Minggu, 27 Februari 2011

JOKO SAMUDERA DAN PETILASAN

"TUMBU WADHAE BUMBU... WAKUL WADAHAE SEGO...
TERUMBU OMAHE IWAK... GERUMBUL OMAHE LUWAK..."
Pantai putih Watu Ulo dipenuhi pengunjung. Sayang kurang terawat [Dok. LKM Pontang Membangun, PNPM Perkotaan]
Bagi warga Jember dan sekitarnya, Watu Ulo sudah dikenal sejak zaman dahulu. Tidak hanya sekadar tempat jujugan dalam berwisata, Watu Ulo juga menjadi tempat mencari nafkah bagi masyarakat pinggir pantai. Sayang, hingga kini, Watu Ulo tak mengalami perubahan. Seolah keindahan alamnya dibiarkan begitu saja, dan terabaikan.
Watu Ulo adalah sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur. Pantai ini merupakan gugusan Samudera Indonesia, atau biasa disebut pantai selatan. Letaknya di sebelah selatan Kabupaten Jember, sekitar 45 menit dari pusat kota.
Lokasinya bisa dikunjungi dari dua jalur. Yakni, dari jalur pusat kota menuju ke Kecamatan Jenggawah, dan berlanjut ke Kecamatan Ambulu. Sedangkan jalur kedua bisa menggunakan jalan dari pertigaan Rambipuji menuju ke Kecamatan Balung, kemudian berlanjut ke Kecamatan Ambulu. Bisa dilintasi oleh kendaraan apa saja karena jalan menuju ke sana sangat lapang dan mulus.
Watu Ulo, dalam bahasa Jawa berarti batu ular. Syahdan, di tempat itu dulu tinggal pasangan suami istri yang bernama Aki dan Nini Sambi. Kedua pasangan suami istri ini memiliki seorang anak bernama Joko Samudera. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, pasangan suami istri yang harmonis ini mencari kayu bakar di bukit-bukit sekitar pantai. Sedangkan, anak mereka, Joko Samudera mencari ikan di laut.
Pemandangan Pantai Papuma yang bersebelahan dengan Watu Ulo, Jember [Dok. LKM Pontang Membangun, PNPM Perkotaan]
Suatu ketika, Aki dan Nini Sambi yang sedang mencari kayu bakar di hutan, dikejutkan oleh suara tangis bayi. Mereka mencari sumber suara tersebut dan menemukan seorang bayi lelaki yang montok dan tampan. Melihatnya, Nini Sambi langsung jatuh hati.
Dia memohon pada sang suami, agar si anak bisa mereka rawat. Melihat sang istri begitu ingin mengasuh bayi tersebut, Aki Sambi mengijinkan. Dan mereka memberi nama bayi tersebut Marsudo.
Waktu berjalan membuat kedua bocah lelaki ini tumbuh dewasa. Mereka selalu bergantian mencari ikan di laut untuk kebutuhan hidup keluarga. Di suatu hari yang cerah, Marsudo yang sedang memancing, tersentak karena pancingnya bergoyang.
Diangkatnya, pancing itu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor ikan yang besar nyangkut di mata pancingnya. Lebih terkejut lagi, ikan itu bisa bicara. Dia ingin Marsudo melepaskan dirinya dan sebagai gantinya, setiap keinginan Marsudo akan dikabulkan.
Kasihan dan merasa tidak tega, Marsudo melepaskan ikan yang ternyata bernama Raja Mina itu. Dengan penuh rasa terima kasih, Raja Mina berenang dengan bebas. Perbuatan Marsudo yang melepaskan ikan sangat besar ini ternyata membuat Aki Sambi marah, hingga dia membuat berantakan nasi yang akan dimakannya. Nantinya, nasi tersebut akan berubah menjadi pasir putih di Pantai Pasir Putih Jember.
Pemandangan Watu Ulo yang indah, dipenuhi kapal nelayan [Dok. Wahdan31 on "panoramio.com"]
Sementara itu, untuk menghilangkan kejengkelan sang ayah, Joko Samudera memancing ikan di laut menggantikan adiknya. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bukannya mendapat ikan, dia malah mendapat seekor ular besar. Ular ini mengamuk karena kait pancing Joko Samudera melukai tubuhnya.
Tak mau menyerah, Joko Samudera melakukan perlawanan. Duel sengit tak dapat dihindarkan. Melihat sang kakak pontang-panting melawan ular raksasa, Marsudo memanggil Raja Mina.
Dia meminta janji Raja Mina ditepati. Yakni, semua keinginanya dikabulkan. Dia ingin kakaknya menang melawan sang ular raksasa. Mendengar permintaan Marsudo, Raja Mino memberinya sebatang cemeti.
"Pukul dua kali, maka tubuhnya akan terbelah jadi tiga. Pisahkan ketiga bagian tubuhnya ke tiga tempat, hingga dia tidak bisa bersatu. Kalau bersatu dia akan hidup kembali. Begitu kata Raja Mino pada Marsudo," terang Kalsum, seorang penduduk Watu Ulo, yang sudah sejak tahun 1989 bermukim di kawasan itu.
Begitulah legenda yang membuat pantai tersebut bernama Watu Ulo. Di pinggir pantai, memang ada gugusan batu, yang jika diamati mirip dengan anatomi tubuh seekor ular. Panjang dan berlekuk-lekuk. Model batuannya pun seperti sisik. Bahkan, masih menurut Kalsum, pernah ada seseorang yang mencungkil batu itu. Tapi, akhirnya dikembalikan, karena batu itu mengeluarkan darah.
Pemandangan Watu Ulo dilihat dari atas bukit [Dok. vincentfromsby.wordpress.com]
Terlepas dari legenda dan mitos tentang Watu Ulo, pantai ini sesungguhnya potensi alam yang layak dikelola. Sayang, sampai saat ini pantai tersebut seperti dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.
"Sejak tahun 1989 sampai sekarang, tidak berubah," sambungnya. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan. Padahal, jika dikelola dengan baik, Watu Ulo akan semakin menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya masyarakat Jember sekitarnya, tapi juga dari luar kabupaten.
Begitu banyak hal tersia-siakan di kawasan pantai ini. Pohon-pohon waru yang dibiarkan tumbuh asal-asalan mengakibatkan daun gugur dan mengotori kawasan pantai. Ada juga kawasan pantai yang dibiarkan kosong. Tidak ada tanaman yang bisa menjadi tempat berlindung dari sengatan panas matahari. Arena bermain untuk anak sempat didirikan, tapi terabaikan dan dibiarkan termakan usia dan cuaca. Yang tertinggal hanya besi-besi berkarat bekas ayunan anak-anak.
"Kami warga setempat sangat berharap Watu Ulo bisa dikelola dengan baik. Sebenarnya kan satu pantai dengan Papuma. Hanya beda yang mengelola, makanya Watu Ulo jadi begini," kata Kalsum.
Sebagai warga yang tinggal di Watu Ulo, wajar jika ia berharap ada penanganan yang baik, sebab Watu Ulo sangat prospek sebagai tempat wisata yang menjanjikan penambahan penghasilan bagi warga sekitar.
Tidak hanya itu, dengan pengelolaan yang maksimal sebagai objek wisata, Watu Ulo tidak akan dijadikan tempat remaja melakukan hal-hal negatif, seperti mabuk-mabukan dan seks bebas. Pasalnya, menurut Kalsum, jika malam minggu tiba, banyak anak muda yang mabuk-mabukan dan melakukan perbuatan mesum di kawasan pantai. Hal ini sangat meresahkan warga sekitar, mengingat banyak anak kecil yang tinggal di kawasan tersebut. "Kalau ada yang menjaga, nggak bakalan ada yang berani berbuat seperti itu," pungkasnya. (Sigit Winoto, Koordinator LKM Pontang Membangun, disalin dari Radar Jember, Edisi 4 Juli 2010 oleh lie; Firstavina)
Sumber : Clik here
Browser : Soelistijono

BABAD TANAH JAWA



"Wong Jowo kudhu eling marang Jowo'e... Sak piro rekoso'e cikal-bakal'e mbah'e awak'e dhewe mbabat Tanah Jawo"
ADA satu kisah menarik dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Meskipun kisah ini merupakan petilan. Namun intisari yang tertanam di dalamnya, ternyata tetap masih aktual di saat ini sekali pun. Ketika itu, datanglah para ulama dari “Sebrang Lautan” (Mesir) ke Tanah Jawa. Tujuan para ulama utusan Sultan Mesir itu adalah untuk menyebarkan agama Islam, yang menurut laporan masih banyak penduduk Jawa yang kafir. Para ulama itu dipimpin seorang Syeh yang bernama Syech Subakir Sebelum Syech Subakir datang, telah beberapa kali ulama pendahulunya menginjakan kakinya di Tanah Jawa. Namun, setiap kali mereka datang, selalu gagal menyebarkan agama Islam. Mengapa?
Pertanyaan itulah yang berada di benak Syech Subakir. Dan tidak berapa lama setelah sampai ke Tanah Jawa, Syech asal Persia (Iran) itu berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Ternyata, seluruh Tanah Jawa dari ujung Timur sampai ke Barat di jaga oleh bangsa jin yang dipimpin Sabdo Palon. Kegagalan para ulama sebelumnya adalah karena ulah mereka, para jin kafir yang tidak mau masuk Islam dan menentang Islam berkembang di Tanah Jawa. Untungnya, Syech Subakir menguasai ilmu tentang makhluk halus, sehingga dia dan para ulama yang dipimpinnya berhasil mengetahui keberadaan para jin tersebut.
Dalam wujud kasarnya, para mahluk halus itu ada yang berujud ombak yang besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya. Juga angin puting beliung, dan sebagainya yang mampu memporak-porandakan apa saja yang ada dihadapannya, termasuk menjelma menjadi hewan buas, harimau, ular dan sebangsanya. Perubahan bentuk dan ujud itulah yang selama ini diduga mencelakakan para ulama yang bermaksud menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Maka kemudian terjadilah pertempuran yang dasyat antara para jin pimpinan Sabdo Palon dengan pasukan ulama pimpinan Syech Subakir.
Konon, pertempuran itu terjadi selama berhasi-hari, tanpa ketahuan siapa yang bakal memenangkannya. Karena melihat situasi yang tidak menguntungkan, maka Sabdo Palon mengajukan usulan gencatan senjata. Syech Subakir yang melihat itu sebuah peluang, menerima ajakan Sabdo Palon. Maka terjadilah kesepakatan antara keduanya. Isi kesepakatan antara lain, Sabdo Palon memberi kesempatan kepada Syech Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara paksaan atau memaksa.
Kemudian Sabdo Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di Tanah Jawa—Raja-raja Islam—namun dengan catatan. Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adapt istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang dakuinya, tetapi biarlah adapt dan budaya berkembang sedemikian rupa. Dan yang terpenting, jadi pemimpin janganlah terlalu lurus, namun juga jangan terlampau bengkok. Hal ini sempat dipertanyakan Syech Subakir kepada Sabdo Palon, mengapa seorang pemimpin tidak boleh benar-benar lurus. Dijawab Sabdo Palon, karena pemimpin itu menjadi pimpinan semua orang. Dan orang tidak semuanya lurus, pasti banyak pula yang bengkok. Lha, orang yang bengkok-bengkok itu akan ikut siapa, bila pemimpinnya lurus?
Benar tidaknya legenda tersebut, itulah sebuah kisah yang konon pernah terjadi dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Karena itu tidak mengherankan, jika banyak Raja Jawa, meskipun beragama Islam, namun tetap mereka menjaga kelestarian kebudayaan leluhur, seperti nyepi dan sebagainya. Lantas apa hubungan semua ini dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi? Secara langsung tidak ada, tetapi kita berharap bagian dari kisah atau legenda ini dapat terserap oleh Mendagri Gamawan. Mengapa? Karena ada beberapa aspek penting yang harus diketahui, dan perlu ditelaah. Beberapa waktu yang lalu, Gamawan membuat kejutan dengan kebijakan penghentian semua upah pungut. Kabarnya, usulan penghentian tersebut berasal dari usulan pejabat di lingkungan eselon II Depdagri.
Usulan itu mungkin bagus, jika ditinjau dari satu sisi. Namun ditinjau dari sisi lainnya, mestinya Mendagri perlu mengkaji lebih dulu. Apakah memang harus begitu, atau perlu cara lain yang lebih bermanfaat dan dapat diterima semua pihak. Sebab apa artinya, jika kebijakan itu sudah “dibunyikan” pada kenyataannya tidak dapat dipraktekan, karena banyak hal yang menghambat. Misalnya, ada seorang pembantu yang digaji pas-pasan, sementara si majikan meminta dia membeli makanan atau barang lain yang tempatnya cukup jauh tanpa memberi uang saku. Mungkinkah pembantu tadi akan melaksanakan perintah tersebut? Jawabnya ada beberapa kemungkinan, Pertama, jika dia adalah seorang pembantu yang bodoh dan patuh, pasti mau. Karena orang semacam ini tidak memperhitungkan untung rugi yang ada hanyalah kepatuhan. Pertanyaannya adalah mungkinkah semua orang akan berlaku seperti pembantu tadi?
Kedua, mungkin perintah tadi dilaksanakan sang pembantu, tetapi tidak dibelikan sebagaimana yang diminta sang majikan. Sebab kalau sesuai dengan perintah, maka mau atau tidak dia harus rugi mengeluarkan biaya untuk transportasi dan sebagainya. Sementara gaji yang diterima pas-pasan. Ketiga, mungkin tidak dilaksanakan, dengan resiko dimarahi, atau mungkin pula dilaksanakan dengan diberikan barang tiruan atau palsu. Pertanyaannya adalah apakah ini yang kita inginkan? Di banding departemen lain, Departemen Dalam Negeri (Depdagri) adalah yang paling belakang melakukan numerisasi. Mungkin untuk departeman lain, misalnya Depkeu, Menkeu dapat berlaku sebagaimana yang dilakukan Gamawan Fauzi. Karena gaji terendah karyawan Depkue tiga kali gaji karyawan terendah di Depdagri. Persoalan macam inilah apakah sudah dipahami atau belum?
Sabdo Palon mengatakan, pemimpin tidak mungkin lurus benar, juga tidaklah boleh bengkok-bengkok amat. Ini artinya, seorang pemimpin, termasuk Mendagri harus memahami situasi, mengerti sikap batin para karyawannya. Jika ini benar-benar dipahami dan dimengerti, maka kita yakin Gamawan Fauzi akan mendapat dukungan dari seluruh karyawan. Namun, jika tindakannya terlihat aneh dan dianggap tidak memahami sikap batin bawahannya. Maka jangan salahkan jika nantinya ditinggalkan para anak buahnya, dan itu jangan salahkan kepada karyawan. Hal-hal semacam inilah yang mesti diperhatikan, karena dengarlah kata semua orang, dan ambilah yang terbaik. Akhirnya, semoga sukses!
Oleh : ARIEF TURATNO
Sumber : Clik here
Browser : Soelistijono

JAJANAN SUROBOYOAN



AYO REK... CANGKRUK'AN !!

EMPLOK-EMPLOK SUROBOYOAN :



Bagi sebagian orang Surabaya, atau warga asli Surabaya, makanan ini sudah sering didengar. Tapi belakangan ini, makanan yang satu ini jarang sekali ditemui. Kalaupun ada, pasti harus sabar menunggu penjaja-nya lewat depan rumah, atau harus pergi ke rumah makan tertentu yang, notabene, harga dan rasanya pasti jauh berbeda jika dibandingkan dengan yang dijajakan oleh pedagang keliling. Di Surabaya saja susah mencari semanggi, apalagi di Sidoarjo, dimana kami tinggal.


Saya sendiri mengenal semanggi sejak tahun 1994, waktu masih tinggal di sekitar Jl. Padmosusastro. Saat itu, masih mudah mencari atau menunggu penjaja semanggi lewat depan rumah. Biasanya dijajakan oleh ibu-ibu yang sudah lumayan berumur sambil menggendong bakul jajanannya di belakang, lalu ada juga tas plastik berukuran besar yang berisi peyek atau krupuk.
Saat saya tinggal di Gresik, pun sama. Waktu itu sekitar tahun 1997 – 1999. Jadwal si penjaja semanggi masih bisa ditunggu. Biasanya setiap minggu siang antara jam 1 sampai jam 2, pasti dia lewat depan rumah.
Tetapi beberapa tahun belakangan ini, apalagi sejak saya pindah ke daerah Sidoarjo, sangat jarang sekali saya menemui atau mencicipi semanggi. Meskipun terkadang ada penjaja semanggi yang lewat depan rumah, tetapi jadwalnya tidak bisa ditentukan. Terkadang hari minggu lewat, terkadang sampai berbulan-bulan tidak datang. Sepertinya sudah semakin langka saja makanan khas yang satu ini.
Namun, hari minggu kemarin saat Istri saya kembali dari belanja di pasar krempyeng di sekitar perumahan kami, dia membawa 3 bungkus Semanggi!! Aha!! rasanya lidah ini sudah tidak sabar menunggu untuk segera mencicipi!!
Siap untuk di santap!!
Ini adalah jenis makanan yang langka, menurut saya, karena susah sekali dicari. Padahal, rasanya sangat khas sekali. Menurut Anda??

Perbaharui :

Sangking langkanya, daun semanggi sampai harus di ‘impor’!!!
Sumber : Click here
Browser : Soelistijono

PANGERAN SABRANG LOR


SILSILAH

Nama Aslinya Raden Abdul Qadir putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara. Raden Muhammad Yunus adalah putra Muballigh dari Parsi yang dikenal sebagai Syekh Khaliqul Idrus. Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400-an. Silsilah Syekh ini yang bernama lengkap Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam. Imam Faqih Muqaddam seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Hussain putra Ali bin Abi Talib denganF atimah Al Zahra.

Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri Muballigh Gujarat yang lebih dulu datang ke Jawa yaitu dari keturunan Syekh Mawlana Akbar. Seorang putra beliau adalah Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja) yang sekarang masih ada perkampungan Muslim. Seorang putra beliau dikirim ke tanah Jawa untuk berdakwah yang dipanggil dengan Raden Rahmat atau terkenal sebagai Sunan Ampel. Syekh Mawlana Akbar datang ke jawa dengan seorang adik perempuan beliau dari lain Ibu (asal Campa) yang kemudian di nikah Prabu Brawijaya V.

Prabu Brawijaya V berkenan menikah tapi enggan terang-terangan ber islam (karena wanita muslim hanya boleh dinikah pria muslim). Putra yang lahir dari pernikahan ini dipanggil dengan nama Raden Patah. Setelah menjadi Raja Islam yang pertama di beri gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Disini terbukalah rahasia kenapa beliau Raden Patah diberi gelar Alam Akbar karena ibunda beliau adalah cucu Ulama Besar Gujarat Syekh Mawlana Akbar yang hampir semua keturunannya menggunakan nama Akbar seperti Ibrahim Akbar, Nurul Alam Akbar, Zainal Akbar dan banyak lagi lainnya.

Kesimpulan : Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan puteri Syekh Mawlana Akbar.. Adik Syekh Mawlana Akbar dinikahi Brawijaya 5 yang menurunkan putera Raden Patah... Syekh Khaliqul Idrus memiliki putera Raden Muhammad Yunus yang kemudian memiliki putera Raden Abdul Qadir putra aka Pati Unus (Adipati bin Yunus) jadi Pati Unus adalah sepupu Raden Patah

Menjadi Sultan

Setelah Raden Abdul Qadir beranjak dewasa di awal 1500-an beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah (jadi Raden Patah adalah Sepupu sekaligus Mertuanya), Abdul Qadir resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau). Karena ayah beliau lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir dipanggil sebagai Adipati bin Yunus. Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus. Dari pernikahan ini beliau memiliki 2 putra. Ke 2 putra beliau yang merupakan cucu-cucu Raden Patah ini kelak dibawa serta dalam expedisi ekspedisi jihad yang heroik yang dilakukan Kesultanan Demak. Sepeninggal Raden Patah wafat beliau meneruskan pemerintahan Kesultanan Demak 1518 - 1521.

Ekspedi Jihad Sabil 1 Bertempur dalam Perang Sabil Melawan Agressor Portugis di Malaka (dalam masa pemerintahan Sultan Raden Patah)


Sehubungan dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511, maka Kesultanan Demak mempererat hubungan dengan kesultanan Banten-Cirebon ditandai dengan pernikahan ke 2 Pati Unus, yaitu dengan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511. Tak hanya itu, Pati Unus kemudian diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon, dengan titah sang Sultan yang mertuanya sendiri Amirul Mu'minin di tanah Jawa. Gelar beliau yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis.


Tahun 1512 Kesultanan Samudra Pasai jatuh ke tangan Portugis. Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam Jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Di tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah wafat, beliau berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus yang garis nasab (Patrilineal)-nya adalah keturunan Arab dan Parsi menjadi Sultan Demak II bergelar Alam Akbar At-Tsaniy.

Ekspedi Jihad Sabil 2 Syahid di Laut Malaka (Ketika Menjadi Sultan)

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun, maka walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun, beliau tidak sungkan meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton bahkan ikut pula 2 putra beliau (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang seorang isteri puteri dari Syeikh Al Sultan Saiyid Ismail (Istri ketiga) dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan, karena Pati Unus Yakin Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjihad di jalannya seperi yang dijanjikan pada Surat At Taubah 111.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

Armada perang berangkat dari pelabuhan Demak dengan diiringi dari para ulama yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II.

Armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka. Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut Armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka.

Singkat cerita kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai Syuhada karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sisa pasukan yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini. Melalui situs keturunan Portugis di Malaka (kaum Papia Kristang) hanya terdapat kegagahan Portugis dalam mengusir armada tanah jawa (expedisi I) 1513 dan armada Johor dalam banyak pertempuran kecil.

Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur. Satu riwayat yang belum jelas siapa Raden Hidayat ini, kemungkinan ke-2 yang lebih kuat komando setelah Pati Unus gugur diambil alih oleh Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai) karena sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa , Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai-lah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.

Kegagalan expedisi jihad yang ke II ke Malaka ini sebagian disebabkan oleh faktor - faktor internal, terutama masalah harmoni hubungan kesultanan - kesultanan Indonesia

Putra pertama dan ketiga Pati Unus pun syahid dalam pertempuran, sedangkan putra kedua, Raden Abdullah dengan kuasa Allah selamat untuk meneruskan keturunan Pati Unus, dan bergabung dengan armada yang tersisa untuk kembali ke tanah Jawa. Turut pula dalam armada yang balik ke Jawa, sebagian tentara Kesultanan Malaka yang memutuskan hijrah ke tanah Jawa karena negerinya gagal direbut kembali dari tangan penjajah Portugis. Mereka orang Melayu Malaka ini keturunannya kemudian membantu keturunan Raden Abdullah putra Pati Unus dalam dakwah islam di tanah Pasundan hingga dinamai satu tempat singgah mereka di Jawa Barat dengan Tasikmalaya yang berarti Danau nya orang Malaya (Melayu).

Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang syahid kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Fadhlullah Khan diangkat atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.

Sumber : Clik here
Browser : Soelistijono

Minggu, 20 Februari 2011

SIMBOL SEJARAH PERJUANGAN BANGSA



"Rawe-rawe rantas malang-malang putung... Ojok siji-loro bongso kompeni sing maju... Jejeren atusan ewu .. Aku ora bakal mundur saka palagan iki... sampek pecahing dada lan kutha'e ludhiro njero awakku... "
Bagi bangsa Indonesia bambu runcing bermakna sangat dalam, tidak ada gambar dan film sejarah yang tidak menampilkan bambu runcing, bahkan bambu runcing sudah seperti “senjata bangsa” yang tidak khas daerah (seperti rencong dari aceh). lebih dari itu bambu runcing selalu digunakan sebagai semangat kebangsaan bahwa selogan yang sering kita dengar seperti, saat perjuangan kita bisa merdeka hanya dengan bambu runcing melawan senjata api. tapi mungkin sebagian diantara kita selalu menggap bahwa bambu runcing adalah bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan, mungkin bisa dibenarkan juga tapi selalu ada fakta unik dalam setiap sejarah, begitu juga dengan bambu runcing.
awal sejarah munculnya bambu runcing cukup unik. ketika armada Jepang mendekati Pulau Jawa akhir Februari 1942, Belanda mengira akan menerjunkan pasukan payung Kalijati. maka diperluaslah ribuan bambu yang diruncingkan ujungnya untuk menyambut pasukan para Jepang. ternyata Jepang mendarat di pantai laut dekat Eretan, langsung menuju Subang dan mengancam Kalijati, yang segera jatuh juga. ribuan bambu tadi (yang niatnya digunakan oleh belanda untuk jebakan para penerjun payung Jepang) karena ujungnya runcing oleh Jepang justru dijadikan alat latihan baris-berbaris para pemuda Seinendan, Keibodan, Gakutotai, Hizbullah dan lain-lain. para pemuda dengan penuh semangat mempergunakan “takeyari” ini untuk ditunjukan kepada musuh Jepang yakni sekutu, termasuk Belanda.
tapi setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh para pejuang ditunjukan dan digunakan untuk melawan Jepang maupun Belanda, sehingga bisa dibilang senjata makan tuan eh makan tuan-tuan. ceritanya, Dr. Moestopo membakar ujungnya sampai hangus dan dimasukan kedalam kotoran kuda(telotong, Jawa). dan digunakan untuk menakut-nakuti Jepang, akhirnya Jepang lari terbirit-birit karena takut tetanus, dan Jepang pun menyerah di ujung bambu runcing. dari sinilah awal mulai bambu runcing menjadi buah bibir para pejuang, tentu saja cara penggunaannya tidak hanya seperti itu. dalam periode selanjutnya bambu runcing digunakan untuk bertempur secara nyata. melawan senjata yang lebih moderen, biasanya diatas bambu runcing diikatkan kain dua warna, merah dan putih, sebagai simbol bendera yang dikibarkan saat proklamasi (saat itu belum mengenal bendera negara) untuk mengingatkan pejuang bahwa Indonesia telah merdeka.
karena bambu runcing baru muncul dalam Perang Dunia kedua, dan tidak pernah digunakan dalam perang tradisional seperti Perang Aceh maupun Perang Dipenogoro, makan bambu runcing termasuk“Senjata Moderen” bangsa Indonesia. keampuhan senjata ini diakui oleh bekas lawan-lawan, yang terheran-heran senjata tank-nya akhirnya dapat dihancurkan dengan bambu runcing yang amat sederhana itu.
bambu runcing memang alat teramat sederhana, akan tetapi ditangan para pejuang heroik dan patriotik mempunyai keampuhan luar biasa, sehingga dapat mengalahkan persenjataan yang lebih moderen, seperti diakui oleh bekas lawan-lawan kita. bambu runcing sebagai weapon system merupakan perkembangan dari Perang Rakyat Semesta dalam Sishankamrata yang tergolong moderen dibanding dengan perang konvensional yang tidak mengikusertakan rakyat. Sistem persenjataan Indonesia mengenal adanya sistem senjata tekhnologi (sistek) dan sistem senjata sosial (sissos)

Sabtu, 05 Februari 2011

PERMAINAN JAELANGKUNG



CERITO DEDEMIT :
Masih ingat dalam benak kita tentang pemutaran film tusuk jalangkung yang diputar di bioskop-bioskop secara serentak di seluruh negri ini, film buatan anak negri tersebut mampu menyedot perhatian khalayak ramai, dimana alur cerita yang kreatif serta setting dan latar belakang film yang mengulas tentang boneka jalangkung tersebut cukup membuat bulu kuduk penonton merinding. Film tersebut cukup mengingatkan kita tentang mitos main jalangkung yang sering kita dengar sejak dahulu.
Jalangkung adalah sebuah permainan dengan menggunakan sebuah boneka, yang nantinya dijadikan perantara untuk “dimasuki” roh halus dari dunia lain, yang kemudian dapat diajak untuk berkomunikasi bersama kita, peralatan yang dibutuhkan pun tidak banyak untuk mendatangkan setan jalangkung tersebut. Cukuplah kita menyediakan siwur yaitu gayung yang terbuat dari batok kelapa, kemudian di bagian tengah diikat batang kayu sehingga terbentuklah semacam boneka dengan batok tersebut sebagi kepala dan batang kayu tersebut sebagai tangan, kita dapat menggunakan kaos bekas yang dipakaikan pada boneka tersebut.
Kemudian siapkan dupa serta kemenyan, tidak perlu dengan mantra-mantra yang sulit dimengerti, hanya dengan memanggilnya maka setan jalangkung akan datang dan “masuk” pada boneka tersebut yang ditandai dengan suara-suara aneh di sekeliling kita ataupun gerakan-gerakan pada boneka tersebut. Apabila kita mengaitkannya dengan pensil dan spidol, dan kita mengajukan pertanyaan maka ada kemungkinan boneka jalangkung tersebut dapat menjawabnya dengan cara menulisnya.
Permainan jalangkung juga dapat memakai sebuah jangka yang dikaitkan pada seutas tali, kemudian dibawah jangka tersebut diberi kertas dengan gambar lingkaran yang terdapat kolom-kolom yang berisikan huruf, sehingga pada saat jangka tersebut kemasukan jin maka jangka tersebut dapat berputar-putar menunjuk huruf sesuai dengan pertanyaan yang kita berikan. Kadang kita tidak memerlukan sebuah tempat yang angker, waktu malam, serta hari dengan weton jawa jumat kliwon untuk mengadakan permainan tersebut, karena beberapa kasus tertentu, permainan jalangkung dapat dimainkan di siang hari, bahkan terkadang tanpa menggunakan dupa, kemenyan maupun kembang setaman.
Bermain boneka jalangkung bukanlah tanpa resiko, apabila setan tersebut telah merasuki boneka, dan melakukan gerakan diluar kendali kita, terkadang setan tersebut tidak mau untuk keluar ataupun pergi, dan kejadian fatalnya adalah beberapa peserta pemain dapat mengalami kerasukan. Maka disarankan untuk melakukan permainan jalangkung tersebut, hendaknya di dampingi oleh ahli supranatural agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Percaya maupun tidak percaya, permainan jalangkung tersebut bukanlah isapan jempol semata, karena berbagai agamapun mengajarkan untuk tetap mempercayai keberadaan jin yang berada di sekitar kita.
Sumber : Clik Here

JERANGKONG


CERITO DEDEMIT :

PONDOK pesantren Kedungmanten sedang kacau. Banyak santri baru yang merasa tidak tenteram, takut dan was-was. Tidak kelihatan wajah-wajah terang, gembira, seperti biasanya. Mulut mereka lebih banyak bungkam, padahal biasanya mereka selalu riang. Suara indah para santri perempuan yang mengumandangkan syair-syair pujian kepada Allah pun tiada terdengar. Keadaan itu terkait dengan peristiwa menjijikkan dan menakutkan yang terjadi beberapa hari lalu. Beginilah ceritanya:

Selepas isyak, para santri hendak berwudu di sumber Cakul. Belum sampai di tempat tujuan, mereka mengendus bau anyir menyengat. Disusul suara berisik, seperti suara beribu-ribu makhluk siluman. Para santri celingukan, mencoba mencari sumber suara yang kian lama kian jelas itu. Tetapi mereka tidak menemukannya. Rembulan sepotong yang tergantung di langit tak mampu menembus gelapnya sumber Cakul lantaran sinarnya terhalang rimbun pepohonan.

Seorang santri mencoba menyalakan korek, ada pula yang menghidupkan sentolop, namun alat penerang itu tak bisa berfungsi. Korek tak bisa nyala, dan sentolop pun tak bisa berpijar.

Sekonyong-konyong terjadi keajaiban. Kilat menyambar menyibak gelap malam. Saat itulah para santri melihat ribuan lele putih merayap di tanah, bergeriap-geriap sangat mengerikan. Tampak di barisan paling depan seekor lele yang hanya terdiri atas kepala dan ekor yang dihubungkan oleh duri-duri tajamnya. Ternyata, suara berisik yang terdengar tadi berasal dari ribuan hewan air yang sedang melintasi daratan itu.

Para santri seolah-olah tersihir tak mampu bergerak. Otot-otot tubuh mereka tak berdaya. Mau berteriak tak mampu. Mereka hanya memandang barisan ikan lele putih itu merayap masuk ke dalam sumber Cakul.

Sejak saat itu sumber Cakul tak pernah dikunjungi para santri, sebab menguarkan bau anyir.

Kejadian di sumber Cakul telah membikin suasana pondok pesantren jadi kacau. Tidak sedikit santri yang kemudian minta dipulangkan, terutama santri perempuan. Kiai Kasan, pimpinan dan penanggung jawab pesantren Kedungmanten, merasa mendapat ujian berat. Sampai tengah malam, Kiai Kasan mengunci diri di dalam kamar. Tetapi perasaannya tetap tak bisa tenang. Dia berdiri lantas duduk kembali. Begitu terjadi berulang-ulang. Kiai Kasan mengambil kitab kuno yang lama tersimpan di atas rak. Kitab kuning itu dibukanya perlahan-lahan. Mulut tuanya pun komat-komit membaca tulisan arab pegon yang bentuknya keriting seperti kecambah.

Belum berselang lama terdengar suara salam dari luar.

’’Asalamualaikum….’’

’’Walaikumsalam.…’’

Kiai Kasan membuka pintu. Ternyata yang bertamu Brahim, santri yang dia percaya menjadi ketua keamanan pondok pesantren.
’’Ada apa Him, tampaknya sangat penting,’’ tanya Kiai Kasan.
’’Celaka, Kiai,’’ jawab Brahim gugup.

’’Tenangkan hatimu, selanjutnya bicaralah yang jelas.’’

’’Menurut laporan teman-teman ada kejadian aneh lagi. Terhitung sudah tiga hari ini, setiap kali mereka memasak, nasi berubah busuk disertai bau bangkai yang sangat menyengat, ketika belum lagi diangkat dari periuk.’’

Kiai Kasan termangu. Jidatnya berpeluh. Kiai tua itu berpikir keras, mengenai kejadian aneh yang menimpa pondok pesantrennya. Peristiwa di sumber Cakul belum terungkap, kini bertambah lagi peristiwa lain yang tak kalah pelik. Berkali-kali Kiai Kasan mengucap ihtiqfar, memohon ampun kepada Allah. Suasana kamar sunyi senyap. Hanya dengus nafas Kiai Kasan yang terdengar.

’’Bagaimana Kiai?’’

’’Peristiwa ini tak boleh dianggap enteng. Jika tak segera diselesaikan akan membawa akibat buruk bagi pondok kita ini. Oleh karena itu kamu sebagai santri paling senior, kupercaya untuk menyelesaikan persoalan ini. Sanggupkah kamu, Ibrahim?’’

’’Insya-Allah, Kiai.’’

’’Mulai besok malam kamu kuberi tugas berjaga-jaga di tapal batas pondok ini. Tugasmu mengamati segala tingkah laku makhluk halus yang mengganggu kita. Yang terpenting ialah, kamu bisa menemukan di mana tempat persembunyian makhluk laknat itu. Jika ketemu, segeralah melapor kepadaku.”

Kiai Kasan menyerahkan selembar kertas kepada Ibrahim, berisi lafal-lafal suci disertai keterangan cara penggunaannya. Lafal-lafal suci itu berfungsi untuk melihat alam gaib makhluk halus. Sejenak Ibrahim memperhatikan tulisan dari Kiai Kasan, lantas berkata, “Bolehkah saya membawa teman, Kiai?”

“Boleh, asal tidak terlalu banyak. Cukup satu atau dua oorang saja.”

“Terima kasih, Kiai.”

Ibrahim keluar kamar, Kiai Kasan kembali menyimak kitab kuning.

Malam berikutnya Ibrahim dan kedua orang temannya, Somad dan Badrun, telah siap di tapal batas pondok pesantren. Mereka membawa belati, sentolop, dan peralatan lain yang diperlukan. Malam merangkak pasti. Namun, mereka tak mendapati kejadian apa-apa kecuali sepi yang makin senyap.

Pengalaman demikian berlangsung hingga tiga malam berturut-turut. Pada malam ke-4, bertepatan dengan hari Jumat-Legi, Ibrahim dan teman-temannya mencium bau busuk yang sangat menyengat. Ketiga orang itu segera bergerak mencari sumber bau busuk itu. Sampailah mereka di bawah pohon jenar yang tumbuh condong ke arah kuburan tua. Mereka berhenti. Mulut Ibrahim komat-kamit mengucapkan lafal-lafal suci yang dia peroleh dari Kiai Kasan. Ketika itulah Ibrahim melihat bayangan putih berkelebat dari arah kuburan. Jerangkong! Makhluk halus berujud kerangka itu berjalan. Suaranya gemeletuk. Bau busuk itu pun makin menyengat. Jerangkong itu menuju ke arah belakang pondok pesantren.

Ibrahim dan kedua orang temannya diam-diam membuntuti jerangkong itu. Mulut mereka tak henti-hentinya berkomat-kamit mengucapkan lafal suci. Sampai di sebuah bangunan yang terletak di bagian belakang bangunan induk pondok, yang digunakan sebagai dapur, jerangkong itu berhenti, menoleh ke sana-kemari, seolah-olah sadar bahwa ada yang membuntutinya. Sebentar kemudian jerangkong itu memasuki dapur melalui lubang pintu. Ibrahim mengintip apa yang dilakukan makhluk halus berbentuk kerangka itu. Ternyata si jerangkong membuka tudung periuk, kemudian memasukkan ujung jarinya ke dalam periuk. Itulah yang menyebabkan nasi di dalam periuk membusuk seketika diikuti ribuan belatung entah dari mana datangnya.

Jerangkong itu berbalik dengan tergesa-gesa ke arah barat laut. Ibrahim dan kedua temannya terus membuntuti. Di bawah pohon kenari, jerangkong itu berhenti dan jongkok di situ. Tampaknya tempat itu merupakan kuburan tua yang tidak terurus. Ia berada sekitar 10 meter dari kuburan utama yang ada di belakang masjid. Nisannya cuma tinggal sebuah, rumput pun tumbuh subur.

Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan, jerangkong itu masuk ke dalam tanah.

Hari berikutnya, Ibrahim melapor kepada Kiai Kasan. Pemilik pondok pesantren itu sangat senang mendapat laporan Ibrahim.

“Him, dan kamu Badrun dan Somad….”

“Ya, Kiai,” jawab ketiganya bersamaan.

“Pekerjaan ini belum selesai. Masih ada tugas lagi buat kalian. Beranikah kalian?”

“Ya, Kiai.”

“Kalau begitu, mulai malam Senin Wage mendatang, kalian harus berjaga mengawasi kuburan tua di bawah pohon kenari itu. Nanti jika jerangkong itu keluar dari dalam kubur, segeralah kalian sumbat lobang kecil yang pasti akan kalian temukan nanti, dengan sapu tangan ini,” Kiai Kasan menyerahkan sapu tangan.

Pada kesempatan itu Kiai Kasan juga menyerahkan sapu tangan putih yang sudah ditulisi dengan rajah rapal suci. Ibrahim dan kedua temannya segera berpamitan.

Pada hari yang ditentukan, malam Senin Wage selepas isya, Ibrahim dan dua temannya berjaga dekat kuburan tua itu. Mereka berjaga dengan sabar. Mereka menahan diri untuk tidak bercakap-cakap dengan suara keras. Bahkan mereka hampir tak sempat bicara satu sama lain. Masing-masing sibuk mengucapkan lafal suci yang diperoleh dari Kiai Kasan.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, terdengar suara burung malam mengiris keheningan. Angin semilir menyebarkan aroma busuk persis bau bangkai.

Ibrahim memberi isyarat dua temannya agar bersiap diri. Mereka mengawasi kuburan tua di bawah pohon kenari. Dengan bantuan sinar rembulan, mereka dapat melihat sesosok bayangan putih samar-samar muncul dari dalam kuburan. Dialah jerangkong yang ditunggu-tunggu. Makhluk itu berjalan cepat, tulang-tulangnya menimbulkan suara aneh, berderit-derit.

Sekali lagi Ibrahim memberi isyarat kedua temannya untuk menyumbat lobang kuburan. Kedua temannya bergerak cepat. Lobang di atas kuburan tua itu mereka temukan. Lantas disumbat dengan sapu tangan pemberian Kiai Kasan. Sesudah itu mereka cepat-cepat pergi menjauh.

Tak lama kemudian jerangkong itu datang kembali. Ia tampak bingung mencari lobang kuburan. Berjalan berputar-putar di area kuburan itu, tak bisa masuk seperti biasanya.

Adzan subuh terdengar. Mengumandang dari masjid pondok. Saat itulah terjadi peristiwa dramatis, si jerangkong yang suka mengganggu itu roboh, tulang-tulagnnya lepas satu sama lain. Mengonggok di atas kuburan tua.

Kiai Kasan dan ketiga santrinya mengemasi tulang itu dan membawanya ke pondok. Setibanya di pondok, tulang jerangkong itu dibakar, disaksikan para santri. Ketika api melalap tulang itu, terdengar jerit menyayat hati. Seperti jerit manusia yang terbakar. Makin lama makin lemah, seperti hanyut dibawa angin. Akhirnya hilang sama sekali.

Sejak saat itu pondok Kedungmanten kembali semarak. Gangguan yang selama ini merisaukan para santri sudah berhasil dienyahkan.

Sumber : Click Here

TUKANG BECAK


Laporan Wartawan Swasta Kang Petruk :

Bondo siji-sijine...
Uwis ketinggalan jaman pisan...
Ora isok banter...
Soale nggawe tenaga sikil...

Orah warek wethenge...
Yoo.. ora kuat mancal becak'e..
Opo maneh uwis kenthek'an lahan...
Ora isok nggowo penumpang sing omah'e adoh...
Amergo uwis dibatesi trayek'e ambek negoro...

Sedino oleh akeh...
Rong minggu cangkeme mrengut koyok nyambek...
Tapi, semangate tetep'ae ora isok luntur...
Lha mung iki wae siji-sijine sing isok digawe golek duit...

Ora perduli ambek kemajuane jaman..
Sing penting anak-bojo isok mangan...
Ora perduli turu sak panggon-panggon...
Sing penting engkok moleh isok nggowo sangon...

Ora adus...
Ora ke-urus...
Dekil, mbolot, campur lemah...
Ditambah kebal-kebule rokok nang pucuk lambene...

Kadang geguyonan sak koncone...
Kadang siok serius ambek ngeplek'no domino...
Kadang onok sing rajin urek-urek buku'ne... (Lha wong seneng togel)
Kadang akeh sing podo meringis kecut...

Nglirik kono-kene golek penumpang...
Ora onok sing moro...
Nguber andhe-andekan angkot sing ngedukno penumpang..
Lha kok sing mudhun uwis onok sing mapak (njemput)...

Kapan ...?
Kapan ...?
Urip isok sejahtera ...
Geremengane bathine para tukang becak sak tanah Jawa kabeh...

TRUE STORY CAN YOUR READ UNDER PAGE HERE :
(Kang Petruk kementhus nggawe bahasa Inggris barang....)


SUSAHNYA HIDUP SEBAGAI TUKANG BECAK :

“Gali Lubang Tutup Lubang” Untuk Mencukupi Kebutuhan
"Sementara jadi tukang becak ya banyak susahnya, senangnya bisa kumpul-kumpul dengan banyak teman, susahnya kalau waktu (menarik) sepi, BBM mahal, pendapatan turun, apalagi sekarang alat komunikasi HP dan sepeda motor sudah banyak, penghasilan tukang becak berkurang.”

Demikian penuturan Taufiq, salah seorang tukang becak yang biasa mangkal di kawasan Perum Griya Indah Jombang.

Pria yang sudah berprofesi sebagai pengayuh becak sejak tahun 1987 ini mengungkapkan, kemajuan teknologi membawa perubahan drastis dalam tata kehidupan manusia. Akses informasi mudah di dapat dan komunikasi mudah dilakukan. Saat ini kemajuan teknologi dan trend di masyarakat telah menciptakan gaya hidup yang serba canggih.

Berbagai inovasi teknologi yang berkembang pesat pada saat ini, secara perlahan membawa dampak bagi para pengayuh becak. Pendapatan abang becak berangsur-angsur surut lantaran minimnya masyarakat yang mempergunakan jasa para pengayuh becak. Penghasilan dari mengayuh becak tak lagi menjanjikan, karena rata-rata pendapatan mereka setiap harinya hanya berkisar Rp. 3.000,- hingga Rp. 5.000,- saja. "Sepinya bukan hanya disini, dimana-mana tempat kondisinya hampir sama,” ungkap pria berputra 2 ini.

Meski hidup dalam penghasilan yang tidak pasti, para tukang becak tetap memilih bertahan dengan profesinya sekarang. Pasalnya untuk menggeluti bidang pekerjaan lain situasinya tidak memungkinkan.

Menurut Taufiq, para tukang becak sedang dalam kondisi yang serba sulit. Lapangan kerja sulit didapat sementara kebutuhan hidup keluarga setiap harinya harus tetap terjaga. Namun, susahnya hidup sebagai pengayuh becak tidak lantas menjadi penyesalan yang berkepanjangan.

Menyiasati minimnya penghasilan dari jasa mengayuh becak, ketua Paguyuban Becak Jombang (PABEJO) ini rela melakukan pekerjaan serabutan di luar profesinya agar mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Taufiq mengaku, dirinya seringkali dimintai bantuan tetangga untuk memperbaiki selokan, mengecat rumah dan memperbaiki kerusakan rumah tetangga untuk menambah penghasilan. Selain itu, Taufiq juga memberikan jasa antar jemput beberapa anak sekolah. Dari jasa antar jemput 5 anak sekolah tersebut, ia mendapatkan penghasilan sebanyak Rp. 200 ribu,- setiap bulannya. “Kadang ya disuruh membenahi selokan, ngecat, ya pokoknya pekerjaan apa saja yang penting bisa menambah penghasilan,” tutur Taufiq.

Sebagai tukang becak, penghasilan Taufiq kerap tidak menentu. Tidak jarang, dirinya melakukan tambal sulam agar ekonomi keluarganya dapat tercukupi. Khusus untuk pendidikan dua orang anaknya, Taufik mengaku bersyukur karena masih bisa menyekolahkan anak-anaknya. “Biasanya sih gali lubang tutup lubang, cari pinjaman dulu, kadang-kadang ya kita pinjam ke koperasinya PABEJO,” ungkap dia.

Bagi Taufiq, perkembangan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi tidak bisa dielakkan. Merosotnya penghasilan tukang becak karena kemajuan teknologi bukan menjadi alasan utama untuk meninggalkan profesi yang sudah di gelutinya selama puluhan tahun ini. Ia akan tetap mempertahankan becaknya selama belum ada pekerjaan lain yang ia dapatkan. Baginya, becak adalah sumber ekonomi keluarga dan kelanjutan pendidikan 2 anaknya.

Sumber : Click here