KUNJUNGAN KE :

Minggu, 03 April 2011

GUGURNYA PRABU SALYA


CERITO WAYANG SINGKAT :
Kaputren Mandaraka larut dalam resam malam. Tertatih-tatih waktu merambat tak terduga. Sepi dan sedihnya menggelayut sempurna disetiap bisikan Salya di telinga Setyawati istrinya.
Yayi sun kakang pamit palastra, kanggo nuhonidarmaning satria” Yang dibisiki laksana disambar petir tepat di depannya.
“Aku sudah berjanji pada pulunanku Nakula dan Sadewa tak akan merugikan bala tentara Atmarta, Pandawa harus menang yayi. Salah satu syaratnya aku harus mati,” lanjut Salya.
Setyawati yang sudah terisak, ngguguk dengan air mata menganak sungai. Pipinya yang putih berpijar saat air mata itu mengalir di kedua sisinya.
“Kangmas, hidup atau mati sudah tak ada bedanya lagi bagi Setyawati asal tetap bersama kangmas. Hanya satu pinta, ijinkan hamba menemani dalam laga paduka,” Setyawati memohon. Salya mengangguk membolehkan dan mereka berpelukan lagi dan saling mencium. Sadar, inilah malam terakhir mereka, karena cinta akan mengubah caranya. Nanti di surga mereka akan bercinta lagi. Selamanya.
Bulan dan bintang meredup menutup mata. Wewangian yang ditabur luruh memenuhi kaputren Mandaraka. Wanginya melenakan.
Tadi siang Kurusetra bermandi darah lagi. Senopati Agung Karna gugur terpanah Pasopati Arjuna. Kurawa kehabisan senapati hingga Duryudana meminta Salya menjadi senapati.
Ah, tentu saja Pandawa bakal tumpas bila Salya madeg senapati. Salya menolak, bagaimanapun para Pandawa adalah keponakannya. Hingga Aswatama si anak kuda menuduhnya tak setia dan berpihak pada Pandawa di Bratayuda Jaya Binangun. Salya muntab, anak kuda itu sudah terlalu menghinanya”Baik. Aku akan menjadi panglima” usai mengucap, klepat… Salya langsung meninggalkan balairung Astina.
“Memang sudah waktuku… tak bisa kutunda lagi,” pedih dan sedih Salya termenung di regol kaputren. Mulutnya beku kaku tak mampu mengaku pada Setyawati, istrinya.
Bila Salya bingung, Pandawa pupus harapan. Tak akan ada yang bisa mengalahkan pemilik aji Candrabirawa itu. Selain itu Salya adalah pepunden. Tak mungkin mengangkat senjata padanya.
Kresna titisan Wisnulah yang kemudian mengutus Nakula-Sadewa untuk menyerahkan hidup matinya pada Salya. “Paman prabu, inilah jiwa kami berdua. Seutuhnya milik paman prabu,” Nakula-Sadewa pasrah bongkokan dan menyerahkan jiwa pada pamannya. Salya langsung runtuh. Melihat Nakula-Sadewa, dimatanya yang terbayang Madrim adiknya. Adiknya yang telah swargi dan mendahuluinya murud ing kasidan jati.
“Ah, anakku, memang telah datang saatnya Begawan Bangaspati menagih hutang darahnya pada Narasoma muda. Besok di Kurusetra, biarlah Darmawangsa yang menghadapiku dengan Jamus Kalimasadanya. Semua hutang akan terbayar tunai disana,” bisik Salya pada dua keponakannya itu. Keduanya bersujud meratakan dahi pada tanah yang dipijak Salya. Air mata menderas.
“Usah bersedih anakku. Tetapi saja darma satria, karena itulah pegangan kita,” lirih Salya berucap.
“Sembah kami sepenuh jiwa pamanda prabu,” terisak keduanya pamit meninggalkan regol singa depan kaputren Mandaraka. Satu persatu beban Salya meluruh. Tinggal yang terberat. Pamit pada Setyawati istrinya.
Ah, ternyata tak sesulit yang diangankan. Setyawati wanita yang setia itu, mengerti darmaning satria. Dia hanya memohon untuk diijinkannya memenuhi darma pada guru lakinya, menemani suaminya perang. Dan menyambut fajar, Setyawati tidur dengan senyum tersungging.
Pagi embun menetes satu-satu, dikelopak bunga, di daun-daun, diranting-ranting bahkan dikening dan bulu mata Setyawati yang tertidur dipangkuan Salya
Diam-diam Salya beranjak. Setyawati yang tertidur dibopongnya dan dibaringkan ditilam sari. Diciumnya kening Setyawati lembut penuh rasa. Dibelai pipi dan bibirnya yang tersenyum. Baru diambilnya busur suci dan dikenakannya baju putih pandita. Dan kereta perang sudah menunggu. Dengan derap pelan kereta itu berangkat dalam sunyi pagi buta. Tanpa pamit pada seisi keputren yang masih lelap.
Kurusetra menggeliat dipagi buta. Riuhnya berderak-derak oleh gelombang manusia bersenjata yang mengayun membentuk air bah. Air bah yang akan menelan semua yang ada di hadapannya.
“Hip..hip… huraaaa…” Pasukan Astina menyambut eforia dipimpin panglima agung Salya. Kemenangan yakin ada ditangan. Ratusan ribu prajurit berderap menggetarkan tanah darah itu. Berderap. Dan terus berderap merangsek ke arah perkemahan Pandawa. Pandawa berkumpul cemas.
Dentuman meriam dari garis belakang memekakan telinga. Kehancuran yang dibuatnya, meratakan jalan untuk pasukan jalan kaki. Panah berterbangan melewati kepala layaknya lebah dengan ribuan dengungnya. Langit menggelap tertutup hujan panah yang memunguti jiwa-jiwa yang tak waspada. Debu halus mengepul. Darah menetes dan mulai membanjir hingga membentuk telaga di Kurusetra itu. Tumpukan tubuh mulai terbentuk. Bertindih-tindih dengan cabikan-cabikan senjata yang kejam. Semuanya penuh darah memerah. Teriakan bercampur maut membiarkan Yamadipati berpesta pora menebar ngeri disetiap penjurunya.
Salya sang panglima gagah diatas kereta. Tangannya bersedekap didepan dada. Ya, Candrabirawa yang murka. Dari gua garba Salya keluar raksasa bajang yang langsung terbang. Terbang menerjang barisan Pandawa. Raksasa bajang itu langsung disambut lesatnya panah. Jatuh ketanah dan menjelma menjadi dua. Menerjang lagi. Kali ini disambut sabetan pedang. Dua ditebas jadi empat. Empat ditebas jadi enambelas. Enam belas ditebas menjadi dua ratus lima puluh enam. Begitu terus berlipat-lipat hingga bilangan tak yang terhingga. Seribu ngeri ditebar. Ribuan nyawa sia-sia melawan Candrabirawa. Ya, ketumpasan hanya menunggu waktu dan Pandawa ada ditubirnya. Barisan prajurit itu centang perentang di terjang Candrabirawa. Menunggu runtuh.
Dan Kurawa bersorak.
“Letakan senjata!! Letakan senjata!! Candrabirawa jangan dilawan. Biarkan. Biarkan.” Kali ini yang berteriak Kresna dari keretanya. Seruan itu berulang dan berulang. Saur manuk memenuhi Kurusetra. Semua ragu. Tapi Kresna mendesak. Prajurit yang ragu menyarungkan pedangnya, panah diletakan dan meriam disumbat sumbunya.
Ajaib. Candrabirawa lumpuh. Menyusut. Berkurang bilangan raksasa bajang itu dengan menyatu antar sesamanya. Sejuta. Seribu. Seratus. Sepuluh. Satu. Ya, Candrabirawa kembali pada ujud yang sebenarnya. Raksasa bajang yang terbang bingung.
“Sudah waktunya ngger, pulanglah,” sebuah suara dari angkasa memanggil Candrabirawa. Raksasa bajang yang dipanggil menoleh ke angkasa. “Ah paduka Begawan,” Candrabirawa menyembah. Salya yang juga tengadah, ikut membungkuk meratakan dahinya di tanah Kurusetra yang berdarah. “Cukup ngger, sudah tiba saatnya,” ucap sang Begawan pada Candrabirawa dan Salya. Salya mengangguk taksim.
Begawan itu Bangaspati, pemilik asli Candrabirawa dan mertua Salya, ayah dari Setyawati. Waktu itu, Narasoma -Salya muda- yang malu mempunyai mertua raksasa meminta jiwa sang Begawan. Bangaspati setuju dengan syarat Salya tak boleh mensia-siakan anaknya. Ya, kemudian Bangaspati mati setelah menitipkan putri semata wayangnya sekaligus mewariskan ilmu Candrabirawa pada menantunya, Salya.
“Kita akan berkumpul lagi saat Bratayuda saat Kurusetra kau berhadapan dengan satria yang berdarah putih,” kata sang Begawan sebelum menutup mata untuk terakhir kalinya. Ingat, sang Begawan juga berdarah putih.
“Ya, memang tiba waktunya,” pikir Salya. Dari kejauhan dilihatnya Puntadewa berjalan mendekat. Wajahnya menunduk. Dia juga hapal luar kepala takdir Salya.
“Mendekatlah ngger, sini mendekat pada pun paman” lirih Salya meminta. Puntadewa mendekat sambil tak henti menyembah pepundennya. “Sempurnakan pun paman ngger, tamak’na Jamus Kalimasada mring-pun paman”
Berat hati, Puntadewa sendiko dawuh. Jamus Kalimasada dihunusnya. Masih ragu-ragu, hingga akhirnya Salya kembali memaksa. Panah melesat membelah udara yang berbau maut. Suaranya gemeretak ketika angin terbelah oleh lesan tajam. Salya terpejam. Matanya tabah. Dengan dada telanjang ditempuhnya laju Kalimasada. Dadanya langsung rengkah. Tubuhnya rebah bermandi darah di baju panditanya.
Dari surga wewangian ditaburkan. Amis darah melenyap berganti harum yang menyebar. Dewa bersedih. Pandawa menangis, terlalu mahal biaya untuk menang perang dan Kurawa kocar-kacir.
Kurusetra kembali menelan orang besar.
Mandaraka ditelan duka.
Dewi Satyawati sireki charitan winara ipati Salya ring rana
Wanten bretya kaparchaya tuha yata jari sira teka namya torasih
Den rakweki dumenya tan pejaha sing lara ngeduku sumendeming sawa
Gelegar guntur sampai ketelinga Setyawati. Sedih sepi menggelayut sempurna membungkam kata. Buta oleh derita ia berniat menyusul ke sorgaloka.
Disisirnya rambut, berdandan ia pergi menuju Kurusetra mencari sang gurulaki, sebelumnya sebilah patrem telah diraihnya.
Dengan kereta ia kelilingi bangkai Kurusetra diwaktu malam ditemani embun yang membasah. Setyawati mencari Salya diantara ribuan mayat-mayat yang bergelimpangan. Bangkai kuda, gajah, bercampur baur dengan jenasah prajurit, rongsokan kereta, meriam dan panah-panah yang tertancap. Ribuan mayat menyulitkannya.
Putus asa tak menemukan junjungannya, Setyawati menarik patrem dari rangkanya. Dadanya yang indah menanti tajamnya melunasi.Tak tega melihat Setyawati putus asa, petir bermurah hati. Sambarannya menunjukan jalan berdarah ke tempat jenasah suaminya yang hancur terbaring. Gunturpun meratapi kematiannya.
Yekan pak rakir a mekul sukune sang peja aneliba tinga’ling tilam.
Tanwreng da tinepak tepak nera hanan kinisapu kinsuan sinukeman.
Lambe lot linuga tekeng manggala ginusa pira ura lama tan kedap.
Lawan tan kanining kapwa warasa dening sepa ira lana jinampeaken.
“Ah pangeran yang aku temukan berdarah dan hancur diatas tanah terkutuk ini, mengapa bibirmu yang yang muram tetap diam kepada yang mencarimu dimedan perang? Tidakkah akankah kau bicara kekasihku, junjunganku, segalanya bagiku. Atau haruskan Setyawati terus memanggil dengan sia-sia? Katakan, apakah air mataku yang mengalir menganak sungai akan menunjukan penderitaan dan kesengsaraanku? Bagaimana aku harus mengubah, dengan bujukan apa, raut muka yang menakutkan dengan senyum yang tak berarti.”
Yang dipanggil tetap diam. Yang disentuh tetap kaku karena sepanjang sejarah tak pernah ada yang pulang dari kematian. Semua lalu begitu saja. Setyawati kembali menemukan jawabannya pada patrem yang urung menyudahinya.
Kali ini tak ada yang ingin mencegah, karena memang sudah titi-wanci menjelang. Dada indah Setyawati menelan rakus patrem-nya. Darah mengalir laksana sungai emas ditanah terkutuk. Jiwa-jiwa suci bersatu diangkasa. Membumbung tinggi sundul ngawiyat.
Kali ini Kurusetra menelan orang-orang setia.
Sumber : click here