KUNJUNGAN KE :

Selasa, 31 Mei 2011

MODAL DENGKUL

"Modal mung kari dengkul...
Rambutku gundul koyo tuyul..."

NGUDO ROSO :

"Koyo opo yen kahanan urip koyo mengkene....
Penggawean ora nduwe...
Duit ora nyekel...
Anak pathing tre'cel...

Awak uwis kuru...
Amergo kurang turu...
Bojo mung isi'ne mecucu...
Moro tuwo melok-melok nyatru...

Mlebu omah rasane koyok mlebu goa hantu...
Isine mung kudhu nesu...
Anak podho njaluk susu...
Aku mung isok nyyonggo dagu...

Kapan.... nasibku isok berubah...
Katon gagah koyok pak Lurah...
Ngalor-ngidul nunggang avanza...
Bojo loro pathing sumringah...

Ora tau katon susah...
Isine ati mung katon bungah...
Nduwe sembarang sarwo mewah...
Opo kuwi sing kasebut swarga dunia...

Ora koyo awakku...
Sing rekoso ngangkati watu...
Sampek ora weruh waktu...
Mung isok digawe tuku tahu...

Nyuba usaha liya ora nduwe modal...
Nduwene mung kari sandal...
Nyuba dadi TKI kok ora budhal-budhal...
Ora ngerti duit'te uwis di-untal...

Modal mung kari dengkol...
Sak'ben ndino kudhu ngiseni wakol...
Uwis rambutku gundhul...
Yen di-dhelok koyok tuyul...."

(Ojo ngersolo wae Cak...!! Ora apik....)

Senin, 30 Mei 2011

JOYO ANGGADO

CERITA WAYANG SINGKAT :

Anggada adalah salah seorang senapati tentara wanara negara Kiskenda dalam pemerintahan Prabu Sugriwa. Ayahnya adalah Resi Subali, ibunya bernama Dewi Tara, putri Batara Indra. Subali dan Sugriwa, atas perintah dewa, telah menang dalam perang melawan Prabu Maesasura, dengan seluruh balatentaranya.

Sesudah peristiwa Kiskenda, Sugriwa dikawinkan dengan Dewi Tara dan dinobatkan menjadi raja. Kerajaan Kiskenda dihadiahkan kepadanya. Atas hasut-fitnah Prabu Dasamuka, negara Kiskenda diserang Subali, yang merasa bahwa kemenangan atas Kiskenda, Subali-lah yang melakukannya. Prabu Sugriwa dengan tentaranya terpaksa meninggalkan negaranya. Subali akhirnya menduduki Kiskenda dan memperistri Dewi Tara. Dalam perkawinan ini lahirlah wanara Anggada.

Sugriwa dapat kembali menduduki Kiskenda setelah Subali dapat dibinasakan oleh Sri Rama. Anggada tetap mengikuti ibunya, Dewi Tara, yang kembali menjadi istri Sugriwa.

Dalam lakon “Hanoman Duta”, Anggada sangat iri hati atas pengangkatan Hanoman, saudara sepupunya, sebagai duta ke Alengka untuk menyelidiki tempat disembunyikannya Dewi Sinta, istri Rama. Di dalam lakon “Anggada Balik”, ia diutus Sri Rama untuk mengukur kekuatan bala tentara Alengka. Karena hasutan Rahwana, yang mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Sri Rama, Anggada kemudian mengamuk dan berbalik akan membunuh Rama. Tetapi Hanoman kemudian dapat menaklukkan dan menginsyafkan serta menyadarkannya.

Akhirnya Anggada kembali menyerang Alengka dan berhasil membawa mahkota Prabu Dasamuka dan dipersembahkan kepada Sri Rama. Dalam perang besar Alengka, Anggada menunjukkan kepahlawanannya di medan perang, ia berhadapan langsung dengan putra mahkota Alengka, Indrajit, putra Dewi Tari, saudara sepupunya. Atas jasanya ia mendapat tambahan nama “Jaya” yang berarti unggul, maka dari itu ia lazim disebut Jaya Anggada. Seperti wanara yang lain, Anggada tidak dapat diketahui akhir hidupnya. Sumber

SUMBER LAIN :

Anggada atau Hanggada adalah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah wanara muda yang sangat tangkas dan gesit. Kekuatannya sangat dahsyat, sama seperti ayahnya, yakni Subali. Dalam kitab Ramayana disebutkan bahwa ia dapat melompat sejauh sembilan ratus mil. Anggada dilindungi oleh Rama dan akhirnya membantu Rama, berperang melawan Rahwana merebut kembali Dewi Sita, istri Rama. Anggada juga merupakan nama salah satu putera Laksmana dalam wiracarita Ramayana.

Keluarga

Ayah Anggada adalah Raja Wanara bernama Subali, ibunya adalah Tara. Anggada memiliki paman bernama Sugriwa, yaitu adik Subali. Subali dan Sugriwa memiliki adik perempuan bernama Anjani. Hanoman adalah putera Anjani, maka Anggada bersaudara sepupu dengan Hanoman. Saat masih muda, Subali tewas karena panah Rama. Setelah itu, Anggada dirawat oleh Sugriwa.

Petualangan mencari Sita

Saat Sugriwa mengerahkan ksatria wanara pilihan untuk mencari Dewi Sita, Anggada turut serta bersama para ksatria wanara lainnya sepertiHanoman, Jembawan, Nila, Dwiwida, Gandamadana, dan lain-lain. Mereka menjelajahi wilayah India Selatan, sampai tiba di sebuah gua, kediaman arsitek Mayasura. Setelah menjelajahi gua, Anggada dan para wanara bertemu dengan Swayampraba. Atas bantuannya, Anggada dan para wanara tiba di sebuah pantai. Di pantai tersebut, para wanara bertemu dengan Sempati. Kemudian Anggada menuturkan maksud perjalanannya dan ia meminta bantuan Sempati. Atas petunjuk Sempati, para wanara tahu bahwa Sita masih hidup dan sedang ditawan di Alengka oleh Raja Rahwana.

Perang di Alengka

Sebelum peperangan di Alengka meletus, Rama mengutus Anggada agar memberi kabar kepada Rahwana untuk segera menyerahkan Dewi Sita. Setelah mendengar pesan Rama yang panjang lebar, Anggada mohon pamit lalu pergi ke tempat Rahwana. Di hadapan Rahwana, Anggada memperingati agar Sita segera dikembalikan jika tidak ingin peperangan meletus. Rahwana yang keras kepala, tidak menghiraukan peringatan Anggada namun mencoba mengerahkan pasukannya untuk menangkap wanara tersebut. dengan sigap, Anggada melompat ke udara sehingga ia lolos. Setelah itu, ia merobohkan menara istana. Dengan sekali lompatan, ia terbang kembali ke tempat Rama.

Saat pertempuran pertama berlangsung, Anggada bertemu dengan Indrajit, putera Rahwana. Dua prajurit tersebut bertempur dengan jurus-jurus yang mengagumkan. Para wanara bersorak-sorak kegirangan karena kagum dengan ketangguhan Anggada, sebab panah-panah yang dilepaskan Indrajit tidak membuat Anggada gentar. Namun kemudian Indrajit mengalihkan serangannya kepadaRama. Pertempuran pada hari itu pun diakhiri sebab Rama tak berkutik. Setelah Rama pulih kembali, para wanara melanjutkan penyerangannya. Pada pertempuran kedua, Anggada bertemu dengan Bajradamstra. Setelah pertarungan sengit terjadi dalam waktu yang lama, Bajradamstra gugur di tangan Anggada.

Ketika peperangan di Alengka usai, Anggada dan para wanara lainnya diundang ke Ayodhya untuk menerima penghargaan atas jasa-jasa mereka karena telah menolong Rama menyelamatkan Sita.

Anggada dalam Pewayangan Jawa

Dalam cerita pewayangan Jawa, Anggada yang terkenal sakti diberi gelar Jaya yang berarti unggul oleh Rama, sehingga disebut Jaya Anggada. Di dalam lakon “Anggada Balik”, ia diutus Rama pergi ke Alengka untuk mengukur kekuatan bala tentara Alengka. Karena hasutan Rahwana, yang mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Sri Rama, Anggada kemudian mengamuk dan berbalik akan membunuh Rama. Tetapi Hanoman kemudian dapat menaklukkan dan menginsyafkan serta menyadarkannya. Akhirnya Anggada kembali menyerang Alengka dan berhasil membawa mahkota Rahwana dan dipersembahkan kepada Rama. Dalam pewayangan sering digambarkan sebagai kera berbulu merah. Sumber

Sabtu, 21 Mei 2011

KANGEN SUWARA CAK KARTOLO NANG KASET

SAMBANG SEDULUR....

Kartolo (lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 2 Juli 1947; umur 63 tahun) adalah pelawak dan pemain ludruk. Kartolo sudah aktif dalam dunia seni ludruk semenjak era tahun 1960-an. Ia mendirikan grup ludruk Kartolo CS. Ia meniti karier di beberapa grup Ludruk. Ia pernah bergabung dengan ludruk Dwikora milik Zeni Tempur V Lawang, Malang, dan ludruk Marinir Gajah Mada Surabaya. Selanjutnya ia mendirikan grup ludruk Kartolo CS. Sebelum membentuk lawak ludruk, Kartolo bergabung dengan ludruk RRI Surabaya, bersama seniman ternama lainnya seperti Markuat, Kancil, dan Munali Fatah.

Kartolo CS terdiri dari Kartolo, Basman, Sapari, Sokran, Blonthang, Tini (istri Kartolo), tergabung dalam kesenian karawitan Sawunggaling Surabaya. Masing-masing pemain punya karakter yang unik dan khas, dan punya semacam 'tata-bahasa' sendiri. Misalnya Kartolo yang menjadi paling cerdas, sehingga sering diceritakan 'ngakali' pemain lain, Basman yang punya suara besar dan omongan nyerocos, dan Sapari yang sering nakal tapi malah jadi korban. Biasanya ludruk kartolo ini juga dilengkapi oleh bintang tamu seperti Marlena, cak Sidiq dan lain-lain.

Derap langkah Kartolo melestarikan ludruk diawali dengan melakukan kolaborasi dengan Karawitan Sawunggaling Surabaya pimpinan Nelwan’S Wongsokadi. Mereka masuk dapur rekaman untuk merekam kidungan parikan diselingi guyonan pada era 1980-an.

Dalam kurun waktu itu 95 volume berhasil direkam dan dilempar ke pasar. Di luar dugaan, sambutan masyarakat Jatim luar biasa. Album-album barunya senantiasa ditunggu penggemarnya.

Namun formasi emas ini tidak bertahan sampai sekarang. Yang tersisa adalah Kartolo, Tini dan Sapari. Basman, Sokran dan Blonthang sudah meninggal dunia. Sampai sekarang Kartolo dan Sapari masih sering tampil di JTV (TV-nya Jawapos) di Surabaya. Meskipun sekarang jarang masuk dapur rekaman, Kartolo dan kawan-kawan masih sering mendapat panggilan naik pentas. Dalam satu bulan rata-rata lima kali naik pentas. “Ketika kondisi perekonomian normal, kami pentas bisa lebih sepuluh kali dalam satu bulan,” katanya.

Dalam pentas-pentas resmi, lawak ludruk ala Kartolo itu sering pentas bersama kesenian campursari, dangdut, bahkan menjadi bintang tamu pertunjukan wayang kulit.

Ia tak pernah melantunkan syair kidungan yang telah dikasetkan, agar penonton tidak bosan mendengarkan lawakannya. Ia pun selalu mencatat isi lawakan yang pernah ia sampaikan di pentas. Cara itu ia pilih untuk terus menggali isi lawakan baru.

Lingkup pentas pelaku seni ini pun tidak hanya terbatas di 38 kabupaten dan kota di Jatim. Ia juga menerima undangan naik pentas di Jakarta, Bontang, Batam, serta beberapa kota di Nusa Tenggara Barat. Sumber

LEGENDA CERITA NYAI DASIMA

CERITO LAWAS :

Dongeng sebelum tidur - Sejak Jan Pieterszoon Coen mulai mendirikan kastil di pinggiran Sungai Ciliwung untuk kemudian membangun kota bernama Batavia di awal abad ke-17, sejak itulah keberadaan budak mulai tumbuh. Semula hanya digunakan sebagai tenaga kerja. Namun, kemudian budak menjadi penakar status sosial bagi pejabat VOC.

Maka sistem perdagangan budak pun berkembang, calo budak pun menjamur. Keberadaan budak perempuan ikut menghidupkan, bahkan menyuburkan, praktik kumpul kebo di Batavia. Seperti sudah pernah ditulis sebelumnya, sistem pergundikan jadi cikal bakal prostitusi. Kasus cinta gelap serta dunia per-nyai-an muncul dan terus berkembang.

Thomas B Ataladjar dalam Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama di tepian Muara Ciliwung menyebutkan, kata nyai berkonotasi lain di masa kompeni, khususnya di zaman para meneer kumpeni berkuasa karena punya arti gundik, selir, atau wanita peliharaan pria Belanda. Keadaan itu terjadi karena sebagai serdadu mereka tak bisa membawa serta istri atau memang masih bujangan. Tatkala hubungan cinta terjalin antara perempuan pribumi dengan pria Belanda maka perempuan itu hanya akan jadi gundik alias nyai.

Ternyata, penggemar samen leven dengan nyai tak sedikit, malah jadi tren kumpeni. Kehidupan para nyai bahkan menjadi kisah tersendiri dalam sejarah kota dan bangsa ini. Kisah yang paling lazim kita dengar adalah Nyai Dasima, sebuah kisah populer di kalangan warga Betawi. Perempuan asal Ciseeng, Bogor, ini hidup di antara tahun 1805-1830 dan menjadi gundik meneer Edward William.

Kisah Hidup Nyai Dasima

Perjalanan hidup dan cinta Dasima direkam dalam buku yang ditulis oleh SM Ardan. Edward ternyata hanya memerlukan Dasima di kamar saja, maka ketika kemudian muncul seorang pria, Samiun, yang bersedia menikahinya, Dasima pun meninggalkan Edward. Ternyata, Samiun hanya ingin menggerogoti harta Dasima. Nyawa Dasima habis di tangan Bang Puasa atas perintah Samiun. Mayatnya ditemukan di sekitar kali di Kwitang.

Nyai Dasima versi G Francis melukiskan, selain Edward, semua lakon bertabiat buruk. Kisah dibikin agar pembaca mendapat kesan negatif tentang masyarakat Betawi. Maklum saja, versi ini adalah versi kolonial. Sumber


Kisah yang terkenal dari Betawi ini , menceritakan secara tragis kehidupan Nyai Dasima.Kisah diawali dengan kisah kehidupan Edward William dan istrinya yang bernama Bonnet.William adalah saudagar dari Inggris, yang pada masa VOC, mengelola perkebunan the di daerah Curug.

Kebahagiaan Tuan William serta Nyonya Bonnet lengkap ketika dating seorang gadis berusia 12 tahun dari kampong Kuripan yang bernama Dasima. Pada kisah berikutnya dikemukakan bahwa Bonnet Istri William sakit.Dasima sebagai pembantu yang sekaligus sudah dianggap keluaraga sendiri, dengan rajin merawatnya.Namun kedekatan William dan Dasima menjadi lain.Ketika Bonnet tidak sembuh juga ,bersamaan dengan itu kesepian telah mendera tuan William, maka malam itu, ketika Istrinya terbaring tak berdaya, kejadian yang memalukan itu tak tak dielakkan. William berhasil meniduri Dasima.

Sakit Bonnet semakin tak tertolong.Namun sebelum meninggal dunia, Dia berpesan pada William suaminya, agar mengawini Dasima.Sebab Dasima adalah gadis yang baik Ketika istrinya meninggal, beberapa lama kemudian mereka menikah.Pernikahan tersebut membuahkan seorang anak perempuan bernama Nancy Keluarga yang awalnya berbahagia ini,suatu ketika pindah ke Batavia.Kebiasaan William yang suka mengundang teman-temannya untuk berpesta dan makan-makan, berbuah masalah. Sebab diantara pembicaraan teman wanita William, mereka menganggap bahwa Dasima tidak pantas disejajarkan dengan kelompok mereka..Mendengar cemohan teman William yang demikian, awalnya tidak membuat Dasima tergetar, namun lama-kelamaan Dasima merasakan juga siksaan batin tersebut.

Pada bagian lain dikisahkan juga tentang Bang Samiun, kusir dokar yang pekerjaannya sering antar jemput Nancy saat kesekolah atau sekedar jalan-jalan. Bang Samiun dan Dasima akhirnya suka pergi bersama-sama. Tanpa sebab yang jelas dengan alasan tidak kuat lagi menanggung derita, karena cemohan teman-teman William, akhirnya Dasima minta dicerai oleh William.Tentu saja William keberatan, tetapi karena Dasima terus mendesak akhirnya permintaan Dasima pun dikabulkan oleh William.Sementara harta nereka dibagi dua,sedangkan Nancy anaknya diserahkan pada William.

Sejak perceraian tersebut, Dasima pindah kerumah Bang Samiun.Sementara Bang Samiun sudah beristri Hayati.Samiun juga masih mempunyai seorang ibu bernama Wak Soleha.Dengan berbagai macam cara,akhirnya dikisahkan Samiun berhasil menikahi Dasima. Sejak berumah tangga dengan Bang Samiun, kehidupan Dasima semakin sengsara.Sehari-hari Dasima diperlakukan sebagai pembantu.Berbagai macam cara dilakukan Wak Soleha, bersama Hayati tujuannya, agar Dasima menderita.Karena tidak kuat lagi menderita akhirnya Dasima dan Samiun bertengkar hebat.

Suatu ketika Samiun,Hayati dan Wak Soleha, merencanakan membunuh Dasima dengan menyewa Bang Puase, di tengah perjalanan dengan mengendarai dokar. Mereka dihadang di tengah jalan.Akhirnya Dasima dibunuh oleh Bang Pause. Mayat Dasima ditemukan disangai oleh Tuan William dan Nancy anaknya.Keduanya sedih melihat orang yang dicintainya telah menianggalkanya untuk selamanya. Sumber


Jumat, 13 Mei 2011

BIOGRAFI MAK LAMPIR

SARAPAN ISUK-ISUK :

"TIMBANGAN'NE NGOWO KLOWA-KLOWO NGGAK ONOK KERJO'AN" (Pengangguran Taunan)

GUGON TUHON :

Mak Lampir lahir di Hutan Antah Berantah tanggal 135 Mei 512mb SM. Mak Lampir dilahirkan oleh putri bangsawan Jawa Utara yang bersuamikan orang gila Sumatra Timur yang bergelar Tanah Basah alias Sawah. Nama asli Mak Lampir adalah Permadan Kuatran No Sinoke, namun dia mendapat nickname Mak Lampir sejak duduk di SMA Swasta 1004 Gorontalo Barat karena Sering melampirkan kertas ulangannya di Mading Sekolahnya. Sejak saat itu ia dipanggil "Mak Lampir". Pada Zaman Majapahit, Mak Lampir berhasil menyabet juara 1 Putri Indonesia dengan menyingkirkan Artika Sari Devi yang beberapa abad kemudian tampil kembali dalam ajang tersebut. Di zaman kolonial Belanda, Mak Lampir mulai jarang tampil di depan publik lebih banyak berurusan dengan kompeni menyusul sengketa lahan di daerah Gunung Merapi, Jawa Tengah. Ketika perang kemerdekaan Indonesia, Mak Lampir tidak berada di tanah air karena tengah mengikuti Seminar Wanita Berbahaya Internasional yang digelar di St. Petersburgh, Uni Soviet. Mak Lampir ikut menyemarakkan pembantaian anggota PKI tahun 1966-1969 dengan tampil sebagai juru teror terutama untuk masyarakat pedesaan.

Mak Lampir merupakan saingan berat dari Mak Erot, dia juga mempunyai pengikut yang bernama Jarwo Gendoruwo. Jika Mak Erot bisa membuat alat kelamin seseorang menjadi panjang dan kuat saat menancap (singkatan dari menonton layar tancap), maka Mak Lampir bisa membuat pengikut kamasutra menjadi murtad dan kafir. Contoh orang yang telah dikafirkan Mak Lampir; Gendoruwo, Kutilan (saudara terdekat kuntilanak).

Untuk mendongkrak popularitasnya yang kian menurun, pada era reformasi Mak Lampir muncul dalam serial Misteri Gunung Merapi. Dalam serial tersebut dijelaskan suka duka Mak Lampir dalam mempertahankan tanah di daerah Gunung Merapi yang dalam proses sengketa denganVOC alias kompeni. Serial tersebut disutradarai oleh George Lucas namun akhirnya diambil alih oleh pemerintah karena tanah daerah Gunung Merapi tidak diperkenankan untuk digunakan syuting film Star Wars. ( Sumber )

PANJI TENGKORAK

"SARAPAN ISUK-ISUK NYANDING GODO GEDANG LAN WEDHANG KOPI, NGROKOK JEDHAL-JEDHIL KOYOK JURAGAN ANYARAN" :

Referensi :

SIAPA pun Anda, yang sudah melek huruf di tahun 1970-an, pasti tak akan lupa dengan nama satu ini: Panji Tengkorak. Inilah sosok yang menjadi bagian dari kehidupan remaja di akhir 1960-an. Dan, tak pelak lagi, nama penciptanya pun menjadi identik, dialah Hans Jaladara.

Hans adalah salah satu dari 7 “pendekar” komik Indonesia di masanya, selain Jan Mintaraga, Ganes Th, Sim, Zaldy, Djair, dan Teguh Santosa. Dari 7 pendekar itu, hanya Hans dan Djair yang masih bertahan. Selebihnya, telah tunduk di depan maut.

Panji Tengkorak yang terdiri dari 5 jilid, boleh dikatakan karya masterpiece Hans. Meski karya lain, Walet Merah, Si Rase Terbang juga meraih popularitas. SetelahSi Buta dari Goa Hantu karya Ganes Th, hanya karya Hans itulah yang mampu menyamainya, difilmkan, bahkan sampai mengundang aktris Taiwan Shan Kuang Ling Fung sebagai Dewi Bunga.

“Setelah Si Buta… populer, sebuah penerbit meminta saya membuat cerita serupa Jan. Tapi saya tak mampu meniru. Saya buat Panji, meski tetap saja banyak yang melihat mirip karya Jan,” cerita Hans, sebagaimana dikutip Kompas.

Ia pun membuat tokok yang anti-si Buta, Badra Mandrawata. Jika si Buta berambut panjang, Panji pendek. Si Buta rapi berbaju kulit ular, Panji compang camping. Si Buta membawa wanara, Panji menyeret keranda. Semua berbeda.

Banyak yang menilai, Panji adalah campuran koboi Italia dan silat Cina masa itu. Bahkan, adegan menyeret keranda, adalah peniruan dari film A Coffin for Jango yang dibintangi Franco Nero.

Tiga versi panji

Hans Jaladara bernama KTP Hans Rianto, kelahiran Yogyakarta 1947, anak kedua dari keluarga Linggodigdo. Nama Jaladara baru ia pakai di awal 1970, karena ada yang meniru namanya. Ia ambil Jaladara dari komik wayang karya Ardi Soma, Wiku Paksi Jaladara.

Ayah Hans adalah guru bahasa Inggris, yang memperkenalkan Shakespeare. Ia bahkan hapal pidato Mark Anthony dalam Julius Caesar itu. Ia pun mewarisi bakat melukis.

“Sampai ditimpuk Bu Guru, karena di sekolah menggambar terus,” kenangnya.

Kebiasaan membaca meliarkan imajinasinya. Melihat pengemis, kadang ia berpikir itu orang sakti yang sedang menyamar. Untuk adegan silat komiknya, ia mempertanggungjawabkannya. Maklum, ia belajar kungfu di Cheng BU Mangga Besar, dan belajar Judo pada Tjoa Kek Tiong.

Hans mulai berkomik sejak 1966, Hanya Kemarin yang diilhami film Hollywood Only Yesterday. Honornya kecil. Namun, saat Panji jaya, satu naskahnya sama dengan satu ons emas.

Namun itu tak lama. 1975, ia menurun. Komik mulai kalah saing. Ia masih bertahan dengan melahirkan Durjana Pemetik Bunga. Tapi, 1987, ia tersungkur. “Bikin komik, hasilnya tak seberapa. Temen-temen lain sudah lari, cari usaha lain. Sim misalnya, jauh hari sudah jadi wartawan,” kenangnya.

Untuk bertahan hidup, ia pindah ke Kebumen, 1978-1983, dan 1988-1994. Istrinya, Risnawati, membuka salon. Ia membeli truk dan pikup, tapi bangkrut. Membeli sedan ikut taksi gelap, malah tertangkap. “Jiwa saya memang tidak untuk dagang.” Ia tertawa.

Selama di Kebumen itu, dia masih mengirim naskah ke Jakarta, meski hasilnya sangat kecil, tak dapat diharapkan menjadi sumber penghidupan. Daya gembur komik Jepang tak dapat ia hadapi.

Namun, dalam “dunia persilatan” yang kacau itu, Hans akhirnya melahirkan “tiga Panji”, setidaknya di mata pengamat komik, Seno Gumira Ajidarma. Pertama, Panji Tengkorak 1968. “Adegan perkelahian silatnya melahirkan gambar koreografi yang artistik. Para petarung bergerak bagai penari, bentuk dan gerakan tubuh ditata harmonis. Ia tak mengacu pada pentuk baladiri mana pun, setia pada imajinasinya,” nilai Seno di situs komikaze.

Panji kedua, 1985. Hans sudah terpengaruh Jepang. Gerakan silat pertarungan, khas kungfu baku, seolah diambil dari buku petunjuk. Kostum bajak laut 1968, jadi bajak laut Jepang 1980-an. “Terjadi degradasi di segala aspek, mengurangi teks, mengosongkan ruang gambar.” Hans mulai diikat pasar.

Tapi, kehancuran Panji di mata Seno, terjadi saat Hans menggambar ulang untuk ketiga kali, 1996. “Semua gaya mengadopsi sepenuhnya pada komik Jepang. Mata yang membelalak dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar, teks yang pendek. Hans Jaladara yang jago dalam detail dan imajinasi, seperti pelukis yang dikebiri,” kecam Seno.

“Tak ada lagi pendekar bercaping yang berjalan di lembah sunyi, rimbun dan berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tak ada lagi gerobak eksotik yang berderak lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Juga pertarungan yang artistik dalam siluet hitam membayang. Tak ada lagi drama. Ibarat kata, Panji Tengkorak cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa. Yang tersisa hanya kostum genit dari pertunujukan yang gagal!”

Pengakuan Hans: semua atas pesanan penerbit.

Perubahan drastis itu tetap saja tak berpengaruh apa-apa pada pasar. Komik itu tak juga laku, apalagi meledak. Inilah yang dinilai Seno, kesalahan kategoris dalam “mengangkat kembali” komik Indonesia. Karena komik kemudian berubah mengikuti selera pasar, bukan kembali ke asalnya, artistik semula, dengan strategi pasar yang baru. Untunglah, telah ada penerbit dari Yogya, yang akan menerbitkan serial Panji dalam bentuk aslinya.

Kelesuan komik itu membuat Hans berusaha menaikkan profesi, jadi pelukis. Tapi sudah terlambat. Beberapa kali mengikuti pameran, nasibnya tak kunjung beranjak. Ia datang di saat yang tak tepat, ketika booming lukisan sudah redup, tak seperti di awal 1990-an.

Kini, sejak 1995 ia kembali ke Jakarta, menempati rumah di kawasan Lippo Cikarang, 30 kilometer sebelah timur Jakarta. Ia masih aktif berkomik di majalah Kita, mengasuk rubrik “Mari Menggambar bersama Pak Hans”, dan membuat serial Kita dan Tata. Tiga kali seminggu, ia mengajar menggambar di SD, SMP, dan SMU Pelita Harapan.

Apa pun kecemerlangan dan kesuraman masa komik Hans, kini, dengan tunjangan usaha istri, ia telah memiliki rumah, dan anak yang sukses bersekolah. Putrinya, Maureen Maybelle (26) sarjana sastra Inggris UKI, dan Elizabeth Visandra, masih kuliah di desain grafis Tarumanegara, mengikuti jejak ayahnya.

Hans apa boleh buat, ibarat pesilat yang telah terlanjur masuk dunia persilatan. Tak ada lagi jalan mundur. Bertarung atau mati. Maka, ia pun tetap berkelana, dalam dunia yang mulai dilupakan…. ( Sumber )

KISAH CINTA PANJI TENGKORAK :

Panji Tengkorak adalah seorang laki-laki tampan, gagah, baik hati dan jago silat. Namun sayangnya, ia kurang beruntung dalam hal percintaan. Kalau saja Panji Tengkorak adalah artis sinetron, barangkali kisahnya sudah menjadi headline di berbagai media. Sayang, Panji tengkorak hanyalah tokoh komik belaka buatan Hans Jaladara.

Saya bukan penggila komik, apalagi komik silat. Kisah Panji Tengkorak pertama kali saya baca dalam kumpulan cerpen “Iblis Tidak Pernah Mati” karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam kumpulan cerpen itu, Seno menulis kembali cerita komik Panji Tengkorak dengan konteks berbeda dengan judul “Partai Pengemis.” SGA juga pernah menulis ulang cerita komik tersebut dalam kumpulan cerpen “Negeri Kabut” dengan judul “Panji Tengkorak Menyeret Peti.” Ketertarikan Seno terhadap komik ini berpuncak pada penelitian disertasinya di Universitas Indonesia tentang metamorfosa dalam tiga versi komik Panji Tengkorak dari masa ke masa.

Karena penasaran dengan “referensi” mas Seno ini (sebab beliau tampak cinta mati sama komik ini), akhirnya saya mencari-cari komik Panji Tengkorak yang ternyata sudah sulit ditemukan di toko buku. Dalam “Partai Pengemis”, ada tokoh perempuan bernama Walet Merah yang merupakan adik dari Mariani, pendekar silat dari perguruan Teratai Merah.

Mariani adalah kekasih Panji Tengkorak (kisah cintanya agak rumit, akan saya ceritakan nanti). Walet Merah yang berjiwa muda dan masih labil, lari dari perguruan Teratai Merah karena suatu hal. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan Panji Tengkorak. Kisah Walet Merah adalah lanjutan dari komik Panji Tengkorak yang masih bisa saya temukan di toko buku Gramedia, karena terakhir diterbitkan tahun 1996 oleh penerbit Elex. Saya pun segera membeli 9 edisi komik Walet Merah dan keasikan membacanya. Namun, sampai saat ini saya belum pernah membaca kisah Panji Tengkorak yang asli sebab belum berhasil menemukan komiknya. Bagaimanapun, secara cukup mendalam saya memahami cerita Panji Tengkorak dari cerpen-cerpen Seno dan serpihan puzzle dari lanjutan kisahnya di Walet Merah.

Kembali ke kisah cinta Panji Tengkorak yang rumit, misteri asmara Panji Tengkorak tidak kunjung diselesaikan dengan “tuntas” oleh Hans Jaladara dalam Walet Merah. Panji Tengkorak, seperti sebelumnya telah saya katakan, amatlah tidak beruntung dalam urusan asmara. Ia terpaksa terpisah dari Mariani, cinta sejatinya, gara-gara terlanjur bersumpah pada Nesia, gadis cantik yang cinta mati pada Panji. Nesia, dalam keadaan sekarat dan dibutakan oleh cinta, meracuni Mariani agar Panji mau bersumpah untuk mencintainya, selalu berada di sampingnya dan tidak akan berpaling pada perempuan lain.

Panji yang kala itu hanya memikirkan keselamatan Mariani, buru-buru mengiyakan saja permintaan Nesia. Akhirnya Nesia, sebelum mati di pelukan Panji, memberi penawar racun untuk Mariani. Mariani pun pulih, namun Panji yang terlanjur bersumpah pada Nesia akhirnya memilih untuk merantau, pergi meninggalkan Mariani cinta sejatinya. Kemanapun Panji pergi, ia menyeret peti mati Nesia sebagai bukti akan sumpahnya sebagai pendekar sejati. Di kemudian hari, atas saran seseorang, Panji membakar peti mati Nesia dan menyimpan abunya dalam liontin sebuah kalung yang selalu dipakainya. Namun sampai kapanpun jua, cinta Panji dan Mariani selalu menjadi sebuah roman kasih tak sampai.

Saya pikir kisah asmara Panji Tengkorak memang akan berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet. Namun ternyata saya salah. Baru saja kemarin saat sedang melihat-lihat buku di Gramedia, saya tak sengaja melihat “Kumpulan Cergam Kampungan” terbitan ruangrupa. Saya tidak bisa menceritakan keseluruhan isi buku tersebut, karena buku itu tidak saya beli, melainkan sekedar baca di tempat. Dalam kumpulan cergam itu, terdapat komik karangan Hans Jaladara dengan judul “Cinta di Senja Hari”. Ah, jangan-jangan inilah akhir kisah cinta Panji Tengkorak. Saya super penasaran dan segera membacanya. Ternyata benar, di sinilah, di kumpulan cergam Kampungan inilah Hans Jaladara menorehkan akhir kisah cinta Panji dan Mariani.

Saya buru-buru membacanya. Dan jujur, saya kecewa. Saya tidak tahu, apakah karena judulnya “Kumpulan Cergam Kampungan” jadi konsep ceritanya memang harus kampungan? Saya belum mencari tahu lebih lanjut tentang proyek ruangrupa yang satu ini. Yang pasti, “Cinta di Senja Hari”, sebagai akhir dari kisah percintaan Panji Tengkorak dan Mariani yang sangat rumit dan berliku-liku, terlalu disederhanakan. Dalam cergam ini dikisahkan, bahwa suatu ketika, adalah seorang pemuda bernama Dago (kalau tidak salah), seorang pendekar muda dari Perguruan Tujuh Bintang yang tak sengaja menemukan topeng dan sapu tangan pemberian Mariani milik Panji Tengkorak. Dago, yang telah mengetahui kisah legendaris Panji Tengkorak di dunia persilatan, penasaran dan ingin mengembalikan barang-barang itu kepada empunya.

Dari pesan yang ditulis Mariani di sapu tangan itu, Dago tahu bahwa Mariani adalah murid di perguruan Teratai Merah. Dago pun mencari perguruan tersebut dan menemukan Mariani. Dago pun bertanya pada Mariani sekiranya ia tahu dimana Panji sekarang berada. Mariani, yang kini adalah seorang pertapa terpana mengetahui bahwa sapu tangan yang dulu ia berikan masih disimpan oleh Panji, walaupun kini tercecer. Namun Mariani tidak tahu dimana Panji berada. Dago pun pamit dari Perguruan Teratai Merah, dan tiba-tiba saja kabut tebal mengitarinya dan dari balik kabut itu munculah sosok yang dicari-carinya: sang legenda dunia silat: Panji Tengkorak.

Dago langsung menyampaikan maksudnya untuk mengembalikan topeng tengkorak dan sehelai sapu tangan. Ia juga bercerita tentang pertemuannya dengan Mariani. Sampai di sini, untuk mempersingkat tulisan ini, Dago tiba-tiba menasehati Panji Tengkorak untuk kembali pada Mariani. Panji menceritakan mengapa ia tidak bisa melakukannya, dan Dago, dengan sangat klise menyarankan Panji untuk segera menemui Mariani.

Begitulah, akhirnya Panji menemui cinta sejatinya di Perguruan Teratai Merah. Mereka berpelukan mesra, karena rindu yang amat mendalam. Yang menarik, akhir cerita ini tidak ditutup dengan kisah yang terlalu sempurna, karena tiba-tiba munculah guru Mariani yang marah-marah karena harusnya Mariani tidak boleh bertemu dengan Panji karena ia saat iniadalah seorang pertapa.

Seperti saya katakan, walaupun amat penasaran dengan akhir kisah cinta Panji dan Mariani, saya tidak menyangka bahwa kisah cinta mereka akan berkahir dengan sangat klise. Banyak pula celah-celah aneh dalam kisah ini, seperti misalnya kenapa Panji yang sangat tinggi ilmu silatnya bisa kehilangan topeng dan sapu tangannya, atau kenapa Dago tiba-tiba bisa bertemu Panji dengan sangat ajaib. Penyelesaian kisah cinta ini terlalu sederhana dan klise dibanding kisah petualangan Panji sebelumnya yang berliku-liku, rumit namun tetap memiliki alasan rasional.

Entahlah, apakah kisah ini adalah salah satu efek dari metamorfosa komik Panji Tengkorak sebanyak tiga kali, yang ternyata bukan saja berubah dalam cara menggambar tapi juga dari segi penulisan cerita. Mengutip SGA untuk menutup tulisan ini :
“Tak ada lagi pendekar bercaping yang berjalan di lembah sunyi, rimbun dan berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tak ada lagi gerobak eksotik yang berderak lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Juga pertarungan yang artistik dalam siluet hitam membayang. Tak ada lagi drama. Ibarat kata, Panji Tengkorak cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa. Yang tersisa hanya kostum genit dari pertunjukan yang gagal!” ( Sumber )

Senin, 09 Mei 2011

SETAN KOBER

CERITA BONGSO :

Pada masa Brawijaya 1 sampai turun ke 4 tahta selanjutnya, tatkala sir wingit telah merasuki tubuh makhluk hidup dan keseimbangan bathin sudah diambang keumuman, saat itulah kesaktian bentuk ilmu bagian dari kehidupan manusia hingga suatu keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang. Terciptalah zaman di mana manusia dan makhluk tak kasat mata saling berkomunikasi secara bebas. Wahyu ning zaman para Dewa, menjadikan masa kala itu disebut kejawen jawi, yang mengedepankan makna keluhuran bagi umat manusia.

Perjalanan pulau Jawa, sejak zaman sanghiyang Bangau (sebelum masa WaliSongo) seluruh peradaban manusia pada masa itu terbagi menjadi tiga golongan, Manusia, Lelembut, dan Siluman dari bangsa seleman. Dari seluruh golongan ini akhirnya terpecah menjadi dua bagian yaitu, aliran putih dan hitam. Kisah terbaginya golongan ini pada akhirnya mendatangkan peperangan hingga turun sampai ke zaman di mana WaliSongo, dilahirkan.

Tersebutlah nama dari sekian banyaknya para tokoh sakti beraliran hitam kala itu “Setan Kober” sosok setengah siluman yang banyak membawa risalah pertumpahan darah bagi seluruh umat manusia. Setan Kober, nama yang sangat melegendaris bagi seluruh aliran hitam sejak kerajaan Majapahit pertama didirikan. Bercerita tentang ilmu kesaktian, beliau belum pernah terkalahkan oleh siapapun juga pada masa kejayaannya, Setan Kober, telah menunjukkan pada dunia bahwa dirinya pernah menjabat sebagai guru besar tujuh aliran sekaligus selama 473 tahun lamanya.

Di antara tujuh aliran yang dimaksud adalah, bangsa manusia, lelembut dari alam laut, bangsa jin segala penjuru alam, bangsa togog dari zaman purwacarita, bangsa siluman seleman, bangsa perkayang bumi lapis tiga dan bangsa ngahyang.

Asal usul Setan Kober, terlahir dari seorang Banaspati agung di zaman purwacarita sepuluh bernama, Raja Lautan, berasal dari keturunan siluman selemen / bangsa api. Dari hikayat yang ada, Raja Lautan, pernah dikalahkan satu kali dalam hidupnya oleh Nabiyullah Hidir AS, dimasa kejayaan Alexandria Agung. Sebuah kontemplasi yang Misteri lakukan, ternyata Setan Kober, mempunyai tempat tinggal selayaknya manusia pada umumnya, yaitu, di dalam hutan Panji, didaerah perbatasan antara Cibogo, Benda Kerep, dan pemahaman ini pernah juga tersirat dalam bukunya RA, Suladiningrat Kesepuluhan, yang berjudul “Babad Tanah Cirebon”.

Bercerita tentang rumah Setan Kober, hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari tulang belulang binatang dan manusia. Dan dibelakang rumahnya berdiri kokoh satu pendopo yang terbuat dari beraneka tulang macan, kujang, kerbau dan singa. Kesehariannya, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di pendopo untuk mengajarkan beragam ilmu kepada muridnya yang berasal dari beragam golongan dan bila waktu senggang, beliau banyak mengarahkan waktunya untuk menciptakan bilahan keris sakti mandraguna, dan keris buatannya sampai kini masih banyak dimiliki sebagian ahlul bathin.

Seperti halnya gambar keris diatas, keris ini buatan asli tangan Setan Kober, yang beliau berikan pada Pangeran Arya Panangsang, sebelum belaiu terbunuh oleh Jaka Tingkir, dan pada perang gerilya Indonesia, lewat sebuah hawatir akhirnya keris ini diberikan kepada pangeran Diponogoro, dan baru muncul kembali setelah sekian lama menghilang ditahun 2007, kini keris ini masih dilestarikan sebagai sarana derajat dalam pemilihan seorang pemimpin. Di masa raja Jawa, nama Setan Kober, selalu disebut-sebut sebagai orang nomor satu dunia persilatan, beliau kerap menjadi jawara pilih tanding yang banyak dimanfaatkan oleh para raja Jawa sebagai pembunuh bayaran.

Bahkan dimasa Brawijaya ke-5, beliau kerap menjadi ahli strategi perang istana Majapahit, dalam mengalahkan ratusan panglima pilihan seluruh kerajaan yang ada di belahan dunia. Baru namanya surut dan akhirnya ngahyang selamanya, akibat perasaan malu setelah beliau dikalahkan oleh jawara sakti pangeran Suto Wijaya Gebang. Bagaimana kisah ini bisa terjadi ? Inilah simakannya.

Dimasa perang antara Majapahit dan Demak Bintiri, yang pada saat itu rajanya bernama Raden Fatah, dengan dibantukan 101 Waliyullah, dibawah komando panglima besar Sunan Kudus. Tujuh belas tahun, dua kerajaan ini pernah terlibat sengit dan 24 kali mereka bertemu dalam peperangan hebat, 18 kali Majapahit menyerang Demak, dan 6 kali Demak balik menyerang Majapahit.

Wilayah yang pernah menjadi pertumpahan darah antara Majapahit dan Demak Bintoro, diantaranya, Magelang, Sragen, Banyu Wangi, Kudus, Klaten, Tidar, Madura, Lasem, Purwo Rejo, Yogya, Batang, Semarang dan Surabaya. Dengan strategi yang matang, Setan Kober, yang kala itu menjadi bagian kerajaan Majapahit, mulai menyebar aksinya dibeberapa pelosok desa terpencil dengan cara membunuh satu persatu para jawara Islam yang dianggapnya telah berkomplot dengan kerajaan Demak Bintoro.

Bahkan disamping lainnya Setan Kober, mulai menyusun kekuatan dengan mendatangi dedengkot aliran hitam dipenjuru pelosok desa, diantara nama aliran hitam yang pernah bergabung dengannya, Pangeran Tepak Palimanan, Pangeran Telaga Herang, Pangeran Ucuk Umum Banten, Pangeran Lodaya Indramayu, sebelum masuk Islam, Pangeran Samber Nyawa dari daerah Cuci Manah, Pangeran Kebo Kinabrang dari gunung Tangkuban Perahu, Ki Gede Jalu, dari Brebes, Ki Gede Kapetakan, Ki Gede Lewimunding, Ki Gede Tegal Gubug, sebelum masuk Islam, Ki Gede Purba Lanang, siluman air daerah gunung Tidar Jateng, Ki Janggala Wesi, dari siluman seleman, dan lainnya. Pada perang ke 17, kerajaan Islam Jawa, pernah dikalahkan dengan terbunuhnya beberapa Waliyullah, diantaranya Sunan Udung, Sunan Pajang, Sunan Beling, Sunan Persik, Sunan Odong, Sunan Rohmat, Sunan Qoyyim dan Sunan Menjangan atau Pangeran Sambar Nyawa.

Namun dalam sejarah lain menyebutkan, kekalahan Islam pada waktu itu akibat bangsa Waliyullah, tidak semuanya turun ke medan laga dikarenakan mereka sedang berkabung atas wafatnya Sunan Ampel, salah satu WaliSongo, sehingga kala itu para Waliyullah, lebih banyak ta’ziah datang ke daerah Ampel.

Di lain pihak setelah kekalahan Islam mulai menjadi buah bibir dikalangan masyarakat luas, Sunan Gunung Jati, Pangeran WalangSungsang, Sunan KaliJaga, Sunan Kudus dan Sulthan Hasanuddin Banten, mulai merapatkan barisan dengan memilih diantaranya untuk mencari beberapa tokoh aliran hitam. Pada masa itu yang diutus untuk menandingi kesaktian aliran hitam diantaranya, pangeran WalangSungsang atau Mbah Kuwu Cakra Buana, Sunan KaliJaga, pangeran Arya Kemuning, Syeikh Muhyi muda Tasik, Nyaimas Gandasari, Panguragan, Syeikh Suto Wijaya Gebang, pangeran Hasanuddin Banten, Syeikh Sapu Jagat dan Syeikh Magelung Sakti. Lewat mandat Sunan Gunung Jati, mereka bergerak dengan cara terpisah, dan lewat perjalanan panjang selama tujuh tahun lamanya, mereka akhirnya bisa menaklukkan seluruh bangsa aliran hitam.

Namun hal semacam itu bukan berarti mereka mudah menandingi ilmu dedengkot para aliran hitam melainkan butuh perjuangan dan kesiapan matang, sebab dalam menjalankan tugas ini mereka juga pernah dikalahkan sewaktu duel kesaktian bersama dedengkot aliran hitam.

Seperti pangeran Arya Kemuning misalnya, beliau pernah berhadapan dengan dedengkot aliran hitam pangeran Telaga Herang, namun dalam adu kesaktian Arya Kemuning bisa dikalahkan dengan mudah, baru saat perang tanding dengan Syeikh Muhyi muda Tasik, pangeran Telaga Herang, kalah telak dan akhirnya ngahyang sampai sekarang. Juga Nyimas Gandasari, yang kala itu ditugaskan untuk menangkap pangeran Ucuk Umum, beliau kalah dalam adu kesaktian, baru tatkala Mbah Kuwu Cakra Buana, turun ke laga, pangeran Ucuk Umun, bisa dikalahkan dan akhirnya ngahyang selamanya, kisah ini terjadi di pantai Karang Bolong Banten.

Sunan KaliJaga, beliau pernah dikalahkan oleh pangeran Tepak Palimanan, dalam penaklukkan wilayah Cirebon, kekalahan Sunan KaliJaga, akibat campur tangan Prabu Siliwangi, dan baru setelah kedatangan pangeran Arya Kemuning dan Mbah Kuwu Cakra Buana, pangeran Tepak Palimanan, bisa terbunuh dengan kepala terpotong dari raganya, kisah ini terjadi dipuncak bukit Palimanan, yang bernama gunung Tugel. Kembali ke cerita asal, pertempuran antara pangeran Suto Wijaya Gebang, dengan Setan Kober, di daerah hutan Pranji, tidak bisa dihindarkan lagi, kedua musuh bebuyutan ini saling mengerahkan kesaktiannya hingga sampai 40 hari lamanya.

Dalam perkelahian panjang ini akhirnya dimenangkan oleh pangeran Suto Wijaya, sehingga Setan Kober, akhirnya ngahyang dihutan Pranji, selamanya. Kisah terkalahkannya Setan Kober, akhirnya jadi perbincangan orang banyak sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, selaku gurunya sangat khawatir. Pasalnya sejak kejadian itu pangeran Suto Wijaya, diangkat menjadi seorang pemimpin oleh seluruh bangsa gaibiah sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, merasa takut ilmu yang beliau berikan selama ini disalah gunakan oleh murid-muridnya.

Dalam sejarah babad tanah Jawa, ilmu pangeran Suto Wijaya Gebang, satu-satunya Ilmu paling ditakuti oelh seluruh bangsa siluman atau gaibiyah, ilmu yang dimilikinya adalah “Syahadat Majmal” dimana ilmu ini dibacakan maka seluruh gaibiyah yang ada akan mengikuti ucapan kita, bahkan dalam perang tanding melawan Setan Kober, ilmu inilah yang menjadi andalannya hingga Setan Kober sendiri, harus menerima kekalahannya dengan tubuh terbakar.

Dalam kisah lain diceritan, setelah satu tahun Setan Kober, dikalahkan, pangeran Suto Wijaya Gebang, bilau akhirnya dipanggil menghadap Mbah Kuwu Cakra Buana, ‘Andika, bagaimanapun juga dirimu telah menjadi orang yang ditakuti seluruh makhluk tak kasat mata, namun menurutku, jauhkan ilmu itu sehingga antara manusia dengan bangsa gaib ini tetap lestari selamanya, sebab kasian bagi yang lain, dengan adanya ilmu yang andika miliki sekarang, maka seluruh bangsa gaib akan punya batasan tertentu yang menjadikan mereka percaya hanya pada Andika”.

Dengan patuh pangeran Suto Wijaya mengiyakannya, tanda beliau setuju dengan ucapan gurunya. Namun lain sifat lain pula kenyataannya. Ya… Benar juga ucapan Mbah Kuwu Cakra Buana, walau pangeran Suto Wijaya, sudah menerima atas mandat gurunya akan tetapi para muridnya yang berasal dari bangsa siluman dan gaib lainnya, hanya tunduk pada majikannya bukan pada orang lain sehingga walau Mbah Kuwu Cakra Buana, adalah gurunya pangeran Suto Wijaya, dengan cara sembunyi tangan akhirnya mereka tidak menerima pengakuan Mbah Kuwu Cakra Buana, dengan cara menyerang seluruh kerathon Pakung Wati Cirebon.

Dalam hal ini Mbah Kuwu Cakra Buana, tidak tinggal diam, beliau langsung menghadapinya dengan pusaka “Golok Cawang” dan akhirnya seluruh bangsa gaib bisa dikalahkan dengan mudah.

Dengan kejadian ini Mbah Kuwu Cakra Buana, akhirnya menciptakan satu ilmu tandingan yaitu, Qutho Qosot, yang bertajuk: “Syetan, jin, perkayang, dedemit, lelembut dan lainnya akan tunduk atas namaku” ilmu ini pernah Misteri bedarkan pada panduan “Haekal Guru” dan sebelum kisah ini berakhir ada baiknya kita semua tahu bahwa, walau Setan Kober, telah ngahyang selamanya, namun beliau telah mempunyai satu putra sebagai generasi penerusnya yaitu “Banaspati” yang kini masih menjadi prokontra kalayak ahli bathin. Sumber : Click me

VERSI KERIS PUSAKA SETAN KOBER :

Kyai Setan Kober adalah nama keris milik Adipati Jipang, Arya Penangsang. Keris ini dikenakan pada waktu ia perang tanding melawan Sutawijaya.

Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai.

Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya , Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa wilah(an) atau mata keris Kyai Setan Kober langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika.

Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atauronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.

Sumber : Click me too


VERSI KE-ILMUAN = "AJIAN SETAN KOBER"

Ajian ini jika keampuhannya dengan ajian pemikat wanita lainnya tidak kalah ampuh. Wanita yang terkena ajian ini cintanya sangat menggebu-gebu sehingga orang bilang seperti orang gila. Dan konon yang terkena ajian ini akan sulit disembuhkan.


Lelakunya :

Puasa mutih 7 hari 7 malam, patigeni sehari semalam, mulai puasa pada hari
Senin Kliwon, ajian dibaca tiap malam ketika akan tidur.

Manteranya :

INGSUN AMATAK AJIKU SI SETAN KOER, SETAN KOBER SIRO INGSUN KONGKON
LEBONONO ATINE SI JABANG BAYINE ............... (sebutkan nama orangnya),
YEN KETEMU TURU GUGAHEN, KETEMU TURON LUNGGUHNO, KETEMU LUNGGUH DEGNO, KETEMU NGADEG PRENEKNO KETEMU INGSUN, OJO PATI-PATI MULIH YEN ORA BARENG KARO KEKAKSIH INGSUN, TEKO WELAS TEKO ASIH SIJABANG BAYI ...............(sebutkan nama orangnya) MARANG INGSUN

(Sumber : Clik me)