KUNJUNGAN KE :

Kamis, 22 April 2010

GARENG KESASAR JILID DUA


Pagi harinya, Petruk dan Bagong akhirnya berangkat juga untuk menempuh perjalanan ke Surabaya. Mereka harus menempuh perjalanan ke luar desa dengan berjalan kaki terlebih dahulu menuju desa seberang sebab desa mereka masih belum dapat dilewati kendaraan bermotor.

Kalaupun ada, itu hanya beberapa gelintir orang saja yang memilikinya dan harus bersusah payah untuk dapat melewati jalanan desa yang memang masih berupa area persawahan warga desa Karang Tumaritis.

Sedangkan desa seberang, yakni desa Randu Sewu yang dekat dengan pusat ekonomi warga desa (pasar), sudah banyak warga yang telah mampu memiliki kendaraan beroda empat, hal ini membuat perekonomian desa Randu Sewu cepat berkembang pesat.

Dengan berbekal seikat jagung yang dipikul dengan tongkat oleh Petruk, mereka berdua dengan langkah mantap akan pergi ke Surabaya untuk menjemput kakaknya.

Dengan mata yang berbinar-binar karena ingin segera tahu bagaimana wajah kota Surabaya, Petruk dan Bagong sambil tersenyum simpul menjawab setiap sapaan beberapa warga desa yang di kenalnya ketika dalam perjalanan menuju desa seberang.

Beberapa kawan mereka seperti Mbilung, Togog, Lembuk dan masih banyak lagi yang mereka temui diperjalanan ketika berpapasan di area persawahan desa berharap agar si-Gareng kakak mereka segera dapat ditemukan.

Dan tak juga sedikit para pemuda yang masih ogah-ogahan pergi ke sawah/ladang karena senang bermalas-malasan sambil berongkang-ongkang kaki di warung kopi mencibirkan bibir melihat Petruk dan Bagong akan ke Surabaya.

Tak terasa perjalanan kaki Petruk dan Bagong telah sampai di ujung perbatasan desa seberang. Nampak oleh mereka lalu-lalang warga desa Randu Sewu dan sekitarnya yang cukup ramai mereka temukan sepanjang perjalanan memasuki desa tersebut.

Tujuan Petruk dan Bagong memasuki desa tersebut cuma satu, agar mereka segera dapat menumpang salah satu kendaraan beroda empat yang parkir berjajar-jajatr di sekitar depan pasar desa andu Sewu. Mereka berdua masih harus dengan sabar para buruh kuli angkut yang hilir mudik menaikkan segala macam jenis hasil panenanwarga desa yang akan diangkut ke kota untuk dijual.

Bagong yang agak kurang sabaran mendekati bebrapa sopir truk yang lagi enak-enakan bermain catur di sebuah warung kopi.

Bagong :
"Masih lama Kang truknya berangkat ?!"

Mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba dari Bagong, salah seorang sopir yang bermain catur itu dengan seenaknya.

Sopir :
"Yaa.., masih lama....!! N'tar kiamat baru diberangkatkan ... !!"

Hal ini membuat orang-orang yang ikutan menonton permainan catur itu kontan tertawa. Membuat Bagong menjadi salah tingkah.

Sopir :
"Hus..., sana pergi sana !! Anak kecil kok pagi-pagi ke pasar ...!!
Sana pergi ke sekolah sana ...!! Usir sopir yang satunya yang menyangka Bagong seorang anak kecil.

Pemilik Warkop (Warung Kopi):
"Ayoo... tole jangan mengganggu yaa ..!!
Pergi sana nanti dicari bapak-ibumu ayoo... !!"

Bagong hanya dapat diam terbengong sambil ngeluyur keluar dari beranda warkop sebab merasakan dirinya seakan diusir mentah-mentah oleh penjaga warkop itu sendiri karena dipikir dirinya masih anak kecil.

Memang tubuh Bagong itu sendiri kecil, bulat seperti angka nol kalau dilihat dari jarak 5 meteran. Banyak orang yang tak mengenalnya menyangka ia seperti anak kecil.

Kembali Bagong menuju ke arah Petruk yang duduk berselonkor kaki sambil menyedot rokok lintingan daun jagung, istirahat berkipas-kipas kepanasan dengan topinya di bawah pohon jeruk purut yang ada di dekat pasar.

Bagong :
"Aku diusir Kang...!!" Adu Bagong kepada kakaknya.

Petruk :
"Diusir kena apa ... ?!" Tanya Petruk dengan santai sambil kembali menyedot rokoknya.

Bagong :
Yaa.. diusir ama sopir dan penjaga warung kopi pojok itu Kang ...!!"

Petruk :
"Mengapa kamu ke sana ...!!" Menanggapi aduan Bagong sambil lalu karena asyik menikmati rokoknya.

Bagong :
"Aku haus kang..., ingin beli es temulawak di sana ...!!
kulihat ada para sopir truk lagi main catur yaa coba kudekati...!!
Lalu aku coba bertanya ...!!"

Petruk :
"Bertanya apa kamu kok sampai diusir mereka ?!" Tanya Petruk mulai mengerti arah aduan si-Bagong.

Bagong :
"Aku tanya..., kapan truk-nya berangkat..., cuma itu saja !!" Jawab Bagong sambil ikutan duduk n'delosor dekat Petruk.

Petruk :
"Memang begitu ...!!"

Bagong :
"Begitu apanya Kang Petruk ... ?!" Tanya Bagong tak mengerti.

Petruk :
"Yaa... begitulah sikap orang yang sudah luas pengalamannya ...!!
Mereka itu luas pergaulannya, sudah berpengalaman ke luar-masuk desa dan kota besar sehingga terpengaruh sikap dan perilakunya sebanyak yang ia dapatkan dari pengalamannya itu ...!! Jadinya yaa... selalu meremehkan orang yang dianggap remeh seperti kamu ini...!!" Jawab Petruk berputar-putar membuat Bagong tambah tak mengerti.

Bagong :
"Ah...!! Masa bodoh aku tidak mengerti maksudmu kang Petruk ?!"

Petruk :
"Orang udik seperti kita ini..., yang selalu jadi pandangan remeh bagi orang-orang yang merasa sok- ke-kota-kota-an seperti mereka ...!!" Sahut Petruk.

Bagong :
"Lho ..., desa ini khan juga udik Kang ?!"

Petruk :
"Memang.., desa ini masih dibilang udik...!! Tapi orang-orangnya yang nggak mau dibilang begitu...!! Karena mereka kebanyakan sudah menganggap dirinya layak seperti orang kota !!"

Bagong :
"Kok bisa begitu Kang ...!"

Petruk :
"Yaa iyaa lah...!! Mereka itu sudah berpengalaman ke luar masuk kota besar. Apalagi Surabaya, Malang, Madiun..., dan lain-lain. Sehingga pengalaman mereka di bandingkan dengan warga desa kita yang hanya seberapa gelintir saja yang merantau cari pekerjaan ke kota sangat jauh...!!"

Bagong :
"Ngeeng ..., begitu rupanya..."

Petruk :
"Coba kamu lihat itu ...!! Listrik sudah masuk ke desa ini...!! Pasar yang besar dan ramai...!! Jalanan desa yang cukup luas untuk dilewati kendaraan bermotor...!!
Para warga sekitar pasar mata pencariaannya tak hanya bertani..., tapi juga diselingi dengan dagangan kecil-kecilan seperti itu ...!! Ini membuktikan bahwa desa ini sudah maju dan hidup perekonomian warganya...!!

Bagong :
"Oh..., iya...iya...!!"

Petruk :
"Coba..., kamu bandingkan dengan desa kita yang ada di seberang sungai itu...!!
Desa kita masih murni hidup tergantung pada tanah ...!! Listrik belum ada ...!! Jalanan becek akibat masih berupa tanah bekas sawah ...!! Penjual kebutuhan hidup sehari-hari cuma hanya satu... dua saja. Itupun buka tutup...tergantung persediaan dagangan...!! Televisi yang dimiliki warga cuma pak Lurah saja yang punya...!! Apa bisa disebut desa maju ...?!"

Bagong :
"Iya.. ya...!!"

Petruk :
"Sekolahan-pun cuma SD itupun hampir ambruk bangunannya di makan rayap...!!
Gurunya angin-anginan datang ke sana karena cuma satu dua gelintir anak yang mau sekolah ...!! Mana bisa dibilang maju...!! Lha wong warga desanya aja nggak suka anak-nya pergi sekolah mencari ilmu...!! lebih baik mereka disuruh membantu menggarap sawah...!!"

Bagong :
"Wah..., Kang Petruk kok ngerti hal beginian yaa..., dari mana Kang ?!"

Petruk :
"Kang Petruk gitu lho...!! Dibilang pinter yaa cuma tamatan SD...!! Tapi Kang Petruk gemar mendengarkan siaran radio kuno milik Romo Semar tiap malam...!!
Yaa..., sedikit banyak dapat tambahan wawasan dan pengetahuan Gong !!"

Bagong :
"Benar juga Kang...!!"

Tak terasa sinar matahari sudah cukup terik,dan truk yang telah diisi hasil panenan warga desa bersiap-siap untuk diberangkatkan oleh sopirnya, membuat obrolan Petruk dan Bagong di bawah jeruk purut itu dihentikan, karena mereka harus bergegas ikut menumpang salah satu truk angkutan hasil bumi itu ke kota....


BERSAMBUNG KE : GARENG KESASAR JILID TIGA

Jumat, 16 April 2010

GARENG KESASAR JILID SATU


VERSI BAHASA INDONESIA

Semenjak musim kemarau enam bulan yang lalu bersama dua orang kawannya, Gareng yang pergi merantau ke Surabaya tak kunjung pulang ke desa. Sedangkan dua orang kawan si Gareng sudah beberapa minggu yang lalu telah kembali ke desa. Gareng sendiri yang kata kedua temannya bekerja ikut orang dan terpisah dengan mereka sampai saat ini belum ada kabar beritanya untuk pulang ke desa.

Hal ini membuat anak dan isterinya terus menerus menangis. Membuat hati mertuanya yaitu Ki Lurah Semar bertambah sedih. Betapa tidak, Gareng merupakan anak tertua yang sudah berkeluarga. Sedangkan Petruk dan Bagong masih senang membujang.

Melihat kesedihan yang menimpa anak-isterinya Gareng, Ki-Lurah Semar akhirnya memutuskan untuk menyuruh Petruk dan Bagong untuk mencari dan membawa pulang si-Gareng di Surabaya.

Petruk :
"Waduh Surabaya khan kota metropolitan ke dua setelah Jakarta Moo ..., kota besar tentunya sangat ramai dan sulit sekali untuk menemukan Kang Gareng ?!"

Bagong :
"Benar Romo !! Kita akan sangat lama sekali untuk dapat menemukan Kang Gareng nantinya. Bisa habis perbekalan kita untuk beberapa hari saja nanti Moo ...!!"

Lurah Semar :
"Apa kalian ini tidak kasihan melihat kakak ipar dan keponakanmu terus-menerus menangis kangen dengan bapaknya seperti itu toh tole...!!"

Petruk :
"Yaa kasihan Moo ..., tapi kami belum pernah ke Surabaya sama sekali ...!!
Betul tidak Gong ...!!"

Bagong :
"Benar Moo ..., kita ini orang desa yang tak pernah ke-mana-mana...
Lha wong setiap hari selalu bergelut dan berkecimpung menggarap sawah melulu ...!!"

Lurah Semar :
"Meskipun kalian ini orang desa, tapi kalian berdua khan pernah sekolah dan masih bisa baca-tulis ...!!
Sedangkan kakakmu si-Gareng, yang dulu mogok disuruh sekolah oleh Romo ..., tentunya tak dapat membaca..., apalagi menulis!! Jadi apa anak itu sekarang berani-beraninya merantau ke Surabaya ?!" (Kata Romo Semar menunjukkan wajah yang sedih).

Petruk :
"Kata Parjo dan Paiman yang mengajak Gareng ke Surabaya..., mereka telah putus kontak dengan Kang Gareng ketika Kang Gareng mau ditawari orang untuk ikut kerja kuli batu di Pelabuhan Tanjung Perak !!"

Ki-Lurah Semar :
"Oalah Reng... Gareng !! Lha wong disini saja kehidupanmu sudah berat ...!! Kok malah pergi ke Surabaya dengan pekerjaan yang sama-sama beratnya seperti disini !!" (Ki-Lurah Semar bertambah sedih hatinya).

Bagong :
"Sudahlah Moo...!! Janganlah Romo ikut sedih...., biar kami nanti yang akan mencari Kang Gareng di Surabaya ...!!" (Kata Bagong menghibur bapaknya).

Petruk :
"Yaa Moo..., kami pasti berangkat ke Surabaya besok pagi ...!!" (Tambah Petruk turut menghibur bapaknya yang sedih itu).

Ki-Lurah Semar :
"Benar yaa tole...?! Kasihan kakakmu disana sendirian tak ada sanak famili sama sekali. Oaalah Reng... Gareng ....!! Nasibmu kok seperti itu toh tole ...!!" (Ki-Lurah Semar mulai meneteskan air mata. Menambah sedih pula hati Petruk dan Bagong).

Petruk :
"Gong...!! Kamu punya simpenan uang berapa Gong ?!" (Tanya Petruk dengan nada serak).

Bagong :
"Kemarin lusa sudah aku belikan pupuk urea Kang Petruk ...!! Kini cuma tinggal dua puluh lima ribu saja !!" (Jawab Bagong sambil mengkucek matanya yang mulai sembab).

Ki-Lurah Semar :
"Itu..., ambil saja tabungan Romo untuk bekal kalian besok ... !!"

Petruk :
"Tidak perlu Moo..., itu khan uang simpanan Romo untuk naik haji ...!! Tidak perlu kita memakai uang itu Moo ..., nanti bisa kualat aku dan Bagong ...!!"

Bagong :
"Kamu sendiri punya simpanan uang berapa Kang Petruk ?! (Tanya Bagong yang juga mulai meneteskan air mata).

Petruk :
"Aku sih masih ada seratus lima puluh ribu ...Gong !!" (jawab Petruk).

Bagong :
"Apa masih kurang Kang ..., buat bekal ke Surabaya besok ?!"

Petruk :
"Aku kira sih....,eeng... mungkin cukup untuk beberapa hari di sana !!" (Jawab Petruk agak ragu-ragu).

Bagong :
"Iya Kang ...!! Tapi kalau satu minggu Kang Gareng belum kita temukan bagaimana ?!"

Petruk :
"Itu yang susah Gong ...!! Makan apa kita di sana nanti ?! Bisa-bisa kita sama seperti Kang Gareng ...!!"

Bagong :
"Sama apanya Kang ...?!"

Petruk :
"Yaa..., kita sama-sama bisa pergi ke Surabaya tapi tidak dapat pulang kembali ke desa ...!!"

Ki-Lurah Semar :
"Lebih baik bawa saja uang simpanan Romo itu Truk ...!!"

Petruk :
"Nggak perlu Moo ...!! Biar kami nanti cari utangan di tetangga sebelah khan bisa...!! Daripada memakai uang untuk keperluan naik haji....!! Apa Romo ingin aku dan Bagong kuwalat Moo...?!"

Ki-Lurah Semar :
"Yaa nggak ingin Tole...!1 Siapa sih yang menginginkan anak-anaknya celaka ?! Kehilangan Gareng kakakmu saja sudah seperti ini hati Romo ...!!"

Bagong :
"Aku punya akal Kang Petruk !!" (Tiba-tiba wajah Bagong agak ceria).

Petruk :
"Akal bagaimana Gong ?!" (Tanya Petruk pada adiknya si-Bagong yang memang terkenal cerdik dan banyak akal itu).

Bagong :
"Bagaimana kalau uang kita itu hanya untuk bekal transport naik kendaraan pulang -pergi saja ...!!"

Petruk :
"Lha bekal kita untuk mengisi perut apa Gong ?!" (Potong Petruk penasaran).

Bagong :
"Kita bawa saja jagung mentah...!! Khan Romo Semar masih punya simpanan beberapa ikat jagung di lumbung belakang !!"

Petruk :
"Tiap hari kita makan jagung Gong...?!"

Bagong :
"Yaa iyaa laah..., masak makan kayu...!!"

Petruk :
"Syukur... kalau Kang Gareng kita temukan satu-dua hari saja!! Tapi kalau lebih dari satu minggu..., kita makan jagung terus bisa jadi ayam kita nanti Gong !!"

Bagong + Semar :
"Hehehe....!!" (Bagong dan Ki-Lurah Semar mulai dapat tertawa)

Petruk :
"Yaa nggak apa-apa Gong !! Besok kita berbekal jagung saja...!!" (Sahut Petruk sambil nyengir seperti kuda).


BERSAMBUNG KE : GARENG KESASAR JILID DUA

Kamis, 15 April 2010

BAGONG MBECAK SERI LORO


Sambungan : Bagong Mbecak Seri Siji

Becak sing rodhok kempos eban'ne iku akhire ngelinding arah ngalor. Bagong sing bebetan sarung abang memet iku mancal terus becak'e. Gak perduli gerimis sing dhurung mari-mari nelesi dalanan.

Mumpung oleh penumpang pikire. Sing penting ndang dieterno nang tujuan'ne..., oleh duwek ..., titik.

Ngliwati dalan Diponegoro sing petheng dhedehet amergo lampu kuto podho mati. Bagong ambek cengar-cengir mancal becak'e.

Dasar uwonge cilik bunder methekel, sikil'le rodhok ora gayok ambek pedhal'le becak. Bagong rodhok kangelan mancal becak'e ...

Mince :
"Eng...., ngomong-ngomong uwis pirang ulan sampeyan mbecak Cak ?!" Ujug-ujug takok Bagong.

Bagong :
"Petang ulan kurang Non Mince ...!!"

Mince :
"Lha..., uwis lumayan suwi ngono nang Suroboyo ...!! Mosok isik nggak apal dalan ?!"

Bagong :
"Soale..., biasane mlaku ngulon Non ...!!"

Mince :
"Dalan iki terus'ae Cak...!! Ora usak menggok-menggok sampek tekok setopan kono !!"

Bagong :
"He'e... Non !!"

Mince :
"Sampeyan jeneng'e sopo Cak ...?!"

Bagong :
"Bagong ..., Non !!"

Mince :
"Sopo ...?! Bogang ...!!"

Bagong :
"Bagong ..., Non !! Sanes Bogang !!"

Mince :
"Oh...., Bagong toh ?! Iihh, koyok jeneng'e dagelan'ne wayang sing dikeplek-keplek'no iko ...!!"

Bagong :
"Yoo..., aku iki uwong'e Non ..." (Jawab'be Bagong njero ati ).

Mince :
"Bagong nang wayang iku uwong'e cilik methikil, tapi gendut awak'e. Moto'ne ombo, cangkeme ndoweh ..., paling mbethik sak dhuluran'ne ...!! Lak yoo ngono tah gambarane Bagong iku Cak ?!"

Bagong :
"Matamu suwek iku..., yoo iku aku sing mancal becak iki wet..., cerewet !!" (Sahut Bagong sing ngerundel njero ati).

Mince :
"Sampeyan seneng ndelok wayang kulit tah Cak Bagong ?!"

Bagong :
"Mboten natih ningali wayang kulo Non ...!!"

Mince :
"Iih..., bohong dech !! Mosok ndelok wayang'ae nggak tau sampeyan ?!"

Bagong :
"Ndeso kulo jarang wonten ingkang nanggap wayang Non ...!!"

Mince :
"Idiih..., mustahil dech ah !! Mosok wong ndeso ora seneng nanggap wayang !! Cak Bagong tekok ndeso endhi sih ?!"

Bagong :
"Ndeso Karang Tumaritis Non ...!!"

Mince :
"Mosok yoo..., ora onok sing seneng wayang kulit Cak Bagong ?! Lha lek onok wong nduwe gawe... Koyok sunatan ambek mantenan terus nanggap opo hayoo Cak ?!"

Bagong :
"Sing paling kathah nggeh nanggap tayop-Ledek, ndangdut, kale pilem... kathah-kathah'e tiyang mriko lek ngadah damel ... Non !!"

Mince :
"Iihh.., sama aja ama orang kota Surabaya nih ...!! Udah ninggal'no budoyo bongso ...!! Sak iki seneng hiburan sing ora pokro-pokro"

Bagong :
".... iyoo gak pokro koyok uwong model'le koyok koen ..." (pikir Bagong)

STOPAN Jl. Dr. Sutomo

Bagong :
"Lampu stopan mangke belok kiwo nopo tengen Non ...?!" Gak keroso Bagong mancal'le uwis tekok setopan.

Mince :
"Yaa menggok kiwo Cak ...!! Lek nengen iso nang kebon binatang iki engkok !!"

Bagong :
"Iyoo...., ambek ngandang'no koen cek nggat takok'ae koyok jalak uret..." (Jare Bagong njero atine).

Mince :
"Tapi..., Mince ndelok-delok..., sampeyan pancen mirip karo Bagong sing onok nang wayang kulit iko he' Cak ...!!"

Bagong :
"Oh..., juangkriik iku. Isik ngecembeng'no aku'ae uwong iki ..." (Bagong mulai mangkel athine).

Mince :
"Idiih..., Pancene sampeyan persis he' Cak !! Ndelok'en gak onok sing gak persis ambek gambare Bagong nang wayang kulit iko ?!
Wah melok'o daftar ngelawak Cak..., nang dalang-dalang kondhang sing biasane ngawe lawak'ane Bagongan ...!!
Cek gak cumak diisi mas Kirun ambek mas Bagio thok'ae sing macak model Bagongan !!
Sing paling pas ..., iyoo sampeyan sing dadi Bagong nang lawak'an Pagelaran Wayang Kulit iku Cak...!!
Pancen sampeyan mirip pleg..., gak isok dibedak'no ambek gambare ...!!"


Sangking pegel'le athine Bagong sing mulai mancal becak tekok Pasar Kembang sampek tekok prapatan Dr. sutomo iku, kuping'e grisi'en ngrungok'no penumpang'e ngecembeng'ae sing ditujuk'no nang awak'e ....
Akhire Bagong mencolot soko ndukure becak'e ....
Terus dhewek'ne melayu mbalik arah ....

Becak ngelinding dhewe ...
Mince, bencong Irian Barat sing cerewet iku ora sadar...
Lek becak sing ditumpak'i iku uwis ditinggalno sing mancal...
Kok njelala dalanan pas njojlok mudhun...

Tambah suwi playune becak tambah banter ...
Mince, isik ngecembeng'ae nang njero becak sing ditutupi terpal plastik iku ...
Uwong-uwong sing onok nang dalanan podho jemlerit bengok-bengok ...
Karepe menehi weruh uwong sing onok nang njerone becak melaku dhewe ...
Tapi, sing nang njero becak pancen kuping'e rodhok dublek ...
Gak kerungu lek uwong sak embong podho bengak-bengok menehi weruh ...
Cangkeme mince isih nerocos koyok kompor gas sing nggebros ...

Gak suwe..., kiro-kiro onok rong atus meter tekok anjlok'e Bagong soko becak mau ...
Becak sing nggelinding dhewe tanpo sopir iku akhire nyungsep nabrak rombong'e bakso sing diparkir pinggir dalan. Amergo ditinggal bakul'le ngiyop nang warung kopi.

Becak'e Bagong malek jempalik'an..., sing ngisor dadi ndukur...., sing ndukur dadi ngisor...
Rombonge bakso korat-karet ... pathing kececer mie ambek isine rombong dadi sak pasar...
Kabeh numplek blek koyok sego bosok ditumplek nang tempeh...

Mince, bencong Irian Barat iku mencelat tekok panggonan'ne ...
Ngelundung jungkir walik..., sampek akhire nyungsep nang ngisore genthong warong kopi sing onok pinggire dalan ...
Awak'e babras kabeh ...
Tapi dhewek'ne isih bengong koyok sapi ompong amergo dhurung sadar ...
Mince tenger-tenger bingung sendhenan...
Dhewek'ne isih gak sadar lek mari ciloko ...
Klambine blethok'an kabeh ...
Barang'e sing dikempit tangan kiwo'ne dhedhel duwel ...

Sing paling nggawe nguyune uwong sak warung kabeh yoo iku ...
Gelung'ane sing palsu sak kecepot iku mau ngelendhing dhewe... mboh nangdhi parane ...

Ditambah gemuyune uwong sak warung tambah banter amergo ndelok...
Longgo'ne Mince sing ndelosor nje'bablah kethok kathok'e abang sing methol amergo onok lontong'e...
Pancene dasar bencong ... Pikire uwong sak warung.

Kerungu nguyune uwong sak warung iku ...
Mince mek isok plolang-plolong ...
Ambek nyekeli endas'se sing mari kebruk'an genthong ...


TAMAT

PETRUK GOLEK WANGSIT SERI ENEM


Sambungan Petruk Golek Wangsit Seri Limo

Sak wise nyurup extra joss sak plastik. Ambekane Petruk rodhok kalem. Dodone sing kembang-kempis wis rodhok mari. Keringet sing netes soko awak'e rodhok gareng keterak adheme angin sing silir-silir nang gerdu iku.

Mbilung :
"Uwis rodhok enak tah Truk awakmu ... ?!"

Petruk :
"He'e Lung...., rodhok entheng mari nyocop es iku mau...!!"

Bagong :
"Yoo iyo rek..., sopo sing gak seger !! Lha wong es sak plastik mbok sesep ijen !!"

Gareng :
"Cerewet koen iku Gong ...!!"

Petruk :
"Pancen'ne cangkeme Bagong iku njaluk disuwek Reng !!
Uwong kok senengane ngiri ambek kesenangane konco ...
Cobak wani tah koen mlebu sendang deso iku...!!
Gak ero tah mata'mu lek aku sampek keplayon-playon koyok ngono iku...!!"

Bagong :
"Sak iki lhak yoo uwis seger tah Truk ...!!"

Petruk :
"Oh..., wedhos iku !! Diomongi uwong tambah mecicil ...!!
Isok tak culek koen engkok !!"

Mbilung :
"Uwis gak usah eker-ekeran'ae ...!!
Sing penting koen lak yoo selamet tah Truk !!"

Petruk :
"Mangkel aku Lung..., ambek Bagong sing cerewet... wet... koyok wong wedhok iku !!"

Bagong :
"Guyon..., guyon Truk !! Ngono'ae mbok gawe pekoro ...!!"

Gareng :
"Ssst..., uwis menengoh congor'mu iku Gong !! Isok gak di diwenehi wero nomor tombok'an nang godhong'e iki engkok...!!"

Bagong :
"Glek..., gek ...!!" Mingkem sak'kal cangkeme Bagong ambek ngelek idu.

Gareng :
"Wis Truk lha ndang dibukak ...!! Nomor piro sing diwenehi Mbah Genthong Mengkurep iki mau ?!"

Petruk :
"Yoo tak bukak'e yoo rek !! Tapi...."

Gareng :
"Tapi opo maneh Truk ?!"

Petruk :
"Tapi..., onok syarate sing dipesen ambek Mbah Genthong Mengkurep iku mau !!"

Mbilung :
"Syarat'te opo sih Truk ...!!"

Bagong :
"Kake'an rengkek ....!!" Bagong sewot.

Gareng :
"Hus...., isik ngecembeng'ae cocokmu...!!"

Bagong :
"Obol opos....!!" Ambek nyebek'no lambe'ne.

Petruk :
"Syarat sing kudhu awak'e dhewe kerjak'no ..., yoo iku lek uwis oleh nomer togel lan tembus iki engkok ....!! Awak'e dhewe kabeh kudhu ngirim wedhus nang sendang deso gawe sesajen'ne Mbah Genthong Mengkurep !!"

Mbilung :
"..... kudhu ngirim wedhus lek uwis oleh tombok'an !!"

Gareng :
"Yoo..., urunan'ae gawe tuku wedhus'se engkok lek nomer're uwis mbledos !!

Bagong :
"Dipangan dhewe opok'o lak yoo enak !!"

Petruk :
"Koen seneng ..., awak'e dhewe mari mangan iwak wedhos terus bengi'ne ditekek ambek Genthong Mengkurep...?!"

Bagong :
"Lek panchene teko nang omah'ku..., yoo tak suguhi wedhang kopi lak yoo beres tah !!"

Petruk :
"Beres pathak'mu iku Gong !! Isok digawe tumbal anak-bojomu iki engkok !!"

Bagong :
"Yoo... rabi maneh lak wis beres tah...!!" Bagong nyerekel terus.

Gareng :
"Gong..., isok meneng tah gak cocok'mu iku !! Lek gak isok meneng..., tak jejeli kelompen'ku iki engkok !!"

Bagong :
"...klep, klakep...!!" Cangkeme Bagong sak'kal nutup dhewe koyok diremot.

Mbilung :
"Lek kabeh uwis sepakat urunan lak yoo wis gampang Truk gawe syarat'te engkok !!

Petruk :
"He'e..., uwis podho sepakat yooo ....!! Sak iki tak bukak'e godhong iki !!"


Krungu Petruk ape'ne mbukak godhong pelem sing diwenehi Genthong Mengkurep. Sak'kal Gareng, Mbilung, lan Bagong podho ndusel nang awak'e Petruk. Kabeh kepingin weruh nomer piro gawe togel meneh sing methu.

Naliko godhong diwalik, kabeh uwong papat iku podho kaget sampek mencolot tekok longgone mau....

Gareng :
"Wuaaah.....!!"

Bagong :
"Panche oboool ooopooosss....!!"

Mbilung :
"Wah..., gak pokro temenan iki Truk !!"

Petruk :
"Juangkriiik....!! Isok tak kethok uwit trembesi pethangkringane Mbah Genthong Mengkurep iki engkok ...!!"

Gareng :
"Oaalah..., panchene danyang guoblook ...!! Rugi aku oleh'e methentheng ket mau sore !!"

Bagong :
"Obol opos.... podho kenek apusan kabeh !!"

Petruk :
"Lha yoo..., kurang ajar temen demit iku ...!! Mosok awak'e dhewe diwenihi nomer tombok'an sing unine ngene ..."

Tulisan Nang Godhong :
" OJOK TOMBOK'AN TOGEL TERUS ...
TOGEL IKU LARANGAN'NE AGOMO LAN NEGORO "


Mbilung :
"Mari nyantri nang endhi demit iku ...?!"

Gareng :
"Lek ... koyok ngene carane...!! Moleh'ae aku ket mau sore ngeloni anak-bojoku lak yoo enak ...!!"

Bagong :
"He'e...., panchene obol opos... yoo tetep obol opos...!!"

Mbilung :
"Ayook Gong..., Reng moleh'ae !!"

Gareng + Bagong :
"Ayok... ayok moleh'ae ...!! Wis gak percoyo ambek Petruk.

Petruk :
"Lha aku piye..., lek mbok tinggal kabeh iki engkok ...?!"

Bagong :
"Mlungkero nang gerdu kono'ae ambek ngeloni kucing ireng iku Truk ...!!"

Gareng + Mbilung :
"Huahahaha ......!! Iyoo Truk ... rugi ngumbuli awak'mu !!" Wong telu ngluyur ninggal'no Petruk nang gerdu ijen.

Sak iki karek Petruk sing tolah-toleh ijen ditinggal konco-koncone sing uwis podho rabi. Karek Petruk dhewe isih dhurung onok sing ngarep'no. Amergo Petruk methel ora gelem nyambut gawe. Senengan'ne kluyar-kluyur ambek klumbrak-klumbruk nang gerdu iku. Dhewek'ne apene moleh nang omah wedhi ambek bapak-emak'e. Kepekso bengi iku tenger-tenger ijen nang ndukur gerdu.

Petruk :
"Jangkriik kabeh uwong-uwong iku ....!!
Kono enak isok patheng plungker ngeloni bojone ...
Lha aku ...?! Mlungker dhewe ndukur gerdu ... !!
Uwis sarung teles kebhes..., wetheng luwe ...!!
Oalaah nasib... nasiib !!"

TAMAT

AUDIO PAGELARAN WAYANG KULIT BERSAMA KI NARTOSABDHO :

  1. Kresna Gugah
  2. Drupada Duta
  3. Karno Duta
  4. Kresna Duta
  5. Kresna Duta (Singo Barong)
  6. Abimanyu Gugur
  7. Suluhan Gatotkaca Gugur
  8. Karno Tanding
  9. Karno Tanding (Singo Barong)
  10. Salya Suyudana Gugur
  11. Parikesit Lahir
  12. Parikesit Grogol
  13. Pandadaran Siswa Sokalima
  14. Bale Golo-Golo
  15. Pandawa Dadu
  16. Pandawa Ngenger
  17. Babad Wanamarta
  18. Babad Wanamarta (Live)
  19. Wiratha Parwa
  20. Sesaji Rajasuya
  21. Pandawa Gubah
  22. Pandawa Boyong
  23. Pandawa Nugraha
  24. Pandawa Reco
  25. Pandawa Sapta
  26. Arjuna Wiwaha
  27. Permadi Boyong
  28. Abimanyu Krama
  29. Wisanggeni Krama (koleksi Santoso)
  30. Bima Bungkus
  31. Bima Suci
  32. Bimo Gugah
  33. Dewa Ruci
  34. Lahire Gatotkaca
  35. Gatotkaca Sungging
  36. Gatotkaca Nagih Janji
  37. Gatotkaca Wisuda (Singo Barong)
  38. Kalabendana Gugur
  39. Kalabendana Gugur (Live)
  40. Brajadenta mBalela
  41. Banuwati Janji
  42. Sayembara Menthang Langkap
  43. Alap-alap Setyaboma
  44. Kresna Kembang (Alap-alap Rukmini)
  45. Narayana Jumeneng Ratu
  46. Udawa Sayembara
  47. Kangsa Adu Jago
  48. Udawa Sayembara (koleksi Santoso)
  49. Gandamana Sayembara (koleksi Santoso)
  50. Suteja Takon Bapa
  51. Alap-alapan Larasati
  52. Pandu Gugur (Pamuksa)
  53. Sombo Juwing
  54. Narasoma
  55. Banjaran Bisma
  56. Banjaran Karna
  57. Banjaran Arjuna I
  58. Banjaran Arjuna II
  59. Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)
  60. Banjaran Druna
  61. Banjaran Bima (koleksi Santoso)
  62. Banjaran Gatotkaca (koleksi Santoso)
  63. Semar mbarang jantur
  64. Semar Kuning
  65. Semar Maneges
  66. Semar Lakon
  67. Sudamala
  68. Sudamala (lengkap)
  69. Bambang Partodewo
  70. Bambang Partodewo (Live)
  71. Bambang Sakri Kromo
  72. Sawitri (dan Satyawan)
  73. Krida Hasta (Live)
  74. Taman Maerokoco
  75. Mbangun Candi Sapto Renggo
  76. Arjunapati
  77. Kalimataya
  78. Prabu Dewa Amral
  79. Resi Manumanasa
  80. Begawan Tunggul Wulung
  81. Wahyu Srimakutharama
  82. Cokro Ningrat
  83. Wahyu Mandera Retna
  84. Sumantri Ngenger
  85. Anoman Obong
  86. Anoman Swargo
  87. Resi Mayangkara
  88. Rama Tundhung
  89. Rama Gandrung
  90. Rama Tambak
  91. Dasamuka Lair
  92. Sastra Jendrayuningrat (Alap-alap Sukesi)
  93. Kumbakarna Lena
  94. Kumbakarna Lena
  95. Dasamuka Lena
  96. Rama Nitis
  97. Goro-Gor0 1
  98. Goro-Goro 2
  99. WO – Goro-Goro
  100. WO – Petruk Kelangan Pethel

AUDIO PAGELARAN WAYANG OLEH KI WARSENO SLANK :

KOLEKSI PAGELARAN WAYANG ORANG :

  1. Wayang Orang Sriwedari – Petruk Wuyung
  2. Wayang Orang Sedyo Pandowo – Wisanggeni Lahir
  3. Wayang Orang – Lesmono Wuyung
  4. Wayang Orang – Gatotkaca Rebutan Kikis (Koleksi Mas Guntur)
  5. Wayang Orang – Srikandi Wuyung (Koleksi Mas Guntur)
  6. Wayang Orang Sriwedari – Semar mbarang Jantur
  7. Wayang Orang Studio RRI Surakarta – Mustakaweni
  8. Wayang Orang Sriwedari – Parta Krama
  9. WO Sekar Budaya Nusantara – Arjuna Kembar
  10. WO Sekar Budaya Nusantara -Babat Wanamarta
  11. WO Sekar Budaya Nusantara -Bale Sigala-gala
  12. WO Sekar Budaya Nusantara -Begawan Kilat Buwana
  13. WO Sekar Budaya Nusantara -Begawan Sabdawala
  14. WO Sekar Budaya Nusantara -Brajadenta mBalela
  15. WO Sekar Budaya Nusantara -Gareng Dadi Ratu
  16. WO Sekar Budaya Nusantara -Gathutkaca Lahir
  17. WO Sekar Budaya Nusantara -Harya Suman Cidra
  18. WO Sekar Budaya Nusantara -Jumenengan Prabu Rama Wijaya
  19. WO Sekar Budaya Nusantara -Kangsa Adu Jago
  20. WO Sekar Budaya Nusantara -Kartapiyaga Maling
  21. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandawa Kurawa Lahir
  22. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandawa Piningit
  23. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandawa Tani
  24. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandu Gugur
  25. WO Sekar Budaya Nusantara -Petruk Dadi Ratu
  26. WO Sekar Budaya Nusantara -Petruk Mantu
  27. WO Sekar Budaya Nusantara – Wahyu Makutharama
  28. WO Sekar Budaya Nusantara – Wahyu Cakraningrat
  29. WO Sekar Budaya Nusantara – Arjuna Wiwaha
  30. WO Sekar Budaya Nusantara – Rahwana Sang Angkara Murka (I dan II)
  31. WO Sekar BUdaya Nusantara – Punakawan Kemba
  32. WO Sekar Budaya Nusantara – Kresna Duta
  33. WO Sekar Budaya Nusantara – Kunthi Pilih
  34. WO Sekar Budaya Nusantara – Prasetya Dewabrata
  35. WO Sekar Budaya Nusantara – Sayembara Kasi
  36. WO Sekar Budaya Nusantara – Sekar Pudhak Tunjung Biru
  37. WO Sekar Budaya Nusantara – Semar Mantu
  38. WO Sekar Budaya Nusantara – Talirasa Rasatali
  39. WO Sekar Budaya Nusantara – Udawa Waris
  40. WO Sekar Budaya Nusantara – Wangsa Bharata
  41. WO Sekar Budaya Nusantara – Wisanggeni Takon Bapa
  42. WO Sekar Budaya Nusantara – Wisuda Satriatama

KETOPRAK JAWA