Jumat, 10 Juni 2011

SI PITUNG DRAMAKOE....


Kegiatan : Drama Sekolah
Jenis : Campur Sari
Momen : Pelepasan Siswa Kelas VI Tapel 2006-2007
Tema : Si Pitung


Scene 1 : Markas Kompeni
Suasana : Siaga
Music : Genderang Perang
----------------------------------------



Kopral Bejo : “….. E hem ! Huk.. huk…huk !!”
Jaga lagi… jaga lagi….
Ikut Kompeni sudah hampir enam tahun kok nasibku tetap saja melarat….
Setiap hari di suruh jaga…jaga terus…….
Gua disuruh jaga siang dan malem… eh…orang-orang Belanda
pada enak-enak tidur molor seperti kathok kolor.....
Dulu aku pernah dijanjiin sama Kompeni….
Bila ikut dan mengabdi pada Belanda akan dikawinkan oleh nonik-nonik Belanda. Lalu kapan….. kapan….?!”

Kopral Parmo : “…… Hey…. Londo Ireng….!!
Jaga…. kok ngomel aja…..
Ntar… kesurupan Mak Lampir baru tahu rasa… !!

Kopral Bejo : “ Hus….!! Ngomong apa kamu Parmo….!!
Panggil orang kok londo ireng….
Kamu sendiri londo apa….?!

Kopral Parmo : “Aku khan londo asli….Djo…!!”

Kopral Bejo : “Asli apanya……
Londo kok lorek seperti tekek gitu….!!”

Kopral Parmo : “Hehehe……….!!”

Kopral Bejo : “Ngomong-ngomong pada kemana nich bule-bule kompeni itu?

Kopral Parmo : “Apa situ nggak tahu kabar….djo!!
Mereka sedang patroli ke desa-desa untuk mencari Si Pitung…!!

Kopral Bejo : “Emangnya Si Pitung punya utang kriditan ama Kompeni……?”

Kopral Parmo : “Kamu semakin hari…kok tambah semakin goblok……aja djo!!
Makanya sering baca koran dong kamu djo……..
Jangan urek-urek tombok-an aja…..!!”

Kopral Bejo : “Tombok-an udelmu bodong mo…..!!”

Kopral Parmo : “Si Pitung dicari-cari Belanda gara-gara ia selalu melindungi dan melawan Kompeni. Pitung berani menghalang-halangi kompeni dalam menarik pajak
Pada penduduk desa…!!”

Kopral Bejo : “Berani sekali dia……
Anak siapa sih dia itu mo….??”

Kopral Parmo : “Ya..anak orang djo….!!
Masa anak gendruwo……!!”

Kopral Bejo : “Eh…., barangkali anaknya emakmu….mo !!”

Mener : “Kopral……!!”

Kopral B+P : “Siaaap….mener…..!!”

Mener : “Overdoses…….!!
Kamu orang jaga markas apa jagongan he !!
Pringas…pringis kayak si-Tokol… he….!!
Apa kamu orang tidak tahu he….!!
Kompeni pada sibuk cari itu orang yang bernama Pitung…he!!
You malah enak-enak medongkrong sambil makan singkong…!!
Overdoses….!!”

Kopral Bejo : “Habis lapar Mener….!!”

Mener : “Overdoses….
Lapar… lapar…memang kamu orang pada gragas semua….he!!
Masa supermi sepuluh kerdhus kamu orang sikat habis…
Kamu itu orang apa tikus…he!!
Ikut kompeni harus kerja yang betol….
Nanti bayaran kamu orang akan dinaikan he….!!

Kopral Parmo : “Bayaran saya bulan kemarin belum diberi Mener…!!

Mener : “Overdoses…..
Kamu orang belum bayaran……
Aku tidak percaya sama kamu orang… !!
Lihat ini he…..!!
Catatan ngebon kamu panjangnya kayak sepoor…!!”

Kopral Parmo : “He..he…he…., lupa mener….!!

Mener : “Lupa gundulmu….he!!”

Letnan O’on : “Lapooor mener…..!!”

Mener : “Ada apa kamu orang kok bedigasan masuk markas he…!!”

Letnan O’on : “Si….si….si……….!!”

Mener : “Hus… Overdoses…..!!
Laporan yang benar kamu orang he….!!”

Letnan O,on : “Pi…pi…pitung….mener !!”

Mener : “Ada apa dengan pitung letnan ?”

Letnan O,on : “Sipitung mengamuk…..mener….!!
Anak buahku banyak yang jadi korban….mener…!!

Mener : “Overdoses…..
Berani sekali pitung kembali masuk desa he….!!
Kamu orang apa tidak bisa menangkapnya he….!!”

Letnan O.on : “Kami sudah sekuat tenaga ingin menagkapnya mener…
Tapi dasar sipitung aja yang licin seperti belut mener!!”

Mener : “Overdoses……
Dasar kamu orang memang tidak becus…..he!!
Kamu orang londo goblok…he!!
Bisamu orang cuma habisin beras dalam lumbung aja he…..!!”

Letnan O’on : “Maafkan kami mener…..?!

Mener : “Sekarang ada di mana itu orang bernama pitung he….?!

Letnan O’on : “Tadi kami bentrok di depan rumah kyai Sableng mener…!!”

Mener : “Kyai Sableng…..
Overdoses…., jadi itu kyai Sableng ikut-ikutan mendukung si pitung he…!!”

Letnan O’on : “Benar mener…!!
Si Rokhaye anak kyai Sableng khan pacarnya si pitung mener…!!”

Mener : “Apa arti itu pacar …he letnan !!”

Letnan O’on : “Pacar itu sama dengan tunangan kalau di Nedherlans sana
mener!”

Mener : “Kalau begitu…., kamu orang ikut aku semua……
Tangkap itu orang yang punyanama Pitng di rumah kyai Sableng!”

Semua : “Siap mener……!!”

Scene 2 : Rakyat Desa
Suasana : Ketakutan
Musik : Pedesaan
---------------------------------------------

Mbok Yem : “Pak….., pak…., pak Karto !!
Dimana sih orang ini….. Dicari dari tadi kok tidak ada….
Sudah kucari di sawah….nggak ada…!!
Kucari di empang juga nggak ada….!!
Barangkali dia sembunyi di kolong tempat tidur ya…?!
Maklum… dia khan banyak utangnya ama tukang kridit…..
Tiap hari kerjanya sembunyi melulu…..!!
Pak…., pak……pak-.nee….!!

Pak Kerto : “Ada apa sih bu.-ne…!!
Kudengar dari tadi kok berteriak-teriak memangilku terus……!!
Apa kau kira aku ini sudah budeg ya….!!”

Mbok Yem ; “Habis dari tadi dipanggil nggak ada sahutan sama sekali….
Emangnya lagi apa kamu pak-ne….?!”

Pak Kerto : “Apa kamu nggak tahu bu-ne……
Kompeni sedang marah besar pada penduduk desa ini…..!!”

Mbok Yem : “Memangnya salah apa penduduk desa ini pada mereka pak-ne ?!
Pada hal kita selalu membayar pajak pada mereka…..!!”

Pak Kerto : “Memang sebagian penduduk dusun kita taat membayar pajak…
Tapi di dusun-nya si-Pitung mereka pada mogok membayarnya !!”

Mbok Yem : “Siapa pak-ne….si Pitung ….?!
Berani sekali dia melawan kompeni pak-ne….”

Pak Kerto : “Iya …., siapa lagi kalau bukan Pitung-nya wak Mbrok... bu-ne!!
Pemuda dusun sebelah yang sangat pemberani….!!”

Lurah : “Assalamu ‘alaikum…..!!”

Kerto/Yem : “Wa-alaikum Sallam…..!!”

Kerto : “Oh…., pak Lurah……
Mari-mari silakan masuk……!!
Ada apa kok kelihatannya pak Lurah terburu-buru…..??”

Lurah : “Kerto…., apa kamu tidak dengar kabar……
Kompeni marah-marah……
Mereka menembak penduduk yang membangkang tidak mau Membayar pajak…..
Mener Van Heyne sudah gelap mata…., seperti orang yang telinganya
kemasukan orong-orong…!!
Semua penduduk desa digeledah…….
Siapa yang berani menyembunyikan si-pitung ikut dibrantas…!!”

Mbok Yem : “Aduh…., bagaimana ini pak-ne……??”

Kerto : “Tenang….tenang mbok-ne…jangan membuat aku jadi takut….
Bagaimana ini pak lurah…., apa kami harus mengungsi…..?!”

Lurah : “Terlambat Kerto……, kompeni sudah ada di depan rumahmu…
Lihat itu kerto….. Mener Van Heyne matanya melotot sampai
hampir copot…., ayoo…lari Karto…..!!”

Mbok Yem : “Aduh…., aduh…. Pak-ne, ayo kabur pak….aku sangat takut….!!”

Mener : “Overdoses……..!!
Kamu orang mau lari kemana he….!!
Jangan harap kamu orang dapat lari dari sini he…..!!
Ayo Letnan tanya pada mereka…….!!”

Letnan O’on : “Hey kecoak-kecoak ndeso…..!!
Apa kalian tidak tahu di mana si-Pitung sembunyi hah….!!”

Karto/Yem : “Kami ti…ti…dak ta…hu… tu….tu…aaan…ampun….!!”

Letnan O’on : “Jangan bohong sama kompeni kamu hah…..!!”

Kerto : “Ampun…..tuan…., kami benar-benar nggak tahu itu orang….!!”

Mener : “Overdoses……!!
Dasar kamu orang tikus-tikus gudiken…..!!
Berani-beraninya bohong….. Overdoses…….!!’

Mbok Yem : ‘Ampun tuan….., jangan tendangi suami saya…..
Kasihani dia tuan…….!!”

Mener : “Dasar tua bangka overdoses……!!
Biar kamu orang jadi rondo kempling he……!!”

Mbok Yem : “Ampun tuan….., kami benar-benar tidak tahu …..!!”

Letnan O’on : “Bangsat……., masih juga berbohong kamu orang hah…..!!”

Cipluk : “Angan….angan….angan akiti emak-cu………!!”

Mener : “Overdoses…..!!
Siapa kamu orang….., bayek-bayek sudah berani melawan….!!”

Karto : “Ampuni dia tuan, jangan sakiti anak kami……!!”

Letnan : “Hahaha……., hehehe…….
Kalian ini sudah pada tua….., tapi kok masih punya anak sekecil
Ini he….!!

Kopral : “Hahahaha……, nemu anak jin barangkali Letnan….haahaaha !!”

Letnan : “Hus…… diam….!!
Hei bocah tengik….., siapa namamu he…?!”

Cipluk : “ama-ku….ama-ku….Cipluk…..om….!!”

Letnan : “Anak pintar…..
Cipluk….., apakamu tahu dimana sembunyinya si Pitung hah ?!”

Cipluk : “Ciapa…..ciapa…..om……?!”

Letnan : “Namanya si-Pitung…….nggooook….!!”

Cipluk : “Ciapa…..si-Buntung……?!”

Mener : “Overdoses…….!!
Dasar anak tuyul…….!!”

Letnan : “Bukan si-Buntung….., tapi si-Pitung……!!
Dasar anak setan….!!”

Cipluk : “Oh…., mbang Itung…..!!
Acu…..acu ….acu……..cau……om… !!
Mbang Itung….embunyi die bun ebu……..!!”

Letnan : “Hahaha….., anak pinter……!!
Nanti om beri hadiah ya………, es jusss…..!!”

Mener : “Dimana itu Pitung sembunyi Letnan……?!’

Letnan : “Dia sembunyi di kebun tebu mener…..!!”

Mener : “Overdoses…….
Kalau begitu…., siapkan pasukanmu Letnan……!!
Kita grebek itu sarang penyakit…..!!”

Letnan : “Siap….Mener….!!
Pasukan siap…………grak…!!”

Kopral : “Siap…………!!”

Letnan : “Ayo berangkat……….!!”
Scene 3 : Kebun Tebu
Suasana : Tegang
Music : Pedesaan
----------------------------------------------

Pitung : “…hm!! Sudah jam segini rokhaye kok belum juga datang ya…
Biasanya ia selalu tepat waktu untuk membawa kiriman makan…
Aduh….perutku sudah terasa sangat lapar sekali……
Apalagi ini cacing dalam perut……
Tidak mau diajak kompromi…..selalu unjuk rasa tidak mau menunggu
barang sebentar…..!!”

Nonik : “Hallo…. Apa kabar abang Pitung…..
Ngapain abang Pitung cengar-cengir sambil memegangi perut ….
Apa perut bang pitung sakit ??”

Pitung : “Hm…., bukankah anda putrinya Mener Van Heyne…..
Ada perlu apa anda kemari….??”

Nonik : “Sudah lama Ike mencari bang Pitung…..
Kesana-kemari tidak pernah ketemu……
Eh…., ternyata bang Pitung sembunyi di sini……
Apa bang Pitung sedang mempelajari ilmu garangan….
Kok sembunyinya direrumbutan kebun tebu…..?!”

Pitung : “Ah…., anda bisa saja bercanda nonik.
Disini aku merasa aman dan tidak terganggu dari kejaran para begundal kompeni…..!!
Lalu….., Nonik sendiri ngapain mencari-cari aku ?!”

Nonik : “Terus terang……
Sejak lama Ike sangat kagum akan keberanian abang Pitung…
Abang Pitung sangat pemberani membela rakyat kecil desa ini
dari kekejaman Papaku….!!”

Pitung : “Ah….., nonik terlalu banyak memuji…..
Memang suatu keharusan bagi kami murid Kyai Sableng untuk
selalu membela rakyat kecil dari kekejaman kompeni…!!”

Nonik : “Mulia sekali hati bang Pitung…..
Karena itulah semakin hari Ike semakin kagum sama kamu bang!”

Pitung : “Maksud Nonik…..??”

Nonik : “Ike merasa….., Ike telah jatuh cinta kepada bang Pitung….!!”

Pitung : “Apa….!! Nonik jatuh cinta padaku……
Tidaklah pantas bagi anda untuk mencintai aku …..
Derajat kita sangat jauh berbeda……..
Anda seorang putrid penguasa kompeni…., sedangkan aku….
hanyalah seorang pribumi biasa….!!”

Nonik : “Bukankah persamaan derajat antar bangsa itu yang abang Pitung perjuangkan.. Jadi…., tidak perlu abang Pitung merendahkan diri……
Derajat Ike ama darajat abang Pitung adalah sama !!”

Pitung : “Bukan itu maksud saya……
Aku tidak dapat menerima cinta Nonik…..!!”

Nonik : “Apa Ike kurang cantik……..
Apa Ike kurang manis………
Apa Ike kurang bahenol bagi Pitung…..?!”
Pitung : “Bukan itu….
Sekali lagi aku minta maaf padamu……
Karena aku telah memiliki seorang kekasih…..
Rokhaye namanya putri guruku sendiri……..!!”

Nonik : “….jadi….,jadi abang Pitung sudah memiliki seorang kekasih…..?!”

Pitung : “Benar…..!!”

Rokhaye : “Assalamu a’laikum !!”

Pitung : “Wa ‘alaikum sallam !!
Kamu Rokhaye……, kok lama sekali…..
Perutku sangat lapar sekali…..
Mana pesananku kemarin…..?!’

Rokhaye : “Habis …. Penjagaan kompeni sangat ketat bang…..
Sehingga aku harus mencari jalan memutar ke kebun ini…..
Ini bang…….nasi liwet dan sambal ikan klitok pesanan abang !!
Ngomong-ngomong….Siapa dia ini bang……?!’

Pitung : “Oh…iya hamper lupa……
Dia ini Nonik putrinya Mener Van Heyne…..!!”

Nonik : “Jadi ini orang yang namanya si-Rokhaye bang Pitung !!
Wah…., cantik sekali………
Makanya abang sangat mencintainya…..!!”

Rokhaye : “Ah…., Nonik berlebihan kalau memuji……
Ada keperluan apa anda datang ke tempat yang kotor ini….?/”

Nonik : “Ike datang kemari untuk memberitahukan bahwa Papa dan
Anak buahnya sedang melalukan operasi pembersihan mencari
Abang pitung hidup atau mati…..!!”

Rokhaye : “Mengapa anda memberitahukan hal ini…..
Itu bebarti anda telah membantu perjuangan rakayat desa ini…
Dan anda telah melawan kompeni….?!”

Nonik : “Ike berani menanggung resiko……
Biar Ike mati sekalipun….., Ike tetap mendukung perjuangan
Rakyat desa ini dari penindasan kompeni….!!”

Mener : ‘Overdoses……!!
Rupanya kalian sembunyi di sini…..
Dasar para cecorot…….
Beraani-beraninya kalian membangkang dan melawan kompeni….!!”

Letnan : “Apa perlu saya tembak mati mereka Mener…..!!”

Nonik : “Papa…..!!
Papa jangan bertindak kejam pada mereka…..
Mereka melawan itu karena merasa tidak kuat lagi menerima
kekejaman Papa…..!!

Mener : “Overdoses…..
Tutup mulutmu…….
Ngapain kamu blakrak-an ke tempat ini…..
Bukankah tugasmu hanya belajar di rumah…..
Dasar anak kurang ajar kau ini…..!!”

Nonik : “Percuma Ike sekolah sampai tinggi…..
Yang nantinya Ike hanya mewarisi kekejaman Papa saja…..!!
Ike dilahirkan di tanah ini ini Papa…..
Ike makan dan minum di tanah ini Papa…..
Hati Ike sudah menyatu dengan tanah ini Papa…..
Inilah tanah air Ike……..!!”

Mener : “Dasar anak tak tahu diuntung……
Overdoses……, lebih baik you pulang aja ke Holland sana saja…!! Percuma saja Papa punya putri yang hanya membangkang perintah Papa!!”

Letnan : “ee…..Mener…..!!
Barangkali putri anda minta dirabek-no…..!!”

Mener : “Apa itu dirabek-no …..Letnan ?!”

Letnan : “itu artinya….,putri Mener minta dikawinkan…..
Biar tidak blakrak-an saja kerjanya…….!!”

Mener : “Sama siapa letnan….??”

Letnan : “Yang paling pantas ya….sama Ike orang Mener….hehehe…..!!”
Nonik : “Dasar Letnan blo-on…
Nggak sudi Ike dikawinkan sama kamu orang…..!!”

Letnan : ‘Apa Ike kurang cakep…nonik……?!
Kata orang-orang Ike-khan mirip seperti David Becham……!!”

Nonik : ‘Memang sangat mirip….Letnan….
Tapi ….., lebih mirip sama itu monyetnya David becham….!!”

Kopral : “Hahahaha……memang mirip sekali !!”

Letnan : “Hus……., pada tertawa menghina kalian…………
Apa kalian mau saya suruh push up sepuluh ribu kali……he !!
Biar tulang belulang kalian mrotol-li……!!”

Mener : “Overdoses……..!!
Jangan banyak ngomong saja kalian…..
Ayo…cepat tangkap si Pitung !!”

Pitung : “Sekali lagi aku peringatkan…..
Berani maju satu langkah saja……
Bakal copot kepala kalian…….!!”

Kopral : “Waduh……..!!
Bagaimana ini….., sego rawon masih enak …..!!’

Letnan : “Dasar pengecut…..!!
Ayo maju serang si Pitung….kopral……!!”

Pitung : “…….hahahaha………!!”
Dari pada tidak ada yang berani maju…..!!
Lebih baik aku tunggu kalian di pasar desa……!!”

Mener : “Overdoses……
Mengapa kalian biarkan si Pitung melarikan diri ha…..!!”

Letnan/kopral : ‘Habis kami takut ditebas ama goloknya mener……!!”

Mener : “Dasar Londo goblok semua kalian……
Ayo…..cepat kejar dia……!!”

Scene IV : Pasar Desa
Suasana : Hiruk-Pikuk
Music : Prau Layar
---------------------------------
Bok Bariah : “Jak…rujak……!!
Rujaknya mas……, monggo mampir…….
Jak-.rujaknya enak sekali…….
Rujak petis……dapat membikin orang meringis…..
Rujak manis….., bikin orang tak-khan menangis…..
Rujak ulek mas….., bikin orang sembuh dari pilek….
Rujak Cingur mas….., bikin orang tak pernah ngluyur….
Bo…abo…..!!
Sudah ditawar-tawarkan ter-muter dari pagi….
Kok….tak ada orang yang mau mampir membeli……
Bo…abo…..!!
Yang mampir kok malah laler….clok-menclok terus….!!”

Mbok Yah : “Hus…..!! Dagang kok ngomel terus…….
Mana mau datang itu rejeki…….
Kalau dagang harus sabar…..Bok.!!
Barangkali rujakmu itu kurang enak….. bok !!
Rujak kok petisnya selalu dicampuri formalin .…..!!”

Bok Bariah : “Bo…abo !! Ngocak apa sampeyan…….Yah !!
Be-en kok ngocak sembarangan……..
Nggak mungkin rujak engkok…dicampur formalin….tak iye
Jok cem-macem sampeyan……
Opo sampeyan kepingin ketiban gelungan engkok….!!”

Mbok Yah : “Nggak sudi aku ketiban gelunganmu Bok…..
Lha wong gelunganmu tumo-ne gedhene sak kecoak-kecoak ngono…..!!”

Bok Bariah : “Bo….abo !! Sampeyan jualan dawet ter-muter yoo nggak yu-payu….tak-iye
Ngono kok ngenyek rujak-ku….!!”

Mbok Yah : “Sopo sing ngomong….dawetku nggak payu…..
Sorry djoo…., sing tuku mau isuk podho antri
Dowo-ne antrian sampek teko balai desa…..!!
Opo meneh wingi……sing tuku podho rebutan…..Yah !!
Yel-uyelan njaluk ngombe dawet sing enak Yah…..!!”
Bok Bariah : “Bo…abo !! Seneng nggedhabrus……bei sampeyan……!!
Wet-dawet koyok kora-kora-an nngono bei kok enak…….
Sing tuku bei….padha goblok……tak iye !!”

Mak Tun : “Oaalaaah…….!!
Sampeyan kabeh iki dhodholan opo eker-eker-an wae see…..!!
Tak rungok-no soko kadho-an swarane pating jemlerit…….!!
Opo sampeyan ora isin tah….dirungono wong sak pasar !!”

Bok Bariah : “Bo..abo…..!! Konco sampeyan iki sing we-gawe perkoro dhisik !!
Ko-teko wis….ngulokno jak-rujak engkok dicampur formalin….tak-iye !!”

Mak Tun : “Yo…wis…., ora usah digawe gedhe…..
Saiki sing podho rukun… ora perlu geger-an wae……
Sesama pedagang pasar harus saling menghormati…..
Lak kadhos ngoten pituture wong tuwo rumiyen……?!”

Semua : “Ngge leres………...!!
Iyoot tak- kanak…….!!”

Kopral Parmo : “Bubar…..bubar……!!
Ayo pada bubar semua…..!!
Pasar mau ditutup………..!!”

Mak Yah : “Ampun ndoro…tuan……..
Jangan ditendangi dagangan kulo…..!!”

Bok Bariah : “Iyoot ……. ampun ro-ndoro londo…..
Jak-rujak engkok jok did ok-sadok……
Isok lat-mencelat iku leg-uleg….engkok !!”

Letnan : “……mana si-Pitung……??
Sembunyi di mana dia orang hah…..!!
Cepat beritahu…….!!”

Mak Tun : “Ampun ndoro Kompeni……
Dari tadi kami tidak melihat si Pitung…..!!”

Mak Yah : “Benar ndoro……
Yang kelihatan tadi si-Pincang yang lagi ngejar layangan…ndoro…!!”
Mener : “Overdoses…..!!
Bakar saja pasar desa ini Letnan…..!!
Biar itu orang bernama Pitung keluar dari persembunyiannya….!!”

Bok Bariah : “Ngan-jangan ndoro tuan…..
Kalau pasar diobong….engkok jualan kemana tak-iye….!!”

Letnan : “Ya…kalian jualan di pinggir larak-an sana….!!”
Mener : “Overdoses……
Jangan banyak cingcong aja kamu Letnan……
Cepat bakar itu pasar……!!”

Pitung : “Tidak perlu kalian bakar pasar ini…..!!
Aku siap menghadapi kalian semua…….!!
Cepat kalian tinggalkan tempat ini mbok…..!!
Biar hari ini aku habisi semua kompeni goblok ini….!!”

Semua Kompeni : “Hah….!! Pituuung……..!!”
Mener : “Ayo…..cepat tangkap dia…..!!”
Kopral : ‘Ayo…..kepruk saja dia…..!!”
Letnan : “Bacook…….Si pitung…!!


Maka terjadilah pertarungan yang cukup sengit !!
Hingga muncul si Nonik yang mencoba melindungi si Pitung yang akhirnya tertembak ditembus peluru Papanya sendiri……
Dan melihat Nonik tewas di moncong senjata Tuan Mener, maka kalaplah si Pitung hingga ia menyabetkan goloknya ke perut Tuan Mener. Tak lama kemudian ambruklah tubuh si Mener bersimbah darah dan akhirnya tewas.
Melihat Tuan Mener tewas bersama para pengawalnya, para penduduk yang tadinya bersembunyi di sekitar pasar tersebut akhirnya memberanikan diri untuk melihat si Penguasa yang selama ini kejam terhadap mereka.
Tak ketinggalan Kyai Sableng turut serta melihat peristiwa itu dari kejauhan. Dengan tersenyum lembut di matanya tergambar kebanggaan terhadap si Pitung muridnya yang gagah berani dengan mengucapkan syukur kehadirat Tuhan.


Fiktif Narasi
By Soelistijono, S.Pd
Tahun 2007

Selasa, 07 Juni 2011

REBUTAN BALUNG TANPO ISI DRAMAKOE...


Jenis Drama : Humor/Guyonan
Genre : Campursari Suroboyoan
Momentum : Perpisahan Sekolah Siswa Kelas VI SDN. Kedungdoro III/308 Surabaya
Tahun : 2008-2009


BABAK I : POJOK KAMPUNG

Cak Bogel :
“Oalah nasib… nasib… !!
Tambah suwe… orep-ku kok tambah sengsoro…
Noleh kiwo nggak ditunggok wong tuwo…
Noleh nengen nggak onok sing diangen-angen.
Noleh mburi awak-ku mesti paling keri..
Noleh ngarep ora onok sing diarep-arep.
Bendino keadaan ekonomi kok pancet mlarat
Koyok ngene…
Utang akeh nggak onok entek-e.
Penghasilan nggak mesti onok…
Bojo bolak-balik manak-ae….
Opo maneh saiki persoalan urusan pawon.
Lek masak kudhu nggawe kompor gas…,
nggak suwe rego bensin melok-melok mundhak
Opo gak ajor momor orep koyok ngene iki…!”

Cak Klowor :
“He… Gel !!”
Uwong kok ngomel-ae.. koyok wong gendheng !!”

Cak Bogel :
“Wong gendheng dengkolmu iku… Wor !!
Teko-teko nggak ngowo jajan…
Opo maneh nggowo rokok…
Malah ngulok-no aku koyok wong gendheng…!!”

Cak Klowor :
“Opo aku iki puthu-mu tah… kok dikongkon nggowo jajan… !!
Sorry Gel… ngono-ae koen wis pecical-pecicil…
Soal-e tak dhelok-dhelok tekok kadohan koen kok pringas-
pringis dhewe…!! Aku lak yo wedhi…, kuatir duwe konco sing
awak-e genthong dadi wong edan..!! ”

Cak Bogel :
“Ngulok-no pringas-pringis….
Opo aku iki mbok anggep garangan tah… !!
Ngulok-no maneh awak-ku sak genthong…..,
Opo koen yoo nggak ndelok awak-mu dhewe…
Wong awak-mu yoo gedhe-ne koyok gerdu !! “

Cak Klowor :
“Hehehe….
Guyon-guyon Gel… !!
Oh iyo.. mumphung ketemu awak-mu nang kene.
Koen di goleki Cak Bongkreng… !!”

Cak Bogel :
“Onok opo …cak Bongkreng nggolek-i aku Wor ?”

Cak Klowor :
“Jarene koen ape ngedhol TV-mu sing nang omah…!!”

Cak Bogel :
“Oh iyo… TV-ku tak dhol…. Telong Atos Ewu !!
Yak opo maneh Wor… kepekso… tak dhol !!
Gawe mangan ambek nyaor utang-ae yoo gak cokup
Opo maneh njagak-no hasil-e nguli bangunan !!”

Cak Klowor :
“Opo bojo-mu sek seneng njopok kriditan nang Abang Panci
Gel… ??”

Cak Bogel :
“Pancet Wor…!! penyakit-e sitok iku nggak waras-waras.
Tambah kumat-kumaten- ae !! Saben ndhino onok-ae barang
sing gak pokro dijopok…,
opo dipeker bojone iki anggota DPR bek-e !!”

Cak Klowor :
“Kowe kudhu teges Gel…
Bojoku biyen yoo ngono penyakit-e
Saiki wis gak wani njopok kriditan….
Sak wis-e tak omeli….”

Cak Bogel :
“Bojomu enak Wor…. Wong-e sabar…. Norot pisan ambek koen… !!
Lha bojoku…wong-e koyok Branjangkawat ….!!
Tak omeli pisan …., sidho aku disawat ulek-ulek !!”

Cak Klowor :
“Hehehe…..!!
Ngomong-ngomong… Yak opo sidho-e TV-mu iku…..??”
Cak Bogel :
“Yoo… sidho tak dhol Wor….
Tapi……?!”

Cak Klowor :
“Tapi opo maneh…..?!

Cak Bogel :
“Tapi TV-ku saiki wis rusak…, nggak methu gambare Wor !!”

Cak Klowor :
“Nggak methu gambar-e…, yak opo se koen iku !!
TV rusak yoo ape di dhol… !!”

Cak Bogel :
“Mangkane iku saiki aku tulungen Wor ?!
Koen lhak konco-ku sing akeh akale…
Carane yak opo TV-ku sing rusak iku sidho dituku
Cak Bongkreng ?!
Lek sidho dituku engkok tak perseni !!”

Cak Klowor :
“Ngono tah…, yoo wis demi nolong konco….
Aku duwe akal…, kene kopeng-mu sing kiwo tak bhisik-i !!”
Ck..ck..ck…, Iki kopeng opo sapitheng Gel…, binatang opo-ae…
Sing orep nang njero kopeng-mu iki…!!
Resik ono kopeng-mu Gel…!!”

Cak Bogel :
“Jangkriik…., koen iki kok sik ngece aku-ae Wor !!
Wis ero-ero lhek kopeng-ku iki kophok-en !!”

Cak Klowor :
“Hehehe…..
Kene tak bhisik-I kopengmu …. sett…pseet…..psett !!”

Cak Bogel :
“Gak rugi temen aku dhuwe konco koyok koen iki Wor !!
Onok-ae akalmu iku..”

Cak Klowor :
“Yoo iyoo gak rugi koen dhuwe konco koyok aku Gel !!
Wis nggak usah kesuwen ayoo nang omah-mu saiki !!”

Cak Bogel :
“Ayook wis….budhal saiki ….!!”


BABAK II : OMAH-E CAK BONGKRENG

Mak Ton :
“Cak… cak… cak Bongkreng…!!
Nang endi wergol sitok iki….??
Digoleki muter-muter gorong ketemu ketemu…
Jarene arep sarapan… !!
Sego-ne wis mateng cak… !!
Cak… cak…. Cak Bongkreng…!!”

Cak Bongkreng :
Olah opo se Ton bengak-bengok…ae
Tak rungok-rungok-no ket mau embak-embek-ae… !!”

Mak Ton : “Sampeyan kiro aku iki wedhos… tah cak !!
Kok ngarani uwong embak… embek-ae…!!
Iko lho cak sarapan-ne wis mateng…!!”

Cak Bongkreng :
“Sarapan opo seh Ton… ??
Kok sawangane nyelok aku koyok nyelok kucinge-ae !!”

Mak Ton :
“Iko lho… Peno ndang sarapan kono… !!
Sego-ne wis mateng…
Ndang sarapan ambek sambel goreng Cak… !!”

Cak Bongkreng :
“Sambel goreng ati yooo Ton ??”

Mak Ton :
“Oalah cak manis-se peno… cak !!
Dhudhuk sambel goreng ati …,
Tapi sambel goreng tekos….!!
Peno mblanjani aku piro cak…??
Athek njalok sambel goreng ati iku….!!”

Cak Bongkreng :
“Lho…Opo duwek rong karong seng tak kek-i winggi
Wis enthek Ton…!!
Koen iku ojok boros-boros tah Ton….Ton !!
Wis ngerti saiki jaman-ne sembarang kebutuhan larang !!”

Mak Ton :
“Ngomong opo peno Cak… ??
Athek ngomong ngekek-i aku duwek rong karong… ?!
Mblanjani wong wedhok-ae leren direwangi golong-golong
dhisik… !!”

Cak Bongkreng :
“Pancen-ne metheng-e awak-mu biyen…
Mak-mu gawean-ne ndelok tandak bedhes Ton…!!
Mangkan-ne koen seneng golong-golong… koyok bedhes !!”

Mak Ton :
“Wis nggak usak kakean cocot peno… Cak !!
Kono ndang sarapan…!!
Engkok lek aku kadhong gregeten tak tumplek
Sego sak wakol nang mburi iku…!!”

Cak Bongkreng :
“Iyo… Iyoo Ton…, aku tak sarapan. “

Kliwon :
“Assalamu ‘alaikum … !!”

Mak Ton :
“Wa ‘alaikum sallam … !!
Kowe toh Won…., onok perlu opo ??”

Kliwon :
“Cak Bongkreng wonten tah mak …??”

Mak Ton :
“Onok…Le… !!
Iko… wong-e sik sarapan ambek kucing-e
Nang mburi kae…!!”

Kliwon :
“Niku pesen mawon kale Cak bongkreng…
Dikengken mendhet TV-ne ten ngriyo-ne Cak Bogel !!”

Mak Ton :
“Kowe kok kesusu-ae Le…
Gak ngenteni ca-cakmu dhisik tah ??”

Kliwon :
“Mboten Mak…, kulo kesusu… !! “
Sampun dienthosi tiyang…wonten ngriyo !!”

Mak Ton : “Saiki kowe dadi wong penthing yoo Le… ??
Athek akeh wong sing podho ngenteni kowe…”

Kliwon : “Mboten mak…
Cuma bisnis cilik-cilik-an mawon kok…!!”

Mak Ton : “Wadoh…., hebat tenan kowe Le… !!
Bisnis opo Le kowe saiki…. ??”

Kliwon : “Niku mak… bisnis ngamen kale konco-konco…!!”

Mak Ton :
“Oalaah… Le… Le… !!”
Bisnis ngamen tibak-no….
Yoo wis… engkok tak sampek-no nang Cacak-mu !!”

Kliwon :
“Ngge sampun Mak… kulo nyuwon pamit.
Assalammu ‘alaikum … !!”

Mak Ton :
“Wa ‘alaikum sallam….!!”

Cak Bongkreng :
“Hem…, ehem…. !!
Enak tenan mari sarapan…!!
Wethengku saiki wis warek… Ton !!
Saiki karek ngantuk-e… !!
Tak klesetan sek yoo Ton !!”

Mak Ton :
“Enak yoo… kowe Cak…!!
Mari mangan apene klesetan…. !!
Sidho tak siram banyu tremos sampeyan engkok!!”

Cak Bongkreng :
“Ojok jahat-jahat tah Ton… Ton dadi wong wedhok iku…
Mosok aku apene turu mbok siram banyu tremos…!?”

Mak Ton :
“Yoo… gak jahat se Cak…. !
Mosok mari sarapan gak budhal nyambot gawe…
Malah apene budhal klesetan …!!”

Cak Bongkreng :
“Saiki lak dino minggu,,,
Pabrik lak yoo prei toh Ton…Ton !!”

Mak Ton :
“Oh… iyo saiki dino minggu….
Sepurane yoo Cak…!!”

Cak Bongkreng :
“Mangkane lek ngomong ojok mbesosol-ae !!”

Mak Ton :
“Oh…, iyo Cak… mau Kliwon mrene…
Jarene dikongkon Cak Bogel…
Peno dikongkon njupuk TV-ne saiki….!!”

Cak Bongkreng :
“Oh… iyo…, aku lak onok janji ambek Cak Bogel.
Dhewek-e janji ngedhol TV-ne nang aku….
Lumayan Ton !!
TV rong poloh in didhol mek telong atos ewu !!”

Mak Ton :
“Murah Cak….
Ndang ditegep-ae TV-ne saiki Cak…!!
Enggkok selak ditegep wong liyo… !!
Tapi duwek endhi maneh sing Peno gawe tuku Cak ?!’

Cak Bongkreng :
“Tegap… tegep koyok manok-ae…!!
Duwek simpenan-ku olehe togel winggi lak yoo jek onok !!”

Mak Ton :
“Duwek iku tah….,
Sing sampeyan simpen nang jero-ne kaos kaki iku tah…!?
Wingi uwes tak tempor-no beras ambek tuku gulo Cak…!!”

Cak Bongkreng :
“Wadooh Ton…Ton …!!
Duwek nang jerone kaos kaki-ku wis mbok jopok”
Clutak ambek goblokmu kok gak enthek-2 seh Ton..Ton !!
Duwek iku jaga-ne gawe tuku TV-ne Cak Bogel”

Mak Ton :
“Mangkane tah Cak… !!
Lek duwe duwek iku ojok di dhelek-no tah… !!
Pirang-pirang dino sampeyan wis nggak ngekek-i aku duwek blonjo…!!
Ojok disalah-no aku lek lancang njupuk duwek mu nang jero kaos kaki iku…!!”

Cak Bongkreng :
“Pancen koen iku koyok tekos… Ton…Ton !!
Saiki yak opo…, aku wis kadhong janji njupuk TV.
Isok gegeran tenan aku ambek Cak Bogel….!!”

Mak Ton : “Yoo wis… sepurane sing akeh yoo… Cak !!”

Cak Bongkreng :
“Bolak-balik njaluk sepuro-ae kowe iku Ton…Ton !!
Tapi kelakuan-mu iku lho sing nggak tau berubah…!!”

Mak Ton :
“Iyo… Cak.
Yak opo maneh wis kadhung….
Saiki ngomong-ae terus terang marang Cak bogel…
Lek sampeyan gak sido tuku TV-ne…
Soal-le dhuwek-e nggak onok…. Lak wes beres Cak !!”

Cak Bongkreng :
“Beres… beres udelmu coplok iku….
Yoo wis aku tak mrono saiki….. !!”

BABAK III : OMAHE CAK BOGEL

Mak Yah :
“Oalah yoo… yooo !!
Ndelok Cak Bogol gak tau soboh omah…
Penggawean-ne ngeluyur-ae…
Mbok yoo waktu-ne iku digawe golek penggaweaan…
Gak digawe cangkruk-an ae nang pertelon embong
Koyok arek enom-ae…!!
Cengar-cengir nggudho-i prawan sing liwat…
Ngono iku opo gak ngisin-ngisin-ni keluarga…
Wong wis tuwek barang sik pethakilan-ae penggawean-ne.”

Blontang :
“Mak…, mak… !!
Njalok duwek-e.....!!"

Mak Yah :
“Duwak-duwek-ae koen iku Blontang !!
Emak wis nggak duwe duwek sak repes-so…!!
Emak-ae gak adang dino iki….
Delok-en kono nang mburi lek koen gak percoyo…
Wakule emak podho mengkurep digawe kuceng klesetan !!”

Blontang :
“Wadooh Mak…, aku engkok diseneni Pak Yono… maneh !!
Saiki wayahe mbayar ujian sekolah lho yoo Mak…!!
Lek gak mbayar saiki meneh aku gak isok melok ujian…!!”

Mak Yah :
“Yoo engkok dhisik ngenteni Bapak-mu…
Menehi duwek nang emak…!!”

Blontang :
“Bapak iku yoo ngono….
Keluyuran-ae penggawean-ne gak mole-mole…
Kadhung pegel atiku …
Engkok lek Bapak turu tak cancang-ae sikile cek gak isok keluyuran… !!”

Mak Yah :
“Emak yoo ngono Le…
Gregeten ambek Bapakmu….
Pancen wong sitok iku kudhu tak CTM-ae …!!

Blontang :
“Ojok di CTM Mak…. Kenak-en Bapak engkok turu thok
Koyok Pak Joko guru olah raga-ku…
Paling enak diprotoli-ae sekel ambek tangan-ne…!!”

Mak Yah :
“Opo Bapakmu iku mbok anggep walang kadhung…
Ape-ne mbok protoli sikel ambek tangan-ne…?!”

Blontang :
“Yoo wis Mak…aku budhal sekolah-ae…!!
Ojok lali yoo Mak… !!
Engkok jalok-no duwek nang Bapak !!”

Mak Yah :
“Yoo wis Lee… ndang budal kono…
Ati–ati nang dalan…!!
Maturo Pak Yono…, bayar ujian sekolah-ne
Mengko dibayar Bapak-mu dhewe yoo...!!”

Blontang :
“Aku budhal Mak….!!”


Mak Yah :
“Sak-no ndelok Blontang anak-ku siji iki..
Wayahe mbayar sekolah-ae sampek gak keturutan…
Pancen sing kebacot iku Bapak-e…
Wong lanang gak enthos golek duwek…
Penggawean-ne mangan, turu, ngluyur-ae saben dino…
Ngrokok gak onok leren-ne …, Opo maneh wayahe mangan…, mesti ngentekno sego rong wakol… Lha wong bolak-balik emboh…
gak onok warek-e…!!
Tak delok-delok weteng-e saiki lak koyok genthong !!”

Cak Bogel :
“Ngomel opo-ae koen Yah…. !! Uwong kok senengane
nggeremeng-ae koyok kumbang…!!”

Mak Yah :
“Oalah Cak…, aku nggak nggeremeng-ae yak opo…
Aku iki ngesak-no ambek Blontang endok peno… !!”

Cak Bogel :
“Kenek opo Blontang Yah…!?”

Mak Yah :
“Pancen sing kebacot iku peno Cak… !!
Arek iku arep-arep peno mulai isuk mau….!!
Peno gak teko-teko…, ngluyur nang endi-ae Peno iku ?!”

Cak Bogel :
“Ngluyur nang endhi….,
aku yoo sek muter-muter golek gawean Yah…!!”

Cak Kowor :
“Sak iki nang endi arek-e mbak yu… ?!”

Mak Yah :
“Yoo wis budhal sekolah Cak Klowor… !!
Lha wong arek wayah-e mbayar ujian sekolah …
Bapak-e iku gorong ngekek-i duwek…!!
Lak yoo sak-no arek iku diseneni Pak Yono terus…!!”

Cak Bogel :
“Yak opo maneh Yah….
Aku wis usaha ngalor-ngidul golek kerjo-an yoo sek gak oleh-oleh…!!
Kepekso TV-ne dhewe tak dhol Yah…
Engkok duwek-e isok gawe mbayar ujian-ne Blontang !!”

Mak Yah :
“TV rusak ngono opo yoo onok sing nuku Cak !!”

Cak Bogel :
“Sing dadi lak yoo akale Yah… !!
Yak opo TV rusak iku dadi duwek….
Lak yoo ngono Wor…!!”

Cak Klowor :
“Iyo… Mbakyu…, sing penting lak carane tah !!”

Mak Yah :
“Sopo sing gelem nuku TV-ne dhewe Cak ?!”

Cak Bogel :
“Sopo maneh lek gak Cak Bongkreng !!”

Mak Yah :
“Cak Bongkreng….!!
Cek kendel-le sampeyan Cak…. !!
Athek wani-wani ngedhol TV rusak nang Cak Bongkreng !!
Cak Bongkreng nduwe darah tinggi lho Cak…!!”

Cak Bogel :
“Opo hubungan-ne TV-e ambek darah tinggi-ne Cak Bongkreng…Yah ?!”

Mak Yah :
“Oalah Cak…, cek gobloke se… peno iku…
Wong sing duwe darah tinggi iku gampang morang-moreng.
Opo engkok Cak Bongkreng gak ngamok lek akhire ero peno bujuki…!!
Wis aku nggak melok-melok saiki…
Paling enak tak tinggal nang pawon-ae…!!
Tanggung-en dhewe resikone lho Cak !!”

Cak Bogel :
“Yoo tak tanggung dhewe resiko-ne…
Wong wedhok ora usah melok-melok…!!”

Cak Klowor :
“Saiki ayo disiap-no TV-TV-ane Gel…,
Ayo ditotoh sing apik !”

Cak Bogel :
“Ayok Gel…!!
Ditekek kene-ae….!!
Koen ndang ndelik nang mburi-ne…!!
Cak Bongkreng selak teko…
Janji-ane lak jam songo iki”

Cak Klowor :
“Iyo.. aku tak ndelek dhisek…Gel !!”
Saiki enthen nono tekone Cak Bongkreng…!!
Atur-ren sing apik perjanjian-ne yoo Gel !!”

Cak Bogel :
“Beres Wor…, ojok kuatir !!
Lha kae wong-e pethentang-pethenteng tekok adoh…
Koyok mari sunat… Ayo wis ndang siap-siap…!!”
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Cak Bongkreng :
“Kulo Nuwon….!!”

Cak Bogel :
“Wealah… Cak Bongkreng….
Ayo mlebu kene Cak….!! Peno tak entheni ket-mau..!!”

Cak Bongreng :
“Endhi barang-e sing mbok dhol Gel…?!”

Cak Bogel :
“Lha iku methangkreng nang ndokor mejo Cak !!

Cak Bongkreng :
“Wah apik yoo TV-mu Gel..!!”

Cak Bogel :
“Yoo iyo Cak…, lha wong tukune-ae nang Malaysia !!
Tapi yoo ojok lali lho Cak ambek perjanjian-ne…
Koyok nang supermarket-supermarket iku…!!”

Cak Bongkreng :
“Perjanjian sing opo maneh Gel..?!”

Cak Bogel :
“Perjanjian sing unine ngene….
Barang sing wis dituku gak isok dibalek-no maneh…!!”

Cak Bongkreng :
iyo… iyoo Gel aku ngerti…
Tapi yoo tak cobak-ane dhisik program-e TV iki… !!”

Cak Bogel :
“Peno cobak-i dhisik Cak bongkreng…
Lek wis cocok ndang bayarono….!!”

Cak Bongkreng :
“Endhi remote TV iki Gel…!!”

Cak Bogel :
“Gawe opo remot…Cak !!
Iku wis kuno…., TV iki nggak gawe remot….!!
Cokop peno njalok acara opo….
Ambek keplok-keplok ping telu…
TV-ne engkok wis mlebu nang acara-ne Cak !!”

Cak Bongkreng :
“Hebat temen TV-mu iki Gel…
Opo TV Malaysia iku canggeh-ne koyok ngono tah ?!
Yoo wis tak jajal-le dhisik….
Saiki aku njaluk acara dangdut….
(Tepuk Tangan 3 X)

Cak Klowor :
“Baiklah para pemirsa di rumah…
kini kita tampilkan seorang penyanyi Dangduuut yang sudah tidak asing lagi yaitu Inul Darah Tinggi…,eh..eh…eh keliru para pemirsa… Inul Dara Tista…!!”

Cak Bongkreng :
“Penyiare TV iku isok kliru tibak-no yoo..Gel…!!
Inul Dara Tista-ae kliru Inul Dara Tinggi…
Hahaha… penyiar goblok yoo Gel…!!”

Cak Klowor :
“Huusss !! Rame-ae….!!
Ayo longgo sing apik…, tak kethak pisan koen kok…!!”

Cak Bongkreng :
“Lho…lho Gel…, penyiare kok mecicil-li aku…
Ngamok kudhu ngethak ndas-ku Gel…!!”

Cak Bogel :
“Mangkan-ne peno ojok umek-ae…Cak Bongkreng !!
Longgo-o sing enak..!!”

Cak Bongkreng :
“Tak gantine-ae Gel acarane… wedhi dhewe aku ambek
TV iki… mosok penyiare isok ngancam penonton-ne !!
Saiki aku kepingin ndelok acara bal-bal-an ae…!!
(Tepuk Tangan 3 X )

Cak Klowor :
“Salam olah raga…., baiklah bagi para pecinta sepok bola di
Tanah Air kini kita berjumpa kembali dalam siaran langsung final pertandingan sepak bola piala Eropa antara kesebelasan Italia melawan kesebelasan Inggris…. “

Cak Bongkreng :
“Lha iki kesenengan-ku Gel…, Final piala Eropa…sing tak enthen-entheni ….
Koen njago endhi Gel…?! Itali opo Inggris ?!”

Cak Klowor :
“Huusss….!!
Gak isok meneng tah….sampean iki..!!
Umek-ae…, gregeten tak thotok bathok-mu koen kok…!!
Isok meneng tah nggak…!!”

Cak Bongkreng :
“Iyo…iyo Pi…TV…!!”
Aku tak longgo sing apik….!!
Lha kok medheni temen TV iki rek…!!”

Cak Klowor :
“Baiklah para pemirsa…
Berhubung ada sedikit gangguan teknis maka acara final pertandingan sepak bola dapat kita lanjutkan kembali….
Kini kita bacakan susunan para pemain dari kedua kesebelasan. Para pemain dari kesebelasan Italia diperkuat oleh :
Penjaga Gawang dipercayakan kepada Cak Pik-i …
Bek Kiri dipercayakan kepada Wak Men…
Bek Kanan dipercayakan kepada Mbah Mo…
Pemain Tengah dipercayakan kepada Mak Ton…!!”

Cak Bongkreng :
“Sik…sik... engkok dhisik….!!
Gak kliru tah penyiare iki Gel….!!”

Cak Bogel :
“Keliru apane Cak Bongkreng ?!”

Cak Bongkreng :
“Mosok pemain Itali jeneng-e Cak Pik-i…, Wak Men…,
Mbah Mo…., Mak Ton….!!
Iku lak jenenge bojo ambek keluargaku kabeh…!!”

Cak Klowor :
“Pancen-ne cerewet wong siji iki…!!
Gak isok meneng tah…. !!
Engkok tak suwek lambe-mu lho yoo!!”

Cak Bongkreng :
“TV ngawor… ngawoor…!!
Tak gantine-ae acarane… sak iki aku njalok acara warta berita-ae… !!”
(Tepok Tangan 3 X)

Cak Klowor :
“Menginjak acara berikutnya yaitu Warta Berita…
Berita yang dapat kami sampaikan adalah sebagai berikut..”

Cak Bongkreng :
“Lha iki baru acara sing apik Gel…!!”

Cak Klowor :
“Berita Utama : Pemerintah Republik Indonesia sedang gencar-gencarnya mengadakan penelitian tentang mengapa bumi ini semakin panas. Ternyata dapat diketahui mengapa bumi ini semakin panas…, hal ini ternyata disebabkan oleh Supermarket Matahari yang telah membuka cabang dimana-mana, sehingga bumi ini semakin panas saja.”

“Berita Kedua : Telah terjadi peristiwa pencurian ayam di kampong sebelah yang menyebabkan warga banyak yang mengeluh. Ternyata di-selidik oleh pihak yang berwajib pelakunya hanya satu orang yaitu Cak Bongkreng dari kampong ini.”

Cak Bongkreng :
“Kurang ajar…, olaah opoo aku nyolong pethek nang kampong sebelah iku…, wah berita ngawor-ngawor maneh…!! Bolak-balik isi acara-ne akeh sing ngawor !!
Gak sido aku tuku TV-mu iki Gel…. !!

Cak Bogel :
“Yoo gak isok Cak…, TV iki kudhu peno tuku…!!
Winggi-ae apene di tuku Cino rong juta-ae gak tak kek-no…
Eling-eling wis kadhung janji marang peno…!!”

Cak Bongkreng :
“Cino Lali Omah bek-e sing ape tuku TV koyok ngene iki…,
Wis gak sidho aku tuku TV-mu iki….Gel !!
Mosok isine acara-ne gak onok sing cocok…
Penyiare… bolak-balek ngancam…, kudhu ngethak bathok-ku-ae…!!
Iku penyiar TV…. Opo preman pasar… kok kudhu mangan uwong-ae…!!

Cak Bogel :
“Berarti sampeyan melanggar perjanjian lho yooo !!”

Cak Bongkreng :
“Perjanjian tembelek tah…., wong aku lak ejek jajal acarane TV-mu dhisik kok….!! Sek..sek…sek…, engkok dhisik…. Gel !!
Awak-e dhewe gegeran…, lha kok penyiare TV kok enak-enak-an mangan jajan ambek ngombe banyu aqua...Gel ?!
Oh… iyo lha kok tak dhelok-dhelok mulai awal penyiare TV iki lha kok wong iki-ae….!!
Sik… sik…, engkok dhisik lha dalaah penyiar iki rupane kok koyok rupane Klowor…. !!”

Mak Yah :
“Pancene iku Cak Klowor kok… Cak Bongkreng…!!
(Sambil Menjewer Telinga si Klowor)
Tak inceng tekok jero kamar…, iku mau pancen akal-akala-ne Wong loro iki….
Lha wong TV rusak kok apene didhol nang sampeyan…!!
Lak yoo podho-ae arep mbujuki uwong….
Aku gak setuju Cak Bogel lek sampeyan golek duwek nggawe coro koyok ngene iki…
Akal-akal-lan sing koyok ngene iki podho karo mangan Rejeki Sing gak halal… !!”

Cak Bongkreng :
“Oaallaah….. ngono tah ceritane iki… Yah !!
Gak perlu awakmu athek nggawe akal sing koyok ngene
Gel…!! TV wis rusak kok yoo apene didhol nang uwong…
Untunge-ae aku mrene iki ape-ne mbatal-no ora sidho
tuku TV-mu….!!
Lha wong aku dhewe gak duwe duwek…. Hehehehe….!!”

Mak Yah :
“Iku ngono arti-ne… sampeyan kabeh podho…..


Semua/bersama :
REBUTAN BALONG TANPO ISI


Created by
Soelistijono,S.Pd
2008