KUNJUNGAN KE :

Minggu, 26 Desember 2010

SUN GO KHONG OPO SUN GO KONG ...??


LEGENDARIS :

Sak iki ayo konco podho maos cerita'ne Anoman'ne bongso Cino. Nopo sami = podho karo ceritane kethek sakti sing wonten = onok menyang dunia pewayangan kuwi. Bilih mbok menawi wonten kemiripan lelakon utawi cerito ? Opo bener kethek (munyuk) kuwi iku dadi cikal-bakal'le mbah'e menungso koyok teorine Charles Darwin ? Kok sak'ben legenda kok mesti onok kethek = munyuk sing di-dadek'no maskot...

Menjawab pertanyaan satu teman di sini, saya akan berusaha menyajikan informasi dari sudut budaya sastra. Bila ada teman yang dapat menambah dari aspek agama atau kepercayaan dipersilahkan sekali. Mohon koreksinya bila ada yang salah pada rangkuman saya di bawah.

Sun Go Kong adalah salah satu tokoh utama dalam salah satu novel klasik Tiongkok “Shi You Ji” “Perjalanan ke Barat” karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang kemudian populer selama berabad2 lamanya baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Dalam novelnya itu, Wu terlihat lebih menekankan tokoh Sun Go Kong daripada tokoh sejarah asli Pendeta Xuan Zang (Tang San-zhang/Tong Sam-Cong) dapat dilihat dari penokohan Pendeta Tong sebagai seorang yang baik hati namun lemah. Padahal dalam sejarahnya, Pendeta Tong mengadakan ekspedisi sendirian yang dapat membuktikan ketegarannya. Walaupun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang teman bernama Shih Pan Tuo, namun ia kemudian melarikan diri ketika mereka menemui kesulitan.

Kesulitan yang dimaksud adalah perampokan oleh bandit2 di tengah jalan. Saya di suatu kesempatan menyimak tayangan tentang Pendeta Tong di channel Discovery. Oleh Discovery, Pendeta Tong difilmkan sedang dikejar2 oleh para bandit berparas Turkistan (Asia Tengah) sebelum akhirnya sampai ke India dalam satu penggal cerita.

Riwayat Sun Go Kong secara sekilas adalah tinggi badan 1.33 meter, pada umur 320 tahun ia menuju Gunung Hua Guo, menjadi dewa dengan gelar “Qi Tian Da Sheng” pada umur 357 tahun. 180 tahun kemudian, karena suka membangkang, ia dihukum ditimpa di bawah Gunung Wu Sing selama 500 tahun. Setelah itu, ia berguru kepada Pendeta Tong dan menjalankan perintah untuk mengawal Pendeta Tong mengambil kitab suci ke India. Ia dikisahkan adalah perwujudan dari sebuah kera batu.

Dalam perkembangannya, karena Sun Go Kong terkenal akan kesaktiannya, muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul “Gu Yue Du Jing“, ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha.

Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.

Akhirnya giliran saya mengemukakan pendapat pribadi. Menurut saya, walaupun Ramayana adalah cerita lebih awal daripada Shi You Ji, namun mengatakan Sun Go Kong adalah sama dengan Hanoman adalah suatu pendapat yang tidak seluruhnya benar. Kepopuleran Ramayana yang merupakan legenda agama Hindu di Tiongkok juga tidak terbukti karena agama Hindu tidak pernah menyebar ke Tiongkok seperti halnya di Indonesia.

Sun Go Kong juga bukan ciptaan dari Wu sebenarnya, karena di masa sebelumnya, Dinasti Song Selatan, telah ada dikisahkan Sun Go Kong dalam buku “Da Tang San Zang Qu Jing Shi Hua“. Bila tetap harus mengatakan Sun adalah Hanoman, maka darimana pula munculnya tokoh Zhu Ba Jie (Ti Pat Khai)? Wu adalah seorang sastrawan dan seorang sastrawan selalu berkarya berdasarkan ilham yang muncul waktu itu.

Akhirnya, terserah kepada pribadi masing2 untuk lebih condong ke pendapat mana karena itu merupakan kemerdekaan masing2 individu.

CERITA SELENGKAPNYA :

Sun Go Kong (Hanzi tradisional: 孫悟空; bahasa Tionghoa: 孙悟空; Pinyin: Sūn Wùkōng; Wade-Giles: Sun Wu-k'ung) adalah tokoh utama dalam novel Perjalanan ke Barat. Dalam novel ini, ia menemani pendeta Tong dalam perjalanannya. Sun Go Kong dalam bahasa Vietnam adalah Ton Ngo Khong, dalam bahasa Jepang adalah Son Gokū, dan dalam bahasa Thai adalah Sun Ngokong.

Sun Go Kong amat gagah , senang sekali mengangkat tongkat sakti Ruyi Jingu Bang yang beratnya 13,500 kati (8,100 kg). Sun Go Kong ialah seorang pejuang mahir yang mampu melawan panglima-panglima hebat di kayangan. Dia juga menghafal berbagai mantra untuk menghembuskan angin, membelah air, menyulap lingkaran lindungan dari ancaman setan.

Kelahiran dan kehidupan awal

Dilahirkan di Huāguǒ-shān (Cina: 花果山; Gunung Bunga-bunga dan Buah-buahan) daripada seketul batu mitos yang terbentuk oleh daya asal kecamukan, Wukong menyertai sekaum monyet dan kemudian dihormati kerana menemui Shuǐlián-dòng (Cina: 水帘洞; Gua Tabir Air) di belakang sebuah air terjun raksasa. Monyet-monyet yang lain menganugerahinya sebagai raja, dengan Wukong menggelar diri sebagai Měi Hóuwáng (Raja Monyet Kacak).

Menyedari bahawa dia masih akan mengalami kematian, walaupun kuasanya ke atas monyet-monyet yang lain, dia berazam untuk mencapai keabadian. Wukong berkelana dengan rakit ke tanah-tanah yang beradab lalu menemui dan menjadi pengikut Bodhi, salah satu bapa Buddhisme/Taoisme. Menerusi penjelajahannya, Wukong juga memperoleh pertuturan dan tingkah laku manusia.

Pada mula-mulanya, Bodhi enggan menerima Wukong sebagai pengikut kerana Wukong bukannya manusia. Bagaimanapun, kegigihan dan ketabahan Wukong kemudian menyebabknya tertarik kepada monyet itu. Adalah daripada Bodhi bahawa Wukong menerima nama rasminya, Sun Wukong ("Sun" membayangkan keasalan monyet, dan "Wukong" membawa pengertian sedar akan kekosongan). Tidak lama kemudian, minat dan kecerdasan Wukong menjadikannya salah satu pengikut kesayangan Bodhi. Justera, Bodhi membimbing dan melatihnya sebilangan perbuatan sakti dan Wukong memperoleh kuasa penganjakan bentuk yang dikenali sebagai "72 perubahan". Kemahiran itu yang dikatakan lebih serba boleh dan lebih sukar membenarkan pemiliknya bertukar kepada setiap bentuk kewujudan yang mungkin, termasuk manusia dan barang. Wukong juga belajar perjalanan awan, termasuk teknik Jīndǒuyún (balik kuang awan) yang dapat mencapai 108,000 li (54,000 km) menerusi satu balik kuang. Tambahan lagi, dia juga berupaya mengubah setiap 84,000 bulunya menjadi barang dan makhluk, malahan mengklonkan diri sendiri. Wukong kemudian berasa terlalu angkuh kerana keupayaannya dan mula bercakap berdegar-degar kepada para pengikut yang lain. Ini mengakibatkan Bodhi tidak gembira serta pengusirannya dari kuil Bodhi. Sebelum mereka berpisah, Bodhi mengarahkan Wukong supaya berjanji tidak akan memberitahu sesiapa pun tentang bagaimana dia mendapatkan kuasa tersebut.

Di Huāguǒ-shān, Wukong memantapkan kedudukannya sebagai salah satu syaitan yang paling berkuasa dan terpengaruh di dunia. Untuk mencari senjata yang sesuai, dia menjelajah ke lautan dan memperoleh tongkat Ruyi Jingu Bang. Tongkat itu berupaya mengubah saiz dan mendarabkan diri, serta boleh berlawan mengikut kehendak hati pemilik. Ia pada asalnya digunakan oleh Dà-Yǔ untuk mengukur kedalaman lautan dan kemudian menjadi "Tiang yang Menenangkan Lautan" serta harta karun Ao Guang, "Raja Naga Laut Timur". Beratnya tongkat itu 13,500 kati (8.1 tan). Apabila Wukong mendekatinya, tiang itu mula bersinar demi menandakan bahawa ia telah menjumpai pemiliknya yang benar. Sifat tongkat itu membolehkan Wukong menggunakannya sebagai senjata serta menyimpannya di dalam telinga sebagai jarum jahit. Ini menakutkan makhluk sakti laut serta mengakibatkan huru-hara di laut kerana tiada sebarang lain yang dapat mengawal pasang surut lautan. Selain daripada merampas tongkat sakti itu, Wukong juga menewaskan naga-naga empat laut dalam pertempuran dan memaksa mereka memberikannya baju zirah (鎖子黃金甲), topi berbulu burung phoenix (鳳翅紫金冠 Fèngchìzǐjinguān), serta but yang membolehkan perjalanan di atas awan (藕絲步雲履 Ǒusībùyúnlǚ). Wukong kemudian mengingkari percubaan Neraka untuk mengambil nyawanya. Untuk mengelakkan penjelmaan semula seperti semua makhluk yang lain, dia menghapuskan namanya bersama-sama nama semua monyet yang dikenalinya daripada "Buku Hidup dan Mati". Raja-raja Naga dan Raja-raja Neraka kemudian memutuskan untuk mengadukannya kepada Maharaja Jed di Syurga.

Hura-hara di Alam Syurga

Mengharap-harapkan bahawa suatu kenaikan pangkat dalam kalangan dewa dapat menjadikan Wukong lebih mudah dikawal, Maharaja Jed menyambut Wukong ke Syurga. Wukong mempercayai bahawa dia akan dikurniai sebagai salah satu dewa tetapi malangnya, dia hanya dijadikan ketua kandang kuda syurga untuk menjaga kuda. Apabila Wukong mendapat tahu tentang hal itu, dia memberontak dan mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung, Sama Pangkat dengan Syurga" dan bersekutu dengan sesetengah syaitan yang paling berkuasa di dunia. Percubaan awal Syurga untuk menguasai Raja Monyet tidak berjaya. Lantaran itu, para dewa terpaksa mengakui gelaran Wukong tersebut serta mencuba menawarkannya kedudukan "Pelindung Taman Syurga". Apabila Wukong mendapati bahawa dia tidak dijemput untuk menyertai sebuah jamuan diraja, walaupun semua dewa dan dewi dijemput, kemarahannya menjadi keingkaran terbuka. Selepas mencuri "pic keabadian" Xi Wangmu, pil lanjut usia Lao Tzu, serta wain diraja Maharaja Jed, Wukong melarikan diri kembali ke kerajaannya untuk menyediakan pemberontakan.

Wukong kemudian menewaskan Tentera Syurga yang terdiri daripada 100,000 pahlawan samawi dan membuktikan diri sebagai setanding dengan Erlang Shen, jeneral Syurga yang terunggul. Bagaimanapun, dia kemudian ditangkap atas pemuafakatan kuasa Taoisme dan Buddhisme, serta usaha sesetengah dewa. Selepas beberapa percubaan yang gagal untuk menjalankan hukuman mati ke atasnya, Wukong dikurung di dalam sebuah kawah bagua Lao Tzu untuk disuling menjadi eliksir oleh api samadhi yang paling panas. Bagaimanapun, kawah itu meletup selepas 49 hari dan Wukong melompat ke luar, kini lebih kuat daripada dahulu. Wukong kini berupaya mengecam kejahatan dalam sebarang bentuk menerusi huǒyǎn-jīnjīng (火眼金睛) (secara harafiah, "renungan keemasan mata bernyala-nyala"), satu keadaan mata yang juga mengikabatkan kepekaannya kepada asap.

Dengan semua pilihan dicuba dan gagal, Maharaja Jed serta pihak berkuasa Syurga merayu kepada Buddha yang tinggal di kuilnya di Barat. Buddha bertaruh dengan Wukong bahawa dia (Wukong) tidak dapat melarikan diri daripada tapak tangannya. Wukong yang berupaya mencapai 108,000 li dengan satu lompatan, dengan angkuhnya bersetuju lalu melompat dengan sedaya upayanya. Apabila dia mendarat, dia tidak dapat melihat apa-apa pun kecuali lima batang tiang. Justera itu, Wukong meneka bahawa dia telah tiba ke hujung Syurga. Untuk membuktikan pencapaiannya, dia menandakan tiang-tiang itu dengan frasa yang mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung yang Sama Kedudukannya dengan Syurga". Selepas itu, dia melompat kembali ke tapak tangan Buddha hanya untuk menyedari bahawa lima "tiang" itu sebenarnya ialah lima jari tangan Buddha. Apabila Wukong cuba melarikan diri, Buddha menukarkan tangannya menjadi gunung lalu mengurung Wukong di dalamnya dengan menggunakan azimat yang ditulis dikir, Om Mani Padme Hum, dalam huruf emas. Wukong terkurung di sana selama lima abad.

Pengikut kepada Xuanzang

Lima abad kemudian, Bodhisatva Guanyin sedang mencari-cari pengikut untuk melindungi Xuanzang, seorang penziarah Dinasti Tang, yang ingin membuat perjalanan ke India untuk memperoleh sutra agama Buddha. Apabila Wukong terdengar hal itu, dia menawarkan diri sebagai pertukaran untuk kebebasannya. Guanyin memahami bahawa monyet itu bukan senang untuk mengawal dan oleh itu, memberi Xuanzang sebuah cekak rambut ajaib, hadiah daripada Buddha. Sebaik sahaja Wukong ditipu memakainya, cekak itu tidak dapat dikeluarkan semula. Dengan dikir yang khusus, cekak itu dapat diketatkan dan mengakibatkan kesakitan yang tidak tertahan pada kepala Wukong. Atas keadilan, Guanyin juga memberi Wukong tiga bulu yang istimewa yang boleh digunakan dalam kecemasan yang teruk. Di bawah penyeliaan Xuanzang, Wukong dibenarkan membuat perjalanan ke Barat.

Pada sepanjang epik Perjalanan ke Barat, Wukong membantu Xuanzang dengan setia dalam perjalanannya ke India. Mereka disertai oleh "Pigsy" (猪八戒 Zhu Bajie) dan "Sandy" (沙悟浄 Sha Wujing) yang menawarkan diri untuk menemani sami itu bagi menebus dosa mereka. Kuda sami sebenarnya ialah putera naga. Keselamatan Xuanzang sentiasa terjejas oleh syaitan-syaitan serta makhluk-makhluk ghaib yang lain yang mempercayai bahawa daging Xuanzang, apabila dimakan, dapat melanjutkan usia. Wukong sentiasa bertindak sebagai pengawal peribadi Xuanzang dan dikurniai kuasa Syurga untuk memerangi ancaman-ancaman tersebut. Pada keseluruhannya, kumpulan itu menghadapi 81 kesengsaraan sebelum mencapai misi mereka dan kembali ke China. Wukong kemudian dikurniai dengan Kebuddhaan atas perkhidmatan dan kekuatannya.

Antara Sun Go Kong dan Hanoman

Muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul "Gu Yue Du Jing", ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.

CERITA SELENGKAPNYA :

A. SUN GO KONG

Sun Go Kong (Hanzi tradisional: 孫悟空; bahasa Tionghoa: 孙悟空; Pinyin: Sūn Wùkōng; Wade-Giles: Sun Wu-k'ung) adalah tokoh utama dalam novel Perjalanan ke Barat. Dalam novel ini, ia menemani pendeta Tong dalam perjalanannya. Sun Go Kong dalam bahasa Vietnam adalah Ton Ngo Khong, dalam bahasa Jepang adalah Son Gokū, dan dalam bahasa Thai adalah Sun Ngokong.
Sun Go Kong amat gagah , senang sekali mengangkat tongkat sakti Ruyi Jingu Bang yang beratnya 13,500 kati (8,100 kg). Sun Go Kong ialah seorang pejuang mahir yang mampu melawan panglima-panglima hebat di kayangan. Dia juga menghafal berbagai mantra untuk menghembuskan angin, membelah air, menyulap lingkaran lindungan dari ancaman setan,

Kelahiran dan kehidupan awal

Dilahirkan di Huāguǒ-shān (Cina: 花果山; Gunung Bunga-bunga dan Buah-buahan) daripada seketul batu mitos yang terbentuk oleh daya asal kecamukan, Wukong menyertai sekaum monyet dan kemudian dihormati kerana menemui Shuǐlián-dòng (Cina: 水帘洞; Gua Tabir Air) di belakang sebuah air terjun raksasa. Monyet-monyet yang lain menganugerahinya sebagai raja, dengan Wukong menggelar diri sebagai Měi Hóuwáng (Raja Monyet Kacak). Menyedari bahawa dia masih akan mengalami kematian, walaupun kuasanya ke atas monyet-monyet yang lain, dia berazam untuk mencapai keabadian. Wukong berkelana dengan rakit ke tanah-tanah yang beradab lalu menemui dan menjadi pengikut Bodhi, salah satu bapa Buddhisme/Taoisme. Menerusi penjelajahannya, Wukong juga memperoleh pertuturan dan tingkah laku manusia.

Pada mula-mulanya, Bodhi enggan menerima Wukong sebagai pengikut kerana Wukong bukannya manusia. Bagaimanapun, kegigihan dan ketabahan Wukong kemudian menyebabknya tertarik kepada monyet itu. Adalah daripada Bodhi bahawa Wukong menerima nama rasminya, Sun Wukong ("Sun" membayangkan keasalan monyet, dan "Wukong" membawa pengertian sedar akan kekosongan). Tidak lama kemudian, minat dan kecerdasan Wukong menjadikannya salah satu pengikut kesayangan Bodhi. Justera, Bodhi membimbing dan melatihnya sebilangan perbuatan sakti dan Wukong memperoleh kuasa penganjakan bentuk yang dikenali sebagai "72 perubahan". Kemahiran itu yang dikatakan lebih serba boleh dan lebih sukar membenarkan pemiliknya bertukar kepada setiap bentuk kewujudan yang mungkin, termasuk manusia dan barang. Wukong juga belajar perjalanan awan, termasuk teknik Jīndǒuyún (balik kuang awan) yang dapat mencapai 108,000 li (54,000 km) menerusi satu balik kuang. Tambahan lagi, dia juga berupaya mengubah setiap 84,000 bulunya menjadi barang dan makhluk, malahan mengklonkan diri sendiri. Wukong kemudian berasa terlalu angkuh kerana keupayaannya dan mula bercakap berdegar-degar kepada para pengikut yang lain. Ini mengakibatkan Bodhi tidak gembira serta pengusirannya dari kuil Bodhi. Sebelum mereka berpisah, Bodhi mengarahkan Wukong supaya berjanji tidak akan memberitahu sesiapa pun tentang bagaimana dia mendapatkan kuasa tersebut.

Di Huāguǒ-shān, Wukong memantapkan kedudukannya sebagai salah satu syaitan yang paling berkuasa dan terpengaruh di dunia. Untuk mencari senjata yang sesuai, dia menjelajah ke lautan dan memperoleh tongkat Ruyi Jingu Bang. Tongkat itu berupaya mengubah saiz dan mendarabkan diri, serta boleh berlawan mengikut kehendak hati pemilik. Ia pada asalnya digunakan oleh Dà-Yǔ untuk mengukur kedalaman lautan dan kemudian menjadi "Tiang yang Menenangkan Lautan" serta harta karun Ao Guang, "Raja Naga Laut Timur". Beratnya tongkat itu 13,500 kati (8.1 tan). Apabila Wukong mendekatinya, tiang itu mula bersinar demi menandakan bahawa ia telah menjumpai pemiliknya yang benar. Sifat tongkat itu membolehkan Wukong menggunakannya sebagai senjata serta menyimpannya di dalam telinga sebagai jarum jahit.

Ini menakutkan makhluk sakti laut serta mengakibatkan huru-hara di laut kerana tiada sebarang lain yang dapat mengawal pasang surut lautan. Selain daripada merampas tongkat sakti itu, Wukong juga menewaskan naga-naga empat laut dalam pertempuran dan memaksa mereka memberikannya baju zirah (鎖子黃金甲), topi berbulu burung phoenix (鳳翅紫金冠 Fèngchìzǐjinguān), serta but yang membolehkan perjalanan di atas awan (藕絲步雲履 Ǒusībùyúnlǚ). Wukong kemudian mengingkari percubaan Neraka untuk mengambil nyawanya. Untuk mengelakkan penjelmaan semula seperti semua makhluk yang lain, dia menghapuskan namanya bersama-sama nama semua monyet yang dikenalinya daripada "Buku Hidup dan Mati". Raja-raja Naga dan Raja-raja Neraka kemudian memutuskan untuk mengadukannya kepada Maharaja Jed di Syurga.

Hura-hara di Alam Syurga

Mengharap-harapkan bahawa suatu kenaikan pangkat dalam kalangan dewa dapat menjadikan Wukong lebih mudah dikawal, Maharaja Jed menyambut Wukong ke Syurga. Wukong mempercayai bahawa dia akan dikurniai sebagai salah satu dewa tetapi malangnya, dia hanya dijadikan ketua kandang kuda syurga untuk menjaga kuda. Apabila Wukong mendapat tahu tentang hal itu, dia memberontak dan mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung, Sama Pangkat dengan Syurga" dan bersekutu dengan sesetengah syaitan yang paling berkuasa di dunia. Percubaan awal Syurga untuk menguasai Raja Monyet tidak berjaya. Lantaran itu, para dewa terpaksa mengakui gelaran Wukong tersebut serta mencuba menawarkannya kedudukan "Pelindung Taman Syurga". Apabila Wukong mendapati bahawa dia tidak dijemput untuk menyertai sebuah jamuan diraja, walaupun semua dewa dan dewi dijemput, kemarahannya menjadi keingkaran terbuka. Selepas mencuri "pic keabadian" Xi Wangmu, pil lanjut usia Lao Tzu, serta wain diraja Maharaja Jed, Wukong melarikan diri kembali ke kerajaannya untuk menyediakan pemberontakan.

Wukong kemudian menewaskan Tentera Syurga yang terdiri daripada 100,000 pahlawan samawi dan membuktikan diri sebagai setanding dengan Erlang Shen, jeneral Syurga yang terunggul. Bagaimanapun, dia kemudian ditangkap atas pemuafakatan kuasa Taoisme dan Buddhisme, serta usaha sesetengah dewa. Selepas beberapa percubaan yang gagal untuk menjalankan hukuman mati ke atasnya, Wukong dikurung di dalam sebuah kawah bagua Lao Tzu untuk disuling menjadi eliksir oleh api samadhi yang paling panas. Bagaimanapun, kawah itu meletup selepas 49 hari dan Wukong melompat ke luar, kini lebih kuat daripada dahulu. Wukong kini berupaya mengecam kejahatan dalam sebarang bentuk menerusi huǒyǎn-jīnjīng (火眼金睛) (secara harafiah, "renungan keemasan mata bernyala-nyala"), satu keadaan mata yang juga mengikabatkan kepekaannya kepada asap.
Dengan semua pilihan dicuba dan gagal, Maharaja Jed serta pihak berkuasa Syurga merayu kepada Buddha yang tinggal di kuilnya di Barat. Buddha bertaruh dengan Wukong bahawa dia (Wukong) tidak dapat melarikan diri daripada tapak tangannya. Wukong yang berupaya mencapai 108,000 li dengan satu lompatan, dengan angkuhnya bersetuju lalu melompat dengan sedaya upayanya. Apabila dia mendarat, dia tidak dapat melihat apa-apa pun kecuali lima batang tiang. Justera itu, Wukong meneka bahawa dia telah tiba ke hujung Syurga. Untuk membuktikan pencapaiannya, dia menandakan tiang-tiang itu dengan frasa yang mengisytiharkan diri sebagai "Pendeta Agung yang Sama Kedudukannya dengan Syurga". Selepas itu, dia melompat kembali ke tapak tangan Buddha hanya untuk menyedari bahawa lima "tiang" itu sebenarnya ialah lima jari tangan Buddha. Apabila Wukong cuba melarikan diri, Buddha menukarkan tangannya menjadi gunung lalu mengurung Wukong di dalamnya dengan menggunakan azimat yang ditulis dikir, Om Mani Padme Hum, dalam huruf emas. Wukong terkurung di sana selama lima abad.

Pengikut kepada Xuanzang

Lima abad kemudian, Bodhisatva Guanyin sedang mencari-cari pengikut untuk melindungi Xuanzang, seorang penziarah Dinasti Tang, yang ingin membuat perjalanan ke India untuk memperoleh sutra agama Buddha. Apabila Wukong terdengar hal itu, dia menawarkan diri sebagai pertukaran untuk kebebasannya. Guanyin memahami bahawa monyet itu bukan senang untuk mengawal dan oleh itu, memberi Xuanzang sebuah cekak rambut ajaib, hadiah daripada Buddha. Sebaik sahaja Wukong ditipu memakainya, cekak itu tidak dapat dikeluarkan semula. Dengan dikir yang khusus, cekak itu dapat diketatkan dan mengakibatkan kesakitan yang tidak tertahan pada kepala Wukong. Atas keadilan, Guanyin juga memberi Wukong tiga bulu yang istimewa yang boleh digunakan dalam kecemasan yang teruk. Di bawah penyeliaan Xuanzang, Wukong dibenarkan membuat perjalanan ke Barat.

Pada sepanjang epik Perjalanan ke Barat, Wukong membantu Xuanzang dengan setia dalam perjalanannya ke India. Mereka disertai oleh "Pigsy" (猪八戒 Zhu Bajie) dan "Sandy" (沙悟浄 Sha Wujing) yang menawarkan diri untuk menemani sami itu bagi menebus dosa mereka. Kuda sami sebenarnya ialah putera naga. Keselamatan Xuanzang sentiasa terjejas oleh syaitan-syaitan serta makhluk-makhluk ghaib yang lain yang mempercayai bahawa daging Xuanzang, apabila dimakan, dapat melanjutkan usia. Wukong sentiasa bertindak sebagai pengawal peribadi Xuanzang dan dikurniai kuasa Syurga untuk memerangi ancaman-ancaman tersebut. Pada keseluruhannya, kumpulan itu menghadapi 81 kesengsaraan sebelum mencapai misi mereka dan kembali ke China. Wukong kemudian dikurniai dengan Kebuddhaan atas perkhidmatan dan kekuatannya.

Antara Sun Go Kong dan Hanoman

Muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul "Gu Yue Du Jing", ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng.

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en.

B. HANOMAN

Hanoman (Sanskerta: हनुमान्; Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: हनुमत्; Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.

Kelahiran

Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.

Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.

Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling cerdas di antara para wanara. Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan "Aanjanèya"), yang secara harfiah berarti "lahir dari Anjani" atau "putera Anjani".

Masa kecil

Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.

Pertemuan dengan Rama

Patung Hanoman yang dibuat pada masa Dinasti Chola, abad ke-11.
Pada saat melihat Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa cemas. Ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit andalannya, Hanoman, untuk menyelidiki maksud kedatangan dua orang tersebut. Hanoman menerima tugas tersebut kemudian ia menyamar menjadi brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana.

Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu. Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa.

Petualangan mencari Sita

Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman, Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.

Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka.

Pergi ke Alengka

Ukiran tanah liat yang menggambarkan Hanoman sedang mengangkat Gunung Dronagiri.
Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sita yang sedang merana.

Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sita.
Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama. Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.

Terbakarnya Alengka

Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana membela Hanoman agar hukumannya diringankan, mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo'a agar api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do'a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota Alengka dilalap api.
Dengan membawa kabar gembira, Hanoman menghadap Rama dan menceritakan keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan pasukan wanara untuk menggempur Alengka

Pertempuran besar

Hanoman diperankan dalam Yakshagana, drama populer dari Karnataka.
Dalam pertempuran besar antara Rama dan Rahwana, Hanoman membasmi banyak tentara rakshasa. Saat Rama, Laksmana, dan bala tentaranya yang lain terjerat oleh senjata Nagapasa yang sakti, Hanoman pergi ke Himalaya atas saran Jembawan untuk menemukan tanaman obat. Karena tidak tahu persis bagaimana ciri-ciri pohon yang dimaksud, Hanoman memotong gunung tersebut dan membawa potongannya ke hadapan Rama. Setelah Rama dan prajuritnya pulih kembali, Hanoman melanjutkan pertarungan dan membasmi banyak pasukan rakshasa.

Kehidupan selanjutnya

Setelah pertempuran besar melawan Rahwana berakhir, Rama hendak memberikan hadiah untuk Hanoman. Namun Hanoman menolak karena ia hanya ingin agar Sri Rama bersemayam di dalam hatinya. Rama mengerti maksud Hanoman dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya Hanoman pergi bermeditasi di puncak gunung mendo'akan keselamatan dunia.
Pada zaman Dwapara Yuga, Hanoman bertemu dengan Bima dan Arjuna dari lingkungan keraton Hastinapura. Dari pertemuannya dengan Hanoman, Arjuna menggunakan lambang Hanoman sebagai panji keretanya pada saat Bharatayuddha.

Tradisi dan pemujaan

Di negara India yang didominasi oleh agama Hindu, terdapat banyak kuil untuk memuja Hanoman, dan dimana pun ada gambar awatara Wisnu, selalu ada gambar Hanoman. Kuil Hanoman bisa ditemukan di banyak tempat di India dan konon daerah di sekeliling kuil itu terbebas dari raksasa atau kejahatan.

Beberapa kuil Hanoman yang terkenal adalah:

1. Kuil Hanoman di Nerul Navi, Mumbai, India.
2. Puncak monyet, Himachal Pradesh, India.
3. Kuil Jhaku, Himachal Pradesh, India.
4. Kuil Sri Suchindram, Tamilnadu, India.
5. Sri Hanuman Vatika, Orissa, India.
6. Kuil Saakshi Hanuman, Tamilnadu, India.
7. Shri Krishna Matha (Kuil Krishna), Udupi.
8. Krishnapura Matha, Krishnapura dekat Surathkal.
9. Kuil Ragigudda Anjaneya, Jayanagar, Bangalore.
10. Hanumangarhi, Ayodhya.
11. Kuil Sankat Mochan, Benares.
12. Kuil Hanuman, dekat Nuwara Eliya, Sri Lanka.
13. Salasar Balaji, Distrik Churu, Rajasthan.
14. Kuil Mehandipur Balaji, Rajasthan.
15. Ada Balaji, di hutan suaka Sariska, Alwar, Rajasthan.
16. Sebelas kuil Maruthi di Maharashtra.
17. Kuil Shri Hanuman di Connaught Place, New Delhi.
18. Shri Baal Hanumaan, Tughlak Road, New Delhi.
19. Kuil Prasanna Veeranjaneya Swami, di Mahalakshmi Layout, Bangalore, Karnataka.
20. Sri Nettikanti Anjaneya Swami Devasthanam, Kasapuram, Andhra Pradesh.
21. Yellala Anjaneya Swami, Yellala, Andhra Pradesh.
22. Pura Sri Mahavir, Patna, Bihar.
23. Kuil Sri Vishwaroopa Anchaneya, Tamilnadu, India.

Hanoman dalam pewayangan Jawa

Wayang Anoman versi Surakarta.
Hanoman dalam pewayangan Jawa merupakan putera Bhatara Guru yang menjadi murid dan anak angkat Bhatara Bayu. Hanoman sendiri merupakan tokoh lintas generasi sejak zaman Rama sampai zaman Jayabaya.

Kelahiran

Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.

Mengabdi pada Sugriwa

Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali.

Melawan Alengka

Hanoman sebagai maskot SEA Games di Jakarta tahun 1997.
Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.

Tugas untuk Hanoman

Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana, adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu. Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat kekacauan di dunia.

Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa.

Anggota Keluarga

Lukisan Hanoman versi Thailand. Diambil di Wat Phra Kaeo, Bangkok.
Berbeda dengan versi aslinya, Hanoman dalam pewayangan memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Trigangga yang berwujud kera putih mirip dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar Alengka, Hanoman terbayang-bayang wajah Trijata, puteri Wibisana yang menjaga Sita. Di atas lautan, air mani Hanoman jatuh dan menyebabkan air laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih tersebut menjadi Trigangga. Trigangga langsung dewasa dan berjumpa dengan Bukbis, putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama. Dalam perang tersebut Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana namun dikejar oleh Hanoman. Narada turun melerai dan menjelaskan hubungan darah di antara kedua kera putih tersebut. Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana.
Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti, yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati.

Kematian

Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu "ingin mati", asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian. ada versi lain khususnya di jawa bahwa hanoman tidak mati dalam dalam berperang namun dia moksa setelah bertemu sunan kali jaga dan menanyakan arti yang terkandung dari jimat kalimasada karena dulu hanoman berjanji tidak akan mau mati sebelum mengetahui arti dari tulisan yang terkandung di dalam jimat kalimasada.

Sumber :
Budaya Tionghoa
Sun Go Kong
Sejarah Sun Go Kong
Hanoman