KUNJUNGAN KE :

Minggu, 17 April 2011

ASAL-USUL BETARA KALA

Cerita Wayang Singkat :


Betara Kala seorang Dewa, putra Betara Guru dan dilahirkan ditengah samudera.

Betara Kala dilahirkan berupa api berkobar-kobar yang tak dapat dipadamkan. Segenap Dewa menggunakan kesaktian mereka untuk memadamkan api itu, tetapi sia-sia belaka. Segala senjata yang ditujukan pada Betara Kala, merasuk ke dalam jiwanya dan semakin menambah sakti Dewa itu. Kemudian api berobah menjadi raksasa yang tak terhingga besarnya dan naiklah raksasa itu ke Suralaya (kerajaan Dewa) untuk menanyakan, siapa bapaknya.

Oleh karena Betara Guru merasa kuwatir akan terjadnya bencana lebih besar, ia pun mengaku, bahwa raksasa itu adalah putranya. Kemudian Betara Guru menghilangi kesaktian Betara Kala dengan mencabut kedua caling putranya itu. Kedua caling ini dijadikan keris dan akhirnya menjadi senjata Pendawa. Itulah sebabnya mengapa peribahasa Jawa mengatakan tentang mengadu caling Betara Kala, kalau seseorang menggunakan senjata keris.

Sesudah raksasa itu diakui putra oleh Betara Guru, diberilah ia nama Kala dengan gelar Betara yang berarti Dewa, dititahkan untuk bertempat tinggal di Nusakambangan dan kemudian beristrikan Betari Durga.

Oleh Betara Guru, Betara Kala diberi kekuasaan di dunia ini untuk mengambil manusia sebagai mangsanya, tetapi manusia yang akan dijadikan mangsa harus memenuhi syarat-syarat tertentu dan pengambilan mangsanya pun tak boleh menyalahi pantangan-pantangan Dewa.

Menurut kepercayaan, dunia ini penuh larangan dan pantangan. Pokok dari segala itu tak lain ialah supaya orang jangan rnenyakiti sesama hidup secara badaniah dan batiniah dan supaya orang menajankan kebajikan terhadap sesama hidup.

Betari Uma pun mengizinkan seseorang untuk dijadikan mangsa Betara Kala, kalau orang itu misalnya melanggar pantangan-pantangan berikut:

1. Merebahkan dandang pada waktu menanak nasi;

2. Mematahkan batu pipisan;

3. Memecahkan landasan pipisan;

4. Membikin pagar, sebelum rumah jadi; dan lain-lain.

Untuk menghalang-halangi datangnya Betara Kala, para Dewa telah menganugerahkan kepada manusia sejumlah rafal dengan mengucapkan tulisan yang terdapat pada tubuh Betara Kala, pengucapan mana dapat melemahkan kesaktian Betara Kala.

Bunyi tulisan itu adalah sebagai berikut:

Yamaraja jaramaya, jamarani rinumaja, yasiraya yarasia yasirapa parasia lawagna lawagni, sikutara sikutari, sikutaka si bintaki, sidurbala sidurbali, si rumaya si rumayi, si hudaya si hudayi, si srimaya gedah maya, si dayudi si dayuda, hadayudi nihudaya

Betara Kala bermata plelengan, berhidung bentuk haluan perahu bermulut ngablak (terbuka). Berjamang dengan garuda membelakang, bersongkok Dewa, berambut terurai, berbulu di dada hanya tangan depan yang bergerak, berpakaian kerajaan raksasa.

Menurut kepercayaan orang Jawa, dilakukan juga upacara meruwat dengan memainkan lakon wayang Murwakala.

Caranya adalah sebagai berikut: Lakon dimainkan waktu sore hingga tamat ceritanya. Menjelang pagi disambungkan cerita yang mengkisahkan tentang seorang anak yang dikejar kejar dan akan dimakan Betara Kala. Tetapi Betara Kala bisa ditipu dengan makanan biasa dan ia pun menerima ganti itu. Di waktu menyantap hidangan yang disajikan, hal tersebut diperlihatkan dengan menyuapi nasi wayang Betara Kala.

Sesudah habis gangguan Betara Kala itu, maka anak yang diruwat dianggap telah terlepas dan mara bahaya. Kemudian anak yang diruwat memasukkan uang ke dalam paso berisi air kembang, perbuatan mana diikuti oleh para penonton yang juga ingin minta berkah.

Waktu

Oleh orang Jawa Tengah, hajat meruwat dalam banyak hal dilakukan secara besar-besaran, Jaman dulu banyak sekali terdapat alasan bagi seseorang untuk melaksanakan hajat meruwat dan orang pun belum merasa puas, kalau hajat itu belum dilakukan

Alasan untuk mengadakan ruwatan berbagai macam, antara lain bisa juga karena merobohkan dandang sewaktu menanak nasi, karena mematahkan anak batu giling sebuah pipisan dan lain-lain.

Oleh karena pantangan banyak sekali macamnya maka sebagai kiasan dapat dikatakan, bahwa harus berhati hatilah orang selalu, agar jangan sampai berbuat salah.


Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982