Jumat, 29 April 2011

NGGANDOL BUS KOTA


NGUDO ROSO :
Awan iku si-Gareng melok nggandol bus kota. Dewek'ne numpak saka Joyoboyo ape'ne nang Pasar Kembang... Biasa kulak'an pakan manuk. Hus..... Ojok mbok artino liyo lho yooo...!!
Njelala si-Gareng numpak Bus Kota sing uwis miring mengiwa amerga kebakan penumpang... Ngono yoo... isih wae ditetel-tetel'no kondekture yen onok uwong awe-awe pinggir embong melok menclok.
Penumpang liya-liyane sing uwis umeb (= mendidih) awake podo komentar...
"Bis'se uwis penuh penumpng'e cak Kondektur....!! Kok isih ngangkut uwong wae...!!"
Ora direken lan digubris saur manuk saka penumpang iku... Gak perduli sing penting oleh hasil wuakeh..., Engkok oleh bathi wuakeh... cukup di-andom wong loro karo sopir plus dipotong setoran... pikire kondektur.
Lha yoo... Uwong sing melu numpak bis kuwi... Munggah kinyis-kinyis koyok londho, bar mudhun lungset lecet, ngeringet koyok tape kematengen... Bis uwis ora sedeng koyok ngono yoo ijik isik wae di-iseni dakonan menungso... Protes Mahasiswa sing katutan menclok njero bis amergo ngirit sangu...
Ngono uga isik onok wae sing gelem menclok gemandul ngarep lawangan bis.. ketimpal-ketimpul keterak angin... lan dioncat-ancit'no bis sing bolak-balik mandhek nge'rim ndhadak...
Mlakune bis keseok-seok nyiilir... Ora gelem banter...
Gelem banter yen nang mburi uwis kethok tekok spion yen onok bis liyo siap ngajak banter-banteran nguber setoran...
Supir'e melek-merem ndelok spion...
Pringas-pringis koyok garangan... ndodho'no untune sing sak genteng-genteng...
Lambene mesam-mesem amergo uman keduselan susu'ne arek perawan sing onok sandinge...
Rokok'e kebal-kebul koyok knalpot... Opo ora weruh sing lungguh mburi iku simbah tuwek sing bolak-balik watuk... Terus ngidu.... Mak... Pyuch....!! Sak enggon-enggon. Yekkk.... ngilani...., jarene arek wedhok rodhok manis sandhinge si-Gareng.
Gareng bolak-balik meringis kecut... Amerga sikil'le sing uwis dhingklang sese kuwi bolak-balik di-incak wong gedhe dhukur genthot awak'e...
"Ojok-ojok iki sing jenenge copet....!!" Pikir Gareng waspada ambek bolak-balik ngrogo dumpete nang kesak mburi...
Rasane tambah sedih lan keronto-ronto urip nang Suroboyo, nalika kerungu arek cilik ngowo echek-echek ngamen njero bus nyanyi lagu...
"Kering sudah rasanya air mataku...
Terlalu banyak sudah yang tertumpah...
Menangis meratapi buruk nasibku...
Nasib buruk seorang tunawisma...

Langit sebagai atap rumahku
Dan bumi sebagai lantainya
Hidupku menyusuri jalan
Sisa orang yang aku makan

Langit sebagai atap rumahku...
Dan bumi sebagai lantainya...
Hidupku menyusuri jalan...
Sisa orang yang aku makan...

Jembatan menjadi tempat perlindungan...
Dari terik matahari dan hujan...
Begitulah nasib yang aku alami...
Entah sampai kapan hidup begini...

Hm-hm-hm-hm-hm-hm-hm hm-hm-hm....."
Kabeh penumpang sing uwis podho kepanasan mek isok meringis kecut... Nalika wadahe aqua plastik di-todhong'no nang ngarepe ambek si-pengamen cilik sing ngidola'no "Klanting" dadi juara IMB (=Indonesia Mencari Bakat)......
Ora suwe maneh..., si-Gareng mudhun nalika si-konduktur mbengok banter nang penumpange bus. "Pasar Kembang..... Pasar Kembang....!!"

Senin, 25 April 2011

MENGENAL ZOMBIE


CERITA DEDEMIT :

"Aneka warna isen-isene dunyo...
Tumekan pawujudan kang kasunyatan tumekan...
wujud tanpa wujud kang nggegirisi...
Minangka dadi gugon tuhan lan khurafat ipun...
Manungso ing alam dunyo..."

Zombie atau zombi adalah sebutan untuk mayat hidup dalam sistem kepercayaan Voodoo orangKreol dan Afrika-Karibia. Zombi adalah manusia dengan roh yang sudah dicuri lewat cara supranatural atau perdukunan, dan dipekerjakan sebagai budak yang mengabdi pada "majikan zombi" di perkebunan terpencil. Versi zombi yang lebih menakutkan dan suka memakan manusia sering diangkat menjadi cerita fiksi horor.

DALAM KEPERCAYAAN VOODOO :

Menurut ajaran Voodoo, dukun ilmu hitam atau pendeta voodoo yang disebut Bokor bisa menghidupkan kembali manusia yang sudah mati. Zombi tidak memiliki kemauan sendiri sehingga selalu berada di bawah kendali sang majikan. "Zombi" juga merupakan nama untuk dewa ular voodoo yang bernama Damballah Wedo asal Nigeria-Kongo yang dekat dengan kata nzambi yang dalam bahasa Kongo berarti "dewa".
Di tahun 1937, peneliti Zora Neale Hurston yang melakukan riset folklor di Haiti menemukan kasus Felicia Felix-Mentor yang meninggal di usia 29 tahun dan sudah dikubur di tahun 1907. Penduduk desa percaya bahwa mereka sering melihat Felicia yang sudah meninggal 30 tahun yang lalu masih suka berkeliaran di jalan-jalan. Kasus yang sama juga dijumpai pada beberapa orang yang lain. Zora Hurston berusaha mencari kebenaran kabar burung yang mengatakan zombi adalah manusia yang telah diberi ramuan obat-obatan, namun tidak berhasil menemukan orang yang mau membuka mulut tentang rahasia zombi.
Beberapa puluh tahun kemudian, seorang ahli Etnobotani Kanada bernama Wade Davis mengangkat kasus zombi dari sudut pandangfarmakologi, dalam dua buku berjudul The Serpent and the Rainbow (1985) dan Passage of Darkness: The Ethnobiology of the Haitian Zombi (1988). Menurut hasil penelitian Wade Davis sewaktu berada di Haiti tahun 1982, ramuan dua jenis bubuk obat yang dimasukan ke dalam aliran darah (biasanya lewat luka terbuka) dapat mengubah orang hidup menjadi zombi.
Bubuk obat pertama disebut coup de poudre (bahasa Perancis untuk "obat penyerang") yang membuat manusia dalam keadaan "seperti mati" akibat dosis tetrodotoksin. Tetrodoksin merupakan racun mematikan yang juga dikandung ikan buntal dan ikan fugu yang merupakan makanan lumrah di Jepang. Manusia yang diberi tetrodoksi dalam dosis nyaris mematikan (LD50 sebesar 1 mg), bisa berada dalam keadaan hampir mati untuk beberapa hari, tapi terus dalam keadaan sadar. Ramuan bubuk obat kedua dari tanaman genus Datura bersifathalusinogen dan membuat orang menjadi tidak memiliki kemauan sendiri. Wade Davis juga mengetengahkan kisah orang Haiti bernamaClairvius Narcisse yang mengaku pernah menjadi dijadikan zombi. Teori Wade Davis sering ditanggapi orang secara skeptis dan kebenaran ceritanya sering menjadi sumber perdebatan. Kepercayaan voodoo masih penuh kerahasiaan yang sulit ditembus peneliti asing, walaupun sebagian orang Haiti mengakui tentang keberadaan "obat zombi"

VERSI CERITA RAKYAT :
Di abad pertengahan orang percaya arwah orang meninggal bisa kembali ke bumi dan menghantui orang hidup. Menurut ensiklopediaEncyclopedia of Things that Never Were, mayat yang bangun dari kubur (terutama di Perancis) biasanya datang membunuh orang-orang untuk membalas dendam. Sewaktu malam tiba, di makam-makam berkeliaran zombi berbentuk kerangka manusia atau mayat yang sudah kurus dan lemah. Mitologi Norse (Skandinavia) mengenal makhluk bernama Draugr yang dipercaya sebagai mayat ksatria yang bangun dari kubur untuk menyerang orang yang masih hidup.

VERSI CERITA FIKSI :
Dalam kebudayaan modern di Barat, buku yang pertama kali mengupas konsep zombi adalah The Magic Island karya W.B. Seabrook terbitan tahun 1929.
Zombi sering muncul dalam film horor, acara televisi, permainan video, dan permainan peran(RPG). Zombi biasanya digambarkan sebagai sosok mayat membusuk dengan kecerdasan rendah dan berjalan terseok-seok, namun punya selera makan daging manusia. Pada beberapa kasus, zombi lebih mengincar bagian otak manusia untuk disantap.
Sebelum tahun 1950-an, zombi biasanya digambarkan sebagai mayat tidak berotak yang dikendalikan majikan seperti boneka. Penggambaran zombi menurut budaya populer berubah di tahun 1954 dengan terbitnya buku I Am Legend karya Richard Matheson. Buku menceritakan kotaLos Angeles yang diserbu makhluk penghisap darah akibat pandemi infeksi bakteri. Satu-satunya orang yang selamat dari pandemi harus bertahan dari serangan orang-orang yang telah berubah menjadi makhluk penghisap darah. Walaupun mirip cerita vampir, plot cerita seperti ini sering dijadikan dasar bagi film-film bertema zombi yang diproduksi di kemudian hari. Night of the Living Dead karya George A. Romero merupakan film pertama yang menggambarkan zombi secara modern. Film The Last Man on Earth (1964) yang dibintangi Vincent Price juga berdasarkan cerita karangan Richard Matheson. Begitu pula dengan film The Omega Man (1971) yang dibintangi Charlton Heston, walaupun film ini hanya mempunyai sedikit kemiripan dengan cerita asli.
Plot cerita yang paling umum berkisar pada serbuan zombi yang tidak terkendali. Sekelompok orang yang selamat berusaha menghentikan penularan zombi. Seperti layaknya kisah horor lain, cerita zombi tidak berakhir happy end dan selalu ada saja zombi yang masih tersisa. Asal-usul wabah zombi biasanya berupa kontaminasi radioaktif, bahan beracun yang membuat mati otak, ilmu hitam, voodoo, makhluk angkasa luar, infeksi virus dan berbagai macam sebab lain.
Dalam berbagai karya fiksi, zombi bisa menular ke orang sehat lewat gigitan atau cakaran zombi. Korban serangan zombi biasanya langsung tewas dan berubah menjadi zombi. Zombi bisa dibunuh dengan memotong bagian kepala atau menghancurkan otak zombi. Pada beberapa kasus, seluruh bagian tubuh zombi harus dihancurkan kalau tidak mau bagian tubuh zombi yang sudah putus bergerak-gerak terus.
Sumber : click here

GUGURNYA GATOT KACA


CERITA WAYANG SINGKAT :

PAGI ini seluruh keluarga Pandawa berduka. Tadi malam salah satu putra terbaik, Gatutkaca anak Bima tewas di medan perang. Tungku pembakaran jasadnya masih mengepulkan asap, membubung tinggi ke angkasa. Baranya bahkan belum padam. Wewangian merebak dan semua menundukkan kepala. Mungkin aku satu-satunya yang tidak menangis karena bagiku tak ada yang perlu ditangisi. Dia mati dengan hebat, bertempur dengan ksatria yang sama sekali bukan tandingannya, Karna Adipati Awangga, sulung Pandawa yang dibuang ibunya dan memilih bergabung dengan Kurawa. Aku tahu semua alasannya, jadi mengapa kini semua berlomba mengucurkan air mata. Satu-satunya yang berhak menangis adalah Pergiwa, istri Gatutkaca. Dia tidak pernah tahu untuk apa suaminya mati. Dan jika ada orang kedua yang pantas meratapi kematiannya, maka itu adalah aku karena aku yang melahirkannya.

Aku tidak akan lupa anakku lahir menderita. Tali pusatnya tidak terpotong oleh senjata apa pun. Semua keris dan panah terhebat Arjuna, bahkan senjata Cakra Kresna seakan-akan tak memiliki tuah apa-apa. Hanya ada satu senjata yang mampu, pusaka Wijayandanu yang dikuasai Karna. Saat itu Kresna, kiblat Pandawa, berkata, sesungguhnya Wijayandanu adalah hak Arjuna. Merebutnya dari tangan Karna bukanlah sebuah kesalahan. Kakak beradik itu segera terlibat pertarungan sengit. Arjuna hanya berhasil merebut sarung pusaka. Peristiwa itu membuatku percaya bahwa ada garis yang telah ditentukan untuk pilihan-pilihan manusia karena sarung pusaka yang sama sekali tidak tajam itu mampu mengakhiri penderitaan anakku, memotong tali pusarnya dan segera lenyap sesudahnya. Aku tak peduli, hanya melihat ia menjadi bocah kecil, lengkap dengan senyum kanak-kanaknya.

Nasib yang membawanya ke jalan yang lain, sama sekali bukan pilihanku tapi apa daya. Ia terpilih menjadi pembela dewa-dewa di kahyangan. Pracona dan Sekipu, raksasa-raksasa buas itu menyerang kahyangan membuat dewa kalang kabut. Anakku terpilih untuk menghadapi mereka. Permainan apa lagi ini?

Sebagai bayi, anakku memang istimewa. Tubuhnya kukuh mewarisi kekuatan bapaknya. Dan kudengar, saat bertarung dengan raksasa-raksasa itu, taring-taring tajam mereka tak berarti bagi tubuh Gatutkaca.

Aku tidak mau melawan bayi. Jadikan tubuhnya sebanding dengan kami.

Raksasa-raksasa itu meminta dan dewa yang menentukan. Sekali lagi anakku tak punya pilihan. Tubuh mungilnya dilemparkan ke lautan api Candradimuka. Sekian puluh pusaka kahyangan menyertainya, melebur dalam tubuh. Beberapa saat kemudian ia muncul dari kobaran api. Sesosok pemuda usia belasan yang kemudian membantai Pracona, raja raksasa penyerang kahyangan.

Arimbi istriku, sayang sekali kau tidak menyaksikan kehebatan anakmu. Sebagai ayah, kebanggaanku tak terkira.

Bima mengantarkan anakku sekembali dari kahyangan dengan bangga. Sesosok bayi dipisahkan dari susuanku dan pulang sebagai seorang remaja yang tak pintar berkata-kata. Kebanggaan apa yang aku miliki? Tak tahukah mereka bahwa aku masih ingin menggendong dan meninabobokan sebelum tidur dengan lagu anak-anak, mengajari berjalan dan menyuapi dengan riang. Kini anakku pulang dengan sorot mata yang asing. Aku tak akan kuat lagi membimbing tangannya dan bahkan tubuhnya pun telah setinggi ayahnya. Kumisnya melintang, dadanya bidang lengkap dengan bulu lebatnya. Namun ayahnya tidak pernah mau tahu kalau matanya tetap mata seorang bocah. Dia bahkan tak mengenaliku sebelum ayahnya mengatakan bahwa aku ibunya. Neraka meledak di kepalaku saat ia bertanya apa itu seorang ibu.

Waktu berjalan cepat dan ia segera menjadi ksatria paling setia di keluarga Pandawa. Semua orang menyayangi, merasa lebih berhak atas hidupnya dan selama itu pula aku hanya bisa menjadi penonton. Anakku menjadi milik semua orang, milik sekian ratus ribu prajurit yang merasa bangga dipimpin olehnya. Ia milik Pandawa yang telah memiliki rencana besar akan masa depannya. Betul. Jika dia ada di Amarta. Namun saat dia pulang dan berkumpul dengan saudara-saudaranya? Antareja dan Antasena dengan keriangan mereka bercanda di halaman, memanjat pohon beringin yang ditanam Trembaka, ayahku, sementara Gatutkaca hanya mengawasi dari kejauhan. Dalam tubuh kekarnya, aku merasakan jiwa kecil yang memberontak karena ia tidak pernah mengalami masa-masa indah sebagaimana saudara-saudaranya. Ia tidak pernah bergulat di kubangan, naik rakit batang pisang di kali kotor, menangkap capung atau sekadar kejar-kejaran. Dalam hidupnya tak ada sejarah layang-layang daun gadung, topeng tempurung atau sekedar perang-perangan. Ia hanya mengenal perang yang sesungguhnya, yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

Aku pernah menanyainya suatu kali.

Anakku, apakah kau ingin memanjat pohon beringin itu? Yang ditanam oleh kakekmu?

Mereka tidak mengajakku.

Tapi kau boleh.

Tak ada jawaban.

Kau ingin menangkap capung?

Terlalu mudah bagiku.

Anakku mungkin memiliki pohon dan capung sendiri. Ya, di balik dada anakku yang bidang terdapat sayap pemberian dewa. Ia tak perlu memanjat untuk berkenalan dengan angkasa. Ia bebas pergi ke mana saja. Seperti burung elang, ia adalah penguasa di udara, tapi ia tetap tidak bisa bermain di sana. Segalanya terlewat begitu saja tanpa pernah tahu siapa yang telah merampasnya. Ia tidak pernah tahu barus bagaimana, di mana dan seperti apa. Tak tersediakah sekejap waktu untuk mengenalkannya pada apa itu senang, apa itu indah, apa itu duka? Biarlah ia tidak bergulat di kubangan. Ia tidak harus bermain layang-layang. Aku hanya ingin anakku menjadi seorang manusia.

Satu-satunya peristiwa yang membuatku bangga adalah saat dia jatuh cinta. Saat itulah aku melihatnya sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam sebuah perjalanan ia berjumpa Pergiwa, seorang putri gunung anak seorang pertapa. Hatinya berbunga. Belum lagi mengerti apa yang sesungguhnya sedang ia alami, kekecewaan menderanya dengan kejam saat tahu bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan Lesmana anak Duryudana Raja Hastina. Pergiwa telah merampas hatinya dan ia tak tahu harus berbuat apa selain terbang setinggi mungkin, menukik ke bukit cadas dan menghantamkan tubuhnya di bebatuan. Bukan tubuhnya yang hancur melainkan batu-batu yang pecah dan longsor ke bawah, mendebam bergemuruh menggempakan bumi.

Aku berterima kasih pada Kresna yang telah mengajarinya menjadi seorang laki-laki, mencuri pujaan hatinya, menikahi Pergiwa, dan dengan segera memberiku seorang cucu yang mewarisi kegagahannya, Sasikirana. Dua tahun berikutnya adalah masa terindah dalam hidupku. Setelah itu aku tidak boleh berharap terlalu banyak karena ia telah kembali pada kesediakalaannya. Hari-harinya adalah pertempuran, isi kepalanya adalah segala persoalan tentang bagaimana memikirkan taktik perang, memadamkan pemberontakan, memimpin pasukan ke negara seberang untuk memperluas jajahan.

Tubuh dan pikirannya sedang dibangun oleh Kresna -siapa lagi kalau bukan dia- demi menyambut Baratayuda, perang besar di Kurusetra. Kurawa dipenuhi orang-orang kuat berilmu tinggi dan Pandawa harus mempersiapkan segalanya mulai sekarang atau tidak sama sekali. Semua orang, bahkan aku percaya bahwa taktik Kresna adalah yang terbaik.

Hidup anakku diatur oleh Kresna. Bahkan peristiwa Tunggarana, sebuah tanah perbatasan antara Pringgandani dan Trajutrisna yang diperebutkan oleh Boma dan Gatutkaca, menurutku adalah perbuatan Kresna juga. Tanah gersang yang tidak seberapa luas itu mendadak melambung nilainya menjadi sebuah pertaruhan harga diri, sebuah persaingan antara Boma dan Gatutkaca. Keduanya merasa berhak atas Tunggarana dan rupanya kata-kata tak pernah cukup. Tak ada lain, pertarungan menjadi jawaban. Orang-orang beranggapan Boma akan menang karena ia adalah anak Kresna. Tetapi kenyataan berbicara lain. Gatutkaca menang dan Boma tersingkir. Bagiku bukan Gatutkaca yang menyingkirkannya melainkan Kresna sendiri. Kresna hanya ingin tahu sampai di mana kemampuan anakku sehingga harus dicarikan lawan yang seimbang. Boma sangat pantas untuk itu. Mengenai hubungan bapak anak itu, sedikit pun aku tidak percaya bahwa Kresna akan mengakui Boma sebagai darah dagingnya, karena sesungguhnya ia tak lebih dari aib seorang raksasa yang dengan licik telah memperkosa istrinya. Aku semakin yakin akan hal itu karena setelah peristiwa tewasnya Samba anak Kresna yang lain oleh Boma, pada akhirnya tangan Kresna sendiri yang mengakhiri hidup Boma dengan senjata Cakra.

Selanjutnya Pringgandani menjadi ujung tombak Amarta. Semua rakyat kami adalah ksatria-ksatria raksasa yang akan dengan mudah menyerahkan hidupnya untuk kemuliaan pemimpin-pemimpin mereka. Mereka percaya telah ditakdirkan memiliki derajat lebih rendah dibanding manusia sehingga satu-satunya cara untuk menegaskan keberadaan adalah dengan mengabdi pada manusia, pada Pandawa. Dengan begitu, aku sama sekali tak heran jika kami selalu berada di garis terdepan pada setiap pertempuran. Tak terhitung lagi korban, tak terasa lagi pedihnya kehilangan karena semua telah menjadi keseharian. Tak terkecuali perang ini, Baratayuda, perang yang bagiku hanya demi menagih janji beberapa gelintir orang. Nyatanya, Kurusetra menjadi ladang pembantaian dan seperti pemulung beruntung, ajal memungut segalanya.

Tadi malam Kresna menyelinap ke peraduan Gatutkaca. Telingaku terlalu tajam untuk melewatkan percakapan mereka.

Anakku, seberapa besar kau mencintai Pandawa?

Sebesar hormatku padamu.

Jika kuminta nyawamu malam ini?

Kau lebih tahu harga yang pantas untuk itu.

Kemenangan Pandawa.

Tunjukkan jalanku.

Aku segera tahu bahwa pasukan Awangga yang dipimpin Karna menyerang pada malam hari. Meski kami telah sepakat untuk berperang hanya pada siang hari, mulai matahari timbul dan berhenti pada saat tenggelam, rupanya perang adalah perang yang sejak dulu hanya mementingkan tujuan, menghancurkan musuh dengan cara apa pun. Maka malam itu, Kurusetra segera merona oleh ribuan obor. Keringat dan darah belum lagi kering, tapi seburuk-buruk kenistaan seorang ksatria adalah menolak tantangan. Pasukan Pringgandani segera bersiap, mengasah taring masing-masing, memburu musuh Pandawa.

Mengapa harus anakku? Wijayandanu di tangan Karna adalah senjata pemusnah terhebat. Jangankan manusia, dewa pun tak akan sanggup. Sebuah rahasia yang samar-samar kudengar, senjata itu akan membunuh Arjuna, adik iparku yang paling disayang oleh Kunti ibu mertuaku. Tapi Kresna memiliki rencana lain. Harus ada yang dikorbankan sebelum Karna bertemu dengan Arjuna. Nyatalah bahwa sebenarnya tak ada lagi kesempatan bagi Gatutkaca. Ia hanya sekeping mata uang pembeli kemenangan Pandawa. Karna sama sekali bukan tandingannya. Dan aku tahu, saat bintang-bintang berjatuhan dari langit, Wijayandanu telah menemukan sarungnya, tenggelam di tubuh Gatutkaca. Anakku telah mengepakkan sayap kecilnya, terbang di sela-sela bintang, memungutinya seperti kerang. Tubuhnya digulung mendung, seperti Antareja dan Antasena yang bergelut di kubangan. Ia menukik ke bumi, tapi kali ini tanpa bayangan Pergiwa yang dulu membuatnya bertindak serupa. Tubuhnya membelah malam, menghantam kereta kuda Karna. Aku melihat senyum terakhirnya.

Pagi ini aku menyelinap ke benteng Kurawa untuk menemui Karna. Kuceritakan padanya tentang Gatutkaca, anakku yang malang. Mengapa seorang Karna begitu lantang tertawa setelah menghabisi nyawa seorang bocah yang sama sekali bukan tandingannya. Ia tersenyum.

Kami hanya sedang bermain.

Kutatap matanya lekat. Aku tahu bahwa aku telah memaafkannya. Aku segera memeluknya karena mata itu, ternyata adalah mata Gatutkaca juga. Mata bayi yang hanyut di sungai air mata ibunya. Kunti, mertuaku.
Sumber Info : click here

ASAL USUL SYEKH LEMAH ABANG = SITI JENAR

CERITO BONGSO :

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto,Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.
Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.
Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….<serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1>
Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagaiSyekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.
Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.
Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.
Sumber Info : click here
Nasab Syekh Siti Jenar Bersambung Sampai ke Rasulullah diakui oleh Robithoh Azmatkhan
  • Abdul Jalil Syeikh Siti Jenar bin
  • Datuk Shaleh bin
  • Sayyid Abdul Malik bin Sayyid Syaikh Husain Jamaluddin @ Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan (Gujarat, India) bin
  • Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
  • Sayyid Abdullah AzhmatKhan (India) bin
  • Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir AzhmatKhan (Nasrabad) bin
  • Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut, Yaman) bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (lahir di Hadhramaut, Yaman dimakamkan di Oman) bin
  • Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
  • Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
  • Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
  • Sayyid Alawi Awwal bin
  • Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
  • Ahmad al-Muhajir (Hadhramaut, Yaman ) bin
  • Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi (Basrah, Iraq) bin
  • Sayyid Muhammad An-Naqib bin
  • Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
  • Sayyidina Ja’far As-Sodiq (Madinah, Saudi Arabia) bin
  • Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
  • Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin {menikah dengan (34.a) Fathimah binti (35.a) Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kakak Imam Hussain} bin
  • Al-Imam Sayyidina Hussain bin
(22.a) Imam Ali bin (23.a)Abu Tholib dan
(22.b) Fatimah Az-Zahro binti
(23.b) Muhammad SAW
Tentang Silsilah ke-atas dr Syeikh Siti Jenar dan para walisongo lainnya sudah diakui oleh para ulama nasab dari Yaman, Malaysia dan Thailand..para sayyid dan kalangan habaib yg memahami ilmu nasab banyak yg mencantumkannya di bawah nama fam. Azmatkhan, dan sudah menulis beberapa kitab mengenai ini, dan diakui Robithoh Alawiyah, Naqobatul Asyrof dan Robithoh Azmatkhan ..(Tentunya disini tidak ada nama tokoh pewayangan) untuk keterangan lebih lanjut bisa buka situs www.azmatkhanalhusaini.com dan bisa tanya jawab dengan Kyai Ali bin Badri selaku pengurusnya.
Sumber Info : click here

Kamis, 21 April 2011

PRABU JAYABAYA MOKSWA


MITOS :
Sebelumnya mohon maaf, jika penjabaran lewat tulisan ini sama sekali berbeda dengan versi sejarah resmi. Karena apa yang akan kami bahas ini adalah versi legenda dan mitos termasuk supranatural yang berkembang di sekitar masyarakat dimana dulu kerajaan ini berdiri.
Menurut sejarah, tepatnya legenda, kerajaan Kediri yang kala itu diperintah oleh Prabu Jayabaya sama-sama “mokswa” beserta raja dan punggawanya. Konon, keduanya berpindah ke alam gaib.
Menurut kepercayaan kabuyutan, Wisnu ngejawantah atau turun ke Arcapada di bumi Jawa. Tanah yang dipilih oleh sang Wisnu adalah Kediri, dan kemudian dia bergelar Sri Jayabaya. Wisnu sendiri berarti hidup, urip nurcahyo, suksma.
Sedang arti nejawantah adalah ngeja = muncul, kelihatan dan wantah = nyata. Dan bernama Jayabaya berarti = kesaktian, kemenangan, benih hidup yang berwujud menjadi baya = bayi. Di Kediri dia berwujud badan raga, atau manusia hidup yang dilengkapi suksma dan raga. Oleh karena itu, banyak yang percaya kalau Kediri itu tempat yang paling tua di tanah jawa, tempat hidup manusia pertama di tanah Jawa yang sudah lengkap dengan suksma dan raganya.
Kelahiran Wisnu di tanah Kediri sendiri persisnya berlangsung di sebuah desa kecil yang dibuka ditengah rimba belantara di pinggir sungai Kediri, Jawa Timur. Karena tanahnya yang subur, maka banyak warga yang ikut bergabung dan menjadi ramailah tempat itu. Yang babad alas adalah kakak beradik yang sakti dan bijaksana bernama Kyai Doho dan Kyai Doko.
Ngejawantahnya Wisnu yang kemudian berganti nama menjadi Jayabaya di Kediri, kelak akan membuat tempat ini menjadi pesat sekali perkembangannya. Karena itu, akhirnya dibentuk sebuah negeri yang diberi nama kerajaan Doho. Sedangkan desanya, atau mungkin ibukotanya jika di jaman sekarang, diberi nama Daka. Istananya sendiri di beri nama Mamenang.
Di bawah pemerintahan prabu Jayabaya, banyak kerajaan kecil yang ikut melebur jadi satu. Dengan begitu, kerajaan Doho makin bertambah besar dan berjaya.
Kyai Doho sendiri selaku pembabat hutan diberi kepercayaan oleh raja dengan kedudukan sangat tinggi dengan nama kebesaran Ki Butolocoyo, yang berarti orang bodoh yang bisa dipercaya. Hal ini sebagai bentuk penghargaan raja atas jasanya yang telah membuka wilayah tersebut. Sementara itu, Kyai Doko, adiknya, diberi pangkat senopati perang dan diberi nama Kyai Tunggul Wulung.
Raja dan ratu Mamenang ini punya pesanggrahan bernama pesanggrahan Wanasatur. Di pesanggrahan ini, pasangan pemimpin ini sangat besar sekali tirakatnya. Meski tinggal puluhan hari, keduanya hanya makan rimpang kunir dan temulawak saja. Didekat pesanggrahan yang dulunya digunakan untuk menanam kedua tanaman obat ini sampai sekarang masih bernama desa SiKunir dan Silawak.
Makanya tak mengherankan bila prabu Jayabaya waskita batin. Mengerti sak durunge winarang (tahu sebelum kejadian). Jauh hari sudah diprediksikan kalau sepeninggal dirinya negeri Doho ini akan pindah ke Medang Kamulan, yaitu Prambanan, dan kembali ke Jenggala (daerah Kediri), selanjutnya ke Sigaluh (Jawa Barat), Majapahit (Jatim), ke Jawa Tengah lagi (Demak, Pajang, Mataram), lalu ke jaman baru (kemerdekaan).
Setiap raja memutuskan pindah pusat pemerintahan selalu diikuti kawulanya. Dan daerah yang ditinggalkannya menjadi hutan kembali.
Karena satu peristiwa sang Prabu Jayabaya akhirnya mokswa, dan tak diketahui jejaknya. Bahkan sepeninggal dirinya, negeri Doho dilanda banjir bandang, dan keraton Mamenang rusak parah diterjang ganasnya lahar gunung kelud, hingga akhirnya negeri Doho kembali menjadi hutan belantara.
Ki Butolocoyo yang ikut mokswa akhirnya diminta oleh prabu Jayabaya untuk menjadi raja makhluk halus di Goa Selebale, yang terletak di selatan Bengawan Solo. Kyai Tunggul Wulung ditunjuk untuk menjadi penguasa gunu kelud. Abdi kinasihnya, Ki Kramataruna, tinggal di sebuah sindang atau telaga kecil di desa Kalasan, yang terletak di sebelah barat keraton Mamenang.
Sumber browsing : click here

MITOS VERSI RAJA-RAJA MATARAM ISLAM


Pendahuluan
Beberapa waktu yang lalu ketika ada tanda-tanda gunung Merapi akan meletus pemerintah daerah setempat menginstruksikan warganya yang berada di sekitar lereng gunung Merapi untuk mengungsi di tempat-tempat yang dianggap aman. Instruksi tersebut dimaksudkan agar warga yang berada di sekitar tempat itu terhindar dari bencana letusan gunung.
Tentu saja pemerintah daerah setempat dalam menginstruksikan evakuasi warganya dengan pertimbangan yang rasional yaitu agar tidak ada korban jiwa. Hal ini mengingat letusan-letusan sebelumnya, misalnya yang terjadi pada tanggal 22 November 1994, telah menimbulkan guguran lava pijar, sumbatan gas beracun di dalam bumi, banjir lahar, erosi, dan ciri khas berupa awan panas (Nuess ardente) telah menyebabkan kerugian tidak saja harta benda tetapi juga jiwa manusia yang tidak ternilai harganya. Atas instruksi tersebut, warga diliputi perasaan bingung antara mengikuti instruksi atau tetap tinggal di rumah. Warga khawatir harta benda mereka akan dijarah apabila mengungsi, meski akhirnya mereka dengan terpaksa mengungsi demi keselamatan jiwa mereka sambil membawa harta benda apa saja yang bisa dibawa termasuk binatang ternak.
Berbeda halnya dengan sosok fenomenal, Mbah Marijan yang memilih tetap tinggal di rumahnya di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman. Tempat tinggal Mbah Marijan tersebut merupakan daerah yang oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian termasuk kategori daerah terlarang. Ia adalah juru kunci gunung Merapi yang sering diminta nasehatnya baik oleh masyarakat Merapi maupun pejabat pemerintah. Ia mendapat gelar dari keraton Yogyakarta, Mas Ngabehi Sureksohargo. Seakan merasa bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh raja Yogyakarta untuk “menjaga” gunung Merapi, Mbah Marijan tetap tidak mau maninggalkan tempatnya. Ia mau mengungsi meninggalkan tempat tinggalnya jika yang memerintah raja Yogyakarta sendiri. Seperti halnya yang terjadi pada tanggal 17 Januari 1997 saat gunung Merapi meletus Mbah Marijan dan para abdi dalem Keraton Yogyakarta tetap melakukan upacara Labuhan. Ia dan para abdi dalem seolah tidak memperdulikan nasib diri mereka sendiri. Mereka secara totalitas patuh tunduk kepada perintah sang Sultan. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa mereka sedemikian tunduk dan patuh kepada sang Sultan sampai ia tidak menghiraukan nasibnya sendiri?
Keberadaan keraton Yogyakarta banyak diselimuti oleh mitos. Bagi masyarakat Jawa yang tinggal di sekitar lereng gunung Merapi mengenal tiga simbol kekuasaan, yaitu gunung Merapi (api), keraton Mataram (udara), dan Laut Selatan (air). Gunung Merapi melambangkan kekuasaan, Laut Selatan melambangkan kerakyatan, dan keraton Yogyakarta melambangkan keseimbangan. Ketiga simbol kekuasaan jawa tersebut dihubungkan oleh kali Opak. Bagi kehidupan keraton Mataram dan kesultanan Yogyakarta, kali Opak mempunyai arti penting, karena keraton Yogyakarta keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan laut Selatan. Antara gunung Merapi dan laut Selatan dihubungkan oleh kali Opak. Sudah menjadi mitos umum bahwa raja-raja Mataram sejak zaman Senopati, pendiri kerajaan Mataram, mempunyai hubungan khusus dengan penguasa laut Selatan, yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul merupakan permaisuri khusus Senopati. Sang Ratu berjanji akan selalu melindungi Senopati dan keturunannya. Jika Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa lautan dan Senopati adalah penguasa daratan di Mataram, maka gunung Merapi adalah lambang menonjol bagi kekuatan di Mataram. Senopati dianggap sakti karena mempunyai hubungan khusus dengan gunung Merapi.
Artikel ini akan membahas hubungan antara mitos dan kekuasaan di seputar keraton Yogyakarta. Di sini tidak akan dibahas mengenai benar dan tidaknya mitos tersebut, karena mitos itu sendiri merupakan sesuatu yang misteri. Pembahasan akan difokuskan pada bagaimana memaknai mitos tersebut. Kepercayaan tentang Mitos Bagi penganut aliran positivisme, kepercayaan terhadap mitos mungkin dianggap sebagai sesuatu yang mengada-ada, karena mitos bukan sesuatu yang “positif”; tidak bisa diamati dan diukur. Demikian pula bagi masyarakat yang tidak merasa “terlibat” suatu mitos yang dipercayai oleh masyarakat lain akan mengatakan, bahwa mitos itu tidak benar. Tetapi masalahnya bukan benar dan salah melainkan bahwa mitos itu riil ada di masyarakat. Dengan kata lain mitos adalah suatu realitas.
Mitos adalah sesuatu yang universal, artinya masyarakat di manapun di dunia ini mengenal mitos meskipun ada yang mengalami penurunan (demitologi) terutama bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam masyarakat yang sudah maju pun masih mempercayai adanya mitos. Di Barat ada mitos bahwa angka 13 merupakan angka sial. Masih banyak dijumpai hotel-hotel atau apartemen bertingkat yang menghindari angka 13 yang seharusnya menunjukkan tingkat tiga belas. Namun mitos hanya “mengikat” bagi masyarakat yang mempercayainya. Bagi suatu masyarakat yang tidak mempunyai hubungan kepercayaan terhadap mitos masyarakat lain jelas mitos itu tidak berarti sama sekali. Mitos muncul berkaitan dengan keterlibatan masyarakat yang bersangkutan. Bagi bangsa Timur misalnya, angka 13 tidak memiliki makna tertentu. Bagi bangsa Timur dan mungkin bangsa-bangsa lain, yang tidak terlibat dengan mitologi angka 13, angka 13 tidak memiliki makna tertentu kecuali ia adalah urutan angka setelah 12 dan sebelum 14.
Masyarakat Jepang yang sudah sedemikian maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi masih mempercayai mitos. Sampai saat ini masyarakat Jepang masih mempercayai bahwa para kaisar Jepang merupakan titisan dewa Matahari Amaterasu Omikami. Barangkali perlakuan masyarakat Jepang terhadap kaisar yang ada sekarang tidak seperti pada 60 tahun yang lalu yang disembah sebagai titisan dewa, tetapi mitos mengenai kaisar sebagai titisan dewa masih dipegangi. Sebagian masyarakat Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya mempercayai bahwa laut Selatan (Segoro Kidul), laut di sebelah selatan pulau Jawa, ada “penguasa halus” yang dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sering peristiwa yang terjadi di laut tersebut dikaitkan dengan keberadaan Kanjeng Ratu Kidul. Peristiwa terseretnya orang-orang yang ada di pantai oleh ombak laut Selatan hingga meninggal dipercaya bahwa sang penguasa minta korban. Masyarakat daerah tersebut tidak melihat peristiwa itu sebagai musibah yang juga bisa terjadi di pantai mana saja. Bagi masyarakat lain yang tidak mempercayai adanya mitos penguasa laut Selatan akan melihat peristiwa itu sebagai kecelakaan biasa yang mungkin diakibatkan keteledoran orang-orang tersebut atau kejadian alam yang kebetulan kecepatan anginnya sangat kencang sehingga mengakibatkan ombak bergelora dengan dahsyat.
Mitos merupakan cerita keagamaan atau cerita rakyat yang sakral(sacred folk tales) yang mengisahkan tentang asal-usul kejadian bumi, dewa-dewa, orang atau masyarakat tertentu dan sebagainya. Kadang-kadang cerita tersebut yang memiliki arti penting dalam masyarakat yang belum mengenal baca tulis, merupakan bagian dari tradisi lisan (oral tradition) yang diaktualisasikan dalam bentuk ritual. Mircea Eliade mengatakan, bahwa mitos berkaitan dengan sebuah cerita sakral yaitu peristiwa primordial yang terjadi pada saat permulaan waktu. Namun menghubungkan dengan sebuah cerita yang sakral sama dengan mengungkapkan sebuah misteri. Pribadi-ribadi yang ada dalam mitos bukanlah manusia tetapi para dewa atau para pahlawan dalam budaya.
Oleh karena itu keberadaannya diliputi misteri. Manusia tidak dapat mengetahui perilaku mereka jika mereka tidak menampakkannya kepada manusia. Seperti kata Wisnu Minsarwati, bahwa mitos bukanlah merupakan pemikiran intelektual dan bukan pula hasil logika, namun merupakan pandangan mental dan spiritual untuk berhubungan dengan sesuatu yang supranatural. Bagi suatu masyarakat yang mempercayai suatu mitos, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita yang benar itu menjadi milik mereka yang paling berharga. Ia merupakan sesuatu yang sakral dan bermakna, sehingga menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini.
Sudah lama mitologi menjadi bahan kajian para antropolog. Paling tidak ada empat alasan bagi mereka dalam mengkaji tentang mitos, yaitu:
  1. Sebagai sebuah sumber dari data quasi-sejarah mengenai suatu masyarakat yang tidak memiliki catatan tertulis.
  2. Sebagai sebuah petunjuk tertentu mengenai nilai sentral dari suatu masyarakat.
  3. Sebagai sebuah ungkapan simbolik metaforikal dari jiwa perennial dan tekanan sosial seperti Oedipus.
  4. Sebagai pengungkapan, melalui logika mitos, struktur-struktur universal dari pikiran manusia.
Para ahli yang mempunyai otoritas di bidang mitologi telah membahas tentang “realitas” mitos sebagaimana berbeda dari aspek-aspek fantasi dan tidak nyata. Malinowski menggambarkan bagaimana mitos yang ada di sebuah masyarakat liar (a savage community) adalah bukan hanya suatu cerita lisan tetapi suatu kenyataan yang hidup. Mitos bukan suatu dongeng berhala namun suatu kerja keras kekuatan aktif. Bagi C.G. Jung, mentalitas primitif tidak menemukan mitos, tetapi mentalitas primitive memiliki pengalaman mitos. Mitos tidak lain adalah alegoris dari proses-proses fisik. Mitos mempunyai arti penting. Ia merupakan kehidupan mental dari suku primitif yang akan segera hancur dan kehilangan kekuatannya ketika kehilangan warisan mitologinya. Sementara itu bagi Mircea Eliade mitos adalah selalu berkaitan dengan penciptaan. Mitos akan mengatakan bagaimana sesuatu itu dicapai, sesuatu mulai ada.
Itulah sebabnya mengapa mitos terkait erat dengan ontologi. Ia hanya akan bicara tentang realitas, tentang apa yang sesungguhnya terjadi, tentang apa yang seharusnya terwujud. Ada perbedaan arti dari realitas atau pengalaman yang disampaikan oleh tiga orang ahli tersebut. Perhatian utama Malinowski adalah mengaitkan mitos penduduk Trobriand dengan pengalaman sosial dan budaya mereka. Dengan demikian mitos mengenai munculnya nenek moyang dari lubang tanah dihubungkan dengan topografi yang sesungguhnya sampai kepada penyebaran terkini dari klan Trobriand dan pola kekerabatan Trobriand serta stratifikasi sosial. Dengan “realitas”, Malinowski mengartikan, bahwa mitos merupakan charter tentang lembaga-lembaga sosial yang lebih luas. Meskipun charter tersebut menyebut makhluk-makhluk fiktif, point demi point secara detail berkaitan dengan penataan-penataan sosial dan budaya yang merupakan aspek-aspek nyata dari pengalaman penduduk Trobriand. Berlawanan dengan Malinowski, Jung menganggap mitos bukan sebagai daftar kata dari charter untuk lembaga-lembaga budaya, tetapi sebagai realitas psikologi sebagaimana ungkapan-ungkapan tentang “archtypes” atau kesan primordial dari ketidaksadaran kolektif. Ini merupakan hal yang nyata dalam konteks mereka merepresentasikan bentuk atau pola yang diwarisi
yang hadir di setiap manusia. Awalnya bentuk tersebut adalah tanpa isi pemikiran yang spesifik. Isi diberikan oleh budaya spesifik. Mitos memberi suatu kebiasaan lokal dan suatu nama bagi bentuk-bentuk umum dan memberi mereka “realitas” dengan mewujudkannya kepada kesadaran.
Sedangkan bagi Eliade yang dimaksud dengan realitas adalah realitas sakral. Kesakralan menghadirkan dirinya sebagai sesuatu yang berbeda sama sekali dengan kenyataan natural (profan). Dengan demikian bagi Malinowski, realitas adalah kultural, bagi Jung adalah psikologis, dan bagi Eliade adalah spiritual. Menarik untuk diperhatikan adalah pandangan Ernest Cassirer yang dikutip oleh Minsarwati. Menurut Cassirer seseorang dapat mencapai wawasan semantik dan bentuk dasar mitologi bukan melalui penjelasan asal mula mitos atau mengidentifikasi obyek atau motif khususnya, tetapi melalui penentuan sumber ekspresinya dan tipe kesadarannya yang secara aktual menghasilkan mitos. Menurutnya ada dua penekanan mengenai mitos yang perlu diperhatikan: pertama, adalah penekanan pada bentuk struktural yang mendasari fantasi dan pemikiran mitos; kedua, adalah penekanan pada simbolisme. Dalam penekanan simbolisme ini ia mencoba menjelaskan bagaimana kesadaran mitos membentuk simbol-simbol. Ia bergantung pada bentuk yang dimodifikasi dalam ide mentalitas primitive yang merupakan sumber pembentukan konsep-konsep, ide-ide, dan simbol-simbol mitos.
Jadi realitas mitos, terlepas dari benar atau salah, merupakan kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Mitos merupakan kisah suci yang diliputi misteri. Akan terjadi demitologi apabila misterinya sudah terungkap. Jika hal ini terjadi maka akan bisa terjadi pula desakralisasi yang bisa berakibat hilangnya kepercayaan terhadap mitos. Sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam banyak diselimuti kisah-kisah mitos. Informasi mengenai sejarah berdirinya kerajaan Mataram kebanyakan bersumber dari naskah-naskah kuno yang dikenal dengan nama babad. Namun sebagian masyarakat Jawa masih menganggap bahwa informasi yang terdapat dalam babadmerupakan kebenaran historis. Di kalangan sarjana Barat, babadtentang berdirinya kerajaan Mataram merupakan mitos belaka, sebagaimana kata C.C. Berg, bahwa Senopati yang dianggap oleh masyarakat Jawa sebagai pendiri kerajaan Mataram merupakan tokoh mitologis dari pada tokoh historis. Pendapat ini bagi kalangan keraton Yogyakarta dianggap sebagai konspirasi kolonial untuk mendiskreditkan sultan. Kalangan keraton akan menunjukkan makam Senopati apabila keberadaannya dianggap sebagai mitos. Menurut Berg, Senopati merupakan leluhur yang mitis yang sengaja dimunculkan di masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645) yang oleh Berg justru dianggap sebagai pendiri yang sebenarnya dari dinasti Mataram. Namun demikian Senopati, dengan segala kemungkinannya seperti yang diceritakan dalam babad, bukanlah seorang raja yang besar. Ia tetap merupakan tokoh historis yang penting.
Mataram yang semula kadipaten yang tunduk pada Pajang berubah menjadi kerajaan. Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati menjadi raja yang pertama mendapat banyak tantangan karena politik ekspansinya. Cita-cita Senopati adalah memperluas wilayah kekuasaannya sehingga tunduk kepada kerajaan Mataram. Hampir wilayah Jawa bagian tengan dan timur tunduk di bawah kekuasannya kecuali daerah Blambangan yang tetap bertahan dan belum memeluk Islam.
Berdirinya kerajaan Mataram Islam merupakan kelanjutan dari proses konversi keraton-keraton Jawa ke dalam Islam. Untuk membenarkan pendirian kerajaan Mataram dibuatlah ramalan-ramalan mitis. Salah satu ramalan mitis tersebut adalah Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut pantai selatan sebagai istri semua raja dari dinasti Mataram. Di dalam babad ia dikatakan sebagai anak raja Galuh, seorang raja mitologis pra Hindu. Saat Ratu Kidul dilahirkan, ibunya didatangi oleh sekelompok bidadari yang suaranya dapat didengar di seluruh pelosok kerajaan. Bersamaan dengan itu muncul goro-goro di semua tempat angker. Roh-roh pada datang di hadapan raja untuk dikorbankan sebagai penghormatan anak tersebut. Segera setelah dilahirkan, Ratu Kidul langsung berbicara sebagai berikut: “Saya adalah Ratu Ayu yang menguasai seluruh roh di Jawa. Istanaku berada di laut Selatan”. Setelah itu muncul raja Sindula, raja yang sudah lama meninggal, menyatakan bahwa Ratu Kidul adalah cucunya dan kekuasaannya tidak dapat ditandingi. Dia meramalkan bahwa Ratu Kidul hanya akan kawin dengan pendiri kerajaan Mataram yang di masa mendatang akan menguasai Jawa dan menetapkan Islam sebagai agama kerajaan. Ramalan tersebut disertai dengan ledakan petir dan suara para roh sebagai tanda bahwa para dewa menyetujui. Pada akhirnya Ratu Kidul memberitahu Panembahan Senopati, pendiri Mataram, bahwa Allah mengabulkan keinginannya untuk menguasai seluruh Jawa. Ratu Kidul kemudian setuju untuk kawin dengannya dan dengan semua raja-raja berikutnya dari dinasti Mataram. Dengan adanya cerita mitos yang memproyeksikan sejarah Mataram pada masa lalu yang sangat jauh akan memberikan pembenaran konversi ke Islam. Demikian pula dengan memproyeksikan sejarahnya sendiri ke masa lampau yang penuh dengan mitos, Mataram menghadirkan dirinya sebagai sebuah kerajaan yang sah. Ia naik ke kekuasaan yang disahkan oleh para penguasa pra Hindu asli dari dunia roh Jawa.
Untuk menampah kewibawaan dan legitimasi, Ki Ageng Pemanahan yang juga ayah Senopati membuat suatu silsilah untuk menunjukkan bahwa keturunan raja-raja Mataram dari garis ibu adalah keturunan para wali yang berujung pada Nabi Muhammad. Silsilah dari garis ibu disebut dengan silsilah penengen. Sedangkan silsilah dari garis keturunan bapak mereka berasal dari keturunan para dewa dan Nabi Adam. Silsilah dari garis keturunan bapak tersebut dinamakan silsilahpengiwa. Dengan menampilkan silsilah penengen dan pengiwadimaksudkan agar rakyat mengetahui raja-raja Mataram merupakan keturunan dari tokoh-tokoh yang kuat dan terkenal sehingga akan menambah legitimasi dan wibawa mereka.
Untuk memperkokoh posisi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan, raja merupakan penguasa yang memiliki dasar sebagai dewa raja atau khalîfatullah. Hal ini mengindikasikan bahwa raja mempunyai kharisma dan kekuatan yang melebihi manusia biasa. Konsep dewa raja pada masa Hindu Jawa memandang raja sebagai inkarnasi dewa dan hal ini berlanjut pada masa Islam dalam pengertian khalîfatullah. Khalîfatullah yang berarti wakil Tuhan di dunia memberi pengertian, bahwa seorang raja adalah penguasa tunggal yang mempunyai kekuasaan terhadap kesetiaan dan ketaatan penuh dari bawahannya. Institusi yang berhubungan dengan ketaatan, kesetiaan, kewibawaan, dan keagungan cukup memperlihatkan fungsinya bagi budaya kehidupan masyarakat Jawa. Mendapat perintah raja atau ngemban dawuh dalem merupakan kebanggaan tersendiri sehingga rakyat dapat menerimanya dengan senang hati. Oleh karena itu dari penjelasan ini bisa dimengerti tindakan Mbah Marijan yang tidak mau meninggalkan tempat tinggalnya meskipun tempat tinggalnya masuk kategori zone terlarang, daerah yang terlebih dulu dilanda letusan Merapi atau luncuran awan panas.
Dalam pandangan tradisional masyarakat Jawa, raja digambarkan sebagai wenang misesa ing sanagari yang berarti memiliki kekuasaan tertinggi di seluruh negeri. Tidak saja ia memiliki kekuasaan terhadap negara dan harta benda, tetapi juga terhadap rakyat (para kawula) dengan segala kehidupan pribadinya. Di samping itu kekuasaan digambarkan dalam ungkapan mbaudendha nyakrawati, yaitu berwenang menghukum dan berkuasa memerintah dunia. Bahkan lebih dari itu, bahwa raja berkuasa segala-galanya, yaitu memerintah, mangatur, menghukum, menguasai daerah-daerah lain, menguasai militer, dan termasuk mengatur masalah agama seperti yang terungkap dalam Senopati ingalaga Ngabdurachman Sayidin Panatagama. Kekuasaan tersentral pada diri raja, tidak terbagi-bagi dan merupakan kebulatan yang tunggal, tiada yang mampu menandingi. Ungkapan raja yang tak tertandingi berbunyi endi ono surya kembar yang berarti tidak dibenarkan ada kekuasaan lain yang sederajat dengan dirinya.
Untuk bisa mengatur kerajaan dengan bijaksana dan adil raja harus memiliki kesaktian (supernatural power) yang melebihi siapapun. Keadilan yang ditegakkan oleh raja yang memiliki kesaktian akan menjamin kesejahteraan rakyat. Rakyat juga akan merasa aman di manapun mereka berada dan ke manapun mereka pergi karena dilindungi oleh rajanya. Seperti yang digambarkan oleh G. Moedjanto bahwa seorang raja yang ideal adalah ia yang memiliki predikatgung-binathara, baudhendha nyakrawati, dan ber budi bawa leksana. Penjelasan dari predikat tersebut adalah bahwa kekuasaan raja begitu luar biasa besarnya. Semua harus tunduk pada hukum sehingga kedamaian dan keadilan bisa ditegakkan. Semua orang menjalankan tugas-tugas mereka dan hak-hak mereka dijamin. Raja yang demikian pantas untuk diagungkan. Raja tidak lagi sebagai manusia biasa, tapi agak menyerupai “dewa” atau “manusia super”.
Oleh karena itu raja sebagai pemilik segala-galanya di dalam wilayah kerajaannya. Memaknai Mitos Mitos yang melingkupi kehidupan keraton yang sampai sekarang masih dipercayai sangat menguntungkan bagi kelanjutan kekuasaan raja-raja Mataram. Raja-raja Mataram sudah sedemikian rupa dianggap memiliki kelebihan-kelebihan yang supranatural menjadikan mereka sangat disegani. Masyarakat cenderung membiarkan mitos di keraton Yogyakarta tetap hidup tanpa perlu mempertanyakan kebenarannya. Toh selama ini kekuasaan raja-raja Mataram tetap berjalan sebagaimana adanya tanpa gejolak pertentangan antara masyarakat dan pihak keraton.
Masyarakat pun tidak mau mengusiknya karena yang penting raja mampu menciptakan ketenangan dan dapat mengayomi masyarakat. Di sini mitos harus dilihat dari fungsinya, bukan dilihat dari benar tidaknya mitos itu. Menurut Wisnu Minsarwati, mitos mempunya empat fungsi, yaitu:
  1. Sebagai interpretasi terhadap eksistensi manusia dan dunia.
  2. Bisa menunjukkan mengapa dunia itu ada.
  3. Mengatur pengalaman manusia dan menjadi paradigma.
  4. Melegitimasi tradisi yang ada.
Mitos seperti yang sudah dijelaskan di depan mengandung sesuatu yang sakral dan misteri. Selama mitos masih diselimuti misteri, maka nilai kesakralannya juga akan tetap senantiasa mengiringi mitos tersebut dan masyarakatpun akan tetap mempercayainya. Sebaliknya apabila mitos itu sudah terkuak aspek misterinya maka mitos itu juga akan kehilangan kesakralannya, seperti misalnya, pesanggrahan Sultan dan rumah-rumah di sekitarnya selamat dari awan panas akibat letusan gunung Merapi pada tahun 1994. Pada waktu itu awan panas menghanguskan sebagian lereng gunung Merapi dan sebelum tiba di pesanggrahan Sultan tadi letaknya di Kaliurang berjarak tujuh kilo meter dari puncak gunung Merapi berhenti mengamuk. Padahal beberapa kilometer persegi hutan di sekitar pesanggrahan tersebut hangus kecoklatan akibat awan panas yang suhunya berkisar antara 400 - 600 derajat celcius. Mitos yang berkembang adalah bahwa Kyai Sapu Jagad sebagai penguasa gunung Merapi masih melindungi pesanggrahan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Posisi pesanggrahan itu sendiri ditutupi oleh bukit Turgo dan Plawangan yang menurut mitos kedua bukit tersebut dianggap lebih tua keberadaannya daripada gunung Merapi. Memang secara stratigrafi gunung api kedua bukit tersebut adalah sebagian dari tubuh gunung Merapi yang tua. Oleh karena itu kalaupun pesanggrahan Sri Sultan HB X itu selamat dari awan panas hal itu disebabkan posisinya yang terlindungi oleh bukit Turgo, sehingga secara fisik bukit itu menghalangi awan panas.
Sebenarnya dari penalaran tersebut secara common sense bagi sebagian masyarakat mitos mengenai pesanggrahan tersebut sudah mengalami demitologisasi. Namun tetap saja bagi sebagian masyarakat lainnya masih tetap menganggapnya sebagai mitos.
Teori fungsionalisme dalam sosiologi bisa dipakai untuk melihat mitos.
Dalam perspektif fungsionalis mengatakan, bahwa bagian-bagian dalam masyarakat mempunyai fungsi yang menjaga stabilitas secara keseluruhan. Masyarakat diibaratkan dengan organisme-organisme yang hidup (living organism), suatu pandangan yang dipelopori oleh Herbert Spencer dan Emile Durkheim. Setiap organisme memiliki sebuah struktur yaitu seperangkat komponen yang saling terkait seperti kepala, kaki, jantung, dan sebagainya. Setiap komponen memiliki fungsi yaitu konsekuensi positif bagi seluruh sistem yang dalam hal ini adalah suatu organisme hidup. Demikian pula suatu masyarakat juga memiliki sebuah struktur yang saling terkait seperti keluarga, agama, militer, dan sebagainya. Secara ideal setiap komponen tersebut memiliki fungsi yang menyokong stabilitas secara keseluruhan dari sistem kemasyarakatan.22 Teori fungsional memandang bahwa masyarakat dilihat dalam term sistemik, setiap sistem yang ada dipandang mempunyai keperluan dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kelangsungan hidup. Ketika dipandang sebagai sebuah sistem, masyarakat dilihat sebagai gabungan dari bagian-bagian yang secara bersamaan saling berkaitan. Analisis dari bagian-bagian yang saling terkait tersebut terfokus pada bagaimana bagian-bagian tersebut memenuhi persyaratan dari keseluruhan sistem dan menjaga kenormalan sistem atau ekuilibrium.23 Bahkan dalam fungsionalisme ada kaidah yang mendasar bagi antropologi yang berorientasi pada teori yaitu dictum metodologis yang mengatakan bahwa ciri sistemik budaya harus dieksplorasi. Maksudnya adalah diketahui bagaimana kaitan antara institusi-institusi atau struktur-struktur suatu masyarakat, sehingga membentuk suatu sistem yang bulat.
Dalam interpretasi para fungsionalis, fungsionalisme merupakan metodologi untuk mengeksplorasi ketergantungan. Mereka juga mengatakan bahwa fungsionalisme merupakan teori tentang proses kultural. Di samping mengeksplorasi adanya saling ketergantungan berbagai macam ragam unsur-unsur budaya para fungsionalis juga menjelaskan mengapa terjadi pola-pola tertentu atau mengapa pola-pola itu bisa bertahan. Ketika menjelaskan magic Trobriand sehubungan dengan fungsinya untuk mengurangi kecemasan mengenai hal-hal yang tidak dapat dipahami, Malinowski seolah menjelaskan alasan kehadiran dan kelestarian magic itu dalam budaya Trobriand. Demikian pula ketika Radcliffe-Brown yang menjelaskan eksistensi dan persistensi upacara keagamaan dalam kaitannya dengan sumbangan upacara keagamaan itu untuk kerekatan sosial. Sementara itu Melford Spiro berupaya menjelaskan kepercayaan bangsa Ifaluk mutakhir terhadap roh jahat sehubungan dengan cara-cara kepercayaan itu dalam menyalurkan agresi.
Penjelasan Spiro berbeda dengan Malinowski dan Radcliffe-Brown. Penjelasannya tidak mengenai asal-usul kepercayaan tersebut melainkan hanya menerangkan mengapa kepercayaan itu tetap bertahan meskipun kelihatannya (oleh pengamat dari luar) nyata-nyata tidak berfungsi. Selanjutnya David Kaplan dan Albert A. Manners mengatakan bahwa dasar semua penjelasan fungsional ialah asumsi bahwa sistem budaya memiliki syarat-syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksistensinya. Dengan kata lain sistem budaya memiliki kebutuhan yang semuanya harus dipenuhi agar sistem itu dapat bertahan hidup. Dengan demikian jika kebutuhan sistem fungsional itu tidak dipenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan “mati” Atau ia akan berubah menjadi sistem lain yang berbeda jenis.
Berdasarkan teori fungsional tersebut, yang menjadi perhatian adalah apakah mitos itu memiliki fungsi sosial? Untuk menjawab pertanyaan tersebut patut diperhatikan penjelasan Robert Merton mengenai konsep “fungsi”. Merton membedakan antara fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes ialah konsekuensi obyektif yang memberikan sumbangan pada penyesuaian atau adaptasi sistem yang dikehendaki dan disadari oleh partisipan sistem tersebut. Sedangkan fungsi laten merupakan konsekuensi obyektif dari suatu ikhwal budaya yang “tidak dikehendaki maupun disadari” oleh warga masyarakat. Dengan konsep Merton tersebut para fungsionalis tidak hanya mengatakan bahwa suatu unsur tertentu memiliki fungsi laten tertentu melainkan juga bahwa fenomena budaya itu tetap bertahan karena fungsi laten yang diembannya. Merton mengamati tarian hujan suku Hopi. Menurut kepercayaan suku Hopi dengan mengadakan ritual tarian hujan akan mendatangkan hujan lebat.
Ritual tersebut senantiasa dilakukan tatkala ingin mendatangkan hujan. Namun dalam kenyataannya setelah ritual tersebut dilakukan tidak selalu turun hujan. Meskipun demikian ritual tersebut mempunyai fungsi laten, yaitu memperkokoh identitas kelompok melalui suatu peristiwa periodic ketika para warga yang terpencar berhimpun guna melakukan kegiatan kelompok secara bersama. Jadi menurut Merton, suku Hopi yang terus melaksanakan tarian hujan tidak hanya keliru mempercayai bahwa ritual itu menghasilkan hujan, melainkan tindakan tersebut melaksanakan fungsi laten yaitu menggalakkan solidaritas kelompok. Lalu mengapa suku Hopi selalu melaksanakan ritual tarian hujan? Menurut Kaplan dan Manners, setidaknya ada dua alasan 1) ritual itu memang mendatangkan hujan, atau dianggap mendatangkan hujan atau akan mendatangkan hujan; dan 2) mereka menikmati upacaranya, menyukai acara berkumpulkumpul, dan menikmati ritual itu sendiri. Mungkin ada juga ketakutan pada sanksi adikodrati jika melalaikan upacara itu, atau karena adat kebiasaan.
Dengan menggunakan pendekatan fungsional tersebut mitos, seperti halnya agama, adalah salah satu komponen yang turut berperan dalam menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat di wilayah kekuasaan keraton Yogyakarta yang merupakan kelanjutan dari kekuasaan kerajaan Mataram Islam. Inilah yang oleh Robert Merton dikatakan sebagai fungsi laten. Menggugat keberadaan mitos bisa mengakibatkan terganggunya sistem-sistem yang ada di masyarakat. Hal itu bisa menyebabkan instabilitas, sehingga dapat mengacaukan masyarakat secara menyeluruh. Bisa saja lambat dan alamiah akan terjadi demitologisasi keraton seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun konsekuensinya sistem masyarakat yang sudah terbentuk akan mati atau berubah ke sistem lain seperti yang dikatakan oleh Kaplan dan Mannes di atas.

Sumber browsing : click here
_______________
* Artikel ini diambil dari Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008 (saya mendapatkannya dalam bentuk ebook format pdf). Jadi sebenarnya, sudah sangat lama, tapi karena saya pikir masih sangat relevan dengan kekinian, sengaja saya share di sini. Semoga bermanfaat.
** Penulis adalah dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.