KUNJUNGAN KE :

Senin, 09 Mei 2011

SETAN KOBER

CERITA BONGSO :

Pada masa Brawijaya 1 sampai turun ke 4 tahta selanjutnya, tatkala sir wingit telah merasuki tubuh makhluk hidup dan keseimbangan bathin sudah diambang keumuman, saat itulah kesaktian bentuk ilmu bagian dari kehidupan manusia hingga suatu keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang. Terciptalah zaman di mana manusia dan makhluk tak kasat mata saling berkomunikasi secara bebas. Wahyu ning zaman para Dewa, menjadikan masa kala itu disebut kejawen jawi, yang mengedepankan makna keluhuran bagi umat manusia.

Perjalanan pulau Jawa, sejak zaman sanghiyang Bangau (sebelum masa WaliSongo) seluruh peradaban manusia pada masa itu terbagi menjadi tiga golongan, Manusia, Lelembut, dan Siluman dari bangsa seleman. Dari seluruh golongan ini akhirnya terpecah menjadi dua bagian yaitu, aliran putih dan hitam. Kisah terbaginya golongan ini pada akhirnya mendatangkan peperangan hingga turun sampai ke zaman di mana WaliSongo, dilahirkan.

Tersebutlah nama dari sekian banyaknya para tokoh sakti beraliran hitam kala itu “Setan Kober” sosok setengah siluman yang banyak membawa risalah pertumpahan darah bagi seluruh umat manusia. Setan Kober, nama yang sangat melegendaris bagi seluruh aliran hitam sejak kerajaan Majapahit pertama didirikan. Bercerita tentang ilmu kesaktian, beliau belum pernah terkalahkan oleh siapapun juga pada masa kejayaannya, Setan Kober, telah menunjukkan pada dunia bahwa dirinya pernah menjabat sebagai guru besar tujuh aliran sekaligus selama 473 tahun lamanya.

Di antara tujuh aliran yang dimaksud adalah, bangsa manusia, lelembut dari alam laut, bangsa jin segala penjuru alam, bangsa togog dari zaman purwacarita, bangsa siluman seleman, bangsa perkayang bumi lapis tiga dan bangsa ngahyang.

Asal usul Setan Kober, terlahir dari seorang Banaspati agung di zaman purwacarita sepuluh bernama, Raja Lautan, berasal dari keturunan siluman selemen / bangsa api. Dari hikayat yang ada, Raja Lautan, pernah dikalahkan satu kali dalam hidupnya oleh Nabiyullah Hidir AS, dimasa kejayaan Alexandria Agung. Sebuah kontemplasi yang Misteri lakukan, ternyata Setan Kober, mempunyai tempat tinggal selayaknya manusia pada umumnya, yaitu, di dalam hutan Panji, didaerah perbatasan antara Cibogo, Benda Kerep, dan pemahaman ini pernah juga tersirat dalam bukunya RA, Suladiningrat Kesepuluhan, yang berjudul “Babad Tanah Cirebon”.

Bercerita tentang rumah Setan Kober, hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari tulang belulang binatang dan manusia. Dan dibelakang rumahnya berdiri kokoh satu pendopo yang terbuat dari beraneka tulang macan, kujang, kerbau dan singa. Kesehariannya, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di pendopo untuk mengajarkan beragam ilmu kepada muridnya yang berasal dari beragam golongan dan bila waktu senggang, beliau banyak mengarahkan waktunya untuk menciptakan bilahan keris sakti mandraguna, dan keris buatannya sampai kini masih banyak dimiliki sebagian ahlul bathin.

Seperti halnya gambar keris diatas, keris ini buatan asli tangan Setan Kober, yang beliau berikan pada Pangeran Arya Panangsang, sebelum belaiu terbunuh oleh Jaka Tingkir, dan pada perang gerilya Indonesia, lewat sebuah hawatir akhirnya keris ini diberikan kepada pangeran Diponogoro, dan baru muncul kembali setelah sekian lama menghilang ditahun 2007, kini keris ini masih dilestarikan sebagai sarana derajat dalam pemilihan seorang pemimpin. Di masa raja Jawa, nama Setan Kober, selalu disebut-sebut sebagai orang nomor satu dunia persilatan, beliau kerap menjadi jawara pilih tanding yang banyak dimanfaatkan oleh para raja Jawa sebagai pembunuh bayaran.

Bahkan dimasa Brawijaya ke-5, beliau kerap menjadi ahli strategi perang istana Majapahit, dalam mengalahkan ratusan panglima pilihan seluruh kerajaan yang ada di belahan dunia. Baru namanya surut dan akhirnya ngahyang selamanya, akibat perasaan malu setelah beliau dikalahkan oleh jawara sakti pangeran Suto Wijaya Gebang. Bagaimana kisah ini bisa terjadi ? Inilah simakannya.

Dimasa perang antara Majapahit dan Demak Bintiri, yang pada saat itu rajanya bernama Raden Fatah, dengan dibantukan 101 Waliyullah, dibawah komando panglima besar Sunan Kudus. Tujuh belas tahun, dua kerajaan ini pernah terlibat sengit dan 24 kali mereka bertemu dalam peperangan hebat, 18 kali Majapahit menyerang Demak, dan 6 kali Demak balik menyerang Majapahit.

Wilayah yang pernah menjadi pertumpahan darah antara Majapahit dan Demak Bintoro, diantaranya, Magelang, Sragen, Banyu Wangi, Kudus, Klaten, Tidar, Madura, Lasem, Purwo Rejo, Yogya, Batang, Semarang dan Surabaya. Dengan strategi yang matang, Setan Kober, yang kala itu menjadi bagian kerajaan Majapahit, mulai menyebar aksinya dibeberapa pelosok desa terpencil dengan cara membunuh satu persatu para jawara Islam yang dianggapnya telah berkomplot dengan kerajaan Demak Bintoro.

Bahkan disamping lainnya Setan Kober, mulai menyusun kekuatan dengan mendatangi dedengkot aliran hitam dipenjuru pelosok desa, diantara nama aliran hitam yang pernah bergabung dengannya, Pangeran Tepak Palimanan, Pangeran Telaga Herang, Pangeran Ucuk Umum Banten, Pangeran Lodaya Indramayu, sebelum masuk Islam, Pangeran Samber Nyawa dari daerah Cuci Manah, Pangeran Kebo Kinabrang dari gunung Tangkuban Perahu, Ki Gede Jalu, dari Brebes, Ki Gede Kapetakan, Ki Gede Lewimunding, Ki Gede Tegal Gubug, sebelum masuk Islam, Ki Gede Purba Lanang, siluman air daerah gunung Tidar Jateng, Ki Janggala Wesi, dari siluman seleman, dan lainnya. Pada perang ke 17, kerajaan Islam Jawa, pernah dikalahkan dengan terbunuhnya beberapa Waliyullah, diantaranya Sunan Udung, Sunan Pajang, Sunan Beling, Sunan Persik, Sunan Odong, Sunan Rohmat, Sunan Qoyyim dan Sunan Menjangan atau Pangeran Sambar Nyawa.

Namun dalam sejarah lain menyebutkan, kekalahan Islam pada waktu itu akibat bangsa Waliyullah, tidak semuanya turun ke medan laga dikarenakan mereka sedang berkabung atas wafatnya Sunan Ampel, salah satu WaliSongo, sehingga kala itu para Waliyullah, lebih banyak ta’ziah datang ke daerah Ampel.

Di lain pihak setelah kekalahan Islam mulai menjadi buah bibir dikalangan masyarakat luas, Sunan Gunung Jati, Pangeran WalangSungsang, Sunan KaliJaga, Sunan Kudus dan Sulthan Hasanuddin Banten, mulai merapatkan barisan dengan memilih diantaranya untuk mencari beberapa tokoh aliran hitam. Pada masa itu yang diutus untuk menandingi kesaktian aliran hitam diantaranya, pangeran WalangSungsang atau Mbah Kuwu Cakra Buana, Sunan KaliJaga, pangeran Arya Kemuning, Syeikh Muhyi muda Tasik, Nyaimas Gandasari, Panguragan, Syeikh Suto Wijaya Gebang, pangeran Hasanuddin Banten, Syeikh Sapu Jagat dan Syeikh Magelung Sakti. Lewat mandat Sunan Gunung Jati, mereka bergerak dengan cara terpisah, dan lewat perjalanan panjang selama tujuh tahun lamanya, mereka akhirnya bisa menaklukkan seluruh bangsa aliran hitam.

Namun hal semacam itu bukan berarti mereka mudah menandingi ilmu dedengkot para aliran hitam melainkan butuh perjuangan dan kesiapan matang, sebab dalam menjalankan tugas ini mereka juga pernah dikalahkan sewaktu duel kesaktian bersama dedengkot aliran hitam.

Seperti pangeran Arya Kemuning misalnya, beliau pernah berhadapan dengan dedengkot aliran hitam pangeran Telaga Herang, namun dalam adu kesaktian Arya Kemuning bisa dikalahkan dengan mudah, baru saat perang tanding dengan Syeikh Muhyi muda Tasik, pangeran Telaga Herang, kalah telak dan akhirnya ngahyang sampai sekarang. Juga Nyimas Gandasari, yang kala itu ditugaskan untuk menangkap pangeran Ucuk Umum, beliau kalah dalam adu kesaktian, baru tatkala Mbah Kuwu Cakra Buana, turun ke laga, pangeran Ucuk Umun, bisa dikalahkan dan akhirnya ngahyang selamanya, kisah ini terjadi di pantai Karang Bolong Banten.

Sunan KaliJaga, beliau pernah dikalahkan oleh pangeran Tepak Palimanan, dalam penaklukkan wilayah Cirebon, kekalahan Sunan KaliJaga, akibat campur tangan Prabu Siliwangi, dan baru setelah kedatangan pangeran Arya Kemuning dan Mbah Kuwu Cakra Buana, pangeran Tepak Palimanan, bisa terbunuh dengan kepala terpotong dari raganya, kisah ini terjadi dipuncak bukit Palimanan, yang bernama gunung Tugel. Kembali ke cerita asal, pertempuran antara pangeran Suto Wijaya Gebang, dengan Setan Kober, di daerah hutan Pranji, tidak bisa dihindarkan lagi, kedua musuh bebuyutan ini saling mengerahkan kesaktiannya hingga sampai 40 hari lamanya.

Dalam perkelahian panjang ini akhirnya dimenangkan oleh pangeran Suto Wijaya, sehingga Setan Kober, akhirnya ngahyang dihutan Pranji, selamanya. Kisah terkalahkannya Setan Kober, akhirnya jadi perbincangan orang banyak sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, selaku gurunya sangat khawatir. Pasalnya sejak kejadian itu pangeran Suto Wijaya, diangkat menjadi seorang pemimpin oleh seluruh bangsa gaibiah sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, merasa takut ilmu yang beliau berikan selama ini disalah gunakan oleh murid-muridnya.

Dalam sejarah babad tanah Jawa, ilmu pangeran Suto Wijaya Gebang, satu-satunya Ilmu paling ditakuti oelh seluruh bangsa siluman atau gaibiyah, ilmu yang dimilikinya adalah “Syahadat Majmal” dimana ilmu ini dibacakan maka seluruh gaibiyah yang ada akan mengikuti ucapan kita, bahkan dalam perang tanding melawan Setan Kober, ilmu inilah yang menjadi andalannya hingga Setan Kober sendiri, harus menerima kekalahannya dengan tubuh terbakar.

Dalam kisah lain diceritan, setelah satu tahun Setan Kober, dikalahkan, pangeran Suto Wijaya Gebang, bilau akhirnya dipanggil menghadap Mbah Kuwu Cakra Buana, ‘Andika, bagaimanapun juga dirimu telah menjadi orang yang ditakuti seluruh makhluk tak kasat mata, namun menurutku, jauhkan ilmu itu sehingga antara manusia dengan bangsa gaib ini tetap lestari selamanya, sebab kasian bagi yang lain, dengan adanya ilmu yang andika miliki sekarang, maka seluruh bangsa gaib akan punya batasan tertentu yang menjadikan mereka percaya hanya pada Andika”.

Dengan patuh pangeran Suto Wijaya mengiyakannya, tanda beliau setuju dengan ucapan gurunya. Namun lain sifat lain pula kenyataannya. Ya… Benar juga ucapan Mbah Kuwu Cakra Buana, walau pangeran Suto Wijaya, sudah menerima atas mandat gurunya akan tetapi para muridnya yang berasal dari bangsa siluman dan gaib lainnya, hanya tunduk pada majikannya bukan pada orang lain sehingga walau Mbah Kuwu Cakra Buana, adalah gurunya pangeran Suto Wijaya, dengan cara sembunyi tangan akhirnya mereka tidak menerima pengakuan Mbah Kuwu Cakra Buana, dengan cara menyerang seluruh kerathon Pakung Wati Cirebon.

Dalam hal ini Mbah Kuwu Cakra Buana, tidak tinggal diam, beliau langsung menghadapinya dengan pusaka “Golok Cawang” dan akhirnya seluruh bangsa gaib bisa dikalahkan dengan mudah.

Dengan kejadian ini Mbah Kuwu Cakra Buana, akhirnya menciptakan satu ilmu tandingan yaitu, Qutho Qosot, yang bertajuk: “Syetan, jin, perkayang, dedemit, lelembut dan lainnya akan tunduk atas namaku” ilmu ini pernah Misteri bedarkan pada panduan “Haekal Guru” dan sebelum kisah ini berakhir ada baiknya kita semua tahu bahwa, walau Setan Kober, telah ngahyang selamanya, namun beliau telah mempunyai satu putra sebagai generasi penerusnya yaitu “Banaspati” yang kini masih menjadi prokontra kalayak ahli bathin. Sumber : Click me

VERSI KERIS PUSAKA SETAN KOBER :

Kyai Setan Kober adalah nama keris milik Adipati Jipang, Arya Penangsang. Keris ini dikenakan pada waktu ia perang tanding melawan Sutawijaya.

Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai.

Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya , Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa wilah(an) atau mata keris Kyai Setan Kober langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika.

Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atauronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.

Sumber : Click me too


VERSI KE-ILMUAN = "AJIAN SETAN KOBER"

Ajian ini jika keampuhannya dengan ajian pemikat wanita lainnya tidak kalah ampuh. Wanita yang terkena ajian ini cintanya sangat menggebu-gebu sehingga orang bilang seperti orang gila. Dan konon yang terkena ajian ini akan sulit disembuhkan.


Lelakunya :

Puasa mutih 7 hari 7 malam, patigeni sehari semalam, mulai puasa pada hari
Senin Kliwon, ajian dibaca tiap malam ketika akan tidur.

Manteranya :

INGSUN AMATAK AJIKU SI SETAN KOER, SETAN KOBER SIRO INGSUN KONGKON
LEBONONO ATINE SI JABANG BAYINE ............... (sebutkan nama orangnya),
YEN KETEMU TURU GUGAHEN, KETEMU TURON LUNGGUHNO, KETEMU LUNGGUH DEGNO, KETEMU NGADEG PRENEKNO KETEMU INGSUN, OJO PATI-PATI MULIH YEN ORA BARENG KARO KEKAKSIH INGSUN, TEKO WELAS TEKO ASIH SIJABANG BAYI ...............(sebutkan nama orangnya) MARANG INGSUN

(Sumber : Clik me)

AUDIO PAGELARAN WAYANG KULIT BERSAMA KI NARTOSABDHO :

  1. Kresna Gugah
  2. Drupada Duta
  3. Karno Duta
  4. Kresna Duta
  5. Kresna Duta (Singo Barong)
  6. Abimanyu Gugur
  7. Suluhan Gatotkaca Gugur
  8. Karno Tanding
  9. Karno Tanding (Singo Barong)
  10. Salya Suyudana Gugur
  11. Parikesit Lahir
  12. Parikesit Grogol
  13. Pandadaran Siswa Sokalima
  14. Bale Golo-Golo
  15. Pandawa Dadu
  16. Pandawa Ngenger
  17. Babad Wanamarta
  18. Babad Wanamarta (Live)
  19. Wiratha Parwa
  20. Sesaji Rajasuya
  21. Pandawa Gubah
  22. Pandawa Boyong
  23. Pandawa Nugraha
  24. Pandawa Reco
  25. Pandawa Sapta
  26. Arjuna Wiwaha
  27. Permadi Boyong
  28. Abimanyu Krama
  29. Wisanggeni Krama (koleksi Santoso)
  30. Bima Bungkus
  31. Bima Suci
  32. Bimo Gugah
  33. Dewa Ruci
  34. Lahire Gatotkaca
  35. Gatotkaca Sungging
  36. Gatotkaca Nagih Janji
  37. Gatotkaca Wisuda (Singo Barong)
  38. Kalabendana Gugur
  39. Kalabendana Gugur (Live)
  40. Brajadenta mBalela
  41. Banuwati Janji
  42. Sayembara Menthang Langkap
  43. Alap-alap Setyaboma
  44. Kresna Kembang (Alap-alap Rukmini)
  45. Narayana Jumeneng Ratu
  46. Udawa Sayembara
  47. Kangsa Adu Jago
  48. Udawa Sayembara (koleksi Santoso)
  49. Gandamana Sayembara (koleksi Santoso)
  50. Suteja Takon Bapa
  51. Alap-alapan Larasati
  52. Pandu Gugur (Pamuksa)
  53. Sombo Juwing
  54. Narasoma
  55. Banjaran Bisma
  56. Banjaran Karna
  57. Banjaran Arjuna I
  58. Banjaran Arjuna II
  59. Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)
  60. Banjaran Druna
  61. Banjaran Bima (koleksi Santoso)
  62. Banjaran Gatotkaca (koleksi Santoso)
  63. Semar mbarang jantur
  64. Semar Kuning
  65. Semar Maneges
  66. Semar Lakon
  67. Sudamala
  68. Sudamala (lengkap)
  69. Bambang Partodewo
  70. Bambang Partodewo (Live)
  71. Bambang Sakri Kromo
  72. Sawitri (dan Satyawan)
  73. Krida Hasta (Live)
  74. Taman Maerokoco
  75. Mbangun Candi Sapto Renggo
  76. Arjunapati
  77. Kalimataya
  78. Prabu Dewa Amral
  79. Resi Manumanasa
  80. Begawan Tunggul Wulung
  81. Wahyu Srimakutharama
  82. Cokro Ningrat
  83. Wahyu Mandera Retna
  84. Sumantri Ngenger
  85. Anoman Obong
  86. Anoman Swargo
  87. Resi Mayangkara
  88. Rama Tundhung
  89. Rama Gandrung
  90. Rama Tambak
  91. Dasamuka Lair
  92. Sastra Jendrayuningrat (Alap-alap Sukesi)
  93. Kumbakarna Lena
  94. Kumbakarna Lena
  95. Dasamuka Lena
  96. Rama Nitis
  97. Goro-Gor0 1
  98. Goro-Goro 2
  99. WO – Goro-Goro
  100. WO – Petruk Kelangan Pethel

AUDIO PAGELARAN WAYANG OLEH KI WARSENO SLANK :

KOLEKSI PAGELARAN WAYANG ORANG :

  1. Wayang Orang Sriwedari – Petruk Wuyung
  2. Wayang Orang Sedyo Pandowo – Wisanggeni Lahir
  3. Wayang Orang – Lesmono Wuyung
  4. Wayang Orang – Gatotkaca Rebutan Kikis (Koleksi Mas Guntur)
  5. Wayang Orang – Srikandi Wuyung (Koleksi Mas Guntur)
  6. Wayang Orang Sriwedari – Semar mbarang Jantur
  7. Wayang Orang Studio RRI Surakarta – Mustakaweni
  8. Wayang Orang Sriwedari – Parta Krama
  9. WO Sekar Budaya Nusantara – Arjuna Kembar
  10. WO Sekar Budaya Nusantara -Babat Wanamarta
  11. WO Sekar Budaya Nusantara -Bale Sigala-gala
  12. WO Sekar Budaya Nusantara -Begawan Kilat Buwana
  13. WO Sekar Budaya Nusantara -Begawan Sabdawala
  14. WO Sekar Budaya Nusantara -Brajadenta mBalela
  15. WO Sekar Budaya Nusantara -Gareng Dadi Ratu
  16. WO Sekar Budaya Nusantara -Gathutkaca Lahir
  17. WO Sekar Budaya Nusantara -Harya Suman Cidra
  18. WO Sekar Budaya Nusantara -Jumenengan Prabu Rama Wijaya
  19. WO Sekar Budaya Nusantara -Kangsa Adu Jago
  20. WO Sekar Budaya Nusantara -Kartapiyaga Maling
  21. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandawa Kurawa Lahir
  22. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandawa Piningit
  23. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandawa Tani
  24. WO Sekar Budaya Nusantara -Pandu Gugur
  25. WO Sekar Budaya Nusantara -Petruk Dadi Ratu
  26. WO Sekar Budaya Nusantara -Petruk Mantu
  27. WO Sekar Budaya Nusantara – Wahyu Makutharama
  28. WO Sekar Budaya Nusantara – Wahyu Cakraningrat
  29. WO Sekar Budaya Nusantara – Arjuna Wiwaha
  30. WO Sekar Budaya Nusantara – Rahwana Sang Angkara Murka (I dan II)
  31. WO Sekar BUdaya Nusantara – Punakawan Kemba
  32. WO Sekar Budaya Nusantara – Kresna Duta
  33. WO Sekar Budaya Nusantara – Kunthi Pilih
  34. WO Sekar Budaya Nusantara – Prasetya Dewabrata
  35. WO Sekar Budaya Nusantara – Sayembara Kasi
  36. WO Sekar Budaya Nusantara – Sekar Pudhak Tunjung Biru
  37. WO Sekar Budaya Nusantara – Semar Mantu
  38. WO Sekar Budaya Nusantara – Talirasa Rasatali
  39. WO Sekar Budaya Nusantara – Udawa Waris
  40. WO Sekar Budaya Nusantara – Wangsa Bharata
  41. WO Sekar Budaya Nusantara – Wisanggeni Takon Bapa
  42. WO Sekar Budaya Nusantara – Wisuda Satriatama

KETOPRAK JAWA