KUNJUNGAN KE :

Senin, 06 Desember 2010

JOKO TINGKIR


CERITO BONGSO :

Jaka Tingkir adalah putra dari Ki Ageng Pengging. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia Jaka Tingkir yang bernama kecil Mas Karebet tinggal seorang diri dan diasuh oleh sanak-saudaranya. Setelah besar, Mas Karebet dibawa oleh janda Ki Ageng Tingkir (kakak dari ayah Karebet) pergi dari Pengging untuk diboyong ke Tingkir dan diangkat sebagai anak.

Setelah berada di desa Tingkir, Mas Karebet terkenal dengan nama Ki Jaka Tingkir. Dia gemar pergi ke hutan, gunung atau gua-gua untuk bertapa. Semakin dewasa Ki Jaka Tingkir tampak lebih tampan. Banyak wanita terpikat ketampanan Jaka Tingkir. Sementara Jaka Tingkir sendiri belum memikirkan masalah percintaan dan lebih senang bertapa di tempat yang sepi. Namun Nyi Ageng Tingkir menasehati putranya agar tidak pergi bertapa ke gunung atau semacamnya karena mengarah pada kekafiran dan memintanya untuk berguru pada mukmin.

Pada suatu hari Jaka Tingkir bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga berkata bahwa kelak Jaka Tingkir akan menjadi raja. Sebagai calon raja, dia disuruh belajar mengaji dan menghamba kepada Sultan Demak (Sultan Trenggana). Setelah sampai di rumah, Jaka Tingkir menyampaikan pertemuannya dengan Sunan Kalijaga kepada ibunya. Atas nasehat ibunya, Jaka Tingkir pergi ke Kembanglampir untuk berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menerima Jaka Tingkir menjadi muridnya dengan senang hati, serta mengenalkannya dengan Pemanahan dan Penjawi, putra Ki Ageng Sela. Ketiganya belajar tentang ilmu sufi, ilmu keprajuritan dan ilmu tata pemerintahan.

Setelah ilmu yang mereka dapatkan sudah cukup, Sunan Kalijaga mempersilahkan mereka pulang. Ki Jaka Tingkir menceritakan hasil kepergiannya kepada Nyi Ageng Tingkir, ibunya itu kemudian menyarankannya untuk segera menghamba kepada Demak, dan sesampainya di Demak disuruh menghadap Tumenggung Suranata. Jaka Tingkir menemui Ki Ageng Ngenis untuk minta doa restu. Dia diangkat menjadi anak oleh Ki Ageng Ngenis, dan diberi pelajaran mengenai ilmu sufi dan pemerintahan. Setelah itu Jaka Tingkir berangkat pergi ke Demak.

Setibanya di Demak Jaka Tingkir menemui Kyai Gandamestaka. Dengan senang hati Kyai Gandamestaka bersedia mengaku Jaka Tingkir sebagai anaknya. Jaka Tingkir sangat tekun belajar mengaji di masjid Suranatan. Masjid itu terletak di sebelah utara keraton. Pekerjaan Tumenggung Suranata melayani Sultan Demak apabila akan bersembahyang di masjid itu. Sebab ada aturan bilamana Sultan Demak hadir di masjid, semua anak tidak diperbolehkan mendekati masjid.

Keluarga Tumenggung Suranata bersiap-siap menyambut kedatangan Sultan Demak. Semua anak yang berada di sekitar masjid disuruh pergi. Gandamestaka menyuruh Jaka Tingkir pergi, tetapi Jaka Tingkir tetap duduk di serambi masjid karena keinginannya melihat Sultan Demak. Gandamestaka mengusirnya lagi, dengan sekali lompat ke belakang, Jaka Tingkir sudah berada di seberang kolam tempat anak-anak lain berkumpul. Pada waktu itu Sultan Demak sudah hadir di masjid. Secara kebetulan Sultan Demak melihat ketangkasan melompat Jaka Tingkir. Ia terpikat ketangkasan dan keterampilan Jaka Tingkir. Atas izin Gandamestaka, Jaka Tingkir diambil anak angkat oleh Sultan Demak.

Ki Jaka tingkir dinobatkan menjadi putra angkat Sultan Demak. Ia dapat keluar masuk keraton dan bergaul dengan para putri Sultan Demak. Pada suatu hari Sultan Demak dan Jaka Tingkir berjalan di hutan, sedangkan semua putra dan istrinya merupakan satu rombongan yang berjalan di belakang. Jaka Tingkir mampu membinasakan seekor harimau yang menyerang Sultan Demak. Selain itu saat menyusuri sungai dengan perahu, Jaka Tingkir mampu mampu menangkap buaya yang menyerang Sultan Demak. Hal tersebut membuat Sultan Demak semakin sayang kepada Jaka Tingkir. Atas dasar jasa, keberanian, dan kesaktiannya itu maka Jaka Tingkir dinobatkan menjadi panglima yang membawahi empat ratus orang prajurit dan mendapat hadiah sebidang tanah. Gelarnya adalah Raden Lurah Jaka Tingkir.

Sultan Demak berkeinginan memilih rakyatnya untuk diangkat menjadi prajurit. Orang yang ingin menjadi prajurit diuji terlebih dahulu, dengan cara diadu dengan seekor banteng. Siapa yang mampu membinasakan banteng itu dengan tangan kosong, ujiannya lulus dan diterima menjadi prajurit. Walaupun anak buah Jaka Tingkir terdiri dari orang-orang sakti, diantara mereka banyak yang akan diganti yang lebih muda dan sakti. Di desa Kedung Pingit ada seoerang jagoan bernama Dadungwuk yang pergi ke Demak untuk mengikuti sayembara. Jaka tingkir ingin menguji kesaktian Dadungwuk. Dalam perkelahian itu Dadungwuk terbunuh oleh Jaka Tingkir.orang-orang yang melihat kejadian itu langsung terkejut. Perbuatan Jaka Tingkir dianggap semena-mena sebab membunuh orang yang tidak berdosa. Sultan Demak menjadi murka setelah mengetahui peristiwa tersebut. Jaka Tingkir akhirnya dihukum dengan cara diusir dari Demak dan kedudukan yang sudah dihadiahkan oleh Sultan Demak dicabut.

Hal tersebut membuat Jaka Tingkir menjadi sedih. Dia memutuskan untuk prig ke hutan dan tidak pulang ke Tingkir sebab dia merasa perbuatannya dapat merendahkan Nyi Ageng Tingkir. Samapi malam hari ia tidak meninggalkan hutan dan tidur di atas sebatang pohon. Tiba-tiba bertiup angin yang cukup kencang. Semua pohon porak-poranda dihempas angin ribut. Pada pagi harinya Jaka Tingkir meneruskan perjalanan dan tiba di gunung Kendeng. Jaka Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Butuh dan diajak pulang ke desa Butuh.

Ki Ageng Butuh dan saudaranya, Ki Ageng Ngerang mengambil Jaka Tingkir sebagai anak mereka. Mereka memberikan pelajaran tentang ilmu kesaktiaan, ilmu keprajuritan, dan ilmu tata pemerintahan kepada Jaka Tingkir. Orang-orang di desa Butuh lebih senang memanggil Jaka Tingkir dengan sebutan Raden Pancadarma.

Selama tinggal di Butuh, Jaka Tingkir selalu mendapat nasihat Ki Ageng Butuh. Ia disuruh pergi ke Demak menemui teman-temannya. Kalau Sultan Demak tidak menanyakan kepergiaanya, Jaka Tingkir disuruh pulang ke Pengging. Jaka ingkir menemui teman-temannya di Demak pada malam hari. Ia mendapat informasi bahwa selama kepergiannya, Sultan Demak tidak pernah menanyakan. Oleh karena itu, Jaka Tingkir meminta temannya agar bersedia mengantarnya pulang.

Pada suatu hari Jaka Tingkir berkunjung ke Pengging. Ia bersemedi di makam ayahnya selama tiga hari. Berdasarkan ilham yang diterima, ia pergi berguru kepada Ki Buyut Banyubiru. Sementara itu, seorang keturunan Brawijaya yang bernama Permanca, diambil anak angkat oleh Ki Ageng Buyut Banyubiru. Ki Ageng Buyut Banyubiru mempunyai dua orang saudara Ki Majasta dan Ki Wragil. Ki Majasta mempunyai anak laki-laki bernama Jaka Wila.

Jaka Tingkir berguru kepada Ki Buyut Banyubiru selama tiga tahun. Ia banyak mendapat pelajaran tentang ilmu keprajuritan dan ilmu pemerintahan. Ki Buyut Banyubiru menyuruh Jaka Tingkir pergi ke Demak lagi. Permanca, Jaka Wila dan Ki Wragil disuruh ikut Ki Jaka Tingkir. Ki Buyut Banyubiru menasehati mereka bahwa nanti di Demak aka nada seekor banteng mengamuk dan yang dapat membinasakan hanya Jaka Tingkir. Dengan demikian ia akan diampuni oleh Sultan Demak.

Setibanya di Majasta, Jaka Tingkir, Permanca, Jaka Wila dan Ki Wragil singgah selama tiga hari. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menyusuri bengawan dengan sebuah rakit. Mereka diganggu oleh raja roh penjaga bengawan bernama Baureksa bersama prajuritnya. Mereka dapat mengalahkannya. Prajurit Baureksa yang terdiri dari ratusan buaya menjadi pengikut Jaka Tingkir.

Pada suatu malam, Ki Ageng Butuh melihat wahyu kraton turun ke bumi. Ia pergi menyusuri bengawan dan tidak sengaja bertemu dengan Jaka Tingkir bersama saudaranya. Mereka singgah di tempat Ki Ageng Butuh, sesudah mendapat berbagai nasihat, mereka disuruh melanjutkan perjalanan senyampang Sultan Demak sedang berburu.

Ki Buyut Banyubiru berada di bukit Prawata. Ia bertemu seekor banteng kemudian ia memasukkan segumpal tanah ke lubang telinga kiri banteng itu. Seketika itu banteng terperanjat dan tampak liar. Banteng itu tiba-tiba lari menuruni lereng bukit. Di Pasanggrahan Sultan Demak, banteng itu mengamuk sehingga banyak orang yang mati. Tak seorangpun mampu membinasakannya.

Jaka Tingkir mengetahui bahwa yang membuat banteng itu marah adalah Ki Buyut Banyubiru. Mereka keluar dari peersembunyian dan mendekati pesanggrahan. Dalam kesempatan itu, Jaka Tingkir dan kawan-kawannya menampakkan diri. Sultan Demak mengetahui bahwa Jaka Tingkir berada diantara rakyatnya yang sedang melihat amukan banteng itu. Atas perintah raja, Jaka Tingkir disuruh membinasakan banteng itu. Bilamana ia mampu membunuh banteng itu, Jaka Tingkir akan mendapat pengampunan, dianugrahi kedudukan dan putri raja.

Terjadilah perang yang sangat ramai antara Jaka Tingkir vs banteng. Dada Jaka Tingkir tertanduk sehingga ia tidak sadarkan diri. Setelah sadar kembali, ia teringat pesan Ki Buyut Banyubiru. Kepala banteng itu dipegang erat-erat oleh Jaka Tingkir. Segumpal tanah yang berada di lubang telinga kiri dikeluarkannya, kemudian ia menghantam kepala banteng itu, dan banteng itu akhirnya pun mati.

Melihat kemenangan Jaka Tingkir, Sultan Demak menjadi lega dan merasa gembira. Kemudian ia menganugerahi Jaka Tingkir seperti apa yang dijanjikannya. Setelah upacara pemberian hadiah selesai, raja beserta pengiringnya pulang ke Demak. Putrid bungsunya dianugrahkan kepada Jaka Tingkir. Selain itu Jaka Tingkir dinobatkan menjadi raja yang berkedudukan di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya atau dikenal dengan Sultan Pajang.

Sultan Demak meninggal dunia pada tahun 1503 (tri lunga manca bumi) setelah memerintah selama empat puluh tahun. Ia dimakamkan di sebelah barat masjid. Sultan Pajang naik tahta pada tahun 1503 juga. Atas persetujuan sultan dan Ratu Kalinyamat, semua pusaka Demak diboyong ke Pajang.

Sultan Pajang mengangkat Permanca sebagai patih dengan gelar Pangeran Pancakesuma. Ki Wragil diangkat menjadi bupati dengan gelar Ki Wragil Sencaraga. Jaka Wila diangkat menjadi bupati dengan gelar Ki Wilamarta. Semua gurunya dihormati, Pemanahan, Penjawi dan Jurumertani menghamba di Pajang. Ketiga anak Pemanahan disayangi oleh Sultan Pajang.

Pemberontakan Pangeran Harya Penangsang terhadap Pajang. Dia membunuh ipar Sultan Pajang, Sunan Prawata dan istrinya pada tahun 1436 (bah ring welut catu nabi). Selanjutnya Harya Penangsang ingin membunuh Sultan Pajang. Pada suatu hari Harya Penangsang bersama semua prajuritnya pergi ke Kudus. Ia memohon Sunan Kudus agar memanggil Sultan Pajang sebab ia ingin bertemu dengannya. Sunan Kudus mengabulkan permintaan tersebut. Sultan Pajang, Pemanahan dan Penjawi pergi ke Kudus memenuhi panggilan gurunya. Setibanya di Kudus, mereka ditemui oleh Harya Penangsang.

Ketegangan antara Pajang vs Harya Penangsang makin menjadi. Terjadi perseteruan yang menimbulkan peperangan di antara dua kubu yang berlawanan tersebut. Harya Penangsang tertusuk tombak Kyai Plered oleh Raden Ngabehi Loring Pasar, putra angkat Sultan Pajang. Walau ususnya sudah keluar, Harya Penangsang belum meninggal. Namun akhirnya ia dapat dibunuh juga oleh Raden Ngabehi Loring Pasar. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1504 (karya nir manca bumi).

Sunan giri mengadakan persiapan penjemputan terhadap sultan. Adipati Surabaya, adipati Magetan, adipati Panaraga, adipati Pati dan adipati Madiun sudah hadir di Giripura. Tidak berapa lama Sultan Pajang hadir. Sultan dinobatkan oleh Sunan Giri menjadi raja yang menguasai Pulau Jawa. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1450 (sirna astra warna prabu).

Sumber : Babad Demak 2

Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta . 1981