bahawa dia telah tiba ke hujung Syurga. Untuk membuktikan pencapaiannya, dia menandakan tiang-tiang itu dengan frasa yang mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung yang Sama Kedudukannya dengan Syurga". Selepas itu, dia melompat kembali ke tapak tangan Buddha hanya untuk menyedari bahawa lima "tiang" itu sebenarnya ialah lima jari tangan Buddha. Apabila Wukong cuba melarikan diri, Buddha menukarkan tangannya menjadi gunung lalu mengurung Wukong di dalamnya dengan menggunakan azimat yang ditulis dikir, Om Mani Padme Hum, dalam huruf emas. Wukong terkurung di sana selama lima abad.

Pengikut kepada Xuanzang

Lima abad kemudian, Bodhisatva Guanyin sedang mencari-cari pengikut untuk melindungi Xuanzang, seorang penziarah Dinasti Tang, yang ingin membuat perjalanan ke India untuk memperoleh sutra agama Buddha. Apabila Wukong terdengar hal itu, dia menawarkan diri sebagai pertukaran untuk kebebasannya. Guanyin memahami bahawa monyet itu bukan senang untuk mengawal dan oleh itu, memberi Xuanzang sebuah cekak rambut ajaib, hadiah daripada Buddha. Sebaik sahaja Wukong ditipu memakainya, cekak itu tidak dapat dikeluarkan semula. Dengan dikir yang khusus, cekak itu dapat diketatkan dan mengakibatkan kesakitan yang tidak tertahan pada kepala Wukong. Atas keadilan, Guanyin juga memberi Wukong tiga bulu yang istimewa yang boleh digunakan dalam kecemasan yang teruk. Di bawah penyeliaan Xuanzang, Wukong dibenarkan membuat perjalanan ke Barat.

Pada sepanjang epik Perjalanan ke Barat, Wukong membantu Xuanzang dengan setia dalam perjalanannya ke India. Mereka disertai oleh "Pigsy" (猪八戒 Zhu Bajie) dan "Sandy" (沙悟浄 Sha Wujing) yang menawarkan diri untuk menemani sami itu bagi menebus dosa mereka. Kuda sami sebenarnya ialah putera naga. Keselamatan Xuanzang sentiasa terjejas oleh syaitan-syaitan serta makhluk-makhluk ghaib yang lain yang mempercayai bahawa daging Xuanzang, apabila dimakan, dapat melanjutkan usia. Wukong sentiasa bertindak sebagai pengawal peribadi Xuanzang dan dikurniai kuasa Syurga untuk memerangi ancaman-ancaman tersebut. Pada keseluruhannya, kumpulan itu menghadapi 81 kesengsaraan sebelum mencapai misi mereka dan kembali ke China. Wukong kemudian dikurniai dengan Kebuddhaan atas perkhidmatan dan kekuatannya.

Antara Sun Go Kong dan Hanoman

Muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul "Gu Yue Du Jing", ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.

CERITA SELENGKAPNYA :

A. SUN GO KONG

Sun Go Kong (Hanzi tradisional: 孫悟空; bahasa Tionghoa: 孙悟空; Pinyin: Sūn Wùkōng; Wade-Giles: Sun Wu-k'ung) adalah tokoh utama dalam novel Perjalanan ke Barat. Dalam novel ini, ia menemani pendeta Tong dalam perjalanannya. Sun Go Kong dalam bahasa Vietnam adalah Ton Ngo Khong, dalam bahasa Jepang adalah Son Gokū, dan dalam bahasa Thai adalah Sun Ngokong.
Sun Go Kong amat gagah , senang sekali mengangkat tongkat sakti Ruyi Jingu Bang yang beratnya 13,500 kati (8,100 kg). Sun Go Kong ialah seorang pejuang mahir yang mampu melawan panglima-panglima hebat di kayangan. Dia juga menghafal berbagai mantra untuk menghembuskan angin, membelah air, menyulap lingkaran lindungan dari ancaman setan,

Kelahiran dan kehidupan awal

Dilahirkan di Huāguǒ-shān (Cina: 花果山; Gunung Bunga-bunga dan Buah-buahan) daripada seketul batu mitos yang terbentuk oleh daya asal kecamukan, Wukong menyertai sekaum monyet dan kemudian dihormati kerana menemui Shuǐlián-dòng (Cina: 水帘洞; Gua Tabir Air) di belakang sebuah air terjun raksasa. Monyet-monyet yang lain menganugerahinya sebagai raja, dengan Wukong menggelar diri sebagai Měi Hóuwáng (Raja Monyet Kacak). Menyedari bahawa dia masih akan mengalami kematian, walaupun kuasanya ke atas monyet-monyet yang lain, dia berazam untuk mencapai keabadian. Wukong berkelana dengan rakit ke tanah-tanah yang beradab lalu menemui dan menjadi pengikut Bodhi, salah satu bapa Buddhisme/Taoisme. Menerusi penjelajahannya, Wukong juga memperoleh pertuturan dan tingkah laku manusia.

Pada mula-mulanya, Bodhi enggan menerima Wukong sebagai pengikut kerana Wukong bukannya manusia. Bagaimanapun, kegigihan dan ketabahan Wukong kemudian menyebabknya tertarik kepada monyet itu. Adalah daripada Bodhi bahawa Wukong menerima nama rasminya, Sun Wukong ("Sun" membayangkan keasalan monyet, dan "Wukong" membawa pengertian sedar akan kekosongan). Tidak lama kemudian, minat dan kecerdasan Wukong menjadikannya salah satu pengikut kesayangan Bodhi. Justera, Bodhi membimbing dan melatihnya sebilangan perbuatan sakti dan Wukong memperoleh kuasa penganjakan bentuk yang dikenali sebagai "72 perubahan". Kemahiran itu yang dikatakan lebih serba boleh dan lebih sukar membenarkan pemiliknya bertukar kepada setiap bentuk kewujudan yang mungkin, termasuk manusia dan barang. Wukong juga belajar perjalanan awan, termasuk teknik Jīndǒuyún (balik kuang awan) yang dapat mencapai 108,000 li (54,000 km) menerusi satu balik kuang. Tambahan lagi, dia juga berupaya mengubah setiap 84,000 bulunya menjadi barang dan makhluk, malahan mengklonkan diri sendiri. Wukong kemudian berasa terlalu angkuh kerana keupayaannya dan mula bercakap berdegar-degar kepada para pengikut yang lain. Ini mengakibatkan Bodhi tidak gembira serta pengusirannya dari kuil Bodhi. Sebelum mereka berpisah, Bodhi mengarahkan Wukong supaya berjanji tidak akan memberitahu sesiapa pun tentang bagaimana dia mendapatkan kuasa tersebut.

Di Huāguǒ-shān, Wukong memantapkan kedudukannya sebagai salah satu syaitan yang paling berkuasa dan terpengaruh di dunia. Untuk mencari senjata yang sesuai, dia menjelajah ke lautan dan memperoleh tongkat Ruyi Jingu Bang. Tongkat itu berupaya mengubah saiz dan mendarabkan diri, serta boleh berlawan mengikut kehendak hati pemilik. Ia pada asalnya digunakan oleh Dà-Yǔ untuk mengukur kedalaman lautan dan kemudian menjadi "Tiang yang Menenangkan Lautan" serta harta karun Ao Guang, "Raja Naga Laut Timur". Beratnya tongkat itu 13,500 kati (8.1 tan). Apabila Wukong mendekatinya, tiang itu mula bersinar demi menandakan bahawa ia telah menjumpai pemiliknya yang benar. Sifat tongkat itu membolehkan Wukong menggunakannya sebagai senjata serta menyimpannya di dalam telinga sebagai jarum jahit.

Ini menakutkan makhluk sakti laut serta mengakibatkan huru-hara di laut kerana tiada sebarang lain yang dapat mengawal pasang surut lautan. Selain daripada merampas tongkat sakti itu, Wukong juga menewaskan naga-naga empat laut dalam pertempuran dan memaksa mereka memberikannya baju zirah (鎖子黃金甲), topi berbulu burung phoenix (鳳翅紫金冠 Fèngchìzǐjinguān), serta but yang membolehkan perjalanan di atas awan (藕絲步雲履 Ǒusībùyúnlǚ). Wukong kemudian mengingkari percubaan Neraka untuk mengambil nyawanya. Untuk mengelakkan penjelmaan semula seperti semua makhluk yang lain, dia menghapuskan namanya bersama-sama nama semua monyet yang dikenalinya daripada "Buku Hidup dan Mati". Raja-raja Naga dan Raja-raja Neraka kemudian memutuskan untuk mengadukannya kepada Maharaja Jed di Syurga.

Hura-hara di Alam Syurga

Mengharap-harapkan bahawa suatu kenaikan pangkat dalam kalangan dewa dapat menjadikan Wukong lebih mudah dikawal, Maharaja Jed menyambut Wukong ke Syurga. Wukong mempercayai bahawa dia akan dikurniai sebagai salah satu dewa tetapi malangnya, dia hanya dijadikan ketua kandang kuda syurga untuk menjaga kuda. Apabila Wukong mendapat tahu tentang hal itu, dia memberontak dan mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung, Sama Pangkat dengan Syurga" dan bersekutu dengan sesetengah syaitan yang paling berkuasa di dunia. Percubaan awal Syurga untuk menguasai Raja Monyet tidak berjaya. Lantaran itu, para dewa terpaksa mengakui gelaran Wukong tersebut serta mencuba menawarkannya kedudukan "Pelindung Taman Syurga". Apabila Wukong mendapati bahawa dia tidak dijemput untuk menyertai sebuah jamuan diraja, walaupun semua dewa dan dewi dijemput, kemarahannya menjadi keingkaran terbuka. Selepas mencuri "pic keabadian" Xi Wangmu, pil lanjut usia Lao Tzu, serta wain diraja Maharaja Jed, Wukong melarikan diri kembali ke kerajaannya untuk menyediakan pemberontakan.

Wukong kemudian menewaskan Tentera Syurga yang terdiri daripada 100,000 pahlawan samawi dan membuktikan diri sebagai setanding dengan Erlang Shen, jeneral Syurga yang terunggul. Bagaimanapun, dia kemudian ditangkap atas pemuafakatan kuasa Taoisme dan Buddhisme, serta usaha sesetengah dewa. Selepas beberapa percubaan yang gagal untuk menjalankan hukuman mati ke atasnya, Wukong dikurung di dalam sebuah kawah bagua Lao Tzu untuk disuling menjadi eliksir oleh api samadhi yang paling panas. Bagaimanapun, kawah itu meletup selepas 49 hari dan Wukong melompat ke luar, kini lebih kuat daripada dahulu. Wukong kini berupaya mengecam kejahatan dalam sebarang bentuk menerusi huǒyǎn-jīnjīng (火眼金睛) (secara harafiah, "renungan keemasan mata bernyala-nyala"), satu keadaan mata yang juga mengikabatkan kepekaannya kepada asap.
Dengan semua pilihan dicuba dan gagal, Maharaja Jed serta pihak berkuasa Syurga merayu kepada Buddha yang tinggal di kuilnya di Barat. Buddha bertaruh dengan Wukong bahawa dia (Wukong) tidak dapat melarikan diri daripada tapak tangannya. Wukong yang berupaya mencapai 108,000 li dengan satu lompatan, dengan angkuhnya bersetuju lalu melompat dengan sedaya upayanya. Apabila dia mendarat, dia tidak dapat melihat apa-apa pun kecuali lima batang tiang. Justera itu, Wukong meneka bahawa dia telah tiba ke hujung Syurga. Untuk membuktikan pencapaiannya, dia menandakan tiang-tiang itu dengan frasa yang mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung yang Sama Kedudukannya dengan Syurga". Selepas itu, dia melompat kembali ke tapak tangan Buddha hanya untuk menyedari bahawa lima "tiang" itu sebenarnya ialah lima jari tangan Buddha. Apabila Wukong cuba melarikan diri, Buddha menukarkan tangannya menjadi gunung lalu mengurung Wukong di dalamnya dengan menggunakan azimat yang ditulis dikir, Om Mani Padme Hum, dalam huruf emas. Wukong terkurung di sana selama lima abad.

Pengikut kepada Xuanzang

Lima abad kemudian, Bodhisatva Guanyin sedang mencari-cari pengikut untuk melindungi Xuanzang, seorang penziarah Dinasti Tang, yang ingin membuat perjalanan ke India untuk memperoleh sutra agama Buddha. Apabila Wukong terdengar hal itu, dia menawarkan diri sebagai pertukaran untuk kebebasannya. Guanyin memahami bahawa monyet itu bukan senang untuk mengawal dan oleh itu, memberi Xuanzang sebuah cekak rambut ajaib, hadiah daripada Buddha. Sebaik sahaja Wukong ditipu memakainya, cekak itu tidak dapat dikeluarkan semula. Dengan dikir yang khusus, cekak itu dapat diketatkan dan mengakibatkan kesakitan yang tidak tertahan pada kepala Wukong. Atas keadilan, Guanyin juga memberi Wukong tiga bulu yang istimewa yang boleh digunakan dalam kecemasan yang teruk. Di bawah penyeliaan Xuanzang, Wukong dibenarkan membuat perjalanan ke Barat.

Pada sepanjang epik Perjalanan ke Barat, Wukong membantu Xuanzang dengan setia dalam perjalanannya ke India. Mereka disertai oleh "Pigsy" (猪八戒 Zhu Bajie) dan "Sandy" (沙悟浄 Sha Wujing) yang menawarkan diri untuk menemani sami itu bagi menebus dosa mereka. Kuda sami sebenarnya ialah putera naga. Keselamatan Xuanzang sentiasa terjejas oleh syaitan-syaitan serta makhluk-makhluk ghaib yang lain yang mempercayai bahawa daging Xuanzang, apabila dimakan, dapat melanjutkan usia. Wukong sentiasa bertindak sebagai pengawal peribadi Xuanzang dan dikurniai kuasa Syurga untuk memerangi ancaman-ancaman tersebut. Pada keseluruhannya, kumpulan itu menghadapi 81 kesengsaraan sebelum mencapai misi mereka dan kembali ke China. Wukong kemudian dikurniai dengan Kebuddhaan atas perkhidmatan dan kekuatannya.

Antara Sun Go Kong dan Hanoman

Muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul "Gu Yue Du Jing", ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.

B. HANOMAN

Hanoman (Sanskerta: हनुमान्; Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: हनुमत्; Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.

Kelahiran

Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.

Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.

Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling cerdas di antara para wanara. Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan "Aanjanèya"), yang secara harfiah berarti "lahir dari Anjani" atau "putera Anjani".

Masa kecil

Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.

Pertemuan dengan Rama

Patung Hanoman yang dibuat pada masa Dinasti Chola, abad ke-11.
Pada saat melihat Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa cemas. Ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit andalannya, Hanoman, untuk menyelidiki maksud kedatangan dua orang tersebut. Hanoman menerima tugas tersebut kemudian ia menyamar menjadi brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana.

Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu. Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa.

Petualangan mencari Sita

Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman, Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.

Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka.

Pergi ke Alengka

Ukiran tanah liat yang menggambarkan Hanoman sedang mengangkat Gunung Dronagiri.
Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sita yang sedang merana.

Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sita.
Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama. Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.

Terbakarnya Alengka

Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana membela Hanoman agar hukumannya diringankan, mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo'a agar api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do'a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota Alengka dilalap api.
Dengan membawa kabar gembira, Hanoman menghadap Rama dan menceritakan keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan pasukan wanara untuk menggempur Alengka

Pertempuran besar

Hanoman diperankan dalam Yakshagana, drama populer dari Karnataka.
Dalam pertempuran besar antara Rama dan Rahwana, Hanoman membasmi banyak tentara rakshasa. Saat Rama, Laksmana, dan bala tentaranya yang lain terjerat oleh senjata Nagapasa yang sakti, Hanoman pergi ke Himalaya atas saran Jembawan untuk menemukan tanaman obat. Karena tidak tahu persis bagaimana ciri-ciri pohon yang dimaksud, Hanoman memotong gunung tersebut dan membawa potongannya ke hadapan Rama. Setelah Rama dan prajuritnya pulih kembali, Hanoman melanjutkan pertarungan dan membasmi banyak pasukan rakshasa.

Kehidupan selanjutnya

Setelah pertempuran besar melawan Rahwana berakhir, Rama hendak memberikan hadiah untuk Hanoman. Namun Hanoman menolak karena ia hanya ingin agar Sri Rama bersemayam di dalam hatinya. Rama mengerti maksud Hanoman dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya Hanoman pergi bermeditasi di puncak gunung mendo'akan keselamatan dunia.
Pada zaman Dwapara Yuga, Hanoman bertemu dengan Bima dan Arjuna dari lingkungan keraton Hastinapura. Dari pertemuannya dengan Hanoman, Arjuna menggunakan lambang Hanoman sebagai panji keretanya pada saat Bharatayuddha.

Tradisi dan pemujaan

Di negara India yang didominasi oleh agama Hindu, terdapat banyak kuil untuk memuja Hanoman, dan dimana pun ada gambar awatara Wisnu, selalu ada gambar Hanoman. Kuil Hanoman bisa ditemukan di banyak tempat di India dan konon daerah di sekeliling kuil itu terbebas dari raksasa atau kejahatan.

Beberapa kuil Hanoman yang terkenal adalah:

1. Kuil Hanoman di Nerul Navi, Mumbai, India.
2. Puncak monyet, Himachal Pradesh, India.
3. Kuil Jhaku, Himachal Pradesh, India.
4. Kuil Sri Suchindram, Tamilnadu, India.
5. Sri Hanuman Vatika, Orissa, India.
6. Kuil Saakshi Hanuman, Tamilnadu, India.
7. Shri Krishna Matha (Kuil Krishna), Udupi.
8. Krishnapura Matha, Krishnapura dekat Surathkal.
9. Kuil Ragigudda Anjaneya, Jayanagar, Bangalore.
10. Hanumangarhi, Ayodhya.
11. Kuil Sankat Mochan, Benares.
12. Kuil Hanuman, dekat Nuwara Eliya, Sri Lanka.
13. Salasar Balaji, Distrik Churu, Rajasthan.
14. Kuil Mehandipur Balaji, Rajasthan.
15. Ada Balaji, di hutan suaka Sariska, Alwar, Rajasthan.
16. Sebelas kuil Maruthi di Maharashtra.
17. Kuil Shri Hanuman di Connaught Place, New Delhi.
18. Shri Baal Hanumaan, Tughlak Road, New Delhi.
19. Kuil Prasanna Veeranjaneya Swami, di Mahalakshmi Layout, Bangalore, Karnataka.
20. Sri Nettikanti Anjaneya Swami Devasthanam, Kasapuram, Andhra Pradesh.
21. Yellala Anjaneya Swami, Yellala, Andhra Pradesh.
22. Pura Sri Mahavir, Patna, Bihar.
23. Kuil Sri Vishwaroopa Anchaneya, Tamilnadu, India.

Hanoman dalam pewayangan Jawa

Wayang Anoman versi Surakarta.
Hanoman dalam pewayangan Jawa merupakan putera Bhatara Guru yang menjadi murid dan anak angkat Bhatara Bayu. Hanoman sendiri merupakan tokoh lintas generasi sejak zaman Rama sampai zaman Jayabaya.

Kelahiran

Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.

Mengabdi pada Sugriwa

Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali.

Melawan Alengka

Hanoman sebagai maskot SEA Games di Jakarta tahun 1997.
Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.

Tugas untuk Hanoman

Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana, adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu. Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat kekacauan di dunia.

Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa.

Anggota Keluarga

Lukisan Hanoman versi Thailand. Diambil di Wat Phra Kaeo, Bangkok.
Berbeda dengan versi aslinya, Hanoman dalam pewayangan memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Trigangga yang berwujud kera putih mirip dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar Alengka, Hanoman terbayang-bayang wajah Trijata, puteri Wibisana yang menjaga Sita. Di atas lautan, air mani Hanoman jatuh dan menyebabkan air laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih tersebut menjadi Trigangga. Trigangga langsung dewasa dan berjumpa dengan Bukbis, putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama. Dalam perang tersebut Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana namun dikejar oleh Hanoman. Narada turun melerai dan menjelaskan hubungan darah di antara kedua kera putih tersebut. Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana.
Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti, yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati.

Kematian

Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu "ingin mati", asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian. ada versi lain khususnya di jawa bahwa hanoman tidak mati dalam dalam berperang namun dia moksa setelah bertemu sunan kali jaga dan menanyakan arti yang terkandung dari jimat kalimasada karena dulu hanoman berjanji tidak akan mau mati sebelum mengetahui arti dari tulisan yang terkandung di dalam jimat kalimasada.

Sumber :
Budaya Tionghoa
Sun Go Kong
Sejarah Sun Go Kong
Hanoman

BRUCE LEE


LEGENDARIS :

Sak uwise tokoh Wong Fei Hung si Kungfu Master, sak iki onok tokoh legendaris maneh rek sing ora kalah kehebatane yoo iku cak Bruce Lee sing isok diwoco cerita singkat biografine nang ngisor iki ....

Pada tahun 1940 adalah tahun naga, di suatu rumah sakit di San Fransisco lahirlah Lee Hsiao Lung. Dokter yang menangani kelahiran bayi itu, memberinya nama Inggris, Bruce. Demikianlah sang legenda terlahir.

Saat berusia 6 tahun Bruce kecil sudah berakting untuk pertama kalinya dalam film berjudul “A Beginning Of A Boy”. Hal ini tidak mengherankan karena ayahnya Lee Hoi Chun adalah seorang aktor film.

Sebenarnya Bruce adalah anak yang rapuh bahkan ia termasuk anak yang susah makan. Sehingga ketika dia terlibat perkelahian ala jalanan ia mengalami kekalahan. Waktu itu ia berumur 14 tahun. Setelah berdiskusi dengan ibunya, ia memutuskan belajar seni bela diri.

Jenis ilmu bela diri yang ia pelajari adalah Wing Chun, ia berguru dengan Sifu Yip Man. Ia juga berguru dengan master kungfu Siu Hon Sung. Biasanya dibutuhkan tiga minggu untuk menguasai 30 jurus Siu Hon Sung, Bruce Lee hanya memerlukan tiga malam saja. Disamping itu Bruce Lee juga mendapat ketrampilan anggar dari ayahnya. Ada satu hal unik, Bruce Lee tidak hanya mahir beladiri. Ternyata ia pintar menari cha-cha bahkan pada tahun 1958 ia berhasil meraih trophy Hongkong Cha-Cha Championship.

Seiring dengan berjalannya waktu, Bruce lee ingin sekali menguji keahlian kungfunya dalam perkelahian yang sesungguhnya. Maka ia pun terlibat dalam perkelahian jalanan. Polisi memberi peringatan kepada ibunya jika Bruce tidak menghentikan ulahnya maka ia akan ditahan. Lalu ayahnya membuat keputusan untuk mengirim Bruce ke Amerika agar menjadi orang yang lebih bertanggung jawab.Dengan berbekal 100 US$ berangkatlah ia ke tanah kelahirannya San Fransisco dengan kapal laut. Dalam perjalanan Bruce masih sempat mencari uang dengan memberi kursus tari cha-cha.

Di San Fransisco, Bruce dititipkan kepada teman ayahnya, Ruby Chow, pemilik sebuah restoran. Bruce pun ikut bekerja di restoran tersebut. Setelah menyelesaikan SMA, Bruce masih giat membina fisiknya. Baginya tidak cukup sekedar menjadi ahli seni bela diri yang baik, ia harus menjadi yang terbaik.

Bruce pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Seattle dan mengambil jurusan filsafat. Di universitas tersebut ia bersua dengan sesama teman dari Asia bernama Taki Kimura Kimura pernah mengalami serangkaian serangan rasialis. Didasari belas kasihan, Bruce memotivasi Kimura untuk meningkatkan harga dirinya dengan cara melatih dia seni beladiri. Inilah cikal bakal sekolah seni beladiri kungfu dan tidak lama kemudian sekolah itu pun berdiri. Sekolah ini terbuka untuk umum atau bagi siapa saja yang berminat. Berbeda sekali dengan di Hong Kong. Di Hong Kong, kung fu adalah ilmu rahasia yang tidak boleh sembarangan diajarkan kepada orang. Hanya orang terhormat saja yang boleh mempelajari kung fu.

Tahun 1961 ia berjumpa dengan seorang gadis bernama Linda Emery. Mereka jatuh cinta, menikah, lalu lahirlah Brandon disusul Shannon dua tahun kemudian.

Tahun 1964, dalam suatu turnamen karate, Bruce mendemonstrasikan jurus pukulan satu inchi yang legendaris. Seorang producer acara televisi sangat terkesan dengan penampilan Bruce yang penuh intensitas dan konsentrasi. Lalu ia melakukan pendekatan pada pihak Bruce Lee. Setelah melalui screening test, akhirnya Bruce mendapat peran sebagai kato dalam film Green Hornet. Kato hanyalah peran pembantu dalam film itu, namun popularitasnya mengalahkan peran utamanya, terlebih di Hong Kong

Van Williams, bintang utama Green Hornet, menceritakan tentang banyaknya stunt-man terluka karena gerakan Bruce, akibatnya sukar mencari stunt-man yang bersedia bekerja dengan Bruce. Bruce juga memiliki gerakan yang teramat cepat untuk ditangkap oleh kamera sehingga Bruce terpaksa memperlambat pergerakannya.

Setelah proyek “Green Hornet” usai Bruce membuka sekolah kung fu lagi yang baru bernama “Lee Jun Fan, Gung Fu Institute”. Di tempat inilah Bruce Lee belajar menggunakan senjata nunchaku. Para pesohor pun belajar kung fu di tempat ini seperti Kareem Abdul-Jabbar, James Coburn, dan Steve McQueen. Popularitas Bruce pun meningkat dan ini menaikkan nilai seorang Bruce Lee, untuk satu sesi latihan selama satu jam harga yang ditetapkan 300US$.

Di sekolah yang baru itu pula lah Bruce menciptakan teknik Jeet Kune Do, teknik memotong serangan. Bruce berpendapat memotong serangan lebih baik dan lebih cepat dari pada menahan lalu melakukan serangan.

Tahun 1967, Bruce membintangi “A Man Called Ironside”, sebagai seorang master martial art, Bruce sering melakukan adegan berbahaya sendiri tanpa stunt-man. Karir filmnya terus berlanjut, sampai akhirnya ia bisa memenuhi apa yang dicita-citakan yaitu dibayar lebih mahal daripada Steve McQueen perfilm.

Dengan pertimbangan tertentu Bruce memutuskan melanjutkan karir filmnya di Hong Kong. Beberapa film dibintanginya, sekarang Bruce sudah dianggap sebagai pahlawan nasional. Tidak puas dengan itu semua, dia membuka perusahaan sendiri karena ia ingin menulis skenario, menyutradarai, sekaligus membintangi film selanjutnya. Lagi-lagi Bruce berhasil, beberapa film produksi perusahaannya laris manis di pasaran.

Setelah berbagai film dibuat dan berbagai kesuksesan diraih, pada tanggal 10 Mei 1973 Bruce tiba-tiba pingsan selama setengah jam saat mengisi dubbing untuk “Enter The Dragon”. Dokter memberinya resep Manatol, obat untuk mengatasi gejala brain swelling (pengembangan otak).

Pada 20 Juli 1973, Bruce berencana akan bertemu dengan Raymond Chow dan Betty Ting Pei, yang akan menjadi salah satu bintang dalam film “Game of Death”. Di rumah Betty, Bruce mengeluh sakit kepala kemudian dia meminum Aguagesic, obat sakit kepala yg biasa dikonsumsi Betty. Lalu Bruce merebahkan diri, saat tertidur ternyata serangan brain swelling datang kembali. Akhirnya Bruce meninggal di ruang gawat darurat RS Queen Elizabeth.

Kabar kematian Bruce Lee sangat mengejutkan, bahkan banyak yang tidak percaya. Berbagai spekulasi tentang kematiannya bermunculan, seperti:

1. Dia dibunuh oleh gangster karena menolak membayar uang keamanan, suatu praktek yang lazim dalan dunia perfilman Hong Kong saat itu.
2. Dia dibunuh pendekar shaolin yang marah karena Bruce telah menyebarkan kung fu kepada semua orang di penjuru dunia
3. Bruce dikutuk karena telah membeli rumah berhantu
4. Bruce meninggal saat berselingkuh dengan Betty Ting Pei
5. Kebanyakan orang Cina yakin Bruce tewas karena terlalu keras berlatih kung fu

Terlepas dari spekulasi tersebut, fakta medis menyebutkan Bruce meninggal setelah mengalami koma karena Cerebral Edema, pembengkakan otak karena cairan yang berlebih.

Berikut ada hal² yg mungkin anda tidak tau mengenai Bruce Lee.

1. Bruce Lee memiliki cacat bawaan: kaki yang panjang sebelah dan testis yang besar sebelah.

2. Bruce Lee sebenarnya pake kacamata yg cukup tebal, dan dia menggunakan soft lens. Ternyata di Amerika soft lens udah ada dari jaman dahulu.

3. Bruce Lee bukan 100% Chinese, ibunya Grace Lee adalah blasteran chinese & german, jadi bisa dikatakan Bruce Lee memiliki 1/4 darah Jerman.

4. Bruce Lee pertama kali tampil dalam film pada umur 3 bulan. Ia dibawa ayahnya, seorang yg cukup terkenal dalam Chinese Opera untuk tampil pada film pertamanya.

5. Dalam suatu lelang, sebuah surat tulisan tangan Bruce Lee untuk memotivasi dirinya sendiri dgn judul “My Definite Chief Aim” terjual seharga US$29,500.

6. Kecepatan pukulan Bruce Lee adalah 1/500 detik dari jarak sekitar 1 meter ke targetnya.

7. Bruce Lee seorang yang sangat kuat untuk ukurannya, dia dapat melakukan pull up 50 kali dgn satu tangan. Bolo Yeung (aka Chong Li) yang segitu gede tidak pernah menang panco lawan Bruce Lee.

8. Bruce Lee dapat melakukan push up dgn satu tangan hanya dgn 2 jari (telunjuk dan jempol) dan terkadang dengan dua tangan, namun hanya menggunakan jempol saja.

9. Bruce Lee mempopulerkan teknik ‘one inch punch’ yaitu tinju dari jarak 1 inci, dan pada satu turnamen karate, dia mempraktekannya pada seorang juara judo asal Jepang yang memiliki berat sekitar 100 kg. Di sini terlihat pejudo itu ditinju dari jarak 1 inci sampai terangkat kedua kakinya dari lantai.

10. Pada umur 13 tahun Bruce Lee berguru pada Yip Man untuk belajar Wing Chun karena pada waktu itu ia ikut geng dan sering berantem dgn geng lain. Ia berpikir kalau teman2 gengnya sedang tidak bersamanya, bagaimana jika ia diserang rame2.

11. Ada tiga murid Bruce Lee yg pernah memenangkan World Karate Champion: Chuck Norris, Joe Lewis dan Mike Stone.

12. Di Amerika Bruce Lee mengajarkan kung fu kepada semua ras dgn tidak pilih2, dan karena itu dia ditantang oleh perguruan kung fu lain dgn tuduhan membocorkan rahasia Chinese Martial Art kepada ras lain. Bruce Lee menerima tantangan itu dan menghajar wakil dari perguruan tsb dalam waktu 3 menit. Bruce Lee kecewa, menurut dia perkelahian haruslah berlangsung dalam beberapa detik. Dari sini dia mulai berlatih lebih keras lagi, dan menemukan konsep “Jeet Kune Do”.

13. Film Dragon The Bruce Lee Story yg diperankan Jason Scott Lee adalah film yang sangat tidak akurat dalam menggambarkan cerita nyata Bruce Lee. Di film itu Bruce Lee ditendang punggungnya, menjadi lumpuh dan harus duduk di kursi roda. Dalam kejadian nyata, cedera Bruce Lee disebabkan karena ia berlatih dgn beban yg terlalu berat dan menyebabkan cedera tulang belakang, dan sebenarnya dia tidak pernah duduk di kursi roda.

14. Dalam istirahat dari cedera tulang belakangnya Bruce Lee selama 6 bulan, terciptalah buku “Tao of Jeet Kune Do” yg menjadi best seller.

15. Beberapa waktu sebelum kematian Bruce Lee, pa qua (sejenis jimat yg dipercaya dapat menangkal evil spirits) pada rumah Bruce Lee jatuh tertiup angin.

Sumber :
Unik77 Bruce Lee Gambar Bruce Lee Kung-Fu Martial Art Wing Chun Jeet Kune Do blog unik77

Selasa, 21 Desember 2010

SI - "TENDANGAN TANPA BAYANGAN"



LEGENDARIS :

Ayok poro konco sing podho seneng ndelok pilem'me Kungfu Master, sing bintang'e jenenge Jet-Li dadi pemerane tokoh :

WONG FEI-HUNG
Kesabaran Penolong Para Tertindas

Wong Fei-Hung yang lahir pada 1847 di Kwantung (Guandong) berasal dari keluarga muslim yang dikenal ahli dalam ilmu pengobatan dan beladiri tradisional Tiongkok (wushu). Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah tabib dan pemilik klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong), serta menguasai wushu tingkat tinggi yang membuatnya terkenal sebagai salah seorang dari Sepuluh Macan Kwantung.

Kombinasi ilmu pengobatan Tiongkok tradisional dan teknik beladiri yang berpadu dengan olah keluhuran budi membuat keluarga Wong banyak turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Banyak diantara pasiennya yang meminta bantuan pengobatan berasal dari kalangan miskin tetapi mereka tetap membantu dengan sungguh-sungguh. Selain itu, secara diam-diam keluarga Wong juga turut aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’ing yang korup dan menindas rakyat.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak perjumpaannya dengan guru ayahnya bernama Luk Ah-Choi yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar. Jurus ini ditemukan, dikembangkan dan menjadi andalan Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah pendekar dari Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintah pendudukan Manchuria (Dinasti Ch’ing) pada 1734. Dengan kepemimpinan Hung Hei-Kwun inilah, para pejuang pemberontak hampir mengalahkan dinasti penjajah jika saja pemerintah tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang).

Wong Fei-Hung kemudian meneruskan belajarnya pada ayahnya sendiri hingga kemudian pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan cakar macan dan pukulan khusus sembilan. Selain dengan tangan kosong, ia juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat setempat pernah menyaksikan bagaimana ia seorang diri dengan hanya bersenjatakan tongkat (toya) berhasil mengalahkan 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia mau membela rakyat kecil yang akan mereka peras.

Dalam awal kehidupan berkeluarganya, Tuhan mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek, lalu ia memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan pasangan hidupnya yang terakhir bernama Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga sangat ahli beladiri. Mok Gwai Lan pun turut mengajar beladiri pada kelas perempuan di perguruan suaminya. Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal.

Wong Fei Hung yang juga terkenal dengan nama Huang Fei-hong adalah seorang di antara para pahlawan rakyat yang paling diagungkan dalam kebudayaan Tiongkok selatan. Karena ketenarannya, maka figur Wong diabadikan ke dalam beberapa serial novel dan lebih dari 100 serial film utama bersambung. Walaupun demikian, hanya sedikit orang yang mengetahui latar belakang kehidupan pribadi Fei-hung ini, selebihnya orang mengenal Fei-hung sebagai ahli kungfu, tabib, filsuf, dan penegak keadilan yang telah terukir dalam perfilman Hongkong dan dunia seni bela diri.

Sejarah Fei-hung

Ayah Fei-hung, Wong Kai-ying terkenal sebagai salah satu dari "Sepuluh Harimau Kanton." Menurut Bey Logan dalam bukunya yang berjudul, Hongkong Action Cinema, "semua pria ini adalah kelompok pahlawan yang hidup dengan kitab undang-undang kehormatan." Kai-ying mempelajari kungfu Hung Kuen atau Hung Gar dari guru Luk Ah-choy. Kungfu Hung Kuen, juga mempelajari pengobatan Tiongkok dan seni bela diri yang sering dianggap sebagai keturunan langsung dari kungfu Shaolin tradisional.
Dalam kungfu Tiongkok, garis silsilah seni bela diri hampir setara pentingnya dengan garis silsilah sebuah keluarga. Mengajarkan beberapa teknik kungfu dari sifu (guru) kepada beberapa siswa sangat berat karena begitu banyaknya bentuk dan teknik yang secara luas yang digunakan hari ini sering dapat dilacak kembali ke satu bilangan. Hal seperti itu biasanya untuk teknik "Tinju Selatan" yang menjadi dasar dari gaya kungfu Hung Kuen Fei-hung.

Fei-hung lahir di desa Xiqiao dalam provinsi Kanton pada tahun 1847. Menurut satu catatan sejarah, ayahnya tidak ingin mengajari Fei-hung seni bela diri, karena takut nanti akan membahayakan jiwa anaknya tersebut. Karena masih adanya keinginan untuk belajar, maka Fei-hung mempelajarinya melalui guru ayahnya, Ah Coy. Pada masa remajanya, Fei-hung terkenal memperagakan kungfu di jalanan untuk mendapatkan uang. Saat usianya menanjak dewasa, dia mengambil tanggung jawab sebagai instruktur seni bela diri terhadap Resimen kelima tentara Kanton sama baiknya dengan Guangzhou Civilian Militia. Dia kemudian sedikit terlibat dengan pemerintahan setempat setelah melatih dua orang jenderal dan menjadi asisten gubernur provinsi Fujian.

Sebagian besar kekacauan politik disekitar Fei-hung di mana saat itu warga Fujian meminta Gubernur Tang Jinsong dipilih sebagai pemimpin pemerintahan demokrasi baru sedangkan Fei-hung akan menjadi panglima tertinggi. Kerusuhan ini diredakan oleh ribuan pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Li Hongzhang. Tak ada yang perlu dikatakan lagi, hal tersebut menyebabkan berakhirnya karir politik Fei-hung , di mana dia dan Tang akhirnya melarikan diri ke Kanton. Di sana, fei-hung membuka sebuah toko obat yang diberi nama "Bo Chi Lam" dan menghasilkan keuntungan yang sedikit.

VERSI BLOG LAIN :

Dia menikah beberapa kali dan mengalami penderitaan akibat kematian yang terjadi di dalam keluarganya sendiri disebabkan oleh penyakit. Istri terakhirnya ialah, Mok Kwei Lan, pada saat dinikahinya, masih berusia remaja. Fei-hung hidup sampai usia 77 tahun di mana dia meninggal pada tahun 1924.
Sebagai seorang seniman ilmu bela diri, Fei-hung terkenal akan keterampilan ilmu bela diri Hung Kuen. Dia menguasai beberapa jenis seni bela diri tinju. Tidak hanya cukup sampai di situ, Fei-hung juga unggul dalam seni tradisional Tiongkok Selatan, Tarian Singa. Di dalam Kanton sendiri, Fei-hung terkenal sebagai, " Raja Singa."

KUTIPAN DARI SUMBER LAINNYA :

Wong Fei Hung, Ulama Jagoan dari Guandong

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film "Once Upon A Time in China". Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli pengobatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong).

Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan jurus "Tendangan Tanpa Bayangan" yang legendaris.

Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju.

Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan jurus "Cakar Macan" dan jurus "Sembilan Pukulan Khusus".

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek.

Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid.

Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya.


sumber : http://www.jaist.ac.jp
Artikel Terkait : http://sahabatsilat.com
http://id.wikipedia.org
http://www.wongfeihung.com
http://clubbing.kapanlagi.com
http://www.tribunnews.com

BATU BALLAH


KACA BRENGGALA :

Batu ballah, Batu betangkup, Tangkupkan aku, Anggan kakiku
Aku kemponan Tallor Timbakul
Oh mak, oh mak, Balik udde' Hari dah malam Adek na' nyussu.

Begitulah syair dan lagu berirama pilu yang hingga kini selalu didendangkan ketika sang ibu mengiringi si Dodoi yang sampai waktunya akan tidur. Di dalam syair lagu itu dengan mudah disimak bahwa Batu Ballah itu adalah jelmaan Dewayang mengerti akan rintihan hati seorang ibu yang pasrah berpisah dengan kedua anak kesayangannya karena terlalu besar "rasa kepinginnya" untuk menikmati lezatnya telur Tembakul di hari itu. Lalu terjadilah dialog melalui syair yang dilantunkan gadis kecilnya, satu-satunya kakak Si Bungsu yang tak henti-hentinya menangis. "Oh mak, oh mak, ampunkanlah dan maafkanlah kami yang manja. Kembalilah pada kami, Mak. Jangan dekati Batu Ballah itu. Kasihanilah adik kelaparan susu, menangis sedari tadi. Oh Mak, oh mak kemarilah jauhilah Batu Ballah itu. Kami takut mendekat ke sana......

Begitulah mengawali cerita rakyat pantai Tanjung Batu (di Pemangkat, Kabupaten Sambas) yang terkenal itu. Di sana pernah hidup tiga anak manusia, yaitu seorang ibu yang sudah menjanda bernama Mak Risah dengan kedua anaknya yang sulung perempuan bernama Long Ijun dan yang bungsu laki-laki bernama Su Pisok. Mereka hidup berkasih-kasihan dan senantiasa bertawakal menerima kadar yang serba berkekurangan sejak ditinggal pergi Sang Ayah yang sudah lama tiada.
Ditempat yang jauh dari keramaian itulah keluarga kecil ini menjalani sisa-sisa hidup dalam penderitaan, tertutup kepala terbuka kaki, tertutup kaki terbuka kepala. Kesulitan yang tiada bertepi membuat Mak Risah terkadang-kadang berputus asa. Terlebih lagi si Bungsu selalu saja menangis, sementara Long Ijun yang sangat menyayanginya hampir kehabisan waktu membantu ibunya selain menjaga dan merawat si manja yang hanya seorang itu.

Pada suatu hari Mak Risah berkata kepada putri sulungnya itu. "Nak, jaga adikmu baik-baik. Mak hendak pergi mencari Telur Tembakul". Setelah itu iapun pergi ke bibir pantai yang airnya sedang kering. Kebetulan banyak sekali ikan Tembakul hari itu, sayangnya belum kelihatan Tembakul yang sedang bertelur. Namun terhibur sejenak hati Mak Risah melihat Tembakul yang berkejar-kejaran karena ikannya dapat hidup di dua alam. Di pantai yang sesekali di lebur ombak tampak jelas ia berjalan dengan sirip dan ekornya dengan dua matanya yang besar dan menonjol.

Setelah mendapatkan telur yang cukup banyak untuk mereka bertiga lalu pulanglah Mak Risah ke pondok yang reot, didapatinya kedua anaknya sedang asyik bermain. Rupanya mereka kehabisan kayu bakar yang biasanya dicari oleh Ijun dan Pisok sambil bermain, demikianpun garam dan kunyit untuk merempahi telur yang diperolehnya itu. Ketika itu ia berpesan kepada putrinya. "Mak ke hutan dulu mencari kayu. Telur sudah mak rebus, kalau sudah masak supaya diangkat, nanti baru diberi rempah dan kita makan bersama", katanya. Long Ijun mengangguk sambil menepuk-nepuk paha adiknya dalam gendongan. Setelah itu Mak Risah pun pergi. Sebetulnya ia sangat lapar dan letih, tetapi siapa lagi yang mengerjakan itu semua.

Sepeninggal maknya, Su Pisok pun minta makan karena sejak pagi belum merasakan apapun juga, belum sempat menyusu pada maknya. Long Ijun ingat pesan maknya sebab telur belum diberi rempah akan tetapi karena adiknya tak henti-hentinya menangis ibalah hatinya. Lagipula apalah dayanya. Ia hanya seorang gadis kecil yang tidak dapat berbuat banyak, tambahan lagi perutnya sendiri terasa menggigit-gigit kelaparan. Hari sudah tinggi, namun mak yang ditunggu-tunggu belum lagi pulang. Karena tidak tahan melihat adiknya yang tak henti-hentinya menangis, lalu diambilnya panci yang terjerang diatas tungku itu. Melihat telur berwarna kuning menusuk hidung, mula-mula diambilnya sedikit, lama-kelamaan sang kakak pun turut merasakan. Dalam keadaan kelaparan itu membuat Long Ijun lupa pesan ibunya dan khilaf tidak meninggalkan untuk maknya walau sedikitpun. Selesai makan keduanya mengantuk lalu tertidur. Sepulangnya Mak Risah dari mencari kayu dan rempah betapa ia sangat terkejut melihat telur Tembakul yang tidak lagi bersisa. "Sampai hati kau Jun, Mak tidak disisakan sedikitpun", katanya mengeluh sambil duduk berpangku tangan dibendul pintu. "Su Pisok menangis terus Mak, sejak pagi kelaparan susu. Ijun pun juga lapar Mak, sampai lupa meninggalkan barang sedikit untuk Mak". "Tapi Mak pun juga lapar sekali, sedari pagi belum merasakan apa-apa. Mak mengira sepulang mencari kayu, kita makan bersama-sama". Long Ijun sedih sekali mendengar uraian Maknya itu. Sekarang apa yang harus dimasak maknya lagi, telur Tembakul sudah habis, hendak mencari lagi, air laut sudah pasang dan ikan Tembakul sudah pergi ke tempat yang jauh mencari pantai berlumpur yang lain.
"Maafkanlah kami Mak, kami telah berdosa...". Mak Risah menangis pilu, sedih sekali. "Sudahlah Jun. Mak sudah kemponan...." katanya teramat sedih karena semua keinginannya dan harapannya telah putus sehingga kemponan. Ia bangkit perlahan, kemudian berjalan lamban menuju ke Tanjung Batu. Jalannya kemudian semakin cepat, akhirnya ia meraung, menangis sambil berlari.

Sesampainya di mulut Batu Ballah iapun memohon: "Batu Ballah, Batu Betangkup, Tangkupkan aku anggan kakiku, aku kemponan Tallor Tembakul". Toop.... bunyi Batu Ballah menangkupkan kedua kaki mak Risah. Mendengar itu Long Ijun pun menangis sambil berlari menggendong Pisok yang juga menangis. "Oh..oh Mak Balik Uddek, hari dah malam, adek na' nyussu". "Tidak, aku tak mau pulang, kamu berdua jahat, tak sayang dengan Mak", jawab Mak Risah sementara kedua kakinya sudah ditangkupkan Batu Ballah, lalu iapun memohon lagi : "Batu Ballah Batu Betangkup, tangkupkan aku anggan parrutku, aku kemponan tallor timbakul". Demikianlah seterusnya sehingga ditangkup bagian perutnya, lalu lehernya.Melihat itu Long Ijun memberanikan diri menyelamatkan maknya, tapi terlambat, yang didapatkannya hanyalah rambut maknya yang panjang terurai. "Oh mak........oh mak tunggulah kami. Tega nian mak tinggalkan kami, adek kecil kelaparan susu. oh mak...oh mak hari sudah malam, pulanglah mak". Tapi Mak Risah sudah tak mau mendengar lagi.

sumber: http://novagia.8m.com
Link Terkait : http://ceritaorangbiasa.blogspot.com
http://www.flickr.com

SI PENUNGGANG KUDA ....


KACA BRENGGALA :

Pada saat Sultan Hadiwijaya bertahta di Kerajaan Pajang, beliau merasa prihatin atas penderitaan Nyai Kalinyamat yang bertapa di Trunawaja lantaran dendamnya terhadap Arya Penangsang. Oleh Sultan Hadiwijaya, Nyai Kalinyamat lalu dibujuk agar mau pulang ke Pajang. Namun, Nyai Kalinyamat menolaknya. Ia baru bersedia kembali ke Pajang asalkan Arya Penangsang dibunuh. Sultan Hadiwijaya menyanggupi permintaan tersebut, tetapi Nyai Kalinyamat diminta pulang dulu ke Pajang.

Ketika telah berada di Pajang, segeralah Kanjeng Sultan (Sultan Hadiwijaya) memikirkan cara yang akan ditempuh untuk mengalahkan dan membunuh Arya Penangsang. Pekerjaan itu tidak mudah, sebab Arya Penangsang terkenal sangat sakti dan mempunyai keris pusaka yang sangat ampuh bernama Kyai Setan Kober. Tiap hari Kanjeng Sultan selalu memikirkannya, tetapi belum juga menemukan cara yang dianggap baik. Akhirnya, setelah sekian lama tidak juga menemukan caranya, lalu dipanggillah kedua patihnya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, untuk diajak berunding.

Setelah keduanya menghadap, Kanjeng Sultan mulai menceritakan persoalannya. Singkat cerita, di hadapan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, Kanjeng Sultan menjanjikan ganjaran berupa tanah di Pati dan tanah yang terletak di hutan Mentaok apabila mereka berhasil membunuh Arya Penangsang atau Arya Jipang.

Setelah itu, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian berunding. Dalam perundingan itu, Ki Ageng Pemahanan menyampaikan pendapatnya kepada Ki Penjawi, bahwa tidak ada orang lain yang mampu membunuh Arya Penangsang selain Danang Sutawijaya. Ki Penjawi pun sependapat dengan Ki Ageng Pemanahan. Danang Sutawijaya sebenarnya adalah anak kandung Ki Ageng Pemanahan, tetapi sejak kecil telah dijadikan sebagai anak angkat oleh kanjeng Sultan Hadiwijaya. Ia adalah seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan.

Kemudian, Ki Ageng Pemanahan memanggil Danang Sutawijaya untuk memberinya tugas membunuh Arya Penangsang. Danang Sutawijaya pun menyetujuinya. Dalam percakapan tersebut Ki Ageng Pemanahan memberikan nasihat-nasihat agar Danang Sutawijaya dapat memenangkan pertarungan melawan Arya Penangsang. Nasihat-nasihat tersebut adalah:
(1) janganlah sekali-kali mendahului lawan mencebur Sungai Bengawan, apalagi menyeberanginya. Apabila ia nekat mendahului mencebur Sungai Bengawan, maka ia pasti kalah. Konon, apabila terjadi peperangan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai akan kalah;
(2) jangan mudah terpancing oleh lawan. Bagaimanapun tingkah laku Arya Penangsang, Danang Sutawijaya harus tetap berada di pinggir Kali Bengawan;
(3) dan harus memakai kuda betina.

Setelah itu, Danang Sutawijaya diberi senjata pusaka berupa sebuah tombak yang bernama Kyai Plered. Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawa dan Danang Sutawijaya kemudian berunding untuk mencari cara agar Arya Penangsang dapat ditaklukkan. Dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi akan pergi ke Jipang untuk memancing Arya Penangsang agar bersedia bertarung di Sungai Bengawan. Sementara Danang Sutawijaya disuruh untuk bersiap-siap menghadapi Arya Penangsang di tepi Sungai Bengawan.

Keesokan harinya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi berangkat ke Jipang untuk memancing kemarahan Arya Penangsang. Sampai di sana mereka bertemu dengan seorang pekatik (pemelihata kuda) yang sedang mencari rumput. Kebetulan pekatik yang ditemui itu adalah orang yang mengurusi kuda milik Arya Penangsang atau Arya Jipang. Melihat pekatik itu Ki Ageng Pemanahan memanggilnya dan langsung mengikatkan sepucuk surat di telinga si pekatik. Sesudah itu si pekatik disuruh pulang untuk menyerahkan surat tersebut kepada Arya Penangsang. Adapun isi surat itu adalah tantangan kepada Arya Penangsang untuk bertarung di Sungai Bengawan.

Ketika si pekatik tersebut telah sampai di tempat tinggal Arya Penangsang, kebetulan Arya Penangsang sedang mengadakan pasewakan bujana andrawina. Surat dari Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu disodorkan oleh si pekatik kepada Arya Penangsang. Melihat cara mengirimkan surat saja Arya Penangsang sudah marah. Apalagi ketika ia membaca isinya. Dengan tidak mengambil pertimbangan lagi ia segera mengambil keris saktinya yang bernama Kyai Setan Kober dan langsung mengendarai kuda jantan andalannya yang bernama Gagang Rimang menuju ke Sungai Bengawan.

Kuda yang bernama Gagak Rimang ini adalah kuda andalan Arya Penangsang yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan. Gagak Rimang perawakannya gagah dan tegap, badannya tinggi dan besar tetapi lincah sekali. Warna bulunya yang hitam mengkilat, menjadikannya tampak berwibawa.

Saat Arya Penangsang sampai di pinggir kali Bengawan, ternyata Danang Sutawijaya telah menunggunya di seberang sungai. Sesuai dengan pesan ayahnya, Danang Sutawijaya datang dengan berkendaraan kuda betina serta membawa tombak Kyai Plered.
Melihat Danang Sutawijaya telah berada di seberang sungai, Arya Penangsang lalu mulai berteriak-teriak menantangnya. Untunglah Danang Sutawijaya tetap tenang. Karena sudah beberapa lama berteriak-teriak tetapi tidak mendapat tanggapan, akhirnya ia menjadi marah. Ia tidak dapat lagi mengendalikan emosinya, sehingga dengan tidak berpikir panjang Arya Penangsang terus mencebur ke sungai.

Danang Sutawijaya sangat bersenang hati melihat Arya Penangsang telah mendahului mencebur sungai. Ia lalu turun menyusul ke sungai. Di tengah Sungai Bengawan itu terjadilah perang tanding antara Arya Penangsang di satu pihak melawan Danang Sutawijaya di lain pihak. Arya Penangsang mengendarai Gagak Rimang, seekor kuda jantan, sedang Danang Sutawijaya mengendarai kuda betina. Akibatnya kuda jantan milik Arya Penangsang menjadi birahi. Selanjutnya, Gagak Rimang hanya mengekor si kuda betina, sehingga gerak-geriknya sulit dikendalikan. Dan, Arya Penangsang pun menjadi kewalahan.

Arya Penangsang menjadi agak lengah karena perhatiannya sebagian dicurahkan kepada Gagak Rimang yang sedang berontak itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Danang Sutawijaya. Dengan tombak Kyai Plered ditusuklah perut Arya Penangsang. Akibatnya perut Arya Penangsang menjadi robek dan usunya terburai.

Walaupun ususnya telah menjulur keluar dari perut, tetapi Arya Penangsang masih tetap hidup. Bahkan kelihatan lebih gigih menyerang lawannya. Dan, supaya tidak mengganggu gerakannya, maka usus yang menjulur itu lalu disampirkan pada pendok kerisnya. Peperangan pun terus dilanjutkan. Kali ini Arya Penangsang malah kelihatan semakin ganas, sedang Danang Sutawijaya posisinya mulai terdesak.

Melihat keadaan Danang Sutawijaya yang kurang menguntungkan itu, maka Ki Ageng Pemanahan yang dari awal telah bersembunyi di atas bukit, segera menggunakan siasatnya. Ia pura-pura memihak Arya Penangsang. Dengan lantang ia meneriakkan kata-kata, “Bunuh saja Danang Sutawijaya!”
Siasat itu ternyata berhasil. Arya Penangsang menjadi lebih bersemangat lagi menyerang. Dengan membabi buta dan tanpa perhitungan ia terus maju. Namun, karena terbawa emosi maka ia kurang berhati-hati, sehingga kerisnya malah mengenai dan memutuskan ususnya sendiri. Arya Penangsang tewas seketika.

Setelah Arya Penangsang tewas, maka Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian menghadap Kanjeng Sultan Pajang, melapor bahwa Danang Sutawijaya telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Mendengar berita ini, Sultan Pajang sangat gembira. Singkat cerita, setelah kedua patih itu berhasil melaksanakan tugasnya, mereka dihadiahi tanah Pati dan Mentoak, seperti apa yang telah dijanjikan sebelumnya.

Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu berunding. Dalam perundingan itu diperoleh kata sepakat bahwa Ki Penjawi mendapat tanah di Pati, sedang Ki Ageng Pemanahan mendapat tanah Mentoak. Sesudah kesepakatan dicapai, keduanya lalu menuju ke tempat bagiannya masing-masing.

Sewaktu akan berangkat ke Mentoak, Ki Ageng Pemanahan mengajak Danang Sutawijaya untuk ikut serta pindah ke sana. Demikianlah, tanah Mentoak yang semula berwujud hutan belantara yang mengerikan dan membahayakan, akhirnya berubah menjadi pusat kerajaan besar yang bernama Kerajaan Mataram.

Sumber:
Suwondo, Bambang. 1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Link original :http://uun-halimah.blogspot.com
Link Terkait :http://citizennews.suaramerdeka.com
http://id.wikipedia.org

PRABU BALADEWA


BALARAMA = KAKRASANA = BALADEWA

Raden Kakrasana waktu jadi raja di Madura bergelar Prabu Baladewa. Ia naik tahta setelah menjadi menantu Prabu Salya, raja di Madraka. Ketika itulah ia mendapat gelar Prabu Baladewa, karena pada waktu kawin dihadiri oleh para dewa. Ia mendapat hadiah dari Betara Guru berupa senjata Algora dan diberi nama oleh dewa Kusumawalikita, Balarama, Basukiyana. Hyang Narada memberi nama Alayuda. Setelah menjadi raja ia memihak pada Kurawa dan memusuhi Pandawa, saudara misannya sendiri. Karena kesaktian Prabu Baladewa itu dipandang oleh Sri Kresna tidak akan tertandingi, maka menjelang perang Baratayudha, ia ditipu oleh Sri Kresna supaya bertapa di Grojogan Sewu.

Setelah Prabu Baladewa mendapat nasehat Sri Kresna, ia menuju tempat yang ditunjuk dan bertapa di Grojogan Sewu. Pada saat bertapa di air terjun, terlihat darah mengalir dan mengertilah ia bahwa perang Baratayudha telah terjadi. Setelah perang, Prabu Baladewa kembali Ke Hastinapura, dan mengetahui kekalahan Kurawa dan binasa di medan perang. Kemudian Prabu Baladewa mengikuti Pandawa mengasuh Prabu Parikesit hingga ajalnya. Prabu Baladewa mempunyai senjata bernama Nanggala, kesaktiannya tak seorang pun yang mampu menahannnya sekalipun ia dewa.

BENTUK WAYANG

Prabu Baladewa bermata kedondongan, hidung dan muka serba lengkap, bermahkota jamang tiga susun dan garuda membelakang. Berpraba, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain katongan.
Prabu Baladewa berwanda; 1) Geger karangan Susuhunan Anyakrawati wafat Krapyak, 2) Kaget, 3) Sembada, 4) Paripeksa, 5) Rayung.

Kemunculan Baladewa

Baladewa sebenarnya merupakan Kakak kandung Kresna karena terlahir sebagai putera Wasudewa dan Dewaki. Namun karena takdirnya untuk tidak mati di tangan Kamsa, ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin.

Kamsa, Kakak dari Dewaki, takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan terbunuh di tangan putera kedelapan Dewaki. Maka dari itu ia menjebloskan Dewaki beserta suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan oleh Dewaki. Secara berturut-turut, setiap puteranya yang baru lahir mati di tangan Kamsa. Pada saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, nasib anaknya yang akan dilahirkan tidak akan sama dengan nasib keenam anaknya terdahulu. Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti "pemindahan janin".

Akhirnya, Rohini menyambut Baladewa sebagai puteranya. Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan Reawati, puteri Raiwata dari Anarta.

Baladewa mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Seperti kerajaan Widarbha dan Raja Rukmi, ia tidak memihak Pandawa maupun Korawa. Namun, ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Hal itu dapat dicegah oleh Kresna dengan menyadarkan kembali Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.

Ciri-ciri fisik

Lukisan India modern, yang menggambarkan Baladewa berdiri di dekat sungai Yamuna.
Balarama seringkali digambarkan berkulit putih, khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu Kresna, yang dilukiskan berkulit biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya adalah bajak dan gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti "kuat". Baladewa merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.

Baladewa dalam susastra Hindu

Bhagawatapurana

Pada suatu hari, Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni, pendeta keluarga, untuk mengunjungi rumah mereka dalam rangka memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Ketika Gargamuni tiba di rumahnya, Nanda Maharaja menyambutnya dengan ramah dan kemudian menyuruh agar upacara pemberian nama segera dilaksanakan. Gargamuni memperingatkan Nanda Maharaja bahwa Kamsa mencari putera Dewaki dan jika upacara dilaksanakan secara mewah maka akan menarik perhatian Kamsa, dan ia akan mencurigai Kresna sebagai putera Dewaki. Maka Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni untuk melangsungkan upacara secara rahasia, dan Gargamuni memberi alasan mengenai pemberian nama Balarama sebagai berikut:
“Karena Balarama, putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana. ”
(Bhagawatapurana, 10.8.12)

Mahabharata

Baladewa terkenal sebagai pengajar Duryodana dari Korawa dan Bima dari Pandawa seni bertarung menggunakan gada. Ketika perang meletus antara pihak Korawa dan Pandawa, Baladewa memiliki rasa sayang yang sama terhadap kedua pihak dan memutuskan untuk menjadi pihak netral. Dan akhirnya ketika Bima (yang lebih kuat) mengalahkan Duryodana (yang lebih pintar) dengan memberikan pukulan di bawah perutnya dengan gada, Baladewa mengancam akan membunuh Bima. Hal ini dicegah oleh Kresna yang mengingatkan Baladewa atas sumpah Bima untuk membunuh Duryodana dengan menghancurkan paha yang pernah ia singkapkan kepada Dropadi.

Akhir riwayat hidup

Arca Krishna-Balarama dari Krishna-Balarama Mandir, Vrindavan, India.
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu, dan setelah ia menyaksikan Kresna yang menghilang, ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.

Tradisi dan pemujaan

Dalam tradisi Waisnawa dan beberapa sekte Hindu di India, Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut "Krishna-Balarama". Mereka memiliki hubungan yang dekat dan selalu terlihat bersama-sama. Jika diibaratkan, Kresna merupakan pencipta sedangkan Baladewa merupakan potensi kreativitasnya. Baladewa merupakan saudara Kresna, dan kadang-kadang dilukiskan sebagai adik, kadang-kadang dilukiskan sebagai kakaknya. Baladewa juga merupakan Laksmana pada kehidupan Wisnu sebelum menitis pada Kresna, dan pada zaman Kali, beliau menitis sebagai Nityananda, sahabat Sri Caitanya.

Dalam Bhagawatapurana diceritakan, setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran antara wangsa Yadu dan Wresni, dan setelah ia menyaksikan Kresna mencapai moksa, ia duduk untuk bermeditasi agar mampu meninggalkan dunia fana lalu mengeluarkan ular putih dari dalam mulutnya. Setelah itu ia diangkut oleh Sesa dalam wujud ular.


Baladewa dalam Pewayangan Jawa

Prabu Baladewa atau Balarama dalam bentuk wayang kulit versi Jawa.
Dalam pewayangan Jawa, Baladewa adalah saudara Prabu Kresna. Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.

Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.

Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.

Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di Grojogan Sewu(Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.

Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.


Sumber :http://wayangku.wordpress.com
Link Terkait :
http://id.wikipedia.org