KUNJUNGAN KE :

Jumat, 05 Maret 2010

KARIKATUR CERITO WAYANG SERI SONGO


Episode : Dendam Perempuan, Waspadalah!
Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
Minggu, 27 September 2009



Semar lari ngos-ngosan di padepokannya, Klampis Ireng. Ketua umum Partai Panakawan Seluruh Indonesia itu sampai bablas ke padepokannya yang lain, Karang Kadempel. Usut punya usut, gara-garanya sepele. Dia tidak mau disembah istrinya, Dewi Kanastren. Itu saja. Jadi pas Lebaran kemarin, Semar sedang duduk sambil makan tape ketan. Begitu keng garwo jongkok mau nyungslep di antara kedua lutut Semar, pada saat itulah ia ngacir sembari nangis.

Padahal apa kurang enaknya disembah. Dijuluki ''Paduka Yang Mulia'' saja wis seneng kok. Apalagi disembah. Sama saja dijuluki ''Bapak Pembangunan'' saja sudah hepi kok. Opo maneh disungkemi. Awalnya Soekarno itu cuma dipanggil ''Bung'', podo karo Bung Tomo. Lama-lama ya...itulah...''Paduka Yang Mulia''.

Sekarang zaman-e apa sudah beda dengan zaman ''Bapak Pembangunan'' HM. Soeharto? Alah Reeeek, Rek, eling waktu musim kampanye kemarin...Pas debat presiden aku wis seneng moderator manggil ''Saudara'' ke para calon presiden.

Tenan aku seneng. Panggilan ''Saudara'' itu kan podo karo sapaan ''Cak'' nduk Jawa Timur. Penuh semangat kesejajaran. Apalagi katanya sekarang zaman serbasusah. Kanggo mrantasi seluruh problem tambah diperlukan lagi kebersamaan rakyat dan pemimpin. Persis waktu Bung Tomo dulu memimpin arek-arek Suroboyo ngadepi musuh. Pemimpin cuma diceluk ''Bung''.

Eh, di putaran berikutnya debat calon presiden itu moderator sudah nggak boleh lagi panggil ''Saudara'' ke para calon presiden. Moderator harus panggil ''Bapak'' atau ''Ibu''. Kesimpulannya, wolak-waliking zaman orang sekarang seneng kok diluhurkan. Apalagi disembah-sembah. Lha kok sekarang Semar malah lari meninggalkan Dewi Kanastren yang masih dalam posisi sungkem bagai patung di bekas kursi Semar. Manohara masih mending, ucapan met Lebarannya gak direken karo bojone. Ini sungkem ditinggal.

''Lho, Reng, Gareng, awake dewe kan podo-podo manungso... Aku ini bukan dewa. Aku misal-e ndak punya kuasa untuk bagi-bagi uang dan makanan Lebaran sambil ngguya-ngguyu mandang korban yang desel-deselan. Bathara Ismaya memang dewa, Reng, Gareng, tapi aku sekarang sedang tidak jadi Bathara Ismaya, aku sedang jadi Semar,'' katanya kepada anak sulungnya itu ambe' napas-e Senin-Kemis. Maklum jogging cukup jauh dari Klampis Ireng ke Karang Kadempel, yo kiro-kiro Kenjeran nang Rungkut.

Hong wilaheng lalu seperti biasa Gareng mulai berpikir keras. Kenapa kok bodo ini Semar ndak mau disembah istrinya. Kalau Bagong malah seneng banget Semar dleweran keringet. Bungsu Semar ini memang nggak mau mikir berat-berat. Tapi dia selalu mikir positif. ''Biar Romo sehat,'' katanya. ''Sudah lama Romo tidak pernah lari pagi. Asam uratnya sering kambuh. Kolesterolnya makin tinggi.''

Petruk juga masih seperti tabiatnya semula. Anak kedua Semar ini nggak terlalu percaya ke hampir semua hal. Hampir semua hal oleh Kantong Bolong alias ''Masuk Telinga Kiri Keluar Telinga Kanan'' ini cuma ditertawakan. Katanya sambil mesam-mesem, ''Kalau bener asam urat itu bahaya, pohon melinjo pasti wis mati bongko kabeh. Cumi-cumi pasti kaku-kaku linu-linu terus matek. Apalagi kambing. Bayangkan wedus itu seluruh badannya ya kolesterol kabeh, tapi masih pencilakan lari mrono-mrene. Buntutnya juga megal-megol terus. Ndak ada capeknya. Baru anteng kalau sudah jadi sate.''

Hong wilaheng tapi dasar Gareng. Mau Bagong dan Petruk ikut terlibat dalam perenungannya atau tidak, Cakrawangsa alias ''Pengikat Seluruh Keluarga'' ini ndak peduli. Gareng alias Pancal Pamor tetap berpikir, kenapa kok bapaknya, Badranaya, Lebaran sekarang tak mau disembah lagi oleh istrinya. Padahal riayan-riayan dulu beliau pringas-pringis mbagusi kesenengen kalau disembah sang belahan jiwa.

Jangan-jangan, pikir Gareng, si Badranaya alias Nayantaka ini sudah punya selingkuhan. Nah lantaran berselingkuh, lantaran merasa bersalah, beliau tidak kuasa menerima sembah dari istrinya. Gareng mulai meneliti kira-kira siapa saja perempuan yang menjadi tipe atau idola Semar di seluruh negeri.

Gareng browsing pusaka kiai internet. Ternyata terkumpul 67 perempuan suspect selingkuhan. Mereka terdiri atas murid-murid spiritual Semar. Wah, guru juga bisa sir-siran karo murid? Lhooo yok opo se Rek. Percintaan guru dan murid bukan hal tabu dalam sejarah. Umpama-ne Arjuna jatuh cinta mbare' murid manahnya, Srikandi, atau mbare' murid manahnya yang lain yang lebih mahir ketimbang Srikandi tapi kalah ngetop, yaitu Dewi Larasati, sing terus jadi istrinya yang ke-41.

Dan, dari browsing pusaka kanjeng internet itu Gareng juga memperoleh 126 perempuan remaja seusia Shireen Sungkar dan Asmiranda berpotensi jadi pacar gelap Semar. Emang daun-daun muda usia SMA itu mau ngladeni orang bangkotan kayak Semar? Lho, kata Gareng, menyitir teori para psikolog, justru orang-orang tua seusia Semar itu didambakan. Untuk urusan olah asmara wuaah mereka teramat didambakan dalam hal after play.

Ketahuilah, kata Gareng, bahwa sesungguhnya setelah mencapai puncak, perempuan itu turun seperti gunung yang landai. Tidak seperti lelaki yang turunnya terjal. Perempuan harus terus ditemani pelan-pelan turun. Hanya orang-orang tua seperti Semar yang telaten mendampingi dan membimbing perempuan itu turun perlahan-lahan. Laki-laki muda seusia Rezky Aditya hanya menggebu-gebu pas foreplay. Tapi setelah tercapai puncak, mere­ka langsung bablas ngorok.

Itulah spekulasi Gareng.

Padahal, yang sejatinya terjadi, Semar tak punya selingkuhan. Gareng terlalu ngombro-ombro. Yang sejatinya terjadi, pas Dewi Kanastren nyembah Semar, kontan Semar teringat lakon Dewi Amba dari Kerajaan Kasi. Semar teringat, Oooo...perempuan kalau sudah punya dendam susah hilang meskipun raganya tampak meminta maaf bahkan menyembah.

Alkisah Kerajaan Kasi nggawe sayembara perang. Barang siapa unggul akan dianugerahi putri Kerajaan Kasi alias Giyantipura. Pemenangnya Dewabrata yang kelak terkenal bernama Bisma. Tapi setelah menang sayembara, Dewabrata yang sakti ingat akan sumpah wadatnya alias tidak akan pernah menikah sepanjang hayat. Maka batallah ia menikahi Amba malah menikahkan Amba pada orang lain.

Amba misuh-misuh. Fasih dan ceplas-ceplos sekali perempuan cantik ini mengumpat meski bukan asli Jawa Timur. Oooo bertapalah ia sampai mati. Hanya satu tujuannya, Ooo...kelak harus sanggup membunuh Bisma, perwira sekaligus brahmana dari Talkanda yang kesaktiannya tanpa tanding. Senopati Pandawa, Srikandi, sebenarnya tak akan sanggup membunuh senopati Kurawa itu jika di medan laga Kuru Setra roh Srikandi tidak disusupi oleh arwah Dewi Amba.

Tapi, Oooo...sik sik, Rek, apakah dendam Dewi Kanastren pada suaminya, Semar? Biarlah itu menjadi urusan Gareng yang bia­sanya mengatasi masalah dengan masalah. Biarlah Gareng berpendapat, setiap istri pasti punya dendam pada suaminya. Dalam perkara ruwet seperti ini, kita mikir yang enteng-enteng saja, mBagongi dan Metruki sajalah...

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com