KUNJUNGAN KE :

Senin, 15 Agustus 2011

"CENTENG SEBUTAN PREMAN JAMAN DOLOE..."



TEMPOE DOLOE ... :
Jumat, 17 Mei 1912 terjadi peristiwa menggemparkan di Kalibaru (sekarang Senen), Batavia. Bersamaan dengan ditemukannya sesosok mayat wanita muda indo, yang terbungkus dalam karung tersangkut di pintu air. Berita ini menghebohkan ke seantero Batavia, karena menjadi peristiwa yang pertama kali melibatkan jawara dan kekerasan seks yang dilakukan seorang pembesar Belanda.
Dari hasil penelitian Komisaris Kepala Tuan Reumpol diketahui bahwa wanita Indo itu bernama Fientje de Fenicks, seorang pelacur penghuni rumah bordil milik germo bernama Umar. Lewat pengakuan Umar, mendudukkan Tuan Besar Gemser Brikmann di kursi pesakitan. Meneer Brinkmann sangat terkenal di kalangan terhormat orang-orang Belanda yang dekat dengan pemerintahan, ia seorang anggota Sositet Concordia. Dalam pengakuannya Meneer Brinkmann menyewa Pak Siloen, seorang jawara Betawi yang sehari-hari dikenal sebagai centeng. Gemser Brinkmann didakwa dengan hukuman mati, namun dalam kepanikkannya ia tewas bunuh diri dalam selnya.Pak Siloen yang didakwa serupa, menyatakan penyesalannya. Menyesal bukan karena telah menghabisi nyawa Nona Fientje, melainkan pembayaran Meneer Briknmann kepadanya baru berupa persekot.Pada saat itu centeng di Batavia memang dikenal sebagai “bodyguard yang setia”, ia tidak segan-segan menghabisi nyawa untuk kepentingan tuan yang membayarnya. Tidak memandang pria dan wanita, tua maupun muda. Sungguh suatu istilah yang telah tergeser dari makna awalnya, sebagai profesi penjaga keamanan gudang.Istilah centeng pertama kali digunakan pada daerah onderneming (perkebunan) milik tauke Cina di Tangerang pada awal abad 16, tauke Gow Hok Boen di Kedaung terkenal sebagai tuan tanah yang paling banyak menggunakan jasa centeng ini.
Centeng merupakan loanwords dari bahasa orang-orang Tang (Cina Selatan) terhadap dialek Betawi, berasal dari kata Qinding yang berarti penjaga. Qinding di lidah orang Betawi menjadi centeng, dan makna inipun beralih menjadi “petugas penjaga gudang tempat menyimpan hasil bumi para tuan tanah”.Para centeng umumnya direkrut dari orang-orang pribumi melalui iklan-iklan di surat kabar. Para centeng yang direkrut ini harus memiliki kriteria yang bukan saja bermuka sangar, berotot kawat dan bertulang baja, melainkan juga harus memiliki kepiawaian dalam bermain silat. Tidak sedikit jawara-jawara silat Betawi memakmurkan profesi ini, karena selain tuntutan perut, profesi centeng ini merupakan ajang peningkatan status ke”jagoan” diantara jawara silat.Diantara para jawara silat yang menjadi centeng, sering melakukan tukar sambung tangan (sparing) untuk menentukan siapa yang lebih jago. Hal ini dilakukan guna memperluas daerah taklukan centeng, apabila disuatu hari tuan dari centeng yang bersangkutan mempunyai masalah pada suatu daerah. Maksud lain dimungkinkan sebagai ajang “mencari muka” para centeng terhadap tuannya, agar kelak dapat diangkat menjadi Mandor pengawas di perkebunan.
Tidak sedikit para mandor di Betawi kala itu, berangkat dari profesi sebagai centeng yang memanfaatkan kepiawaiannya bermain silat. Di Muara Condet terdapat Mandor Ahmad yang terkenal sebagai jawara Cimacan, pun Mandor-mandor di daerah lainnya di tanah Betawi.Iklan yang marak di akhir abad 19 ini layaknya seperti iklan lowongan kerja saat ini, seperti harian Pemberita Betawi di tahun 1889 menerbitkan iklan perekrutan centeng bertuliskan;''Kowe poenja tangan koeat dan beroerat. Kowe poenja njali gede. Kowe poenja moeka kasar, dan kowe maoe bekerdja radjin dan netjis. Bila memenoehi sjarat-sjarat di atas, kowe Inlander perloe datang ke Rawa Senajan, disana kowe haroes dipilih liwat djoeri-djoeri jang bertoegas:- Keliling Rawa Senajan 3 kali- Angkat badan liwat 30 kali- Angkat peroet liwat 30 kaliKowe moesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja. Kowe nanti akan didjadikan Tjenteng oentoek di Toba, Boeleleng dan Borneo”.Tidak hanya sebagai pejaga gudang ataupun onderneming tauke Cina dan Belanda saja, dalam rancag Betawipun orang-orang kepolisian Belanda sering menggunakan jasa centeng ini sebagai informan. AW Van Hinne pernah menggunakan jasa Djeram Latip sebagai centeng untuk memburu kelompok Si Pitung, yang akhirnya tewas di bantai karena dianggap sebagai pengkhianat kelompok ini.
Pergeseran Makna CentengSeiring dengan perjalanan waktu, centeng tidak lagi difungsikan sebagai penjaga gudang semata. Profesi ini lebih sering digunakan sebagai pengawal pribadi para Tauke dan Meneer Belanda, bahkan kepada siapapun yang sanggup membayar sesuai nilai resiko pekerjaannya. Sampai tahun 40an masih banyak orang-orang Cina kaya yang menggunakan jasa centeng ini.Tahun 50an istilah centeng sebagai bodyguard lambat laun mulai hilang, posisinya digantikan dengan istilah jagoan yang bekerja sebagai penjual jasa keamanan, dan mulai terkoordinir dalam satu bentuk organisasi. Organisasi inipun mempunyai kesepakatan dengan organisasi sejenis lainnya, perihal daerah kekuasaan dan klien mana saja yang menjadi lahan garapannya.Pergeseran centeng ke jagoanpun menjadi absurd, sejatinya jagoan merupakan sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, jago silat dan pemberani. Arti Jagoan sebenarnya lebih memiliki citra positif ketimbang apa yang dilakukan di tahun 50an itu, yang lebih cenderung negatif karena telah menjadi bagian dari kata sandang di dunia kriminal.Para jagoan paska kemerdekaan ini merupakan mantan laskar yang kecewa terhadap kehidupan yang dialami setelah revolusi fisik, mereka merasa apa yang diimpikan dahulu tidak sesuai dengan kenyataan sekarang. Hal ini dapat dibaca dari pengalaman salah seorang mantan laskar yang mencoba memulai suatu kehidupan baru di tengah masyarakat dan sekaligus mempertanyakannya dengan cara sebagai berikut:Kami bersatu kembali dengan Induk Pasukan di Purwakarta. Dan benar2 dalam keadaan tenang. Tak terdengar sepucuk pistolpun yang meletus. Bila malam tiba hati disengati oleh kesunyian yang mencekam. Apakah Revolusi ini benar2 telah selesai, karena pekerjaan menghalau musuh tidak ada lagi. Begitulah anggapanku waktu itu. Dengan prasangka ini aku mengambil kesimpulan, aku harus kembali kemasyarakat melanjutkan pelajaranku di Sekolah Technik yang telah 4 tahun itu kutinggalkan. Dan maksud ini kuajukan pada komandan. Dengan sebuah surat keputusan, aku diberhentikan dengan hormat dari TNI dengan pangkat terakhir kopral.…Aku kembali ke Jakarta dengan sebuah mobil umum. Jam 20.00 sampai di Jatinegara. Dari situ naik oplet ke Pasar Baru. Dimuka bioscoop Globe, aku turun. Jam 21.00 pertunjukan baru selesai. Sebareng dengan orang yang menyeberang, aku sampai kedekat tempat parkir. Seketika perasaan malu ada pada diriku, melihat perbedaan orang2 yang habis nonton. Mereka aksi-aksi. Aku seperti gembel. Tapi tak seorangpun mengambil perhatian terhadapku. Yah, beginilah kemauan alam. Lain di front lain di kota. Inilah perjuangan.
Tercatat nama-nama penjual jasa keamanan mantan laskar dan jagoan, seperti Kelompok PI (akronim dari Pasukan Istimewa) pimpinan Imam Syafei, atau yang terkenal dengan panggilan Bang Pe’I yang menguasai daerah Senen. Kelompok dari pecahan Laskar Betawi ini mengakomodir para jagoan yang bertahan hidup dengan cara menjual jasa keamanan, baik keamanan di pasar maupun keamanan secara pribadi (bodyguard). Tidak jarang dari beberapa anggota kelompok ini bersinggungan dengan dunia kriminal, sebut saja Mat Bendot jagoan Senen yang menjadi salah satu tahanan dari dunia kriminal pada masa Orde Baru. Namun uniknya kelompok PI ini mempunyai hubungan ke kalangan atas elit politik negeri ini.Kelompok lainnya adalah Kobra, akronim dari Kolonel Bratamenggala. Mereka adalah para jagoan anak buah Kolonel Sukanda Bratamenggala, eks laskar pejuang sewaktu perang kemerdekaan di daerah Jawa Barat. Mereka menguasai daerah perdagangan di pinggiran ibu kota. Kemudian kelompok Legoa yang cenderung menguasai daerah pelabuhan.Di awal tahun 70an di Medan muncul istilah Preman untuk memposisikan seseorang sebagai jagoan, hingga kini istilah ini dipakai secara nasional. Istilah Preman kemungkinan diadaptasi dari bahasa Inggris freeman (orang bebas), yang kemudian diartikan sebagai orang jahat (kamus besar bahasa Indonesia). Keberadaan preman baik yang diorganisir maupun sendiri-sendiri pada masa kini, mengalami metamorphosis bentuk yang tidak jelas. Dengan kata lain pengertian preman sebagai kata sandang lebih dititik beratkan kepada kata kerja, sekalipun dengan memakai nama organisasi ataupun perorangan bercitra positif (preman terselubung).