KUNJUNGAN KE :

Rabu, 09 Maret 2011

UNTUNG SUROPATI

CERITO BANGSA :

"Menungso didadek'no rajakaya... diincak, diperes tenogo'ne digawe koyok mesin. Tanpa bayar lan pangan... Diasor'no derajate sampek ngalah-ngalahi kewan... Sopo sing gelem ?"

Perlakuan tidak manusiawi, menuntun perjalanan hidup Untung Surapati yang sebelumnya merupakan budak di salah satu keluarga Belanda menjadi seorang pejuang pembela saudara sebangsanya.





K

egigihan dan optimisme patut dimiliki oleh seorang pejuang. Mengingat perjuangan yang dilakukan untuk mengusir penjajah bukanlah hal yang mudah. Sikap gigih dan optimis itu pula yang ada pada Untung Surapati. Di tengah berbagai kesulitan dan kepahitan hidup, justru semakin menempanya menjadi pribadi tangguh, semangat juangnya pun berkobar.

Tidak diketahui dengan pasti bagaimana asal-usul Untung Surapati. Begitu juga mengenai sejarah kelahirannya. Secara umum diceritakan, ia adalah keturunan bangsawan Bali yang diculik dan dijadikan budak belian oleh seorang perwira VOC (Kompeni Belanda) di Batavia. Anak itu kemudian dijual kepada Edeleer Moor. Selama Moor memelihara budak itu, kekayaannya bertambah dan kedudukannya pun semakin meningkat. Dengan kata lain, sang budak dianggap tuannya dapat mendatangkan banyak keuntungan. Atas dasar itu, anak itu kemudian diberi nama “Untung Surapati”.

Menjelang dewasa, Untung jatuh cinta pada salah satu putri Moor. Tentu saja hubungan asmara itu tidak mendapat persetujuan dari Edeleer Moor. Karena itu, Untung pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Selama di penjara, ia mendapatkan siksaan yang teramat berat. Tak tahan menghadapi siksaan, ia pun bertekad untuk melarikan diri. Bersama dengan budak-budak lainnya ia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di hutan.

Setelah bebas, ia bersama kelompoknya melancarkan serangan terhadap orang-orang Belanda serta pengrusakan atas aset-aset milik Belanda, karena ia menganggap bahwa Belanda-lah pihak yang paling bertanggung jawab atas penderitaan yang dialaminya serta saudara sebangsanya.

Belanda yang merasa terusik atas aksi-aksi yang dilakukan Untung Surapati akhirnya membujuk agar mau bekerja sama. Tawaran itu pun dituruti Untung Surapati. Ia pun bergabung dalam tentara VOC dan diangkat menjadi letnan tentara VOC. Namun, hal itu tak lantas membuatnya berpihak kepada Belanda.

Suatu kali, ia terlibat pertengkaran dengan seorang perwira Belanda yang dianggapnya sombong serta berperilaku kasar. Dalam pertengkaran itu, Untung Surapati membunuh perwira tersebut. Sejak kejadian itu, ia bertekad untuk tidak lagi bekerja sama dengan kaum penjajah. Kedudukannya dalam dinas militer Belanda pun ditinggalkan. Setelah keluar dari dinas militer Belanda, ia melarikan diri dari daerah Priangan menuju Mataram.

Sementara itu, Belanda terus melakukan pengejaran atas diri Untung hingga ke wilayah Kartasura. Pada saat yang bersamaan, Susuhan Mangkurat II (Mangkurat Amral) terlibat perseteruan dengan VOC. Perseteruan itu bermula dari tewasnya Trunojoyo pada 2 Januari 1690. Kedatangan Untung Surapati disambut dengan baik oleh Susuhunan Mataram.

Ia pun dipercaya untuk memimpin sepasukan tentara. Dalam sebuah pertempuran yang terjadi di Kartasura pada 8 Februari 1686, Untung bersama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang pada waktu itu dipimpin oleh Kapten Tack. Bahkan dalam pertempuran tersebut, sang kapten pun tewas di tangannya.

Setelah berhasil menumpas Belanda di Mataram, ia kemudian hijrah ke Jawa Timur. Sesampainya di sana, tepatnya di kota Pasuruan, atas persetujuan Susuhunan Mataram ia mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Pasuruan. Sebagai raja, ia memakai gelar Adipati Aria Wiranegara. Kerajaan yang didirikannya juga dilengkapi dengan benteng-benteng yang berfungsi untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh.

Pada bulan November 1706, Belanda dibantu para sekutunya mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar untuk menghancurkan kerajaan tersebut. Pertempuran sengit pun tak dapat dihindari. Karena ketidakseimbangan baik dari segi persenjataan maupun jumlah tentara, pasukan Untung Surapati berhasil dikalahkan Belanda. Akibat serangan itu, Untung terluka parah sewaktu bertempur mempertahankan Bangil dan meninggal dunia pada 5 November 1706.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Untung Surapati dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/Tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

ASAL-USUL :

Untung Suropati lahir di Pulau Bali, nama aslinya Surawiroaji. Tersebutlah seorang pemuda bernama Untung, salah seorang narapidana yang menghuni penjara di Batavia. Sebelumnya dia seorang budak yang dipelihara keluarga Belanda sejak masih berumur tujuh tahun. Konon Untung dipenjara karena berani melawan majikannya. Sebenarnya Untung berasal dari keluarga bangsawan Bali yang menjadi tawanan perang serdadu Belanda dan dibawa ke Makassar. Setelah Untung berada di Makassar, Kapten Van Beber membawanya ke Batavia kemudian dijual sebagai budak kepada seorang saudagar Belanda. Karena sejak kecil sudah berpisah dengan keluarganya, maka tidak ada orang yang mengetahui riwayat asal-usulnya. Nama Untung itu sendiri adalah nama paraban (alias) yang diberikan oleh majikannya, nama garbhopati (nama sejak lahir) yang diberikan orang tuanya adalahSurawiroaji. Menurut silsilah keluarganya Surawiroaji alias Untung adalah anak dari Jatiwiyasa, seorang keluarga bangsawan di Bali. Kakeknya bernama Tirtawijaya Sukma anak dari Karma Pujanggabuana anak dari Resi Mertadharma anak dari Sarataleksi anak dari Bharata Darwa Muksa anak dari Satya Putralaksana anak dari Kuwu Wika Kertaloka anak dari Prahma Putra Reksa anak dari Resi Wuluh Sedyaloka. Orang Jawa menyebut Resi Wuluh Sedyaloka dengan nama Begawan Sidolaku, sastrawan terkenal dari Tabanan Bali. Ketika masih muda Raden Ronggowarsito (Pujangga kraton Surakarta) pernah belajar ke Tabanan untuk mempelajari kitab kasusastraan peninggalan Resi Wuluh Sedyaloka. Resi Wuluh Sedyaloka adalah keturunan Prabu Kertajaya, raja terakhir Panjalu (Kediri) yang dikalahkan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Ketika pasukan Ken Arok menyerbu istana Kediri, Prabu Kertajaya berhasil melarikan diri dengan diiringkan ketiga istri dan beberapa abdi saja. Raja yang malang ini bersembunyi di lereng Gunung Semeru dan akhirnya menjadi seorang pertapa. Tidak lama berselang Ken Arok mencium keberadaan Prabu Kertajaya, maka ditugaskan bala tentaranya untuk menangkap lawan politiknya tersebut. Prabu Kertajaya berhasil lolos dalam pengejaran hingga akhirnya menemukan tempat yang aman di Pulau Bali. Prabu Kertajaya mendapat perlindungan dari penguasa di pulau dewata sebab antara raja Jawa dan Raja Bali masih memiliki hubungan darah. Jadi apabila dirunut ke atas, leluhur Untung adalah gabungan dari wangsa Dharmodayana (Prabu Udayana) yang berkuasa di Bali dan wangsa Isana (Empu Sindok) yang berkuasa di tanah Jawa. Wangsa Isana adalah kelanjutan dari wangsa Syailendra yang mendirikan kerajaan Mataram (Medang Kamulan) di lereng barat daya gunung Merapi. Untung seorang pemuda berwajah tampan dan halus tutur katanya. Dia sangat pemberani namun berhati mulia, sehingga selama di dalam penjara sangat disegani kawan-kawannya. Pada suatu kesempatan Untung memimpin para narapidana melakukan perlawanan kepada penjaga penjara. Penjara berhasil dijebol, berbagai senjata dirampas dan dibawa kabur. Kompeni mengirimkan serdadu untuk menangkap mereka, tetapi upaya itu tidak membuahkan hasil. Untung dan pengikutnya justru membunuh beberapa serdadu yang mengejarnya. Kompeni semakin marah kepada Untung dan terus-menerus melakukan pengejaran. Di tengah perjalanan Untung bertemu dengan janda Pangeran Purbaya yang bernama Raden Ayu Gusik Kusumo, mereka saling memperkenalkan diri serta menceritakan riwayat masing-masing. Gusik Kusumo terpaksa bercerai dengan Pangeran Purbaya karena suaminya akan menyerahkan diri kepada Belanda, wanita tersebut tidak menyetujui niat suaminya. Sementara Untung menceritakan kalau dirinya menjadi buronan serdadu kompeni karena melarikan diri dari penjara bersama teman-temannya. Setelah saling mengetahui riwayatnya, mereka menyatakan keinginannya bersatu untuk melawan kompeni. Gusik Kusumo mengajak Untung dan pengikutnya mencari perlindungan ke Kasultanan Cirebon, karena Sultan Cirebon masih mempunyai hubungan keluarga dengannya. Setelah dipikir dengan matang, Untung menyambut baik ajakan tersebut, mereka segera bergerak menuju Cirebon. Sultan Cirebon sangat gembira menerima kedatangan Gusik Kusumo dan seluruh teman-temannya. Wanita itu menceritakan semua peristiwa yang dialami, mulai dari kepergiannya meninggalkan suami sampai pertemuannya dengan Untung. Kanjeng Sultan sangat prihatin akan nasib keponakannya, tetapi beliau juga bangga. Meskipun seorang wanita, Gusik Kusumo tidak gentar melawan kompeni. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Untung yang sudah mengawal keponakannya, Untung dianugerahi nama Suropati oleh Sultan Cirebon, sehingga namanya menjadi Untung Suropati. Dalam ajaran Jawa-Hindu nama Suropati adalah sebutan lain dari Bathara Endra, yakni rajanya para dewa.

Sumber 1 : Clik here

Sumber 2 : Clik here

Browser : Soelistijono