KUNJUNGAN KE :

Selasa, 02 Agustus 2011

SEMBARA MUSUH BEBUYUTAN MAK LAMPIR

KISAH LEGENDARIS :

Hasil blog walking di negeri Antabarantah...

Tahu Sembara ??
Naah… ini… tayangan Indosiar telah mengingatkan kembali masa lalu kita…
Sandiwara radio “Misteri Gunung Merapi” dengan setting pada masa kerajaan Mataram Islam ini telah jauh lahir sebelum lahirnya versi Sinetronnya di Indosiar…

Hampir sama… hanya dulu.. suasana mencekam ketika lagi asyik mengikuti alur ceritanya di radio sangat terasa… Sandiwara radio Sembara ini diputar di sore hari… Sembara… sosok sakti mandraguna.. murid Kakek Jabad, berteman dengan siluman harimau Datuk Panglima Kumbang, mempunyai kekasih bernamaFarida, musuh besarnya si nenek tua yang tidak bisa mati - Mak Lampir. Satu kesamaan jalan ceritanya antara di versi radio dengan versi televisinya adalah Mak Lampir, Sembara dan Datuk Panglima Kumbang.

Sekarang mari kita terlusuri asal muasal kisah ini..…

Menurut versi kisah yg kita dengar cerita sembara ini berasal dari pulau jawa. Pernahkah kalian berfikir adakah gelar datuk untuk seorang pemimpin atau bangsawan yang dipegang secara turun termurun dari kultur jawa? Jawabanya TIDAK

Mari kita cari kebenarnya dari kata Datuk Panglima Kumbang.

Datuk adalah gerlar yang diberikan kepada seorang pemimpin dalam adat istiadat sumatra barat, sedangkan kata datuk secaraumum di sumatra bermakna kakek.

Panglima adalah gelar untuk hulubalang atau pemimpin pasukan dari kesatuan tentara dalam urusan militer.

Kumbang dalam kultur masyarakat lama bermakna hewan berwana hitam, sedangkan di sumatera dikenal kalimat Macan Kumbangyang bermakna Macan Hitam, jadi Kumbang dalam masyarakat sumatera bermakna Hitam, Kalimat Hitam merupakan sisi gelap/dunia lain kadang diartikan dunia siluman.

Dari penjabaran diatas bisa pahami secara detail dan jelas bahwaDatuk Panglima Kumbang merupakan Pemimpin/Kakek yang mengendalikan pasukan hitam (bangsa siluman dari ras macan).

Mari kita kembali lagi kekisah sembara, mungkin kalian masih ingat kisah sembara… dimana saat Mak Lampir hendak mencari keberadaan dimana sembara…. Dia selalu meminta pertolongan,“Panglima Kumbang Datanglah aku Mohon Bantuanmu” lalu DatukPanglima Kumbang selalu mengucapkan Kalimat “Kabut Tunggal Datanglah”.

Dari yang kita ketahui bahwa kisah sembara tinggal di pegunungan yang dimana selalu di selimuti kabut “Tunggal” dimana Mak Lampir tidak mampu untuk menerawang keberadaan sembara karena tertutup kabut tersebut. Sekarang mari kita telusuri dari seluruh pegunungan yang ada di nusantara ini.

Dari seluruh pegunungan di nusantara ini, hanya ada satu gunung dimana puncaknya selalu tertutup kabut setiap waktu. YaituGunung Dempo terletak di Pagar Alam perbatasan propinsi Sumatera Selatan dan propinsi Bengkulu. Gunung ini hanya bisa dilihat diwaktu pagi hari dan itupun hanya sebentar, bahkan dari kaki gunung.


Sesuai dengan namanya Pagar Alam ini menjelaskan bahwa wilayah tersebut tertutup oleh Alam. Sehingga membuat Penerawangan Gaib Mak Lampir tidak mampu melihat kesana karena tertutup oleh Kabut Alam.


Sedangkan Gunung Merapi dari judul kisah sembara adalah sebuah gunung yang terletak di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Gunung ini setiap pagi dan soreh bisa terlihat jelas bahkan dari kaki gunung. Ini menjelaskan bahwa tidak adanya kabut tunggal/pagar kabut untuk menutup penglihatan.

Dari sini bisa tarik kesimpulan asal cerita Sembara sebenarnya bukan dari Tanah Jawa melainkan dari Sumatera Selatan, tepatnya Pagar Alam. Untuk membuktikanya hingga saat ini makam DatukPanglima Kumbang masih terawat di Pagar Alam dan menjadi Cagar Budaya disana.

Kisah Asal Muasal Datuk Panglima Kumbang berasal dari cerita rakyat sekitar, penduduk dahulu percaya bila malam tiba hutan adalah tempat yang paling berbahaya untuk di diami. Kala itu ada seorang bocah yang masuk kehutan untuk menuntut ilmu kebatinan dan kanuragan yang dimana ada mitos bahwa hutan adalah tempat tinggalnya bangsa siluman kumbang.

Semenjak bocah itu masuk kedalam hutan. Hanya satu kali dia kembali dan itu terakhir kali untuk berpamitan kepada kedua orangtuanya sebagai pesan, bahwa dia telah diterima di kalangan kumbang. Hingga saat itu ia hidup layaknya bangsa siluman, sampai kematian menjemputnya, dia kembali kewujudnya bahwa dia hanyalah manusia biasa.